Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membebaskan Sandera
"Apa yang terjadi?" gumam Rafan lirih.
Rasa risau merayapi dadanya saat melihat Myra mulai mengigau. Gadis itu terlelap, namun ketenangan tampak jauh dari raut wajahnya. Kelopak mata yang terkatup rapat itu mengernyit, sementara butiran keringat dingin mulai membasahi keningnya yang pucat.
"Tidak... lepaskan!" racau Myra. Suaranya serak, penuh dengan permohonan yang menyayat hati meski matanya masih terpejam.
Rafan merasakan cemas yang semakin menyesakkan. Myra tak henti menggelengkan kepala, bibir tipisnya bergumam pelan seolah sedang diseret kembali ke dalam trauma yang mengerikan.
"Myra..." panggil Rafan lembut namun penuh desakan. Refleks, tangannya menyentuh bahu gadis itu, mengguncangnya pelan untuk memutus rantai mimpi buruk tersebut.
"LEPASKAN!" pekik Myra.
Tubuhnya tersentak bangun. Sepasang manik cokelatnya membulat sempurna, napasnya memburu dengan dada yang naik-turun tak beraturan. Setelah berhasil meraup oksigen, ia menekan pangkal hidungnya yang berdenyut hebat, lalu mengusap kasar keringat di keningnya.
Namun, saat matanya mulai terbias dengan remang cahaya, Myra membeku. Ia mendapati seorang pria asing sedang bersimpuh tepat di samping ranjangnya dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Ka---"
HAP.
Tanpa membuang waktu, telapak tangan kekar Rafan membungkam mulut Myra. "Sst!"
"Emph!" Myra mengerang, matanya berkilat marah. Beraninya bajingan ini menyelinap masuk ke wilayah pribadinya!
"Bajingan tengik! Beraninya kau masuk ke sini," maki Myra, meski suaranya hanya berakhir sebagai gumaman teredam di telapak tangan Rafan.
"Sst! Jangan keras-keras, nanti ketahuan," bisik Rafan. Ia memajukan wajahnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis.
Untuk beberapa detik, hanya ada keheningan yang menyesakkan. Mata mereka terkunci dalam tatapan yang sulit diartikan.
"Dasar keparat! Apa yang kau lakukan di sini?" desis Myra begitu Rafan melepaskan bekapan tangannya. Ia menarik paksa lengannya menjauh. "Setelah mengintipku kemarin, apa lagi rencanamu? Ingin memperkosaku?"
"Mem---memperkosa?!" Rafan tersentak, wajahnya memanas. "Mana mungkin! Tenanglah, aku bukan pria bejat seperti itu. Ini tidak seperti yang kau kira," sanggahnya cepat, berusaha membela diri dari tuduhan yang melukai harga dirinya.
"Kau pikir aku percaya?" sahut Myra datar dan dingin. "Untuk apa kau ke sini?"
"Pistolku ada di laci. Jika pria ini macam-macam, akan kuhancurkan kepalanya," ancam Myra dalam batin.
"Aku datang untuk meminta maaf soal yang kemarin---"
"Kau mempertaruhkan nyawa menyelinap ke sini hanya untuk meminta maaf?" Myra mencibir tak acuh. "Cepat keluar sebelum ada peluru yang menembus jantungmu."
"Aku datang untuk membebaskanmu!" tegas Rafan, suaranya terdengar sangat bersungguh-sungguh.
"Bebas?" Myra mengernyit, alisnya bertaut heran. "Apa kau sudah gila?"
Myra tak habis pikir. Apa maksud pria ini? Membebaskannya dari rumahnya sendiri? Apa dia ingin menawarkan 'kebebasan' yang sebenarnya adalah penjara baru?
"Aku tahu kau takut. Tapi dengar, aku akan membantumu lari dari tempat ini."
"Aku tidak mengerti apa maksudmu, tapi aku tidak akan pergi ke mana pun."
"Kenapa? Apa kau mau selamanya terkurung di sini?" desak Rafan, matanya menyiratkan tekad yang keras kepala.
Myra memalingkan muka, hampir tak percaya dengan apa yang ia hadapi. "Jadi dia pikir aku ini sandera? Karena itu dia mengejarku setiap bertemu---bukan untuk menangkapku, tapi untuk membantuku kabur?" Myra menatap kembali raut polos dan heroik yang dipancarkan Rafan. "Dasar polisi bodoh!" maki Myra dalam hati, entah mengapa ia merasa situasi ini hampir lucu.
"Ayo!"
"Ke mana?"
"Pergi dari sini," bisik Rafan dengan antusiasme yang meluap-luap.
Myra nyaris tertawa. Ia terhibur sekaligus merasa ngeri dengan kebodohan Rafan yang sama sekali tidak menyadari identitas asli 'korban' yang ingin ia selamatkan ini.
"Apakah semua polisi berpikir dan bertingkah konyol sepertimu?" gumam Myra penasaran.
"Bagaimana kau tahu kalau aku polisi?"
"A---aku hanya menebak. Karena hanya polisi yang cukup lancang dan nekat menyusup ke sini," dusta Myra asal. Ia tidak mungkin mengakui bahwa ia sudah mengantongi profil lengkap pria di depannya ini.
"Kau benar. Tapi alasanku datang bukan untuk mencari prestasi atau naik pangkat," Rafan merendahkan suaranya, sorot matanya melembut, memancarkan ketulusan yang mendalam hingga membuat jantung Myra berdesir aneh. "Aku datang karena aku benar-benar ingin menyelamatkanmu."
Srash...
Di luar, rintik hujan mulai jatuh menjatuhi bumi, membasuh dedaunan di balik jendela yang terbuka. Beberapa tetesan air bahkan tertiup angin masuk ke dalam kamar, mendinginkan suasana yang kian tegang.
"Dengar, di luar hujan deras. Itu berarti alam pun tidak mengizinkanku pergi dari sini," seru Myra sembari menunjuk jendela.
"Aku sudah bertekad. Walau badai sekalipun yang datang, aku akan tetap membawamu keluar!"
Myra menghela napas panjang, mulai kehilangan kesabaran menghadapi ego Rafan yang setinggi langit. Ia bingung pada dirinya sendiri. Kenapa ia malah berdebat dengan polisi ini alih-alih langsung menghabisinya?
"Aku bisa mengambil pistol sekarang dan menembaknya. Tapi kenapa tubuhku terasa begitu malas untuk beranjak?" gerutu Myra.
Ia menatap lekat paras Rafan yang berada begitu dekat. Tubuh pria itu yang bersimpuh menonjolkan bahu kokoh dan lebar. Kemeja hitam yang ia kenakan membuat warna kulitnya tampak kontras di bawah remang cahaya. Rahang tajam, alis tebal, dan manik mata hitam pekat yang menghujam jantungnya.
Tanpa sadar, tatapan Myra jatuh pada bibir ranum pria itu. Di sana, ia melihat bekas luka gigitannya semalam.
LAP!
Seketika, seluruh listrik padam. Kegelapan total menyergap ruangan.
Keheningan mengikuti padamnya cahaya. Padahal, biasanya selalu ada pemberitahuan jika akan ada pemadaman listrik di wilayah ini. Mereka berdua terbelalak, namun masih bisa melihat siluet satu sama lain berkat sisa cahaya bulan yang menembus tirai.
"Aku selalu tertimpa sial jika berada di dekatnya," batin Myra muak.
"Tunggu apa lagi? Cepat---ini kesempatan bagus!" bisik Rafan penuh semangat. "Dalam gelap, kita bisa kabur dengan mudah."