NovelToon NovelToon
Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

Yang Chen tersenyum di balik tudungnya. Senyum yang akan membuat iblis pun merinding.

Sret!

Tanpa peringatan, tangan kurus Yang Chen merobek kertas pembungkus itu dengan cepat.

"Hei! Apa yang kau lakukan?!" teriak pelayan itu kaget. "Kau harus membelinya sekarang! Kau merusaknya!"

Isi bungkusan itu tumpah ke meja.

Tiga batang tanaman kering berwarna cokelat kusam tergeletak di sana. Batangnya kurus, keriput, dan ada bercak-bercak putih halus di permukaannya—jamur.

Yang Chen mengambil satu batang dengan dua jari, mengangkatnya ke depan wajah pelayan itu.

"Rumput Tulang Besi..." kata Yang Chen, suaranya tenang tapi tajam seperti silet. "...tumbuh di tebing batu yang terpapar matahari terik. Sifatnya Yang Keras. Dia tidak membusuk, dia mengering menjadi sekeras kawat."

Yang Chen meremas batang tanaman di tangannya.

Prukk.

Batang itu hancur menjadi serbuk debu yang rapuh di tangannya.

"Ini..." Yang Chen menaburkan debu itu ke meja. "...adalah sampah yang sudah kehilangan esensinya tiga tahun lalu. Jamur putih ini adalah Yin Mold. Jika seseorang meminum ini, tulang mereka tidak akan menjadi besi, tapi akan keropos dimakan energi dingin."

Wajah pelayan itu berubah pucat, lalu merah karena marah dan malu.

"Kau... Kau..." Pelayan itu gagap. Dia tahu barang itu stok lama yang tidak laku, tapi dia tidak menyangka pengelana gembel ini bisa mengenalinya hanya dengan sekali lihat.

"Dan itu belum semuanya," lanjut Yang Chen. Dia menunjuk bungkusan kedua yang berisi bubuk merah.

"Belerang Merah itu... warnanya terlalu cerah. Kau mencampurnya dengan bubuk bata merah, bukan? Rasionya mungkin 6 bagian belerang, 4 bagian bata. Kau mau aku membakarnya di sini untuk membuktikannya? Bau bata bakar akan mengusir semua pelangganmu."

Pelayan itu mundur selangkah. Tangannya gemetar. Keringat dingin mulai muncul di dahinya. Dia sadar dia sedang berhadapan dengan seseorang yang ahli. Mungkin murid dari sekte besar yang sedang menyamar? Atau Alkemis tua yang sedang menguji pasar?

Suasana di toko menjadi tegang. Beberapa pelanggan lain mulai menoleh, berbisik-bisik melihat keributan itu.

"Siapa kau sebenarnya?" desis pelayan itu, suaranya merendah agar tidak didengar pelanggan lain. "Jangan cari masalah di sini. Paviliun Seribu Herbal dilindungi oleh Keluarga Wang. Kau tidak mau menyinggung Tuan Wang."

"Aku tidak peduli siapa yang melindungi toko ini," jawab Yang Chen datar. "Aku datang untuk berbisnis. Aku punya emas."

Yang Chen merogoh ke dalam jubahnya. Dia mengeluarkan satu keping emas berkilauan. Dia tidak meletakkannya di meja, tapi memainkannya di sela-sela jarinya. Kilauan emas murni itu menyilaukan mata si pelayan.

"Aku akan membayar harga wajar," kata Yang Chen. "50 Perak untuk semuanya. Tapi..."

Dia mencondongkan tubuh ke depan, matanya yang tajam menatap langsung ke mata pelayan itu dari balik kegelapan tudung.

"...kau harus mengambilkan stok baru dari gudang belakang. Stok yang kau simpan di kotak kayu Cendana, bukan stok sampah di rak luar ini. Aku tahu kau punya. Rumput Tulang Besi yang asli berwarna hitam keunguan, bukan cokelat."

Pelayan itu menelan ludah. Dia terjebak.

Jika dia menolak, orang ini mungkin akan membuat keributan lebih besar dan mengekspos penipuannya di depan semua orang. Reputasi toko akan hancur. Jika dia setuju, dia harus menjual stok premium dengan harga standar. Rugi sedikit, tapi aman.

Keping emas di tangan Yang Chen adalah godaan sekaligus ancaman. Itu bukti bahwa orang ini punya daya beli, tapi juga punya kekuatan untuk menuntut kualitas.

"Baik..." bisik pelayan itu akhirnya, kalah telak. "Tunggu di sini. Jangan berteriak lagi."

Pelayan itu bergegas lari ke belakang tirai gudang, kali ini dengan langkah panik, bukan malas.

Yang Chen berdiri tegak kembali, menyimpan keping emasnya. Dia membersihkan debu jamur dari jarinya dengan tenang.

Ini adalah kemenangan kecil, tapi signifikan.

Di dunia kultivasi, pengetahuan adalah kekuatan. Tanpa Qi setetes pun, Yang Chen baru saja menundukkan seorang pedagang licik hanya dengan wawasan dan gertakan.

Lima menit kemudian, pelayan itu kembali. Dia membawa nampan kayu berisi tiga bungkusan baru.

Kali ini, dia membukanya sendiri di depan Yang Chen tanpa diminta.

"Lihat," katanya ketus.

Yang Chen melihat. Rumput Tulang Besi itu berwarna ungu gelap, keras, dan berbau logam tajam. Bubuk Belerang-nya berwarna merah tua, baunya menyengat hidung. Empedu Ular-nya kering sempurna, berwarna hitam mengkilap.

"Lumayan," komentar Yang Chen. "Kualitas menengah-bawah, tapi bisa dipakai."

Pelayan itu mendengus, tersinggung barang premiumnya disebut 'menengah-bawah', tapi dia tidak berani membantah lagi.

"50 Perak," kata pelayan itu.

Yang Chen meletakkan keping emasnya di meja. "Aku tidak punya uang kecil. Kembalikan 50 Perak."

Pelayan itu mengambil koin emas itu, memeriksanya dengan teliti (menggigitnya sedikit untuk memastikan keasliannya), lalu dengan enggan menghitung 50 keping perak kembalian dari laci kasir.

Transaksi selesai.

Yang Chen menyapu bahan-bahan obat itu ke dalam saku jubahnya yang lebar. Dia juga mengambil uang kembaliannya.

Saat dia berbalik untuk pergi, pelayan itu memanggilnya ragu-ragu.

"Hei... Tuan."

Yang Chen berhenti, menoleh sedikit.

"Siapa nama Tuan? Kalau... kalau Tuan butuh bahan lagi, cari saya, Li. Saya akan berikan diskon khusus untuk... ahli seperti Anda."

Itu adalah pengakuan. Pedagang ini, Li, menyadari bahwa orang berjubah hitam ini berpotensi menjadi pelanggan tetap yang berharga, atau musuh yang berbahaya. Lebih baik dijadikan teman.

Yang Chen tidak menjawab dengan nama. Dia hanya mengangguk sekali, lalu melangkah keluar dari pintu.

Kling.

Dia kembali ke jalanan yang mulai gelap.

Angin malam mulai bertiup dingin, tapi hati Yang Chen panas membara.

Di sakunya, dia memiliki bahan-bahan untuk langkah selanjutnya: Ritual Pembukaan Paksa.

Dia tidak akan kembali ke istana. Dia butuh tempat sepi dan aman malam ini. Sebuah penginapan murah, atau rumah kosong. Di sana, dia akan merebus racun-racun ini dan merendam tubuhnya di dalamnya.

Itu akan menjadi malam yang panjang dan menyakitkan. Jauh lebih menyakitkan daripada pijatan tadi pagi.

"Malam ini..." bisik Yang Chen pada bintang pertama yang muncul di langit. "...Raja ini akan menempa kembali tulangnya."

1
saniscara patriawuha.
lumayannnn....
Muh Hafidz
bagus thor pertahankan terus ritme cerita seperti ini, biar kita semakin mendalam menikmati alur ceritanya 👍👍👍
Muh Hafidz
saya suka ceritanya, runut, runtut gak cepat melompat, apalagi melompat lompat, saya setuju dg Thor ttp konsisten menceritakan adegan dg detil dan bertahap Krn itu membuat kita semakin bisa mendalami alur cerita, bravo buat Thor
saniscara patriawuha.
gassssssd deuiiiiii...
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttt....
saniscara patriawuha.
mantappp..
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg chennnn
saniscara patriawuha.
ojo kesuwen mang otor moso sampe 6 episode hanya untuk menceritakan,,, cukup 3 bab,, langsung sat set sat set....
saniscara patriawuha.
lanjoootttttkannnnn.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll ojoo kesuwennnn manggg otorrrrr
saniscara patriawuha.
gassssd pollllllll...
saniscara patriawuha.
gassssss pollllll manggg weuiuiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!