NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Sangkar Kaca di Atas Awan

​Tiga hari berlalu sejak foto paparazzi sialan itu muncul di akun gosip. Dan selama tiga hari itu pula, Kedai Kala Senja terasa seperti kuburan.

​Mesin espresso menderu seperti biasa, pelanggan datang silih berganti, dan bising alat berat dari proyek Cipta Megah di belakang kedai masih terus menggetarkan dinding bata. Semuanya berjalan normal, kecuali diriku.

​Aku seperti robot yang baterainya nyaris habis. Sudah tiga kali aku salah memberikan kembalian, dan kemarin aku nyaris menyiram tanganku sendiri dengan air mendidih saat menyeduh V60. Pikiranku terus kembali pada senyum anggun Clara Beatrice dan tangan perempuan itu yang melingkar posesif di lengan Arka.

​Arka tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Tidak ada pesan, tidak ada telepon. Pria berpayung hitam itu menghilang, seolah tertelan bumi bersama dengan janji-janji manisnya di bawah pendar senja tempo hari.

​Mungkin dia sedang sibuk mengurus pesta pertunangan mewahnya, batinku getir sambil mengelap meja pantri dengan tenaga ekstra.

​Malam ini hujan kembali mengguyur Jakarta dengan lebat. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Nisa sudah pulang sejak tadi. Aku baru saja hendak membalik tanda 'Open' di pintu kaca menjadi 'Closed', ketika sebuah mobil BMW hitam menerobos tirai hujan dan berhenti mendadak di depan kedai.

​Jantungku refleks meloncat hingga ke pangkal tenggorokan.

​Pintu kemudi terbuka. Sesosok tubuh tinggi besar keluar menembus hujan tanpa payung, setengah berlari menuju emperan kedaiku.

​Itu Arka. Pria itu menerobos masuk dengan napas memburu. Rambutnya basah kuyup, setelan jas kerjanya lepek dan berantakan. Namun, yang membuat dadaku mencelos adalah wajahnya. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat pekat, tulang pipinya tampak lebih tirus, dan raut wajahnya menyiratkan kelelahan yang mematikan.

​Ia berdiri di ambang pintu, menatapku dengan mata yang memerah.

​Ego dan rasa sakit hatiku langsung mengambil alih. Aku menegakkan punggung, memasang wajah sedatar mungkin.

​"Maaf, Pak Direktur. Kedai sudah tutup. Kalau Anda mencari champagne atau hidangan mewah untuk merayakan kepulangan calon tunangan Anda, Anda salah alamat," ucapku tajam. Suaraku bergetar sedikit, mengkhianati pertahananku.

​Arka memejamkan matanya sesaat, menelan ludah dengan susah payah menerima sarkasmeku. Ia tidak membalas sindiranku. Pria itu justru melangkah maju dengan cepat, melintasi ruangan, dan berhenti tepat di depanku. Wangi sandalwood yang bercampur air hujan langsung menyergap indra penciumanku, membuat lututku mendadak lemas.

​"Ikut gue, Senja," suaranya serak, nyaris seperti orang yang kehabisan napas.

​Aku mundur selangkah, menatapnya penuh curiga. "Ikut ke mana? Hujan deres di luar. Gue harus tutup buku."

​"Tinggalin buku itu. Ikut gue sekarang. Please!!."

​Kata please itu diucapkan dengan nada yang begitu putus asa, membuat dinding kemarahanku sedikit retak. Arka mengulurkan tangannya yang basah dan dingin, menggenggam pergelangan tanganku dengan erat namun sangat berhati-hati, seolah takut aku akan hancur jika ia menekannya terlalu kuat.

​"Lepasin, Ka," desisku, berusaha menarik tanganku, tapi aku tidak punya tenaga untuk benar-benar melawannya. "Gue nggak mau jadi bahan gosip kalau ada paparazzi bokap lo yang ngikutin."

​"Nggak ada yang ngikutin gue malam ini," potong Arka cepat, matanya menatapku memohon. "Satu jam aja, Nja. Kasih gue waktu satu jam. Setelah itu, kalau lo mau usir gue dan nggak mau lihat muka gue lagi, gue bakal pergi. Gue janji."

​Aku menatap mata kelam pria itu. Melihat kerentanan yang begitu telanjang di sana, aku akhirnya menyerah. Aku hanya mengambil tas ransel dan mengunci pintu kedai, lalu membiarkan Arka menarikku masuk ke dalam mobilnya.

​Perjalanan malam itu terasa sangat bisu. Arka menyetir membelah hujan Jakarta dengan kecepatan yang membuatku harus mencengkeram sabuk pengaman. Setengah jam kemudian, mobilnya tidak berhenti di kafe atau restoran, melainkan berbelok masuk ke area basement sebuah gedung pencakar langit supermewah di kawasan Sudirman.

​Itu adalah Menara Cipta Megah. Markas besar perusahaannya.

​"Ngapain kita ke kantor lo jam sepuluh malam?" tanyaku bingung saat Arka menuntunku masuk ke dalam lift kaca khusus VIP yang hanya bisa diakses dengan kartu hitam miliknya.

​Arka tidak menjawab. Ia hanya menekan tombol lantai paling atas. Lantai 60.

​Lift melesat naik dengan kecepatan tinggi, membuat telingaku sedikit berdenging. Begitu pintu lift terbuka, aku mendapati diriku melangkah masuk ke dalam sebuah penthouse eksekutif yang luar biasa luas dan sepi. Tidak ada sekat dinding bata, seluruh dinding ruangan ini terbuat dari kaca floor-to-ceiling (dari lantai hingga langit-langit).

​Dari atas sini, seluruh lanskap kota Jakarta di malam hari terlihat begitu jelas, membentang seperti lautan bintang yang terbuat dari lampu-lampu jalan, lampu gedung, dan kemacetan. Rintik hujan yang menghantam dinding kaca raksasa itu menciptakan ilusi seolah kami sedang melayang di tengah badai.

​Ini adalah sangkar kaca di atas awan. Sangat indah, luar biasa mewah, tapi... entah kenapa terasa luar biasa dingin dan sepi.

​Arka melepaskan jas basahnya, melemparnya ke atas sofa kulit mahal di tengah ruangan. Ia berjalan mendekati dinding kaca raksasa itu, menatap ke arah kerlip lampu kota yang tak berujung.

​"Selamat datang di duniaku yang sesungguhnya, Senja," ucap Arka pelan, suaranya menggema di ruangan kosong ini. "Indah, kan?"

​Aku berjalan perlahan menyusulnya, berdiri berjarak satu meter di sampingnya. Aku menyilangkan tangan di dada untuk mengusir rasa dingin dari pendingin ruangan yang kelewat kuat. "Ini... ruangan pribadi lo?"

​"Ya. Sanctuary gue. Tempat gue ngu-rung diri kalau tekanan dari bokap dan dewan direksi udah bikin gue mau mati rasanya." Arka menoleh menatapku. "Selama tiga hari ini, gue tidur di sofa itu. Nggak pulang ke rumah, nggak pergi ke mana-mana selain meeting."

​"Termasuk meeting dan nemenin calon tunangan lo belanja?" sindirku tak bisa ditahan. Kepahitan itu kembali merayap naik ke tenggorokan. "Foto kalian berdua mesra banget di bandara."

​Arka membuang muka, mengusap rahangnya kasar. "Gue nggak pernah nyentuh dia lebih dari formalitas, Nja. Tangan dia yang melingkar di lengan gue, dan paparazzi yang tiba-tiba ada di pintu kedatangan VIP itu... semuanya udah diatur sama tim PR bokap gue."

​"Kalau lo nggak suka, kenapa lo nggak berontak aja sih, Ka?!" suaraku mulai meninggi, amarahku tumpah. Ruangan yang terlalu besar ini membuatku merasa kerdil, memicu seluruh insecurity-ku. "Lo pria dewasa! Lo Direktur Pengembangan! Lo punya harta dan kuasa! Kenapa lo biarin bokap lo ngatur hidup lo seolah lo itu boneka?!"

​Arka berbalik menghadapku sepenuhnya. Wajahnya mengeras, tapi bukan karena marah, melainkan karena frustrasi yang memuncak.

​"Karena kalau gue berontak terang-terangan sekarang, gue bakal kehilangan satu-satunya posisi yang bikin gue bisa nge-lindung-in lo!" seru Arka, suaranya pecah beradu dengan suara hujan di luar.

​Aku tertegun. Napasku tercekat.

​Arka melangkah maju, memangkas jarak di antara kami, dan mencengkeram kedua bahuku. Matanya yang merah menatapku dengan intensitas yang membuatku nyaris menangis.

​"Lo pikir gue mau senyum di depan kamera sama perempuan yang nggak gue cintai? Lo pikir gue nggak muak?" cecar Arka, dadanya naik turun dengan cepat. "Tapi bokap gue bukan orang sembarangan, Nja! Kalau gue batalin perjodohan itu sekarang, dia bakal narik semua saham gue. Posisi gue di proyek mal itu bakal diganti. Dan orang pertama yang bakal bokap hancurin berkeping-keping untuk nge-hukum gue... adalah lo dan kedai lo!"

​Jantungku serasa berhenti berdetak.

​"Dia tahu, Nja," suara Arka tiba-tiba melembut, berubah menjadi rintihan yang menyayat hati. Cengkeramannya di bahuku mengendur, tangannya perlahan naik menangkup wajahku yang sedingin es. "Bokap gue tahu kalau gue... kalau gue jatuh cinta setengah mati sama lo. Dan dia jadiin lo sebagai sandera buat maksa gue nurutin semua maunya."

​Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah, mengalir melewati sela-sela jari Arka yang menangkup pipiku.

​Di balik sangkar kaca mewahnya, Arka rupanya sedang bertarung sendirian, babak belur melindungi duniaku yang kecil, sementara aku terus-terusan menghakiminya.

​"Tiga hari ini gue kerja kayak orang gila buat selesaiin kerangka legal peleburan anak perusahaan," bisik Arka, ibu jarinya mengusap air mataku dengan sangat lembut. "Tiga bulan, Nja. Kasih gue waktu tiga bulan lagi. Setelah proyek itu sah jadi milik gue secara mutlak di RUPS, gue bakal lepasin jabatan gue di perusahaan pusat. Gue bakal putusin pertunangan gila itu, dan bokap nggak akan punya kuasa lagi buat nyentuh kedai lo."

​Aku menatap mata kelam pria itu. Melihat betapa hancur dan putus asanya ia, ego di dalam diriku runtuh tak bersisa. Aku mengangkat kedua tanganku, membalas sentuhannya dengan meremas kemeja kusut di dadanya.

​"Tiga bulan?" suaraku bergetar parau diiringi isakan pelan. "Lo pikir gampang buat gue ngelihat lo foto sama dia, senyum sama dia di majalah, sementara gue cuma bisa seduh kopi di gang sempit sambil nungguin lo sembunyi-sembunyi kayak gini?"

​"Gue tahu," Arka menundukkan wajahnya, menyatukan dahi kami. Napasnya yang hangat menerpa wajahku yang basah oleh air mata. "Gue tahu gue egois karena narik lo masuk ke dalam neraka gue. Tapi gue mohon... jangan nyerah sama gue, Senja. Cuma lo satu-satunya alasan gue masih bisa napas di sangkar sialan ini."

​Malam itu, di lantai 60 Menara Cipta Megah, dengan pemandangan kota Jakarta yang seolah berada di bawah telapak kaki kami, aku menyadari satu kenyataan yang pahit namun tak bisa kuhindari.

​Cinta tidak pernah menjanjikan jalan yang mudah. Terkadang, mencintai seseorang berarti kau harus rela masuk dan menemaninya di dalam sangkar kacanya yang dingin, hingga ia menemukan kunci untuk membebaskan kalian berdua.

​Dan sambil memejamkan mata dan merengkuh tubuh Arka ke dalam pelukanku, aku memutuskan bahwa aku akan menunggunya. Meski badai yang lebih besar dari sekadar perjodohan bisnis itu sedang mengintai kami dari kegelapan.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!