NovelToon NovelToon
Pembalasan Sempurna Kirana

Pembalasan Sempurna Kirana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Malam Pertama di Sarang Monster

​Kekacauan yang terjadi di Grand Ballroom Hotel Kempinski tidak ubahnya seperti bom waktu yang baru saja meledak di tengah pesta pora. Pernyataan Adyatma Surya menggemakan vonis mati bagi masa depan Bagas Pramoedya. Pria yang tadinya berdiri angkuh dengan setelan jas mahalnya itu kini berlutut di atas karpet, meremas rambutnya dengan kedua tangan, wajahnya sepucat mayat yang diangkat dari kuburan.

​Kilatan lampu kamera menyambar-nyambar tanpa henti, merekam setiap detik kehancuran keluarga Nusantara Group. Para wartawan yang tadinya membeku karena teror aura Adyatma, kini mulai menemukan kembali keberanian mereka demi sebuah berita eksklusif yang akan mengguncang pasar saham nasional besok pagi.

​"T-Tuan Surya! Nona Kirana! Tolong klarifikasi masalah penggelapan dana ini!" teriak salah satu reporter, mencoba menerobos maju, namun langsung dihadang oleh barisan pengawal elit Surya Corp yang bergerak serempak bagaikan tembok baja.

​Kirana menunduk, menatap Bagas dari tempatnya berdiri. Senyum dingin menghiasi wajah cantiknya. Dulu, pria inilah yang berdiri di atas tubuhnya yang sekarat, menatapnya dengan penuh rasa jijik di tengah hujan lebat. Kini, roda nasib telah berputar seratus delapan puluh derajat.

​"Rana... kumohon..." Bagas mendongak, matanya berkaca-kaca dipenuhi keputusasaan. Ia mencoba merangkak maju untuk menggapai ujung gaun Kirana. "Ini salah paham... Ayahmu yang menyuruhku! Aku tidak pernah berniat—"

​Bugh!

​Belum sempat jari kotor Bagas menyentuh kain gaun Kirana, ujung sepatu kulit mengkilap milik Adyatma telah lebih dulu menendang dada pria itu. Tendangan itu tidak terlihat menggunakan banyak tenaga, namun cukup untuk membuat Bagas terlempar ke belakang, terbatuk keras hingga mengeluarkan sedikit darah dari sudut bibirnya.

​"Sudah kubilang, jangan pernah berani menyentuh milikku," desis Adyatma. Suaranya sangat pelan, namun mengandung gelombang intimidasi yang membuat seluruh ruangan kembali hening mencekam. Sepasang mata obsidian pria itu menyipit, memancarkan kilat biru samar yang hanya bisa dilihat oleh Kirana.

​Naga itu mulai bereaksi. Adyatma sedang membiarkan insting pembunuhnya mengambil alih.

​Kirana segera menyentuh lengan suaminya, menyalurkan sedikit energi penenang melalui ujung jemarinya. "Cukup, Suamiku. Jangan kotori tanganmu untuk sampah sepertinya. Kita tinggalkan tempat ini."

​Mendengar panggilan 'Suamiku' meluncur dari bibir Kirana, rahang Adyatma yang mengeras perlahan mengendur. Ia melirik tangan mungil wanita itu di lengannya, lalu menatap wajah Kirana dengan intensitas yang membakar.

​"Reno," perintah Adyatma tanpa menoleh.

​"Ya, Tuan," Reno, sang asisten pribadi yang sejak tadi berdiri tak kasat mata di sudut panggung, langsung maju.

​"Urus serangga-serangga ini. Kumpulkan seluruh bukti audit malam ini juga, dan serahkan ke kepolisian. Aku ingin melihat anjing ini memakai baju tahanan besok pagi sebelum aku sarapan."

​"Sesuai perintah Anda, Tuan."

​Tanpa membuang waktu lagi, Adyatma melingkarkan lengannya di pinggang Kirana yang ramping, setengah memeluk dan setengah menyeret wanita itu keluar dari ruangan. Tidak ada satu pun anggota keluarga Herman, apalagi Riana yang sedari tadi menangis tersedu-sedu di sudut ruangan, yang berani menghentikan langkah mereka.

​Di dalam kabin penumpang mobil Maybach antipeluru yang melesat membelah jalanan ibu kota, suasana terasa sangat sunyi dan tegang. Kaca pemisah antara kursi pengemudi dan kursi penumpang belakang telah dinaikkan sepenuhnya, memberikan privasi absolut bagi kedua pengantin baru tersebut.

​Kirana menyandarkan kepalanya ke kursi kulit yang empuk, menghela napas panjang. Adrenalin yang sejak tadi memompa jantungnya mulai mereda, digantikan oleh rasa lelah yang amat sangat. Namun, ia tidak bisa sepenuhnya rileks. Pria yang duduk tepat di sebelahnya memancarkan hawa panas yang seolah membakar oksigen di dalam mobil.

​Adyatma sedari tadi diam, matanya terpejam, dan napasnya terdengar sedikit berat. Urat-urat di lehernya mulai menonjol. Emosi kemarahan dan agresi di ruang pertemuan tadi telah memicu ketidakstabilan energi naga di dalam darahnya.

​Menyadari hal itu, Kirana menggeser duduknya mendekat. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pelan dada bidang pria itu dari luar kemeja sutranya. Ia kembali membiarkan aroma Sandalwood dari tubuhnya menguar memenuhi kabin yang sempit itu.

​"Apa kau merasa sakit?" bisik Kirana, matanya meneliti rahang Adyatma yang mengeras.

​Adyatma membuka matanya. Biru safir yang menyala. Ia menatap tangan Kirana di dadanya, lalu dalam satu gerakan kilat, ia menangkap pergelangan tangan wanita itu dan menarik Kirana hingga jatuh ke pangkuannya.

​Kirana terkesiap, kedua tangannya secara refleks bertumpu pada pundak lebar suaminya untuk menjaga keseimbangan. Posisi mereka kini sangat intim; Kirana duduk menyamping di atas pangkuan Adyatma, wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

​"Sakit?" Adyatma mengulang pertanyaan itu dengan tawa serak, sebuah tawa yang lebih menyerupai geraman. Tangan besarnya mengusap punggung Kirana dari atas ke bawah, memberikan sensasi merinding di sekujur tubuh wanita itu. "Naga ini tidak pernah merasa sakit. Ia hanya merasa... lapar."

​Sebelum Kirana sempat mencerna makna kata-kata itu, Adyatma telah menekan tengkuknya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang sangat menuntut, brutal, dan penuh dominasi.

​Ini bukanlah ciuman penuh kasih sayang. Ini adalah sebuah klaim. Sebuah peringatan. Adyatma menyesap bibir Kirana seolah wanita itu adalah air penawar hidupnya, menggigit kecil bibir bawah Kirana hingga wanita itu terengah-engah dan membiarkan lidahnya masuk, memperdalam ciuman itu hingga Kirana merasa kepalanya berputar.

​Aroma Sandalwood Kirana meledak semakin pekat di dalam mobil akibat lonjakan emosi, langsung terserap ke dalam paru-paru Adyatma, perlahan meredam cahaya biru di mata pria itu.

​Ketika Adyatma akhirnya melepaskan pagutannya, Kirana bernapas tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya merona merah padam, bibirnya membengkak, dan matanya menatap pria itu dengan campuran antara keterkejutan dan kemarahan.

​"Apa yang kau—"

​"Itu adalah pembayaran pertamamu," potong Adyatma dengan napas yang memburu di depan wajah Kirana. Ibu jarinya mengusap saliva di sudut bibir wanita itu dengan gerakan posesif. "Kau meminjam namaku untuk mengintimidasi keluargamu. Kau meminjam kekuasaanku untuk menghancurkan pria masa lalumu. Dan sebagai gantinya, aku mengambil sedikit energimu untuk menenangkan kutukanku."

​Kirana menelan ludah. "Kita punya kontrak. Kau tidak bisa seenaknya menciumku tanpa peringatan!"

​"Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau padamu, Kirana," bisik Adyatma, matanya yang kini kembali hitam kelam menatap lurus ke dalam jiwa Kirana. "Kau lupa pasal paling penting yang sudah aku peringatkan? Kontrak dengan Naga Laut menuntut darah, daging, dan jiwa. Mulai detik ini, tubuhmu adalah milikku. Aromamu adalah milikku. Dan tidak akan ada pria lain yang boleh menyentuh, melihat, atau bahkan memikirkanmu selain aku."

​Kirana terdiam. Ia telah menyadari sejak awal bahwa pria ini adalah seorang tiran. Namun ia tidak menyangka kedalaman obsesi dan sifat posesif yang dibawa oleh darah naga itu begitu mengerikan. Kirana tidak berdebat. Ia hanya mengangguk pelan, sebuah kompromi hening demi tercapainya pembalasan dendam yang sempurna.

​Tiga puluh menit kemudian, mobil memasuki gerbang raksasa berlapis baja. Surya Manor.

​Kediaman pribadi Adyatma ini lebih menyerupai kastil Eropa modern yang berdiri kokoh di tengah hutan pinus pribadi di pinggiran Jakarta. Megah, sangat mewah, namun memancarkan aura dingin dan mematikan. Pengawal bersenjata berpatroli di setiap sudut.

​Ketika mereka melangkah masuk ke lobi utama yang berlapis marmer hitam, barisan pelayan telah berdiri menunduk menyambut mereka.

​"Siapkan kamar utama untuk Nyonya Surya. Semua barangnya akan dipindahkan dari rumah Herman malam ini juga. Jika keluarga itu menghalangi, bakar saja rumahnya," perintah Adyatma dengan nada kasual yang membuat para pelayan meneguk ludah.

​"Tidak perlu membakar rumah ibuku," sahut Kirana tajam. "Biarkan mereka hidup dalam ketakutan. Kematian terlalu mudah bagi mereka."

​Adyatma menatap Kirana, seutas senyum tipis yang nyata terlihat di bibirnya. Ia menyukai sifat kejam wanita ini. "Sesuai keinginanmu, Istriku."

​Adyatma berbalik, hendak menuju ruang kerjanya. "Aku ada panggilan video dengan dewan direksi Eropa. Malam ini tidurlah di kamarku. Jika energi naga ini kembali bergejolak, aku akan mencarimu."

​Sepeninggal Adyatma, Kirana diantar ke kamar utama di lantai tiga. Ruangan itu sangat luas, didominasi warna abu-abu gelap dan hitam. Maskulin, dingin, dan sama sekali tidak ada sentuhan wanita.

​Tak lama setelah ia duduk di sofa, pintu diketuk. Reno masuk membawa sebuah koper perak berisi dokumen.

​"Nona Kirana—maaf, maksud saya, Nyonya Surya," Reno menunduk hormat. "Ini adalah seluruh berkas audit kilat yang diperintahkan oleh Tuan Surya. Tim intelijen kami meretas database Nusantara Group dan rekening pribadi Bagas Pramoedya dalam waktu lima belas menit. Data ini cukup untuk memenjarakan pria itu selama seumur hidup."

​Kirana menerima koper itu, membukanya, dan membaca deretan angka serta bukti transfer yang terpampang. Matanya berbinar dingin. Ini adalah senjata pemusnah masal yang ia butuhkan.

​"Kerja bagus, Reno. Hubungi pihak kepolisian. Berikan mereka salinan dokumen ini," perintah Kirana tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas tersebut. "Besok pagi, pukul delapan tepat, aku akan datang ke gedung Nusantara Group. Pastikan polisi ada di sana lima menit setelahku."

​Reno mengangguk. "Tuan Surya juga berpesan agar saya dan enam pengawal elit mendampingi Anda besok untuk memastikan 'pembersihan' berjalan lancar."

​Kirana menutup koper itu dengan bunyi 'klik' yang memuaskan.

​Malam ini, Herman, Sari, Riana, dan Bagas pasti tidak akan bisa memejamkan mata walau sedetik pun. Mereka sedang meratapi nasib di ambang kehancuran. Dan besok, Kirana akan datang untuk memberikan pukulan terakhir.

​"Bersiaplah, keluarga tersayang," bisik Kirana pada pantulan dirinya di kaca jendela yang memantulkan kilat badai malam itu. "Ratu kalian telah kembali."

1
Aisyah Suyuti
.menarik
Luzi
kerenn
Mifta Nurjanah
eps brpa pas dia udh jebol??😭😭
Emi Widyawati
baca awal, sudah jatuh cinta. bagus banget Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!