Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Salah Tuduh di Bawah Pohon Mangga
“Hmm… seperti yang kuduga, mereka pasti kembali, tapi kelihatannya tidak hari ini…” gumam Rangga pelan dari atas dahan pohon mangga liar.
Suasana sore itu sebenarnya tampak tenang, namun indra keenam Rangga menangkap getaran yang berbeda. Daun-daun lebat menutupi tubuhnya, menjadikannya seolah menyatu dengan alam.
Dari tempat tinggi itu, ia bisa melihat Desa Bambu Kuning dengan jelas; kesibukan penduduk yang mulai menutup pintu rumah dan asap dapur yang membubung tipis.
Wajahnya tenang, tetapi matanya tajam mengawasi setiap jengkal batas desa, bagaikan elang yang mengintai dari kegelapan dedaunan.
“Orang-orang itu bukan tipe yang mudah menyerah… apalagi dipermalukan di depan rakyat…” lanjutnya lirih, mengingat raut dendam para perampok yang ia pecundangi kemarin.
Angin sore berhembus perlahan, membawa aroma tanah kering dan harum buah mangga yang masak ranum. Buah-buah itu bergoyang pelan, beberapa yang sudah terlalu matang jatuh ke tanah dengan bunyi *puk* yang meredam.
“Kalau aku menunggu di dalam desa, mereka bisa curiga… tapi kalau dari sini…” Rangga tersenyum tipis, sebuah senyum penuh siasat yang tersungging di sudut bibirnya, “…aku bisa melihat segalanya tanpa terlihat.”
Ia bersandar santai, menyilangkan kaki di dahan besar seolah tak ada beban yang menghimpit. Namun sesungguhnya, seluruh indranya siaga penuh. Setiap desau angin dan gerak semak di bawah sana tak luput dari perhatiannya.
“Sudah sore… aku butuh menyegarkan tubuh,” desah Rangga. Tubuhnya terasa lengket oleh debu jalanan dan keringat setelah seharian berjaga.
Ia melompat ringan dari pohon. Tanpa pengerahan tenaga yang berarti, tubuhnya mendarat tanpa suara sedikit pun, seperti helai daun yang jatuh tertiup angin.
“Sepertinya sungai di arah barat tidak terlalu jauh,” katanya sambil melangkah santai, menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi ilalang tinggi.
Beberapa saat kemudian, suara gemericik air yang jernih menabrak bebatuan sungai terdengar di balik rimbunnya pohon-pohon bambu.
“Ah… benar juga,” ucapnya lega, membayangkan segarnya air pegunungan menyentuh kulitnya.
Namun baru saja ia hendak melangkah mendekati tepian air—
**“KYAAAA!!!”**
Jeritan nyaring dan melengking memecah kesunyian hutan, membuat kawanan burung pipit beterbangan karena terkejut.
Rangga terkejut. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena situasi yang tak terduga.
“Apa—?!”
Belum sempat ia bereaksi atau membalikkan badan—
“Hei! Siapa kau?!”
“Kurang ajar! Mengintip kami?!”
Beberapa gadis melompat keluar dari balik semak sungai. Wajah mereka merah padam, antara malu yang luar biasa dan amarah yang meledak-ledak. Tangan mereka sigap merapikan pakaian, sementara mata mereka menatap Rangga seolah ingin menembus jantung pemuda itu.
Rangga langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, telapak tangannya terbuka menunjukkan ia tak berniat jahat.
“Tunggu! Aku tidak—”
“Diam!” bentak salah satu gadis yang paling galak, langkahnya maju menantang dengan tangan di pinggang. “Alasan murahan! Semua lelaki sama saja!”
“Aku baru datang! Aku tidak tahu ada orang di sini!” balas Rangga cepat, mencoba tetap tenang meski batinnya mengutuk nasib sialnya sore ini.
“Hah! Tidak tahu? Lalu kenapa kau datang ke sungai ini?!” tuduh gadis lain dengan nada yang tak kalah melengking.
Rangga menghela napas panjang. Ia merasa kepalanya mendadak pening menghadapi logika kaum hawa yang sedang murka.
“Karena aku ingin mandi… bukan mengintip,” jawabnya datar, mencoba menatap lurus tanpa terlihat goyah.
“Bohong!”
Salah satu gadis yang bertubuh mungil namun gesit langsung menyambar batu kerikil dan melemparnya ke arah Rangga.
**Plak!**
Rangga menghindar dengan gerakan kepala yang minimal namun sangat efisien. Batu itu hanya menyambar udara kosong di samping telinganya.
“Eh, pelan sedikit! Aku tidak melawan!” katanya, suaranya masih terdengar sabar meski situasi kian memanas.
“Tidak melawan? Berarti kau mengaku bersalah!” sergah gadis lain, mencoba mencari celah dalam ucapan Rangga.
“Logika macam apa itu…” gumam Rangga pelan, nyaris tak terdengar.
“Dia masih berani membantah!” teriak gadis galak tadi. Matanya berkilat penuh emosi. “Tangkap dia!”
“HEI! Tunggu dulu—”
Belum selesai bicara, tiga gadis itu langsung menerjang serempak! Gerakan mereka cukup terlatih, menandakan mereka bukan sekadar gadis desa biasa.
Rangga mengelak ke kanan dengan langkah yang luwes.
“Cepat sekali!” seru salah satu gadis, terkejut melihat mangsanya berkelit bagaikan belut.
“Dia bukan orang biasa!” tambah yang lain, gerakannya kian gencar mencoba mengunci ruang gerak Rangga.
Rangga menghindar lagi, kali ini ia melakukan salto kecil ke belakang untuk menjaga jarak.
“Aku tidak ingin melukai kalian,” katanya tegas, sorot matanya kini mulai sedikit lebih serius namun tetap tanpa niat membunuh.
“Munafik!” bentak gadis galak. Ia memberikan isyarat tangan kepada rekan-rekannya. “Gunakan jurus Bambu Berbisik!”
Tiba-tiba mereka bergerak serempak dalam formasi yang apik.
*Swish! Swish!*
Serangan mereka kini lebih teratur dan cepat, kaki dan tangan mereka bergerak lincah seperti latihan yang sudah lama dipelajari di sebuah padepokan.
Rangga mengangguk kecil, ia mulai mengenali pola-pola gerakan tersebut dalam benaknya.
“Hmm… murid perguruan rupanya…”
Ia menghindar dengan ringan, kakinya seolah tak menyentuh tanah saat ia memutar tubuh di udara, menghindari sabetan tangan salah satu gadis.
“Berhenti! Aku tidak ingin—”
“Menyerah saja!” potong salah satu gadis, ia mencoba menjegal kaki Rangga.
Rangga menghela napas lagi. Ia merasa drama ini harus segera berakhir sebelum matahari benar-benar tenggelam.
“Kalau begini caranya…”
Tiba-tiba, tubuh Rangga seolah menghilang dari pandangan mata mereka! Ia menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang membuat gerakannya menjadi bayangan kabur.
“Hah?! Ke mana dia?!”
“Di belakangmu!”
**Plak!**
Dengan satu gerakan ringan yang penuh perhitungan, Rangga menjatuhkan sebuah ranting kecil tepat ke atas tangan gadis galak, mengejutkannya hingga ia menghentikan serangan.
“Cukup,” katanya tenang, berdiri tepat di belakang mereka dengan tangan terlipat di dada.
Namun, dugaannya salah. Gadis-gadis ini ternyata memiliki kerja sama yang sangat kompak.
“Pegang dia!”
Sebelum Rangga sempat melompat menjauh, dua gadis lain yang berada di sisi samping berhasil menyergap dan memegang lengan Rangga dari belakang dengan kuncian yang cukup kuat!
“Ah… kalian keras kepala sekali…” gumam Rangga. Ia sebenarnya bisa saja membebaskan diri dengan sekali sentakan tenaga dalam, namun ia takut akan melukai pergelangan tangan mereka.
“Sekarang kau tidak bisa kabur!” ejek gadis galak dengan wajah puas, nafasnya memburu karena lelah bertarung.
Rangga diam sejenak, menatap langit yang mulai jingga kemerahan…
Lalu—
“Baiklah… aku ikut saja.”
“Hah?” mereka terkejut, tak menyangka pemuda yang sulit ditangkap itu akan menyerah begitu mudah.
“Aku capek menjelaskan,” kata Rangga santai, wajahnya kembali ke ekspresi cuek yang menyebalkan bagi mereka.
“Bagus! Kita bawa dia ke desa!” perintah gadis galak dengan nada kemenangan.
“Orang ini tertangkap mengintip kami di sungai!”
“Kurang ajar! Hukum saja!”
Bersambung...