NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:115
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGORBANAN MAS ARYA

Mobil sedan hitam itu kini membelah malam, namun kali ini tujuannya bukan lagi pusat kota yang bising. Arya mengemudi menuju sebuah kawasan perumahan elit dengan penjagaan gerbang berlapis. Di sana, lampu-lampu jalan berpendar putih bersih, menyinari deretan rumah megah yang dipisahkan oleh taman-taman asri.

​Begitu mobil memasuki sebuah gerbang rumah yang otomatis terbuka, sebuah bangunan megah menyambut dengan siluet yang tajam dan elegan di bawah langit malam yang semakin menggelap. Bangunannya bercat putih gading dengan beberapa aksen hitam pada bingkai jendela besarnya. Ada sorot lampu di sepanjang anak tangga luar yang memberikan kesan hangat namun tetap elegan, seakan membimbing tamu menuju pintu utama yang tersembunyi di balik estetika modern.

Ya. Bagi Yasmin, rumah ini tampak seperti benteng pelindung. Balkon-balkon dengan pagar kaca transparan memberikan pemandangan luas ke arah kota, namun dari luar, rumah ini tetap terasa sulit untuk ditembus.

​"Ini rumahku," ujar Arya sambil mematikan mesin. "Ada paviliun kecil di samping bangunan utama. Kau bisa beristirahat di sana. Aku akan meminta asisten rumah tanggaku untuk menyiapkan pakaian bersih."

​Yasmin menatap profil samping wajah Arya. "Ka-kamu... bawa aku ke rumahmu?"

​Arya melepaskan sabuk pengamannya, lalu menoleh menatap Yasmin dengan tatapan teduh yang sulit diartikan. "Kadang, menyelamatkan satu nyawa adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri kita sendiri dari rasa bersalah. Masuklah, di sini kamu aman."

"Tapi, Mas..."

​"Satu lagi," potong Arya, suaranya rendah namun penuh penekanan, seolah ingin memastikan Yasmin mencerna setiap kata yang akan ia ucapkan. "Aku tidak tinggal sendirian di sini. Aku tinggal bersama Ibu dan kakak perempuanku."

​Yasmin yang baru saja hendak menyentuh gagang pintu mobil, seketika terdiam. Matanya membulat, menatap Arya dengan keraguan yang baru. Bayangan akan menghadapi orang asing lainnya—terlebih keluarga dari pria yang baru saja menyelamatkannya yang membuat perutnya kembali mulas karena cemas.

​"Ibuku sangat menjunjung tinggi sopan santun, dan kakakku... dia bisa sangat cerewet jika melihat sesuatu yang tidak beres," lanjut Arya, kali ini dengan secercah senyum tipis yang nyaris tak terlihat di sudut bibirnya. "Tapi kau tidak perlu takut. Aku yang akan bicara pada mereka. Karena mungkin... kehadiranmu hari ini adalah kejutan bagi mereka."

Arya keluar dari mobil, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai carport yang bersih mengilat. Dengan satu gerakan tenang, ia membukakan pintu untuk Yasmin sekali lagi.

Begitu pintu terbuka, angin malam langsung menyeruak masuk, menusuk pori-pori kulit Yasmin yang masih basah oleh keringat dingin. Hawa dingin seolah membawa kenyataan pahit bahwa pelariannya belum benar-benar berakhir, meskipun ia kini berdiri di depan sebuah "benteng" yang megah. Yasmin lalu mendekap erat tubuhnya sendiri, bahunya menciut saat ia melangkah keluar dari zona nyaman kabin mobil Arya yang begitu hangat.

"Mas... a-apa mereka tidak akan keberatan?" bisik Yasmin, suaranya hilang ditelan desau angin malam yang menggoyang pohon palem di halaman.

​Arya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan isyarat dengan matanya agar Yasmin mengikutinya menaiki anak tangga marmer yang diterangi cahaya temaram.

Tepat saat mereka sampai di teras atas, pintu kayu jati yang masif itu kemudian terbuka. Aroma essential oil lavender yang menenangkan menyerbak keluar, beradu dengan aroma kecemasan yang tertinggal di hati Yasmin.

​"Arya? Kamu sudah pul—"

Kalimat itu terputus di udara. Di ambang pintu yang megah itu, berdiri seorang wanita yang seolah menolak tunduk pada waktu. Meskipun usianya sudah tidak lagi muda, aura keanggunan terpancar kuat dari setiap gerak-geriknya.

Maura. Ibu Arya—memiliki kecantikan yang matang dan tenang. Kulit wajahnya tetap kencang dan tampak sehat merona, menunjukkan perawatan yang teliti selama bertahun-tahun. Rambutnya yang berwarna cokelat gelap dipotong sebahu dengan gaya yang rapi, membingkai wajah ovalnya yang proporsional.

Senyum teduh yang biasanya menghiasi wajah Ibu Arya seketika sirna, menguap ditelan suasana mencekam yang dibawa masuk oleh putranya. Malam ini, gurat-gurat halus di sudut matanya tidak lagi memancarkan kebijaksanaan yang tenang, melainkan ketegangan yang nyata. Ia berdiri kaku, jemarinya yang lentur saling bertautan erat di depan gaun tulle-nya yang elegan.

​"Siapa ini?" Suaranya tajam penuh interogasi. Matanya memandang lurus ke arah Yasmin, dari atas kepala hingga ujung kaki.

"Ini Yasmin, Ma." Jawab Arya menatap Yasmin. "Yasmin... ini Ibuku. Maura."

Yasmin hanya mampu mengangguk sangat kecil, nyaris tak terlihat. Kepalanya tertunduk dalam, rambutnya yang kusut menutupi sebagian wajahnya yang pucat.

Maura mendengus pelan, matanya menyipit tajam, menelusuri setiap inci penampilan Yasmin yang mengenaskan—dari kemeja restoran yang kotor hingga balutan kasa di lututnya. Ia melangkah satu tindak lebih maju, memecah keheningan dengan nada bicara yang menusuk.

​"Terus, dia siapa? Gak mungkin kan kekasih kamu?" cecar Maura. Sudut bibirnya terangkat sedikit, meremehkan. "Lihat penampilannya, Arya. Dia tampak seperti baru saja merangkak keluar dari lubang pembuangan."

"Waw. Siapa ini?" Seru suara lain.

Langkah kaki yang tajam dan berirama di atas lantai marmer membungkam suara mereka. Seorang wanita berusia sekitar awal tiga puluhan itu melangkah dengan keangkuhan yang terjaga. Gaun beludru hitamnya menyapu lantai dengan anggun. Sementara, rambut cokelat gelapnya yang bergelombang jatuh sempurna di bahu, membingkai wajahnya dengan rahang tegas dan berkelas.

"Dia... kekasih, kamu?" Tanya Freya, kakak perempuan yang di maksud Arya. "Sejak kapan seleramu jadi... se-tragis ini?"

Yasmin merasakan dadanya sesak, seolah pasokan udara di ruangan luas itu mendadak menipis. Ia menelan salivanya dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering dan perih. Hinaan itu menghantamnya lebih telak daripada aspal jalanan tadi. Di bawah lampu kristal yang berpijar indah, ia merasa setiap noda di bajunya dan setiap luka di tubuhnya terpampang jelas sebagai bukti ketidakpantasannya berada di sini.

"Ma... Mbak. Tolong jaga bicara kalian." Balas Arya akhirnya. Suaranya tidak tinggi, namun ada nada peringatan yang sangat dingin, jenis suara yang biasanya ia gunakan di ruang operasi saat situasi sedang kritis. "Dia bukan kekasihku,"

Mata Arya melirik Freya. "Dan dia juga bukan subjek untuk penilaian seleramu. Dia manusia yang baru saja mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan harga dirinya."

Maura melipatkan kedua lengannya di bawah dada. "Apa maksud pembicaraan kamu, bawa-bawa harga diri segala?!" Tanyanya. Suaranya meninggi, menarik mata semua orang di ruangan itu untuk tertuju padanya. "Sejak kapan kamu jadi pahlawan kesiangan untuk gadis... entah siapa ini?"

Freya memicingkan mata, menatap Yasmin yang gemetar hebat di samping adiknya. "Harga diri? Di jalanan? Di jam segini dengan pakaian seperti itu?"

​"Aku membawa Yasmin kemari untuk tinggal bersama kita mulai malam ini," ucap Arya, suaranya tenang namun mengandung ketegasan yang tak terbantahkan. Ia menatap ibunya dan Maura bergantian, seolah sedang memasang barikade pelindung di depan Yasmin. "Dia tidak punya tempat tinggal lagi."

"Apaaa? Arya!" Maura membelalak, matanya berkilat tajam di bawah pendar lampu kristal. "Mama membesarkanmu dan menjadikanmu seorang dokter untuk menyelamatkan orang sakit di meja operasi, bukan untuk menyelamatkan... gadis jalanan yang entah datang dari mana!"

​"Ma, dia bukan gadis jalanan!" bantah Arya, suaranya naik satu oktav, memotong kalimat tajam Maura yang seolah meracuni udara di ruangan itu. Matanya berkilat, memancarkan amarah yang jarang ia perlihatkan kepada keluarganya sendiri. ​"Aku menemukan dia di tengah kepungan bahaya, Ma. Dia bukan sedang menjajakan diri atau mencari masalah," lanjut Arya, suaranya kini merendah namun penuh penekanan yang mencekam. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana dua pria berbadan besar mengejarnya."

"Tunggu!" Sergah Freya. "Dua pria? Kamu ingin memasukkan 'bom waktu' ini ke dalam rumah kita? Ke dalam kehidupan tenang keluarga kita? Kamu tuh waras gak, si?!" Tambahnya. "Kita ini keluarga terpandang. Kamu gak bisa sembarangan bawa masalah orang lain ke dalam rumah ini hanya karena merasa kasihan, Arya!"

Aku bersumpah demi profesiku, Mbak. Dia gak akan bawa masalah ke rumah ini. Semua urusannya akan kami selesaikan sendiri tanpa bantuan kalian. Dan, untuk malam ini... dan malam-malam selanjutnya, dia akan aman di bawah atap ini."

Maura mendesis pahit. "Mama gak setuju!" Pekiknya. "Kamu pikir rumah ini panti sosial?!"

​"Oh..." Arya mengangguk pelan, namun gerakan itu terasa begitu dingin dan sarat akan ancaman. Ia menatap Ibu dan kakaknya bergantian dengan tatapan yang seolah baru saja memutus ikatan di antara mereka. "... oke. Kalau Mama sama Mbak Freya merasa kehadiran Yasmin adalah polusi bagi rumah ini, maka aku juga akan pergi dari sini. Malam ini juga."

Maura menegang. "Arya! Apa-apaan kamu ini?!"

"Mama bilang rumah ini bukan panti sosial, kan? Mama keberatan ada orang asing yang menumpang di sini?" Arya terkekeh pahit, sebuah suara yang terdengar begitu menyayat hati di tengah kemewahan ruang tamu itu. "Lalu, Mama lupa... kalau aku ini juga bukan anak kandung Mama? Aku ini hanya orang asing yang Mama pungut dari jalanan bertahun-tahun lalu. Lantas, jika rumah ini terlalu suci untuk Yasmin, untuk apa aku masih tinggal di sini?"

Kalimat itu menghantam udara seperti ledakan bom yang membungkam seisi ruangan. Maura menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar, matanya berkaca-kaca menatap putranya yang selama ini ia banggakan, namun kini seolah menjadi asing. Ia terpaku, lidahnya mendadak kelu untuk melanjutkan hinaannya.

Sementara itu, ​Yasmin yang tadi diam, kini menoleh ke arah Arya dengan mata membulat sempurna. Rasa takutnya pada Maura seketika terkalahkan oleh keterkejutan mendengar pengakuan pria di sampingnya. Ia tidak menyangka bahwa di balik kemapanan dan wibawa seorang dr. Arya, tersimpan rahasia yang sama getirnya dengan nasibnya sendiri.

​"Mas..." bisik Yasmin, suaranya parau dan hampir hilang. Ia menarik ujung kemeja Arya dengan jemarinya yang masih bergetar. "Mas, jangan... jangan karena saya..."

​Arya mengabaikan tarikan tangan Yasmin. Ia justru meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat—sebuah pernyataan sikap bahwa mereka berdua berada di posisi yang sama: orang asing yang mencoba untuk bertahan di rumah yang terlalu megah ini.

​"Pilihannya ada di tangan Mama," lanjut Arya, suaranya merendah namun penuh tekanan. "Biarkan dia tinggal dan beristirahat dengan layak, atau lihat aku mengemasi barang-barangku dan pergi bersamanya sekarang juga."

​Di bawah temaram lampu kristal, ketegangan itu memuncak. Maura hanya bisa menelan saliva, sementara Freya hanya bungkam sambil sesekali melirik sang Ibu untuk mendengar keputusannya.

"Mas Arya, tolong... biarkan saya pergi saja." Ujar Yasmin. "Saya sadar kalau saya memang tidak pantas berada di rumah ini, Mas..."

"Tetap di sini, Yasmin," potong Arya tegas, tangannya menahan bahu Yasmin agar gadis itu tidak limbung. Ia tetap menatap ibunya yang sedari tadi terdiam. "Gimana, Ma?"

Ketegangan yang nyaris memutus napas itu pecah oleh reaksi Maura yang tak terduga. Wajah cantiknya yang semula beku kini memerah padam, memancarkan perpaduan antara amarah dan luka yang dalam akibat ucapan Arya.

Maura menghela udara sekuat tenaga, dadanya naik-turun dengan cepat seolah oksigen di ruangan mewah itu tak lagi cukup untuk meredam gejolak di hatinya. "Terserah! Lakukan apa pun yang kamu mau, Arya! Hancurkan rumah ini sesukamu!" pekiknya frustrasi, sebuah teriakan yang menggema, memantul di dinding-dinding marmer yang dingin. Tanpa menoleh lagi, ia memutar tubuhnya dengan kasar.

​Freya tersentak, ia menatap punggung Ibunya yang menghilang kilat dengan tatapan nanar. "Ma! Tunggu!" serunya tertahan, suaranya melengking karena panik melihat perpecahan yang begitu nyata di depan matanya. Tanpa sempat menatap Arya atau Yasmin lagi, ia segera mengejar Maura, meninggalkan ruang tengah dalam keheningan yang menyesakkan.

"Mas... tolong jangan lakukan ini," bisik Yasmin, suaranya pecah. "Mas tidak seharusnya bicara seperti itu pada Ibu dan Kakak Mas karena saya. Saya ini bukan siapa-siapa, Mas..."

"Kamu diam aja..." Potong Arya, suaranya kini merendah, kehilangan nada tajam yang tadi ia gunakan untuk mendebat keluarganya. Ia lalu membalikan tubuhnya menghadap Yasmin. Sorot matanya yang sempat menusuk, kini meluruh saat mata mereka saling bertemu. "... yang penting sekarang, kamu aman disini."

"Tapi Ibu dan..."

"Jangan pedulikan mereka, Yasmin..." Potong Arya lagi. "... pedulikan diri kamu sendiri agar tetap bernapas. Pedulikan luka-lukamu yang masih berdarah itu. Karena harga diri kamu itu lebih berarti dari apapun."

Yasmin kembali menelan saliva dengan susah payah. Di tengah kemewahan rumah yang terasa asing dan dingin ini, hanya tatapan Arya yang terasa seperti api unggun di tengah badai salju. ​"Mas... kenapa sejauh ini?" tanyanya, air matanya jatuh tanpa permisi, membasahi pipinya yang pucat. "Kenapa Mas harus mempertaruhkan hubungan dengan keluarga Mas demi orang asing seperti saya?"

​Arya terdiam sejenak. Ia menatap lekat ke dalam manik mata Yasmin, seolah sedang mencari kepingan dirinya yang hilang di sana. "Karena aku tahu rasanya tidak punya siapa-siapa, Yasmin. Dan aku tidak akan membiarkanmu merasakan kehampaan yang sama malam ini."

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!