1. Konsep Utama (The Core)
Protagonis: Kaelan Veyris (Reinkarnasi Ryan Hartman).
Bakat: EX-Grade Talent "All" (Potensi melampaui dewa, penguasaan semua elemen & jalur).
Organisasi: Nox Astra (Simbol: 9 Bintang). Bergerak dari bayangan untuk menguasai 5 benua.
Misi Utama: Membangun kekuatan absolut melalui panti asuhan rahasia dan jaringan teleportasi kuno.
2. Hierarki Kekuatan (Power System)
Grade Bakat: F (Terendah) sampai S (Legenda), SS (Mitos), dan EX (Kaelan).
Jalur Utama:
Sword Path: Sword Trainee hingga Transcendent Sword (Tebasan Dimensi).
Mage Path: Mana Initiate hingga Transcendent Mage (Manipulasi Realitas).
Hybrid Path: Gabungan keduanya (Kaelan & Nox).
Sihir Langka: Teleportasi jarak jauh (Teknik kuno yang hanya dikuasai Kaelan/Nox Astra).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seat Bos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBANTAI DI LEMBAH SUNYI
Lembah Sunyi adalah sebuah celah sempit di antara dua tebing raksasa yang menjadi satu-satunya jalan masuk bagi pasukan Kadipaten Arlan menuju jantung Veyris. Di sana, lima ribu prajurit berbaju zirah baja berat bergerak maju. Deru langkah kaki kuda dan gemerincing senjata mereka mengguncang tanah yang basah oleh sisa hujan semalam.
Di barisan depan, Duke Arlan tertawa di atas kudanya. "Aldric benar-benar sudah gila. Mendeklarasikan kemerdekaan? Dia pikir dia siapa? Dalam satu hari, kepalanya akan terpasang di gerbang Ibukota!"
"Tuan Duke, kabut di depan tampak aneh," lapor seorang penyihir militer (Level 5) yang berada di sampingnya. "Sensor manaku tidak bisa menembusnya. Seolah-olah ada dinding yang memisahkan dunia ini."
Duke Arlan memicingkan mata. "Hanya kabut pagi biasa. Terus maju! Jangan biarkan tikus-tikus perbatasan itu bernapas!"
Namun, saat prajurit pertama melangkah masuk ke dalam kabut tebal itu, suara mereka mendadak hilang. Bukan karena mereka berhenti berteriak, tapi karena suara itu sendiri tidak bisa merambat.
Di puncak tebing yang menghadap ke lembah, Kaelan berdiri tenang. Angin kencang mempermainkan jubah hitamnya. Di tangannya, ia memegang sebuah bola kristal hitam yang berdenyut dengan cahaya ungu.
"Mira, aktifkan Silence Zone (Zona Keheningan)," perintah Kaelan.
"Sudah, Tuan. Tidak ada suara, sinyal mana, atau cahaya yang bisa keluar dari lembah ini selama ritual berlangsung," jawab Mira. Ia berdiri di belakang Kaelan, matanya bersinar ungu, mempertahankan dimensi isolasi yang sangat luas.
Kaelan menoleh pada Nox yang sudah bersiap dengan dua belas bayangannya. Mereka mengenakan topeng perak berbentuk wajah iblis yang menangis.
"Nox, jangan gunakan pedang. Gunakan teknik Mana Devour (Pelahap Mana) yang kuajarkan. Aku butuh inti mana mereka untuk mengisi ulang cadangan energi Veyris," ucap Kaelan dingin.
"Sesuai perintah, Tuan," Nox menghilang, seolah-olah tubuhnya terurai menjadi asap hitam.
Di bawah, di dalam lembah, neraka dimulai.
Seorang prajurit Arlan merasakan sesuatu yang dingin melewati lehernya. Ia hendak berteriak, tapi mulutnya terbuka tanpa suara. Rekannya di sampingnya menoleh, hanya untuk melihat kepala prajurit itu menghilang dalam kabut, diikuti oleh tubuhnya yang mendadak kering kerontang seolah-olah seluruh cairannya disedot dalam sedetik.
Lalu, muncul sosok-sosok bertopeng perak. Mereka bergerak bukan seperti manusia, tapi seperti hantu. Setiap kali belati mereka menyentuh musuh, aura biru dan emas milik prajurit Arlan akan tersedot masuk ke dalam senjata para pembunuh itu.
"Apa ini?! Sihir hitam?!" teriak sang penyihir militer Arlan. Ia mencoba merapal mantra api raksasa, namun begitu ia memicu mananya, ruang di sekitarnya mendadak tertekuk.
Krak!
Tangan penyihir itu patah ke arah yang mustahil. Mira muncul tepat di depannya dari celah dimensi.
"Sihirmu terlalu lambat untuk ukuran penyihir kerajaan," ucap Mira datar. Dengan satu jentikan jari, ia mengirim penyihir itu ke dalam Void—dimensi hampa udara tempat ia akan mati lemas dalam hitungan detik.
Duke Arlan gemetar. Ia menghunuskan pedang besarnya, mencoba memicu auranya, namun ia menyadari bahwa ia tidak bisa merasakan mananya sendiri. Atmosfer di lembah itu telah diubah oleh Kaelan menjadi area Mana Dead Zone.
"Siapa kalian?! Keluar!" teriak Duke Arlan dalam keputusasaan yang sunyi.
"Aku di sini, Duke," suara anak kecil bergema di dalam kepalanya melalui transmisi mental.
Kaelan melayang turun dari puncak tebing. Ia tidak menggunakan sayap, tapi seolah-olah udara itu sendiri membentuk anak tangga bagi kakinya yang kecil. Ia mendarat dengan tenang di tumpukan mayat prajurit yang sudah mengering.
"K-Kaelan Veyris?" Duke Arlan terperangah.
"Kau... monster kecil apa kau ini?"
Kaelan menatap sang Duke dengan mata yang tidak memiliki emosi manusia. "Kau datang untuk membakar rumahku. Kau datang untuk membunuh ibuku. Dan kau bertanya aku ini apa?"
Kaelan mengangkat tangan kanannya. Seluruh mana yang telah disedot oleh Nox dan timnya dari lima ribu prajurit tadi kini terkumpul di atas telapak tangan Kaelan, membentuk sebuah matahari mini berwarna hitam-ungu yang sangat padat.
"Nox Astra: Singularity," bisik Kaelan.
Bola itu jatuh perlahan ke tengah-tengah pasukan Arlan yang tersisa. Begitu menyentuh tanah, tidak ada ledakan besar. Sebaliknya, bola itu mulai menarik segala sesuatu di sekitarnya. Pohon, batu, kuda, hingga manusia tersedot masuk ke dalam titik hitam itu dan hancur menjadi partikel dasar.
Duke Arlan berteriak saat tubuhnya mulai terkoyak, namun suaranya tetap tertelan oleh keheningan sihir Mira. Dalam waktu kurang dari satu menit, lima ribu pasukan elit Kadipaten Arlan lenyap tanpa meninggalkan satu pun tetes darah di tanah. Lembah itu kini bersih, seolah-olah tidak pernah ada manusia yang melewatinya.
Kaelan menarik napas panjang. Menggunakan sihir skala besar seperti itu di tubuh anak enam tahun benar-benar menguras tenaganya. Ia hampir terjatuh, namun Nox dengan sigap muncul dan menangkapnya.
"Kerja bagus, Nox," gumam Kaelan lemah.
"Tuan, musuh telah musnah sepenuhnya. Tidak ada saksi mata," lapor Nox.
Kaelan menoleh pada Mira. "Mira, ambil lencana Duke Arlan. Kirimkan ke Raja Valdoria bersama pesan kedua: Satu kadipaten telah jatuh. Tersisa tiga."
"Siap, Tuan," jawab Mira, matanya menunjukkan pengabdian yang semakin dalam.
Kaelan menatap langit yang mulai cerah. Di kejauhan, ia bisa merasakan aura ayahnya, Aldric, yang sedang memimpin pasukan di garis pertahanan lain. Dengan hilangnya pasukan Arlan, tekanan pada Veyris berkurang drastis.
"Pulanglah," ucap Kaelan. "Kita punya kerajaan yang harus dibangun, dan aku ingin makan sup buatan Mama sebelum dia curiga kenapa aku pergi terlalu lama dari kamar."
Nox dan Mira hanya bisa tersenyum tipis. Meskipun tuannya adalah monster yang baru saja melenyapkan ribuan nyawa tanpa berkedip, dia tetaplah "Tuan Muda" mereka yang terkadang masih merindukan sup hangat ibunya.