Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17: Kedatangan Vanya
Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar utama. Nara sudah bangun sejak subuh, menyelesaikan salatnya dan kembali mengecek kondisi Tuan Surya. Keadaan sang mertua sudah jauh lebih baik, namun Nara tetap telaten mengganti air minum dan memastikan kamar tersebut tetap tenang.
Danu, yang tidur di sofa ruang kerja, terbangun dengan leher kaku. Ia turun ke bawah dan melihat Nara sedang membantu pelayan menyiapkan sarapan khusus rendah natrium untuk ayahnya. Tidak ada teriakan, tidak ada sindiran. Hanya ada ketenangan yang asing bagi Danu.
Namun, ketenangan itu hanyalah fatamorgana. Sebuah deru mesin mobil mewah yang berhenti mendadak di depan teras mansion memecah kesunyian. Disusul oleh suara sepatu hak tinggi yang menghentak keras di lantai marmer ruang tamu.
"DANU! KELUAR KAMU!"
Suara melengking itu milik Vanya. Ia berhasil menerobos masuk setelah memaki petugas keamanan di gerbang depan. Wajahnya yang biasanya dipoles sempurna kini tampak berantakan oleh kemarahan dan maskara yang luntur karena tangisan.
Danu berlari ke ruang tamu, wajahnya menegang.
"Vanya? Apa yang kamu lakukan di sini? Aku sudah bilang kita sudah berakhir!"
Vanya tertawa histeris, matanya menyapu ruangan hingga tertuju pada Nara yang muncul dari arah dapur dengan celemek yang masih terikat di pinggangnya.
"Oh, jadi ini?" Vanya melangkah cepat ke arah Nara, menunjuk wajah Nara dengan kuku-kuku panjangnya yang dicat merah.
"Jadi ini alasan kamu memutus pertunangan kita? Untuk wanita kampung ini? Untuk guru rendahan yang bahkan tidak sanggup membeli bedak mahal?!"
Nara terpaku. Ia tidak mengenal wanita ini, namun ia bisa merasakan kebencian yang meluap dari sorot matanya.
Vanya menatap Nara dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan.
"Berapa harga yang kamu tawarkan pada keluarga Setiawan, hah?" desis Vanya tepat di depan wajah Nara. "Apa kamu pura-pura hamil? Atau kamu pakai ilmu hitam untuk menjerat Danu? Lihat dirimu! Kamu itu cuma parasit! Kamu menggunakan ke polosanmu untuk memeras simpati, kan?"
Nara mencoba tetap tenang, meski hatinya berdenyut perih. "Nona, saya tidak tahu siapa Anda, tapi tolong jaga bicara Anda di rumah ini."
"Jaga bicara?" Vanya tertawa mengejek.
"Aku adalah calon istri Danu yang sah sebelum kamu datang dan merusak segalanya dengan kemiskinanmu yang menjijikkan! Kamu pikir dengan memakai baju pelayan seperti ini kamu bisa jadi ratu di sini? Kamu tetaplah sampah, Nara. Sampah yang hanya pantas berada di paviliun belakang, bukan di kamar utama!"
Vanya mengangkat tangannya, hendak melayangkan tamparan ke pipi Nara. Nara memejamkan mata, bersiap menerima hantaman itu sebagai bagian dari "bayaran" hidupnya yang hancur.
Gerep!
Tangan Vanya berhenti di udara. Bukan karena Nara yang menangkisnya, melainkan karena sebuah tangan besar dan kuat mencengkeram pergelangan tangan Vanya dengan sangat kencang.
Danu berdiri di depan Nara. Tubuhnya yang tinggi tegap menutupi sosok Nara sepenuhnya, seolah menjadi benteng yang tak tertembus.
"Cukup, Vanya," suara Danu rendah, namun sangat mengancam.
"Danu! Lepaskan! Kenapa kamu membelanya?!" teriak Vanya histeris.
"Dia sudah menghancurkan kita! Dia jalang yang merayumu, kan?!"
"Jaga mulutmu!" bentak Danu. Ia menyentakkan tangan Vanya hingga wanita itu mundur beberapa langkah.
"Wanita yang kamu maki ini adalah istriku. Dia adalah Nyonya Setiawan yang sah. Apa pun yang terjadi di antara kita adalah urusanku, tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun termasuk kamu menghinanya di bawah atap rumahku!"
Nara menatap punggung Danu dengan rasa tidak percaya. Pria yang beberapa hari lalu menyerangnya, kini berdiri sebagai pelindungnya.
Vanya terbelalak. "Istri? Kamu menyebutnya istri setelah apa yang kamu ceritakan padaku tentang betapa kamu membencinya? Danu, kamu sudah gila! Kamu tertular kemiskinannya!"
"Mungkin aku memang gila," sahut Danu dingin. "Tapi setidaknya aku masih punya sisa harga diri untuk tidak membiarkan wanita sebaik dia dihina oleh orang sepertimu. Nara baru saja menyelamatkan nyawa papaku kemarin, sementara kamu? Kamu datang ke sini hanya untuk membuat keributan saat papaku sedang butuh ketenangan."
Danu memberi isyarat pada Andra dan dua pengawal lainnya yang sudah berdiri di pintu.
"Bawa dia keluar. Pastikan dia tidak pernah bisa menginjakkan kaki di rumah Setiawan lagi. Jika dia berani mendekati Nara, jangan ragu untuk menyeretnya ke jalur hukum," perintah Danu tanpa keraguan sedikit pun.
"DANU! KAMU AKAN MENYESAL! KAMU AKAN MEMOHON PADAKU UNTUK KEMBALI!"
teriak Vanya saat ia diseret keluar oleh pengawal. Suara teriakannya perlahan menghilang seiring dengan tertutupnya pintu besar mansion.
Ruang tamu kembali sunyi. Danu menarik napas panjang, mencoba meredam amarahnya. Ia berbalik dan menatap Nara.
Nara masih gemetar. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Danu. "Terima kasih... Pak Danu."
Danu terdiam sejenak. Ia melihat betapa kecil dan rapuhnya sosok Nara di balik ketegarannya semalam. "Dia bicara benar, kan? Kamu merasa dihina karena aku membatalkan pertunanganku dengan dia."
"Saya tidak peduli dengan hubungan Bapak," bisik Nara. "Saya hanya... saya hanya tidak ingin dianggap sebagai parasit."
Danu melangkah mendekat, namun ia ingat untuk menjaga jarak. "Nara, dengar. Apa yang dikatakannya... itu semua sampah. Kamu bukan parasit. Kamu adalah satu-satunya orang yang masih punya nurani di rumah yang penuh dengan ego ini."
Danu menatap tangan Nara yang masih meremas celemeknya. "Maafkan aku karena masa laluku harus menyeretmu ke dalam keributan ini. Mulai sekarang, tidak akan ada yang berani menyentuhmu lagi. Aku bersumpah."
Nara mendongak, matanya bertemu dengan mata Danu. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat sosok monster di sana. Ia melihat seorang pria yang sedang mencoba memunguti serpihan harga dirinya yang hancur.
"Bapak melakukannya karena kontrak?" tanya Nara lirih.
Danu menggeleng pelan. "Aku melakukannya karena itu hal benar yang harus dilakukan seorang pria untuk melindungi istrinya... meskipun pernikahan ini berawal dari sebuah kesalahan besar."
Danu berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya, meninggalkan Nara yang terpaku dengan jantung yang berdegup tidak menentu.
Di dalam hatinya, Nara mulai bertanya-tanya: Apakah es di hati Danu benar-benar mulai mencair, atau ini hanyalah taktik baru untuk menjeratnya lebih dalam?
***