NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Transmigrasi Gadis Gila Di Alam Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Hari Kiamat / Fantasi Timur
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.

Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?

kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

berteman protagonis pria

Pagi itu, matahari bersinar redup di atas kastil megah kaki Gunung Qingcheng. Udara dingin menusuk, tapi Lin Yan sudah berdiri di depan pintu utama sejak pukul 05.00, menunggu adiknya bersiap.

Penampilannya berbeda hari ini.

Rambut putih panjang yang dulu tergerai indah, kini dipotong pendek model Comma Hair atau potongan rapi dengan sedikit gelombang di bagian depan, memberi kesan berkelas dan tegas. Wajahnya yang cantik dengan mata merah delima kini tampak lebih tajam, lebih dewasa. Tinggi badannya yang 1,75 meter membuatnya tampak menjulang, ditambah kaos hitam ketat yang memperlihatkan sedikit otot lengannya, celana olahraga hitam, jaket hitam, dan sepatu bot. Di mulutnya, sebatang rokok menyala. dia membungkus dada nya menggunakan perban khusus.

Dari kejauhan, ia terlihat seperti artis papan atas atau model sampul majalah GQ Tiongkok. Atau mungkin preman berkualitas yang salah kostum.

【Kau potong rambut?】

"Iya." Lin Yan menghembuskan asap, membuat bulatan-bulatan kecil. "Biar praktis. Rambut panjang repot kalau bertarung. Pernah sekali hampir kebakar kena bola api pas latihan."

【...Kau sekarang terlihat seperti laki-laki tampan.】

"Bagus." Lin Yan tersenyum tipis. "Mungkin orang-orang akan bingung. Lebih aman. Lagipula, di dunia kiamat, penampilan androgini itu menguntungkan."

【Kau ini... Ah sudahlah.]

Lin Feng keluar dari kastil, mengenakan pakaian serupa—kaos hitam, celana olahraga hitam, sepatu bot. Rambut hitamnya dibiarkan sedikit berantakan, memberi kesan cool ala remaja. Ia melihat kakaknya dan tertegun, mata membelalak.

"Wah, Jie! Potong rambut! Keren banget!" serunya, berjalan mengelilingi Lin Yan untuk melihat dari berbagai sudut. "Cakep! Kayak artis majalah! Tapi lebih... gimana ya... galak?"

"Sudah, jangan banyak komentar. Ayo." Lin Yan membuka pintu mobil militer hitam yang sudah dimodifikasi—Mengshi versi sipil dengan plat baja dan kaca anti peluru. Mereka naik, mesin menderu, melaju meninggalkan gerbang kastil dengan ukiran mawar hitam-merah.

Dari balik semak, Baihu dan Lang Shen muncul sebentar, mengawasi kepergian tuan mereka, lalu kembali ke hutan.

Di dalam mobil, Lin Feng menatap kakaknya yang fokus menyetir, lalu bertanya, "Jie, kita mau ke mana?"

"Rumah sakit." Jawab Lin Yan singkat, matanya lurus ke depan.

"R-Rumah sakit?" Lin Feng pucat, tubuhnya menegang. "Tapi di sana pasti banyak zombie! Itu sarangnya!"

"Justru itu." Lin Yan menoleh sekilas, matanya merah delima dingin. "Untuk menguji hasil latihanmu. Part 2 sudah selesai, sekarang waktunya ujian praktik."

Lin Feng menelan ludah. Tangannya meremas paha sendiri gelisah. Ia tahu tidak bisa menolak. Selama beberapa minggu bersama kakaknya, ia belajar satu hal: ketika Lin Yan sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya. Bahkan sistem pun kadang kalah.

Mobil berhenti di depan Rumah Sakit Umum Daerah Qingcheng, gedung tinggi 10 lantai dengan kaca-kaca pecah berserakan di halaman, pintu utama terbuka lebar seperti mulut raksasa, dan mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Bau busuk menyengat sudah terbawa angin. Dari dalam terdengar raungan zombie yang menggema, bergantian, seperti paduan suara neraka.

Lin Yan turun, membuka pintu belakang mobil, dan mengeluarkan sebilah pedang panjang jian lurus khas Tiongkok dengan bilah berkilau dan ukiran naga di gagangnya dan melemparkannya ke arah Lin Feng. Adiknya menangkap dengan refleks yang sudah terlatih, gerakannya halus dan pasti.

"Pergi." Suara Lin Yan datar. "Bunuh semua zombie di dalam. Semua lantai."

"J-Jie... sendirian?" Lin Feng gemetar, tapi tangannya sudah menggenggam pedang erat.

"Kau mau Jie temani?" Lin Yan mengangkat satu alis. "Berarti latihanmu gagal. Dan kau akan Jie latih tambahan Part 3 dengan intensitas 5 kali lipat."

Lin Feng langsung geleng-geleng kepala. "TIDAK! Aku bisa sendiri!"

"Bagus." Lin Yan bersandar di pintu mobil, mengeluarkan rokok dari saku jaket, menyalakannya dengan korek api mewah yang dia ambil dari mall "Ayo. Jangan lama-lama. Jie tunggu di sini sambil merokok. Kalau lebih dari 1 jam, Jie anggap kau mati, dan Jie akan sedih lalu Jie akan latihan lebih keras untuk balas dendam."

"JIE!" Lin Feng hampir menangis, tapi ia sudah berlari menuju pintu rumah sakit.

Lin Yan mengisap rokoknya, menatap pintu rumah sakit yang gelap. Asap mengepul di udara pagi.

【Kau yakin menyuruhnya sendirian?】

"Iya."

【Dia masih anak-anak. Baru 16 tahun.】

"Dia 16 tahun. Di dunia kiamat, itu sudah dewasa." Lin Yan menghembuskan asap. "Aku ingin dia kuat. Tidak bergantung pada siapa pun. Apalagi pada perempuan—walaupun aku kakaknya. Nanti kalau aku mati, dia harus bisa bertahan sendiri."

【...Kau kejam tapi sayang. Itu kombinasi aneh.】

"Namanya juga seorang kakak." Lin Yan mengangkat bahu.

Dari dalam rumah sakit, terdengar teriakan Lin Feng. Bukan teriak kesakitan, tapi teriak penuh semangat—dan umpatan khas remaja.

"DASAR ZOMBIE KEPARAT! MAKAN INI!"

Suara tebasan.

"HUARGH! MATI KAU! MATI!"

Suara benturan.

"JANGAN DEKAT-DEKAT! ATAU AKU SURUH KAKAKKU LATIHIN KAU SAMPE BINASAH! KALIAN BAKAL MERINDUKAN KEMATIAN!"

Suara zombie jatuh.

Lin Yan tersenyum kecil mendengar umpatan adiknya. Ia bisa membayangkan Lin Feng yang ketakutan tapi berusaha keras, membunuh zombie sambil berteriak-teriak menguatkan diri. Kadang-kadang teriakannya lucu.

【Dia panggil namamu buat menakuti zombie.】

"Efektif." Lin Yan terkekeh. "Siapa tahu zombie jadi mikir dua kali."

Tiba-tiba, kekuatan mentalnya yang semakin terasah akhir-akhir ini menangkap sesuatu. Getaran di tanah, suara mesin. Beberapa kendaraan mendekat. Cepat. Dari arah utara.

"Sistem, apa itu?"

【Mobil militer. Lima orang di dalam. Akan sampai dalam 5 menit.】 jawab Sistem Xiyue cepat.

Lin Yan mengangguk, tetap santai merokok. Ia tidak peduli. Fokusnya pada adiknya yang sedang bertarung di dalam. Sesekali ia mendengar teriakan Lin Feng yang makin semangat.

Tiga menit kemudian, Lin Feng keluar dari rumah sakit dengan napas terengah-engah, pedang berlumuran darah hitam, wajahnya kotor oleh darah dan keringat, tapi matanya berbinar-binar penuh kemenangan.

"JIE! AKU BERHASIL!" teriaknya bangga, berlari mendekat. "Ada 50 zombie di dalam! Lantai 1 sampai 3! Semua mati! Aku hitung sendiri!"

Lin Yan mengacungkan jempul, masih dengan rokok di tangan. "Bagus. Nilai A untuk hari ini."

Lin Feng tersenyum lebar, bangga dipuji kakaknya. Ia hampir memeluk Lin Yan, tapi tiba-tiba suara mesin menderu dari kejauhan. Sebuah konvoi kecil mungkin dua mobil militer jenis Mengshi, berhenti tepat di depan mereka, memotong jalan keluar.

Pintu terbuka serempak. Lima pria turun dengan gerakan cepat dan terkoordinasi.

Lin Yan mengamati mereka satu per satu dengan tatapan malas, masih mengisap rokoknya. Dari postur dan aura mereka, jelas ini bukan orang sembarangan. Mereka bergerak seperti prajurit terlatih, tapi ada keakraban di antara mereka seperti sahabat lama.

Yang pertama turun, seorang pria dengan rahang tegas, tatapan dingin, postur tegap seperti baja. Ia mengenakan seragam lapangan hijau gelap, dan dari caranya berdiri, jelas dia pemimpinnya. Usia sekitar 30-an, tampan dengan aura militer yang kuat.

【Gu Beichuan. Protagonis pria. Mantan komandan militer, pensiun dini karena cedera. Pengguna kekuatan petir tapi di dunia ini, kekuatan super belum aktif. Akan aktif saat kiamat bulan kedua.】 bisik Sistem di kepalanya. 【Pemimpin kelompok ini. Sahabat masa kecil yang tumbuh bersama.】

Yang kedua, pria tampan dengan senyum playboy, rambut sedikit panjang, mata yang selalu tampak bergoda. Ia mengenakan jaket kulit hitam, celana jins, santai tapi waspada. Di pinggangnya, ada pistol.

【Hu Feng. Sahabat kedua. Julukan "Si Playboy". Spesialis pengintaian dan negosiasi. Nantinya akan mendapatkan kekuatan angin.】

Yang ketiga, pria berwibawa dengan kacamata tipis, tampak seperti intelektual, membawa tablet di tangan. Wajahnya tenang, penuh perhitungan.

【Chen Jie. Sahabat ketiga. Otak kelompok. Mantan perwira intelijen. Nantinya dapat kekuatan telepati.】

Yang keempat, pria pendiam dengan tatapan tajam, tubuh kekar, seperti prajurit lapangan sejati. Tangannya besar, penuh kapalan.

【Wang Lei. Sahabat keempat. Spesialis tempur jarak dekat. Nantinya dapat kekuatan fisik super.】

Yang kelima, pria berkacamata lain, lebih muda, terlihat seperti asisten atau kutu buku, membawa ransel besar.

【Zhao Ming. Sahabat kelima. dia seorang asisten yang memiliki kekuatan kecerdasan 】

Kelima-limanya tampan dengan gaya masing-masing. Kelima-limanya memancarkan aura kuat, tapi bukan aura jahat—mereka terlihat seperti tim yang solid, saling percaya.

Gu Beichuan melangkah maju, matanya mengamati Lin Yan dan Lin Feng dengan cepat, lalu beralih ke mobil militer hitam di belakang mereka. Modifikasi berat, kaca anti peluru, plat baja—jelas kendaraan mahal dan canggih. Lalu matanya beralih ke pedang di tangan Lin Feng yang masih berlumuran darah, lalu ke Lin Yan yang sedang merokok santai.

"Siapakah kalian?" suaranya dalam, berwibawa, tapi tidak mengancam.

Lin Yan menghembuskan asap, menjawab dengan malas, "Orang yang sedang lewat. Lagi latihan."

Gu Beichuan mengerutkan kening. Ia menatap Lin Yan—rambut pendek, jaket hitam, rokok, postur tegap, tatapan dingin, suara sedikit rendah. Jelas di matanya, ini seorang pria. Mungkin mantan militer atau preman berkualitas. Tidak ada tanda-tanda bahwa ini perempuan.

"Latihan? Di sini?" tanya Hu Feng dengan nada sedikit menggoda, sambil berjalan memutar mengamati mereka. "Rumah sakit ini zona merah. Penuh zombie. Kami monitor dari drone, setidaknya ada 50-60 di dalam."

"Makanya latihan." Lin Yan mengisap rokok lagi. "Biar adikku belajar. Ada masalah?"

Suasana sedikit tegang. Para prajurit saling pandang. Gu Beichuan mengamati Lin Feng—masih remaja, tapi membawa pedang berlumuran darah, napas stabil, tidak panik, matanya waspada. Jelas sudah bertarung dan menang.

"Adikmu?" Chen Jie angkat bicara, matanya memicing menganalisis. "Dia baru saja membunuh zombie di dalam?"

"Tanya saja sendiri." Lin Yan mengangguk ke arah Lin Feng.

Lin Feng, yang sejak tadi diam dan agak tegang, langsung membusungkan dada. "Iya! Ada 50 zombie! Lantai 1 sampai 3! Semua aku bunuh!"

Hu Feng bersiul pelan. "Wah, bocah ini kuat. Usia berapa?"

"16!" jawab Lin Feng bangga.

Gu Beichuan mengangguk, ada rasa kagum di matanya. Ia lalu kembali menatap Lin Yan. "Aku Gu Beichuan, mantan komandan militer. Sekarang memimpin kelompok penyintas di barak militer dekat sini—sekitar 2 kilometer ke utara." Ia menawarkan tangan. "Kalian berdua terlihat kuat. Tertarik bergabung? Kami punya fasilitas lengkap. Makanan, tempat aman, perlindungan. Juga tim yang solid."

Lin Yan menatap tangan itu, lalu kembali ke wajah Gu Beichuan. Ia menghembuskan asap tepat ke arah tangan yang terulur—bukan kasar, tapi seperti gestur cuek.

"Tidak."

Gu Beichuan mengangkat alis, tidak tersinggung, hanya penasaran. "Boleh tahu kenapa?"

"Kami juga punya fasilitas." Lin Yan mengeluarkan ponsel, main-main tidak peduli. "Makanan, tempat aman, perlindungan. Bahkan lebih lengkap. Terima kasih tawarannya, tapi tidak."

Hu Feng bersiul lagi. "Wah, dingin sekali. Biasanya orang-orang pada antre mau bergabung dengan Komandan Gu. Kami punya stok makanan, obat-obatan, dan personel terlatih."

"Selera orang beda-beda." Lin Yan menatap Lin Feng. "Feng, masuk mobil. Kita pergi."

Lin Feng menurut, naik ke kursi penumpang dengan cepat. Lin Yan berjalan ke sisi pengemudi, lalu berhenti, menoleh ke Gu Beichuan.

"Oh iya." Ia membuang puntung rokok, menginjaknya dengan sepatu bot. "Hati-hati di utara. Ada kelompok besar zombie, sekitar 200-an, bergerak ke selatan. Dua jam lagi sampai sini. Mungkin mereka akan melewati area ini. Saran saya, cepat ambil perlengkapan di rumah sakit lalu pergi. Jangan kelamaan."

Gu Beichuan terkejut. Matanya menyipit. "Kau tahu itu dari mana? Kami punya drone, tapi belum mendeteksi gerakan sebesar itu."

Lin Yan tersenyum—senyum misterius yang tidak sampai ke mata. "Firasat. Atau mungkin... aku punya mata dimana-mana." Ia melirik ke arah hutan, di mana seekor elang hitam besar bertengger diam-diam. "Pokoknya terserah. Aku sudah kasih info."

Ia masuk mobil, menyalakan mesin, dan melaju pergi meninggalkan kelima pria itu terpaku.

Di dalam mobil, Lin Feng menatap kakaknya dengan kagum bercampur heran. "Jie, keren banget! Mereka ajak bergabung, Jie tolak mentah-mentah! Padahal mereka kelihatan kuat dan... tampan-tampan."

"Memangnya kenapa harus bergabung?" Lin Yan menyetir santai, satu tangan di setir, satu tangan mengeluarkan rokok baru. "Kita punya kastil, punya makanan, punya keamanan, punya hewan peliharaan super. Buat apa ikut orang lain?"

"Iya sih..." Lin Feng berpikir. "Tapi mereka kelihatan kuat, Jie. Apalagi yang komandan itu. Auranya kay... kayak singa."

"Memang kuat." Lin Yan mengakui. "Mereka kelompok terkuat di militer sektor ini. Tapi kita tidak butuh mereka. Lagipula, mereka belum punya kekuatan super. Masih manusia biasa."

"Kekuatan super?" Lin Feng menoleh. "Jie, apa maksudnya?"

Lin Yan menyadari sedikit keceplosan. "Nanti Jie jelasin. Pokoknya, mereka kuat, tapi kita juga kuat. Dan kita punya sistem yang tidak mereka punya."

【Kau tidak mau kenalan dengan tokoh utama? Bisa berguna nanti.】 Lin Yan mendengar suara sistem di kepalanya.

"Nanti saja kalau perlu. Sekarang, prioritas utama: adikku. Biar dia fokus latihan dulu."

【...Kadang kau aneh. Tapi oke.】

Di luar jendela, pemandangan kota yang hancur berlalu. Lin Feng membuka jendela kecil, membiarkan angin menerpa wajahnya. Ia tersenyum.

"Jie, hari ini seru! Aku berhasil bunuh 20 zombie sendiri!"

"Besok lebih seru." Lin Yan tersenyum misterius. "Besok kita cari zombie lagi. Mungkin 30."

"HAH?!" Lin Feng langsung melorot di kursi. "JIE! KASIHAN ADIKMU!"

"Dunia tidak kenal kasihan." Lin Yan mengisap rokok. "Hanya yang kuat yang bertahan."

Di rumah sakit, Gu Beichuan dan anak buahnya masih berdiri, menatap mobil hitam yang menjauh hingga hilang di tikungan.

"Komandan, kita biarkan saja?" tanya Wang Lei, pria pendiam itu.

Gu Beichuan diam sejenak, lalu berkata, "Orang itu... aneh. Tapi informasinya soal zombie di utara... kita cek dulu. Zhao, putar drone ke utara."

Zhao Ming langsung mengeluarkan tablet, mengoperasikan drone. Beberapa menit kemudian, matanya membelalak. "Komandan... dia benar. Sekitar 200 zombie, bergerak ke selatan. Dua jam lagi sampai sini."

Hu Feng bersiul panjang. "Dia tahu dari mana? Mata-matanya elang?"

"Mungkin dia punya kemampuan khusus." Gu Beichuan berbalik. "Ayo cepat ambil perlengkapan. Kita ambil yang penting-penting saja. Waktu kita terbatas."

Mereka bergegas masuk rumah sakit, sementara Chen Jie masih menatap arah mobil itu pergi. "Orang itu... aku rasa dia bukan laki-laki."

Hu Feng menoleh. "Apa? Maksud lo?"

"Gerakannya, cara dia berdiri, cara dia merokok... ada kelembutan di sana. Dan matanya merah, tapi bukan merah darah. Lebih seperti... merah delima. Cantik." Chen Jie menggeleng. "Tapi suaranya rendah. Mungkin androgini."

"Yang jelas, dia kuat." Gu Beichuan memotong. "Dan dia punya adik yang juga kuat. Kita catat saja. Mungkin suatu hari kita butuh bantuan mereka."

Mereka masuk ke rumah sakit, sementara di kejauhan, mobil hitam itu sudah hilang dari pandangan.

Di kastil, Lin Yan memarkir mobil di depan pintu utama. Mereka turun, disambut Baihu dan Lang Shen yang sudah menunggu.

"Jie, mereka kok kayak ngerti kita pulang?" tanya Lin Feng heran.

"Karena mereka hewan kontrakku. Mereka bisa merasakan keberadaanku." Lin Yan mengelus kepala Baihu. "Jaga baik-baik, ya."

Kedua hewan itu mengaum pelan, setuju.

Di dalam kastil, Lin Feng langsung ambruk di sofa. "Capek... Tapi puas!"

Lin Yan duduk di seberangnya, mengeluarkan rokok, lalu mengingat sesuatu. Ia mematikan rokok itu dan memasukkannya kembali.

【Kau tidak jadi merokok?】

"Di depan adikku, sebaiknya jangan. Nanti dia ikut-ikutan."

【...Kau benar-benar kakak yang aneh. Tapi baik.】

"Feng'er." Lin Yan memanggil.

"Iya, Jie?"

"Mulai besok, latihan ditingkatkan. Kau harus bisa menghadapi 100 zombie sendirian."

Lin Feng langsung pucat. "JIE! AKU BARU SELESAI 50!"

"Dan kau hebat. Makanya ditingkatkan." Lin Yan tersenyum tipis. "Jangan khawatir, Jie akan selalu di dekatmu. Mengawasi mu."

Lin Feng menghela napas panjang, tapi akhirnya mengangguk. "Iya, Jie. Aku percaya sama Jie."

Di luar, matahari mulai condong. Hari masih panjang. Dan di dunia yang hancur ini, dua bersaudara terus berlatih, bersiap menghadapi apa pun yang akan datang.

Termasuk kemungkinan bertemu lagi dengan kelompok protagonis pria itu.

Tapi untuk saat ini, prioritas utama: membuat Lin Feng sekuat mungkin.

Karena Lin Yan tahu, di dunia kiamat, hanya yang kuat yang bertahan.

Dan ia akan memastikan adiknya termasuk yang terkuat.

1
azka Heebat
double up thorr masih kurang /Sob/
nana
rekomendasi banget untuk peminat cerita kiamat, seru banget pokonya. soalnya si Lin yan ini kayak gila tapi sadar gimana ya dan ceritanya juga gak mudah di tebak, bagus pokoknya 🫶😍
nana
ceritanya bagus banget kak😍😍, maaf ya aku masih akun baru jadi gak bisa kasih gift 😭😭
Ellasama
up lagi dong, yg banyak y kak💪/Determined/
Weeks
thor jangan lupa update yaa 🤭
Weeks
Aku bakal rajin nunggu eps baru nya thor 🤭 semangat thor 💪
Weeks
seru banget cerita ny, wajib baca novel ini masa enggk baca padahal bagus loh 🤭
Ellasama
alurnya still good n selalu semangat buat karya dengan tema seperti ini👍🏻/Determined/
Ellasama
bagus👍🏻
Ellasama
makasih Thor udah up tetap semangat 💪/Determined/
Ellasama
kak kapan update lagi? dah gak sabar ni
Ellasama
semangat up ny jgn patah semangat pembaca setiamu ini akan selalu menanti dan terus mendukung dengan like Koment dan Gift 💪/Determined/
Ellasama
padahal novel ny sebagus ini tp kok gak ada yg baca y?/NosePick/
azka Heebat: iya bagus
total 1 replies
Ellasama
makin penasaran siapa yg jadi pasangan nya si Lin yan/NosePick/
Ellasama
yang s mangat💪
Ellasama
logika lurus yg patut dipertahankan di banyak novel bertema kan akhir dunia/Determined/
Ellasama
lanjut 💪 makin dibaca makin seru gila💪😊
Ellasama
seruu banget, yg belum baca diwajibkan baca seru banget alurnya beda dari kebanyakan novel bertema Apocalypse 💪😘
Ellasama
lanjut thor💪
Ellasama
semangat up ny💪😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!