Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Sengaja Disentuh
Sejak rapat kemarin, suasana antara Rania dan Adrian berubah.
Bukan menjadi lebih buruk.
Justru lebih dingin.
Dan bagi orang yang peka, dingin seperti itu jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran.
Di kantor Hartono Group, Rania kembali bekerja seperti biasa.
Tidak ada tanda bahwa ia baru saja mempermalukan seorang CEO di depan para direktur perusahaan.
Arsen duduk di kursi depan mejanya sambil memegang tablet.
Ia membaca laporan berita yang baru saja keluar.
Lalu ia menghela napas pelan.
“Seperti yang kuduga.”
Rania tidak mengangkat kepala dari dokumen yang sedang ia baca.
“Apa?”
Arsen memutar layar tabletnya.
Di sana ada artikel bisnis terbaru.
“Ketegangan Tersirat antara CEO Hartono Group dan Adrian Group dalam Rapat Internal.”
“Hubungan Kerja Sama yang Tidak Stabil?”
Arsen berkata,
“Beberapa orang di ruang rapat kemarin bocor ke media.”
Rania hanya berkata singkat,
“Biarkan.”
Arsen menatapnya beberapa detik.
“Kau sengaja membuat ini menjadi berita.”
Rania menutup dokumen di tangannya.
“Kau terlalu sering menggunakan kata sengaja.”
Arsen menyilangkan tangan.
“Karena kau memang sengaja.”
Rania tersenyum tipis.
Namun ia tidak menyangkalnya.
Arsen melanjutkan,
“Adrian pasti membaca berita ini.”
Rania berkata datar,
“Bagus.”
Arsen akhirnya mengerti.
“Jadi ini semua bagian dari rencanamu.”
Rania berdiri dari kursinya.
“Bukan rencana.”
“Apa?”
Rania menatap jendela.
“Perhitungan.”
Sementara itu di kantor Adrian Group, suasana tidak jauh berbeda.
Namun di sini atmosfernya lebih berat.
Beberapa direktur duduk di ruang rapat kecil.
Mereka baru saja menyelesaikan diskusi panjang.
Salah satu dari mereka berkata dengan nada hati-hati,
“Tuan Adrian… apakah kerja sama dengan Hartono Group masih aman?”
Direktur lain menambahkan,
“Media mulai berspekulasi bahwa hubungan pribadi Anda dengan Nona Rania bisa mempengaruhi proyek ini.”
Adrian duduk di ujung meja dengan tangan terlipat.
Ekspresinya tenang.
Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di ruangan itu.
Ia masih mengingat wajah Rania kemarin.
Cara ia berkata dengan dingin di depan semua orang.
Akhirnya Adrian berkata,
“Proyek tetap berjalan.”
Salah satu direktur bertanya,
“Apakah Anda yakin?”
Adrian menjawab singkat,
“Ya.”
Namun setelah rapat selesai dan semua orang keluar Adrian tetap duduk di kursinya sendirian.
Beberapa detik kemudian, asistennya masuk.
“Tuan Adrian, ada undangan dari Hartono Group.”
Adrian mengangkat alis sedikit.
“Undangan?”
Asisten itu menyerahkan sebuah amplop tipis.
“Acara gala perusahaan.”
Adrian membuka amplop itu.
Di dalamnya ada kartu undangan elegan.
Perayaan Ulang Tahun Hartono Group ke-25.
Di bagian bawah kartu tertulis satu nama.
Rania Hartono.
Adrian membaca kartu itu beberapa detik.
Lalu ia bertanya,
“Semua mitra bisnis diundang?”
Asisten itu mengangguk.
“Ya.”
Adrian menutup kartu itu perlahan.
Namun ada sesuatu dalam tatapannya.
Ia tahu satu hal.
Rania tidak melakukan sesuatu tanpa alasan.
Malam acara gala datang lebih cepat dari yang diperkirakan.
Hotel mewah tempat acara berlangsung dipenuhi lampu kristal dan dekorasi elegan.
Para pengusaha besar.
Investor.
Tokoh penting dunia bisnis.
Semua hadir.
Rania berdiri di dekat tangga utama dengan gaun hitam sederhana namun elegan.
Banyak orang datang menyapanya.
Memberi ucapan selamat.
Berbicara tentang proyek baru.
Namun Rania hanya menanggapi dengan senyum tipis.
Arsen berdiri di sampingnya.
Ia melihat daftar tamu di ponselnya.
“Adrian sudah datang.”
Rania tidak terlihat terkejut.
“Baik.”
Beberapa menit kemudian Adrian masuk ke aula besar itu.
Beberapa orang langsung menoleh.
Bukan hanya karena statusnya sebagai CEO besar.
Tapi karena semua orang tahu hubungannya dengan Rania.
Adrian berjalan mendekat.
Langkahnya tenang.
Namun ketika ia berhenti di depan Rania, suasana di sekitar mereka sedikit berubah.
Beberapa tamu pura-pura sibuk berbicara, tapi jelas menguping.
Adrian berkata pelan,
“Acara yang bagus.”
Rania menjawab singkat,
“Terima kasih sudah datang.”
Beberapa detik hening.
Lalu Rania berkata,
“Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”
Adrian sedikit mengernyit.
“Apa?”
Rania memberi isyarat kepada staf di dekat panggung.
Lampu aula sedikit meredup.
Layar besar di belakang panggung menyala.
Beberapa orang di ruangan itu mulai memperhatikan.
Di layar muncul foto-foto lama.
Foto perjalanan Hartono Group dari awal berdiri.
Para karyawan lama.
Proyek pertama.
Gedung lama perusahaan.
Semua orang tersenyum melihatnya.
Namun tiba-tiba sebuah foto lain muncul.
Foto lama dari tiga tahun lalu.
Foto Rania berdiri di depan gerbang rumah keluarga Adrian.
Foto yang sama dengan video yang viral beberapa hari lalu.
Beberapa tamu langsung saling berbisik.
Adrian menatap layar itu dengan kaget.
Ia menoleh ke Rania.
“Apa ini?”
Rania tetap menatap layar dengan tenang.
“Bagian dari sejarahku.”
Adrian berkata pelan,
“Kau tidak perlu melakukan ini.”
Rania akhirnya menoleh padanya.
Tatapannya tenang.
“Tentu perlu.”
Ia melanjutkan dengan suara rendah yang hanya bisa didengar Adrian.
“Karena tiga tahun lalu semua orang melihatku diusir.”
Ia menatapnya lurus.
“Dan malam ini…”
Ia berhenti sebentar.
“…semua orang juga harus tahu siapa yang membiarkan itu terjadi.”
Adrian terdiam.
Di layar, rekaman video pendek mulai diputar.
Rekaman yang sama dari kejadian malam itu.
Suara ibu Adrian terdengar jelas.
“Mulai hari ini kau bukan bagian dari keluarga ini.”
Beberapa orang di ruangan itu terlihat sangat tidak nyaman.
Adrian mengepalkan tangannya sedikit.
Ia menatap Rania.
Namun Rania tetap tenang.
Lalu ia berkata pelan,
“Sekarang kita impas sedikit.”
Adrian akhirnya mengerti sesuatu.
Ini bukan hanya balas dendam.
Ini adalah cara Rania membuat dunia melihat luka yang pernah ia sembunyikan.
Dan yang paling menyakitkan Adrian sadar satu hal.
Ia tidak bisa membela diri.
Karena semua yang ditampilkan itu benar.
Lampu aula kembali terang.
Acara berlanjut seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun Adrian berdiri diam beberapa detik.
Sementara Rania berjalan menjauh untuk menyapa tamu lain.
Arsen mendekati Adrian dan berkata pelan,
“Kau masih di tahap awal.”
Adrian menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Arsen tersenyum kecil.
“Jika Rania benar-benar ingin membalas…”
Ia berhenti sebentar.
“…ini baru pembuka.”
Di sisi lain aula Rania berdiri di dekat jendela besar.
Ia melihat kota yang penuh lampu.
Ekspresinya tenang.
Namun di dalam hatinya ada sesuatu yang akhirnya sedikit terbayar.
Sedikit.
Tapi belum cukup.
Dan tanpa Adrian sadari setiap langkah yang diambil Rania sekarang sedang perlahan mengarah pada satu hal.
Hari ketika Adrian akhirnya benar-benar mengerti apa yang telah ia hilangkan.