"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PASIR DAN API DI REDHENVOUS
Riezky menyadari bahwa melawan pasir dengan tangan kosong adalah kesia-siaan. Ia berjongkok, menempelkan telapak tangannya ke permukaan arena. Hawa panas yang luar biasa mengalir dari nadinya, membuat butiran pasir di bawah jemarinya memijar, meleleh, dan mengeras dengan cepat menjadi bongkahan kaca tajam yang jernih.
Riezky menggenggam bilah kaca improvisasi itu. Meski rapuh, setidaknya ia punya sesuatu untuk memangkas jarak.
PRANG!
Pisau kaca itu hancur berkeping-keping setelah bentrokan ketiga dengan scimitar pasir Tariq. Di saat yang sama, Tariq mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, mengayunkannya dengan kekuatan penuh ke arah kepala Riezky.
Dalam gerakan refleks yang nekat, Riezky menepuk kedua telapak tangannya tepat di tengah bilah pedang tersebut—menghimpitnya dengan sekuat tenaga hingga gerakan Tariq terhenti total. Tariq tampak terkejut, fokusnya teralih sepenuhnya untuk menarik kembali senjatanya yang terjepit.
Itulah celahnya. Riezky melancarkan tendangan rendah yang menyapu kaki Tariq hingga sang elang padang pasir itu terjatuh ke tanah. Riezky tidak memberi napas; ia menghantamkan kakinya sekuat tenaga ke arah kepala Tariq. Namun, Tariq berguling menghindar. Riezky menghantamkan kaki lainnya, memaksa Tariq terus berkelit di atas pasir, hingga akhirnya sebuah injakan telak mendarat.
KRAK!
Kepala Tariq hancur, namun bukan darah yang keluar, melainkan butiran pasir yang berhamburan. Seluruh tubuhnya seketika menyatu dengan lantai arena dan menghilang tanpa jejak.
Riezky berdiri tegak, napasnya memburu. Ia menoleh ke belakang, kanan, kiri, namun kehadiran Tariq seolah lenyap ditelan bumi. Tiba-tiba, sepasang tangan muncul dari bawah permukaan pasir, mencengkeram pergelangan kaki Riezky dengan sangat kuat. Setengah badan Tariq muncul dari dalam tanah seperti hantu, mengayunkan scimitarnya ke arah kaki Riezky yang satu lagi.
BOOM!
Riezky meledakkan energi api kecil di kakinya yang terperangkap, memaksanya terlepas dari cengkeraman pasir itu tepat sebelum mata pedang mengenainya. Lagi-lagi, Tariq luruh menjadi pasir dan menghilang. Tak lama, sebuah ombak pasir raksasa mulai menggulung dari bawah, bersiap untuk menerjang dan menenggelamkan Riezky hidup-hidup.
Namun, bulu kuduk Riezky meremang. Instingnya yang sudah terlatih di bawah ancaman panah Sabrina berteriak bahwa bahaya yang sebenarnya bukan berasal dari ombak itu.
Ia memutar tubuhnya secepat kilat. Benar saja, Tariq muncul tepat di belakangnya dengan kuda-kuda menusuk, menerjang lurus ke arah jantung Riezky.
Riezky seketika menunduk rendah, menghindari ujung pedang yang hanya berjarak beberapa milimeter dari punggungnya. Dari posisi jongkok, ia menghimpun seluruh sisa tenaga di lengannya dan menghantam perut Tariq dari bawah dengan sebuah uppercut yang menjulang ke atas.
DUAK!
"Ugh..!" Tariq akhirnya mengeluarkan suara—sebuah erangan tertahan karena hantaman telak di ulu hati.
Tubuh Tariq terangkat ke udara. Menyadari posisinya dalam bahaya, Tariq meluncurkan serangkaian tebasan asal dalam jangkauan pendek hanya untuk memaksa Riezky menjauh dan menciptakan jarak kembali di antara mereka.
Riezky mengatur napasnya yang mulai berat. Ia kembali berjongkok, mengalirkan hawa panas dari telapak tangannya ke butiran pasir. Meskipun ia tahu senjata kaca ini rapuh dan bisa dihancurkan dengan mudah oleh sihir Tariq, ia butuh sesuatu untuk dilempar. Sebuah pengalih perhatian.
Tariq, yang ulu hatinya masih terasa sesak akibat uppercut tadi, memutuskan untuk kembali ke taktik gerilyanya. Tubuhnya mulai meluruh, perlahan-lahan tenggelam ke dalam hamparan pasir arena.
"Enggak akan kubiarkan!" seru Riezky.
Tepat saat seperempat badan Tariq sudah menyatu dengan lantai, Riezky bangkit dan mengayunkan lengannya sekuat tenaga. Pisau kaca yang baru saja ia buat melesat seperti peluru, membelah udara dengan suara siulan tajam.
JLEB!
Pisau kaca itu menancap telak di bahu kiri Tariq. Tariq mengerang keras; proses penyatuannya dengan pasir terhenti seketika karena rasa sakit yang mengacaukan fokusnya. Ia tertahan di sana, setengah terkubur, dengan bahu yang mengucurkan darah nyata, bukan lagi debu.
Riezky tidak menyia-nyiakan momen itu. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Makan ini!"
Dari tangan kanannya, ia melontarkan bola petir biru yang berderit nyaring. Dari tangan kirinya, sebuah bola api merah besar meluncur. Kedua proyektil elemen itu tidak melesat lurus, melainkan melambung tinggi di udara, bertemu tepat di titik pusat di mana Tariq sedang berusaha melepaskan diri.
BOOOMMMM!!!
Benturan dua elemen yang berlawanan itu memicu reaksi berantai. Ledakan hebat terjadi tepat di depan wajah Tariq, menciptakan gelombang kejut yang mengirimkan debu, api, dan percikan listrik ke seluruh penjuru arena. Penonton di barisan depan refleks menutupi wajah mereka dari panasnya hembusan angin ledakan tersebut.
Ledakan besar dari bola elemen Riezky sebelumnya ternyata belum cukup untuk memadamkan api perlawanan sang Elang Padang Pasir. Tariq terpental ke belakang, terseret beberapa meter di atas pasir yang panas hingga berhenti tepat di tepi arena. Napasnya tersengal, namun tangannya tetap kuat menggenggam bahunya yang tertusuk. Dengan satu sentakan kasar, ia mencabut pisau kaca buatan Riezky dan melemparkannya hingga hancur berkeping-keping.
Tariq berdiri tegak, wajahnya yang separuh tertutup kain kini memancarkan kebencian yang murni. Tatapannya terkunci pada Riezky yang juga mulai kehabisan napas.
"Matilah..." desis Tariq.
Seketika, aura gelap menyelimuti tubuhnya. Ia meluruh, menyatu dengan kabut pasir pekat yang tiba-tiba muncul dan menelan seluruh arena dalam sekejap mata. Jarak pandang Riezky hilang. Dunia di sekitarnya berubah menjadi pusaran debu yang mencekik. Riezky mencoba melontarkan semburan api untuk membakar kabut itu, namun tindakannya justru menjadi bumerang. Panas dari apinya melelehkan butiran pasir di sekitarnya menjadi pecahan kaca kecil yang tajam, yang kemudian dibawa angin badai itu dan menusuk kulitnya dari berbagai arah.
"Ahhh, harusnya aku tahu!" erang Riezky sambil menutupi wajahnya dengan lengan.
Di tengah badai yang menyiksa itu, Tariq bergerak seperti bayangan. Sring! Sring! Tebasan scimitar emasnya datang bertubi-tubi dari arah yang tak terduga. Satu tebasan mengenai punggung Riezky, satu lagi menyambar lengannya, membuatnya jatuh bangun di tengah gempuran badai.
"Tidak bisa begini terus!" teriak Riezky di tengah kebisingan angin.
Riezky memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa energi di intinya. Ia menarik napas dalam, membiarkan aliran kekuatan yang luar biasa besar mengalir ke kedua lengannya. Tangan kanannya menyala dengan listrik biru yang berderak liar, sementara tangan kirinya membara dengan api merah yang pekat. Tekanan energi itu begitu besar hingga sisa jubahnya terbakar habis sampai ke bahu, memperlihatkan otot-ototnya yang menegang.
Dengan teriakan lantang yang menggetarkan aula, Riezky mengadu kedua telapak tangannya tepat di depan dadanya.
BOOOOOMMM!!!
Sebuah ledakan kinetik dan elemental yang masif tercipta. Gelombang kejutnya menghancurkan badai pasir Tariq, memaksa butiran debu itu berpendar ke segala arah dan menghantam dinding arena. Tariq, yang sedang bersiap untuk serangan terakhir, terjebak di pusat ledakan. Tubuhnya terlempar jauh ke udara sebelum jatuh berdebam tak berdaya di atas pasir yang kini mulai mendingin. Ia terbaring diam, kehilangan kesadaran dengan pedang emas yang terlepas dari genggamannya.
Riezky sendiri tidak luput dari dampak serangannya. Ia terlempar ke belakang, punggungnya menghantam tanah dengan keras. Ia terengah-engah, tubuhnya penuh dengan luka sayatan dan memar. Dengan sisa tenaga yang ada, ia hanya bisa berlutut, bertumpu pada kedua tangannya yang masih mengeluarkan asap tipis, mencoba memulihkan kesadarannya yang mulai kabur.
Suasana Aula Redhenvous sempat hening sesaat, sebelum akhirnya seorang petugas arena menghampiri tubuh Tariq yang sudah tidak bergerak. Setelah memastikan kondisi petarung itu, ia mengangkat terompetnya tinggi-tinggi dan meniupkan nada kemenangan yang panjang.
"Pemenangnya... Riezky dari Aethelgard!"
Seketika, lautan manusia di tribun berdiri dan berseru dengan riuh. Nama "Aethelgard" yang tadinya diremehkan kini diteriakkan sebagai nama pemenang yang tak terduga. Stewart di bangku penonton melompat kegirangan, sementara Seith hanya menatap dingin dari kejauhan, menyadari bahwa ia baru saja menyaksikan kelahiran rival baru.
Dua prajurit kerajaan segera turun ke arena, dengan hormat memandu Riezky yang masih sempoyongan untuk keluar dari medan laga menuju ruang pemulihan. Riezky berjalan dengan kepala tertunduk, mencoba menstabilkan jantungnya, sementara di pikirannya hanya ada satu wajah: Ibunya, Lyra, yang pasti sedang mendoakannya di pesisir Aethelgard yang tenang.
Setelah melewati pertarungan yang menguras energi, Riezky kembali ke tempat duduknya dengan napas yang masih tersengal. Ia duduk di samping Stewart, yang langsung memberinya jempol besar.
Tiba-tiba, suasana aula mendadak sunyi, lalu diikuti bisikan-bisikan penuh antisipasi. Giliran Seith yang dipanggil ke arena. Seseorang yang duduk tepat di seberang Riezky bergumam kecil dengan wajah pasrah.
"Ah, kayaknya dia bakal menang lagi. Kalau aku sampai se-lawan sama dia, mending aku udahan deh," ucap orang itu.
Riezky yang mendengar hal itu sedikit menyipitkan mata. Ia berbisik ke arah Stewart, "Sekuat itu kah dia?"
"Dia menang lima kali berturut-turut, Riz," jawab Stewart dengan nada suara yang merendah, ekspresinya serius. "Dia bahkan bisa masuk arena sejak umur 15 tahun karena kemampuannya yang di atas rata-rata, tidak seperti kita yang harus menunggu sampai umur 20. Di Redhenvous ini, dia dianggap sebagai keajaiban yang mengerikan."
Riezky memperhatikan Seith yang berjalan dengan tenang ke arah arena, dikelilingi enam serpihan berliannya yang berkilau. Pertarungan Seith berlangsung sangat singkat—hampir seperti sebuah eksekusi yang elegan—hingga akhirnya seluruh rangkaian pertarungan hari pertama resmi berakhir.
Malam di Camp Pejuang
Malam itu, para petarung yang berhasil lolos ke babak selanjutnya diarahkan ke sebuah camp khusus yang disediakan oleh kerajaan Astranova. Fasilitasnya sangat kontras dengan gubuk nelayannya di Aethelgard. Makanannya mewah, aromanya membangkitkan selera, dan tempat tidurnya sangat empuk.
"Ah, nyaman sekali..." gumam Riezky sembari menjatuhkan badannya yang pegal ke kasur. Rasanya seperti tenggelam di dalam awan.
"Hey, bocah ledakan!"
Suara berat itu mengejutkan Riezky. Seorang pria berusia sekitar 40 tahunan, dengan bekas luka di lengan dan wajah yang ramah, duduk di samping ranjang Riezky.
"Pertarunganmu tadi hebat sekali. Aku kalah telak melawan Tariq tahun lalu, dan kau bisa menghabisinya dengan mudah. Salut!" katanya sambil memukul bahu Riezky dengan keras—pukulan persahabatan yang membuat Riezky sedikit meringis karena lukanya masih terasa.
Riezky hanya terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis sambil mengusap bahunya. "Terima kasih, Pak."
Pria itu tertawa kecil lalu pergi untuk beristirahat. Riezky kembali berbaring, menatap langit-langit tenda yang tinggi. "Hmm, besok bakal gimana lagi ya..." ucapnya pelan.
Dalam lamunannya, Riezky menyadari satu hal. Selama ini di Aethelgard, ia merasa sebagai orang "aneh" karena memiliki kekuatan api dan petir. Namun di sini, di dunia yang lebih luas, ia melihat begitu banyak bakat terpendam dan kekuatan-kekuatan aneh lainnya. Ada rasa lega yang menyelinap di hatinya; ia tidak sendirian. Kata "aneh" bukan lagi sebuah kutukan, melainkan sebuah identitas.
Hari Kedua: Penentuan
Matahari pagi menyinari kompleks Aula Redhenvous. Riezky bangun dengan tubuh yang terasa lebih segar, meski memar di bahunya masih berwarna keunguan. Ia berjalan menuju papan daftar nama pusat yang kini sudah diperbarui.
Hari kedua ini bukan hanya sekadar babak lanjutan. Ini adalah babak kedua sekaligus babak terakhir yang akan menentukan siapa yang layak menyandang gelar juara tahun ini dan membawa pulang dua puluh ribu koin emas.
Riezky mencari namanya di papan tersebut.
Mata Riezky menyisir deretan nama di papan pengumuman yang baru diperbarui. Jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat namanya tertulis jelas di baris paling atas untuk babak hari ini. Namun, senyumnya sedikit membeku saat membaca nama di kolom sebelahnya.
Riezky (Aethelgard) vs Seith Hidstone
"Hidstone?" gumam Riezky. Nama itu terasa familiar di telinganya, meski ia tak tahu mengapa. Riezky tersenyum kecut, ada rasa tertantang yang membakar semangatnya, tapi tak bisa dipungkiri, rasa ngeri juga menyelinap. Ia baru saja melawan pasir, sekarang ia harus berhadapan dengan berlian—materi paling keras di dunia.
Tak lama, hawa dingin yang familiar terasa di sampingnya. Seith berdiri di sana, tepat di sebelah Riezky. Sosoknya yang jangkung dan tenang menatap papan tersebut dengan mata yang sedingin es. Enam serpihan berliannya berputar pelan, memantulkan cahaya pagi yang menyilaukan.
Riezky menoleh, sempat ingin membuka mulut untuk menyapa atau sekadar berbasa-basi setelah melihat "pembantaian" elegan Seith kemarin. Namun, Seith hanya melirik papan itu sekilas, lalu berbalik dan berjalan pergi ke arah gerbang arena tanpa sepatah kata pun. Ia bahkan tidak memandang Riezky sebagai ancaman, melainkan hanya sebagai urutan jadwal yang harus diselesaikan.
Riezky yang bingung akhirnya menutup kembali mulutnya dan memutuskan untuk tetap diam. Ia mengepalkan tangannya, merasakan sisa-sisa perih dari luka duel melawan Tariq.
Terompet kerajaan memekik panjang, kali ini dengan nada yang lebih berat, seolah memberi tanda bahwa dua pemangsa besar sedang dilepaskan ke satu kandang.
Riezky melangkah ke tengah arena, merasakan sensasi pasir yang menggelitik sela-sela jari kakinya. Namun, fokusnya tak lepas dari sosok di hadapannya. Rasa gugup yang kemarin sempat menghimpit kini berganti menjadi adrenalin yang murni. Ia penasaran—ingin tahu sejauh mana kekuatannya bisa beradu dengan seseorang yang memiliki tipe serangan yang unik ini.
Di sisi lain, Seith melangkah masuk tanpa suara. Jubahnya yang bersih tidak berkibar meski angin arena bertiup kencang. Keenam serpihan berliannya mengambang statis di sekelilingnya, menciptakan aura kemegahan yang dingin. Matanya yang tajam menatap Riezky bukan sebagai lawan, melainkan sebagai sebuah objek yang harus ia singkirkan.