11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yg tak terucap
Malam itu gelap, tapi bintang di atas jalan setapak bersinar lebih terang dari biasanya.
Dengan dikelilingi pepohonan yuse berjalan setengah berlari di samping Bibi Liana, napasnya masih tersengal karena terlalu semangat. Bagi anak seusianya, perjalanan ke padepokan terasa seperti petualangan pertama menuju dunia yang lebih besar. Bagi Liana, ini adalah jalan pulang ke masa lalu yang ia coba lupakan.
Langkah kaki mereka memecah keheningan hutan. Pepohonan tinggi di kiri-kanan seolah menjadi penjaga yang bisu.
Di bawah temaram cahaya bulan, Yuse menoleh.
“Bibi, kenapa kamu memilih jalan menjadi seorang ksatria?”
Pertanyaan itu memecah kesunyian. Sederhana, tapi berat.
Liana menghentikan langkahnya. Ia menatap Yuse lama, seolah mencari jawaban di mata polos itu. Di dalam hatinya, suara tua berbisik pilu, _‘Andai kamu tahu, Yuse… darah ksatria yang mengalir di tubuhmu adalah alasan mengapa aku harus terus menggenggam pedang ini. Untuk melindungimu dari takdir kejam yang menanti.’_
Ia menelan sesak yang tiba-tiba naik ke dadanya. Dengan senyum tipis yang dipaksakan, Liana mengusap kepala Yuse.
“Suatu saat nanti, kamu pasti akan tahu jawabannya.”
Yuse mengangguk, meski penasaran. Ia tidak memaksa. Baginya, jawaban Bibi sudah cukup untuk malam ini.
Perjalanan kembali berlanjut. Yuse mulai bercerita, suaranya penuh semangat.
“Waktu kecil, aku sering diam-diam lihat Ayah berlatih pedang. Gaya Ayah keren banget, Bib! Setiap ayunan rasanya bisa membelah langit.”
Senyum kecil muncul di wajahnya, tapi cepat meredup.
“Tapi Ibu selalu melarang. Katanya berbahaya. Aku rasa… ada sesuatu yang Ibu sembunyikan dariku.”
Liana hanya diam. Ia tahu. Tapi belum waktunya.
“Bahkan kemarin malam,” lanjut Yuse pelan, “saat Ibu melepas keberangkatanku, senyumnya aneh. Ada kekhawatiran dalam di matanya. Seolah-olah Ibu nggak rela aku pergi.”
Liana berhenti lagi. Ia menatap wajah samping keponakannya.
“Kalau kamu tahu Ibumu sekhawatir itu, kenapa masih mau pergi?”
Yuse kikuk. Ia tertawa lebar sambil menggaruk kepala.
“Aku juga nggak tahu, Bi!”
Tawa itu hilang seketika. Ia berhenti, mendongak ke langit. Jutaan bintang menyambutnya.
“Tapi aku benar-benar ingin jadi ksatria,” bisiknya. Tangannya terangkat, seolah ingin menggapai bintang.
“Aku merasa… kalau jadi ksatria, aku bisa menggapai langit dan melihat seberapa luas dunia ini.”
Liana terdiam. Ada bangga, ada takut.
Anak ini membawa harapan yang murni. Dan harapan murni di dunia ksatria… seringnya patah duluan.
“Seperti itu ya,” gumam Liana pelan. Lalu ia menepuk pundak Yuse cukup keras.
“Kalau begitu, latihanlah dengan sungguh-sungguh! Jangan malu-maluin gurumu!”
“Tentu saja!” Yuse membusungkan dada. “Aku akan jadi ksatria nomor satu!”
Canda tawa mereka mengusir dingin malam. Untuk Yuse, ini awal dari mimpi.
Untuk Liana, ini awal dari kekhawatiran yang harus ia simpan sendiri.
Namun masih ada kekhawatiran terhadap keponakannya itu, namun liana tidak bisa terlalu terlihat untuk kwatir "semoga kau menggapai apa yg kau inginkan yuse. berkata dalam hatinya dalam hatinya!"
Keduanya kembali melanjutkan langkah. Sisa perjalanan malam itu tidak lagi terasa sunyi, digantikan oleh canda tawa dan gurauan hangat yang mengusir dinginnya angin malam.
Langkah mereka semakin cepat.
dengan girang yuse bergumam "apakah itu padepokan yang akan aku tempaiti"
wah... dengan kegirangan nya
Di kejauhan, lampu padepokan mulai terlihat—tempat di mana harapan Yuse akan diuji.