"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 - Akademi Sihir Flameheart
Hari ini matahari diatas Ibukota Kerajaan Flameheart terasa sangat panas. Cuaca seperti ini sudah menjadi hal biasa di Kerajaan Flameheart dan tidak menghentikan kegiatan para penduduk disana untuk beraktivitas.
Keramaian padat yang sedang terjadi saat ini terlihat lebih dari keramaian biasanya.
Hari ini Akademi Sihir Flameheart membuka pendaftaran untuk murid yang ingin bergabung disana.
Saat hari menjelang siang, seorang bocah berumur 9 tahun sedang bersiap menuju Akademi Sihir Flameheart untuk mengikuti ujian pendaftaran.
Seperti biasa, bocah bernama Ashura Kai selalu melatih fisik dan kemampuan bertarungnya dihutan dekat akademi.
BOOOMMM!!!
Serpihan kayu berterbangan saat Ashura Kai memukul tumpukan kayu disekitar hutan dekat akademi tersebut.
Hawa panas yang menyengat tidak membuat Ashura bermalas-malasan, justru ia semakin giat melatih fisiknya untuk membuka aura sihir dalam tubuhnya yang disebut mana.
Mana dalam novel ini merupakan sebuah aura sihir yang mengalir di alam, lingkungan, dan tubuh manusia. Mana merupakan energi magis dasar yang berfungsi sebagai bahan bakar utama para penyihir.
Mana seringkali digunakan untuk memperkuat kemampuan dan mengaktifkan sihir. Selain itu mana yang besar sering kali menentukan potensi kekuatan seorang penyihir.
Diusia yang dibilang masih sangat muda, Ashura menunjukkan fisik yang lebih unggul dibandingkan anak seusianya, namun mana dalam tubuhnya belum terbuka sehingga ia dijauhi oleh anak-anak seusianya.
Ada alasan lain mengapa Ashura dijauhi orang-orang disekitarnya yaitu karena ia merupakan anak yatim piatu yang dipungut oleh sosok penyihir terkuat Kerajaan Flameheart.
Kebencian itu terjadi karena menganggap Ashura penyebab kematian sosok penyihir tersebut.
Sosok yang membawa Ashura ke Kerajaan Flameheart adalah salah satu orang yang paling berpengaruh dan dikenal sebagai Pahlawan Api.
Ashura sudah menetap selama setahun di Kerajaan Flameheart dan ia sudah mulai beradaptasi, walau pada awalnya Ashura merasa depresi dan trauma.
Namun secara perlahan Ashura sudah mencoba mencari arti tujuan hidupnya, tanpa mengingat apa yang terjadi dimasa lalunya ini.
"Aku harus menjadi kuat! Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini!" Itulah kata yang selalu Ashura ucapkan dalam hatinya.
Kemudian setelah merasa tenang, Ashura bermeditasi mencoba menenangkan diri dan merasakan mana yang ada disekitarnya.
Tanpa Ashura sadari, sosok pria berumur tiga puluhan tahun datang dan mengamati latihannya.
"Sepertinya dia tidak mengingatnya..." Pria itu memperhatikan Ashura yang ditolak oleh mana, "Itu lebih baik, daripada kau terluka, Ashura."
Ashura sendiri tidak menyadari setiap dirinya mencoba membuka mana dan merasakan energi sihir di alam, mana akan menjauhi dirinya.
"Ashura, kau akan terlambat! Sebentar lagi sore hari tiba!" Pria bernama Kaira Leywin menegur Ashura dan menepuk pundaknya.
"Kai- Kau mengganggu latihanku!" Ashura terlihat cemberut karena konsentrasinya buyar.
"Cepat berdiri dan pergi ke akademi! Jika kamu diterima, aku akan memberikanmu hadiah jaket kesayanganku ini!" ujar Kaira kepada Ashura.
"Aku mengerti, aku akan pastikan diriku ini diterima di akademi. Sebaiknya kau menepati janjimu itu, Kaira!" Ashura menjawab penuh semangat.
"Awas saja kalau bohong!"
Kemudian Ashura berlari menuruni bukit yang ada dihutan dan langsung menuju akademi.
_______
Akademi Sihir Flameheart adalah sekolah sihir paling elit di Kerajaan Flameheart. Nama Flameheart sendiri merupakan bentuk penghormatan kepada Raja Sihir Pertama Kerajaan Flameheart sekaligus pendiri kerajaan ini yang bernama Arthur Flameheart.
Saat ini otoritas tertinggi Kerajaan Flameheart dipegang oleh Kaira Leywin yang menjadi Raja Sihir Kelima Kerajaan Flameheart.
Akademi Sihir Flameheart merupakan salah satu dari tujuh akademi terbaik didunia ini.
Setiap penyihir memulai dari akademi sihir dan mereka semua berada dibawah organisasi bernama Dewan Sihir Agung yang memiliki lima tingkat kekuatan sebagai pengukur mana seseorang.
- Earth
- Sky
- Emperor
- Sage
- Immortal
Dewan Sihir Agung merupakan organisasi yang masing-masing anggotanya mewakili penyihir terkuat dari negara-negara yang ada didunia ini.
Dewan Sihir Agung juga merupakan otoritas tertinggi di dunia ini. Mereka dikenal sebagai Sembilan Penyihir Agung yang berpengaruh dalam menjaga keseimbangan didunia sihir.
Kaira Leywin merupakan salah satu anggota Sembilan Penyihir Agung, karena Kaira adalah Raja Sihir Kelima Kerajaan Flameheart dan merupakan penyihir terkuat di Kerajaan ini.
Berbeda dengan kerajaan lainnya, Kerajaan Flameheart memilih pemimpin kerajaan ini berdasarkan kemampuan sihir dan prestasi mereka.
Gelar Raja Sihir Kerajaan Flameheart diberikan oleh anggota Sembilan Penyihir Agung dan penduduk kerajaan yang telah mengakui mereka.
Akademi Sihir Flameheart merupakan tempat yang strategis untuk melihat potensi penyihir muda kerajaan.
Tahun ini Akademi Sihir Flameheart mendapatkan kejutan karena ada dua murid yang direkomendasikan langsung oleh Kaira Leywin untuk belajar sihir disana.
Kedua orang itu adalah Ark Vengeance yang selamat dari pembantaian Klan Vengeance dan Saga Flameheart yang merupakan keturunan langsung dari Arthur Flameheart.
Berbeda dengan mereka berdua, Ashura melakukan tes tertulis, fisik dan sihir untuk masuk kedalam akademi.
Syarat mutlak seorang murid akademi adalah harus memiliki mana dan mampu mengeluarkan sihir. Namun Ashura tidak dapat melakukannya dan hal itu membuat orang-orang di akademi menatapnya sinis.
"Lihat, bukankah dia produk gagal yang dipungut dari Xyrus itu?" ucap salah satu Guru akademi.
"Hentikan ucapanmu itu! Kita sebagai pengajar dilarang membicarakan hal itu!" tegur Guru yang lainnya.
Ashura menundukkan kepalanya dan berniat melarikan diri, namun saat ia hendak berlari, seorang gadis yang lebih tua darinya menabrak tubuhnya.
"Aduh!" ucap gadis itu yang tersungkur ditanah.
Ashura terkejut dan ketakutan karena ia takut gadis itu akan marah dan menatapnya sinis.
"Maaf-"
"Kamu tidak apa-apa kan? Maaf, aku terburu-buru," ujar gadis muda itu.
Ashura terdiam karena gadis muda itu tersenyum ramah kepadanya sebelum memberikan sepucuk surat kepada Guru akademi yang bertugas sebagai pengawas ujian.
"Ashura Kai! Kamu diterima!" ucap salah satu pengawas ujian disitu dan membuat orang-orang disana terkejut.
"Aku diterima?" Ashura cukup terkejut.
"Tapi, aku tidak bisa menggunakan sihir, Guru." Ashura berkata dan sadar diri.
Guru tersebut tersenyum meremehkan, "Biar adil, aku akan memberikanmu satu kesempatan. Kamu harus membuktikan jika dirimu layak berada disini!"
Seketika aula gedung latihan yang menjadi tempat pendaftaran membicarakan Ashura.
"Jika kau bisa mengalahkan Ark Vengeance, kau diterima disini!"
Riuh suara anak-anak seusianya yang mendengar itu terdengar ramai. Ashura sadar dirinya diremehkan dan ia sudah menyadari tatapan sinis mereka setahun belakangan ini.
Didunia ini orang yang tidak bisa menggunakan sihir adalah sampah, itulah pandangan orang-orang yang sudah mendarah daging.
Melihat Ashura yang tidak dapat menggunakan sihir dan diadopsi Raja Sihir membuat orang-orang di Kerajaan Flameheart membencinya.
"Apakah kau menerimanya, Ashura Kai?" ujar pengawas itu.
Sebelum Ashura menjawab, murid-murid akademi berteriak dan mendorong Ashura ketengah lapangan.
"Maju dan buktikan, anak lemah!"
"Kau adalah aib kerajaan ini!"
"Sampah merusak pemandangan saja!"
"Harusnya kau tahu malu, sampah!"
Ashura tersayat hatinya, ia merasakan sakit didadanya, namun tidak ada luka disana. Ada perasaan yang tidak asing dan Ashura tidak mengetahui hal itu.
'Kenapa aku sangat merasa sakit disini? Aku kesulitan bernafas dan aku seperti akan mati...'
Ashura tiba-tiba merasakan penglihatannya menjadi lemah, dari belakang seseorang menepuk pundaknya.
"Kau sebaiknya pulang. Aku tidak tertarik bertanding denganmu." Sosok yang menepuk itu adalah Ark Vengeance.
Ashura hanya melihat Ark Vengeance yang berjalan meninggalkan aula gedung latihan.
Tak lama bocah berambut merah datang menghadang Ark Vengeance.
"Ark! Apa kau takut bertanding dengannya? Dasar pengecut!" ujar bocah berambut merah itu.
"Minggir, pecundang! Aku tidak peduli dengan semua ini!" seru Ark Vengeance.
Namun bocah berambut merah itu tetap berdiri tegak menatap tajam Ark.
"Minggir, Saga! Atau aku akan menghajarmu!" Ark Vengeance mendengus kesal.
"Baiklah, jika seperti ini, maka kau yang akan menggantikan Ark Vengeance!"
Tiba-tiba aura sihir di aula gedung latihan terasa mencekam untuk sesaat, saat seorang pria berambut putih muncul didepan Ark Vengeance.
"Saga Flameheart, jika kau menang melawan Ashura Kai maka selanjutnya kau akan melawan Ark Vengeance!"
Seketika Ark Vengeance menatapnya tajam, Ark hendak mengucapkan sesuatu namun mulutnya tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun.
"Suaraku seperti berhenti dileher. Tidak ada yang keluar. Apa yang terjadi?" ujar Ark Vengeance dalam hati.
"Baiklah, aku akan melawanmu Ashura!" Bocah bernama Saga Flameheart tersenyum lebar dan langsung berjalan menuju Ashura Kai.
"Apa yang dilakukan Penyihir Es disini? Seharusnya kamu izin padaku, Senior Hawk!" tegur Guru yang mengajukan pertandingan ini kepada penyihir yang bernama Hawk.
"Aku ingin melihat kemampuan tiga murid yang direkomendasikan Guruku." Pria bernama Hawk mendorong Guru tersebut dan langsung menjadi wasit pertandingan antara Ashura Kai melawan Saga Flameheart.
Penyihir bernama Hawk ini terlihat arogan dan semua penyihir di akademi tidak ada yang berani menegurnya.
"Baiklah, apa kalian berdua telah siap, Ashura Kai, Saga Flameheart!" Hawk melepaskan hawa dingin yang mencekam di aula gedung latihan.
"Saat tubuhku hancur, pertandingan dimulai!"
Seketika tubuh Hawk membeku dan orang-orang yang melihat itu terkejut termasuk Ashura, Ark dan Saga.
TRANG!!!
Tepat setelah tubuh Hawk hancur, Saga langsung melepaskan mana dan mengubahnya menjadi api yang menyelimuti kedua tangannya.
"Ashura, aku tidak akan menahan diri!"
Ashura Kai yang masih mengamati situasi, tiba-tiba merasakan rasa sakit di kepalanya yang menjalar hingga membuat bagian belakang kepalanya berdenyut nyeri.
Ashura melihat kilasan ingatan seseorang dan itu membuat jantungnya berdegup kencang. Nafas Ashura memburu dan ia rasa dirinya bisa mati kapan saja.
Saat Saga bergerak dengan kecepatan tinggi dan melancarkan pukulan api pada tubuhnya, tiba-tiba Ashura berteriak.
"Arrrggghhh!!!"
BOOOMMMM!!!
Asap tiba-tiba memenuhi seluruh aula dan hawa dingin yang mencekam tiba-tiba membekukan gedung latihan tersebut.
_____