Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Sania tertawa kecil, tawa yang penuh rasa sombong dan kejam. Ia sangat suka ide itu. Ia selalu merasa dirinya jauh lebih berharga dibandingkan kakaknya, dan menjadi istri orang kaya raya seperti Yogie adalah mimpinya sejak lama.
"Baiklah, Ayah. Aku setuju," jawab Sania mantap sambil tersenyum lebar. "Memang sudah seharusnya aku yang mendapatkan posisi itu dari awal, bukan Salwa. Dia tidak pantas. Dia hanya alat kita. Sekarang giliranku bersinar. Aku akan mendekati Mas Yogie. Aku akan membuat dia jatuh hati padaku, dan aku akan menjadi Nyonya Pratama yang sesungguhnya. Aku akan buktikan kalau aku jauh lebih berharga daripada kakakku yang tidak berguna itu."
Bu Ratna yang mendengar semua itu hanya menunduk dalam, hatinya semakin berat. Ia sadar betul, mereka tidak hanya membuang anaknya, tapi kini mereka berencana menggunakan anak lainnya demi keserakahan mereka sendiri. Namun, ia tidak berdaya. Ia terjebak begitu dalam.
"Bagus! Itu putri Ayah," puji Pak Joko bangga. "Ingat, Sania. Lakukan apa saja supaya kau dekat dengannya. Gunakan segala caramu. Yogie adalah kunci kekayaan kita. Dan jangan lupa... tujuan awal kita tetap sama: kita ingin melihat Salwa benar-benar jatuh dan tidak berdaya selamanya. Dan kalau kau jadi istrinya Yogie, kau bisa membantu Ayah mengawasi segala gerak-gerik keluarga Pratama itu. Siapa tahu ada rahasia lain yang bisa kita gali demi keuntungan kita."
Sania mengangguk penuh semangat, wajahnya bersinar terang membayangkan kemewahan yang akan didapatkannya, serta kepuasan batin karena telah mengalahkan kakaknya sendiri. Di ruangan itu, rencana licik yang baru lahir itu semakin kokoh. Mereka sama sekali tidak peduli pada perasaan orang lain, yang ada di pikiran mereka hanyalah kekayaan, kekuasaan, dan kepuasan diri sendiri.
Namun, mereka tidak tahu sama sekali. Di tempat lain, Salwa bukan lagi gadis lemah yang dulu bisa mereka permainkan sesuka hati. Salwa kini telah menemukan kebenaran, telah menemukan ayah kandungnya yang sangat berkuasa, dan kini sedang bersiap bangkit dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari apa yang bisa mereka bayangkan.
Dan saat mereka merasa menang dan merencanakan kejahatan baru, mereka sama sekali tidak sadar bahwa mereka sendiri sedang berjalan perlahan namun pasti masuk ke dalam jebakan pembalasan yang sudah disiapkan oleh ayah dan anak itu.
******
Cahaya matahari pagi yang hangat telah masuk membias lewat celah-celah jendela besar di kamar Salwa. Gadis itu terbangun dengan perasaan yang jauh berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi rasa takut akan dibentak, tidak ada lagi rasa lelah akibat pekerjaan rumah yang menumpuk, dan tidak ada lagi rasa sakit hati karena dipandang rendah. Malam itu ia tidur sangat nyenyak, tidur pertama yang damai setelah sekian lama, ditemani rasa aman karena kini ia tahu dirinya dicintai dan dilindungi.
Salwa bangkit dari tempat tidur, bergegas membersihkan diri dan berdandan sederhana namun rapi. Ia memilih gaun berwarna krem lembut yang terbuat dari kain halus, menata rambutnya dengan rapi, dan berdiri tegak di depan cermin. Wajahnya masih menyisakan sedikit sisa kesedihan, namun sorot matanya kini lebih berbinar, lebih hidup, dan memancarkan kepercayaan diri yang baru tumbuh.
Dengan langkah mantap namun tetap sopan, Salwa melangkah keluar kamar dan menuruni tangga besar menuju lantai bawah. Aroma masakan yang lezat dan hangat telah menguar memenuhi seisi rumah, menandakan pagi yang cerah dan penuh semangat.
Saat sampai di ruang makan yang luas dan megah itu, Salwa melihat Ardiansyah sudah duduk di kursi kebesarannya. Ayahnya itu sudah berpakaian rapi dengan setelan jas santai yang elegan, wajahnya terlihat segar dan tersenyum lebar begitu melihat kehadiran putri tunggalnya. Di atas meja yang panjang itu sudah tersaji berbagai macam hidangan lezat, jauh berbeda dengan makanan sisa atau makanan seadanya yang biasa ia dapatkan dulu.
"Selamat pagi, Nak," sapa Ardiansyah lembut, suaranya terdengar begitu hangat dan menyenangkan hati. Ia berdiri menyambut kedatangan Salwa. "Bagaimana tidurmu? Apakah kau cukup istirahat?"
Salwa tersenyum tulus, senyum yang sudah lama tak terbit di bibirnya. Ia mendekat dan mencium punggung tangan ayahnya dengan penuh hormat dan kasih sayang.
"Selamat pagi, Ayah. Tidur saya sangat nyenyak. Terima kasih untuk semuanya, Ayah. Rasanya masih seperti mimpi berada di sini, diperlakukan begitu baik dan disayangi," jawab Salwa pelan namun penuh perasaan.
Ardiansyah mengusap puncak kepala putrinya dengan lembut. "Ini bukan mimpi, Nak. Ini kenyataan. Dan mulai sekarang, setiap pagi kita akan sarapan bersama seperti ini. Ayo duduk, makanlah yang banyak. Ayah ingin melihat pipimu segera kembali berisi dan sehat."
Salwa pun duduk di kursi yang disiapkan tepat di sebelah ayahnya. Ia baru saja hendak mengambil makanan, namun langkahnya terhenti saat terdengar suara langkah kaki yang ringan dan anggun mendekat dari arah pintu masuk ruang makan.
Seketika Ardiansyah tersenyum makin lebar, menatap ke arah datangnya suara itu. "Ah, dia sudah datang," gumamnya pelan.
Salwa menoleh dan matanya langsung tertuju pada sosok wanita yang baru saja muncul di ambang pintu itu. Napasnya tertahan sejenak karena kagum.
Wanita itu masih terlihat muda, cantik, dan mempesona. Ia mengenakan pakaian yang sangat sopan namun elegan, berwarna biru dongker yang pas di badan, menampilkan sosok yang berkelas namun tidak berlebihan. Rambutnya yang hitam berkilau disanggul rapi ke belakang, memperlihatkan lekuk wajah yang lembut dan mata yang indah. Aura yang dipancarkannya begitu tenang, hangat, dan penuh kelembutan sangat berbeda dengan wanita mana pun yang pernah Salwa temui sebelumnya.
Namun, yang paling membuat hati Salwa tersentuh adalah senyum wanita itu. Senyum yang sangat ramah, sangat tulus, dan penuh kasih sayang. Senyum yang seolah langsung masuk ke dalam hati, menghapus segala rasa curiga atau rasa takut yang mungkin ada. Wanita itu berjalan perlahan mendekati meja makan, matanya tak lepas menatap wajah Salwa dengan pandangan yang begitu lembut, seolah sedang menatap sesuatu yang paling berharga dan dinanti-nantikan selama bertahun-tahun.
"Salwa, Nak..." suara wanita itu terdengar merdu dan halus, membuat suasana ruangan semakin damai.
Salwa terdiam, bingung namun hatinya merasa nyaman. Ia menatap Ardiansyah seolah meminta penjelasan.
Ardiansyah mengangguk mantap, lalu memperkenalkan wanita itu dengan nada bangga dan penuh rasa hormat.
"Salwa, kenalkan. Ini adalah Bunga. Wanita ini adalah orang yang paling Ayah percaya, sahabat dekat Ayah, dan orang yang selalu ada menemani Ayah dalam suka maupun duka selama bertahun-tahun ini. Dialah yang kemarin Ayah katakan akan Ayah perkenalkan padamu."
Bunga berjalan mendekat hingga berdiri tepat di samping kursi Salwa. Ia menunduk sedikit, menatap mata gadis itu dalam-dalam, lalu mengulurkan tangannya yang halus dan hangat untuk menggenggam tangan Salwa.
"Selamat pagi, Salwa, Putri Ayah Ardiansyah," ucap Bunga lembut, senyumnya tak pernah luntur sedikit pun. "Akhirnya... akhirnya kita bertemu juga. Sudah sangat lama aku mendengar namamu, sudah sangat lama aku berharap bisa melihat wajahmu. Ayahmu sudah menceritakan segalanya padaku. Segala penderitaanmu, segala kejahatan yang kau terima, dan segala rasa sakit yang kau pendam sendirian selama ini."
Mata Bunga sedikit berkaca-kaca, namun ia tetap tersenyum menenangkan. "Ayahmu menceritakan semuanya kepadaku. Betapa tegarnya kamu, betapa kuatnya hatimu, dan betapa besarnya rasa sakit yang kau tanggung sendirian. Mendengar semua itu, rasanya hatiku pun ikut tercabik-cabik, Salwa. Aku tidak menyangka ada manusia sekejam itu yang berani menyakiti anak sebaik dirimu."
Salwa tertegun. Ia merasa begitu asing namun juga begitu dekat dengan wanita ini. Ia bisa merasakan ketulusan yang nyata dari tatapan dan genggaman tangan wanita itu. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada rasa iri atau benci, melainkan hanya rasa iba, kasih sayang, dan keinginan tulus untuk melindungi.
"Tante Bunga... sudah tahu semuanya?" tanya Salwa lirih, matanya mulai memanas.
Bunga mengangguk lembut, lalu perlahan ia memeluk bahu Salwa, membiarkan gadis itu merasakan kehangatan dan kelembutan yang selama ini hilang dari hidupnya.
"Ya, Nak. Aku tahu semuanya. Dan percayalah... mulai hari ini, kau tidak lagi sendirian. Kau punya Ayah, dan kau punya aku. Aku ada di sini untukmu. Aku akan menjadi sosok kakak, sosok ibu, sosok teman, atau apa pun yang kau butuhkan. Aku akan membantu Ayahmu merawat mu, mendidik mu, dan mengubah mu menjadi wanita yang hebat, berwibawa, dan disegani. Aku akan memastikan, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang berani menyakiti atau memandang rendah mu lagi."
Bunga melepaskan pelukannya sejenak, lalu mengusap pipi Salwa dengan penuh kasih sayang, menatap gadis itu lekat-lekat.
"Kau anak yang luar biasa, Salwa. Kau selamat dari kejahatan mereka, kau bertahan sampai Ayahmu datang menjemputmu. Itu tandanya Tuhan masih menyayangimu, dan Tuhan sedang menyiapkan tempat tinggi untukmu. Aku bangga padamu, Nak. Sangat bangga."
Salwa yang selama ini hanya mendapatkan cacian, makian, dan penghinaan, kini mendengar pujian dan kata-kata manis yang begitu tulus dari wanita asing ini, rasanya tak kuasa menahan air mata bahagia yang kembali luruh. Namun kali ini, air matanya adalah air mata rasa syukur dan kelegaan.
Ia menatap Ardiansyah, lalu kembali menatap Bunga dengan pandangan penuh harap.
"Terima kasih... terima kasih, Tante Bunga. Terima kasih sudah mau menerima saya, padahal saya bukan siapa-siapa..."
"Jangan pernah bicara begitu lagi," potong Bunga lembut namun tegas. "Kau adalah Putri Ardiansyah. Kau adalah nyawa bagi kami berdua. Dan mulai sekarang, kita akan berjuang bersama. Kita akan memastikan bahwa mereka yang menyakiti dan membuang mu akan membayar mahal atas segala tetes air matamu."
Ardiansyah yang menyaksikan interaksi itu hanya tersenyum puas. Ia tahu, kehadiran Bunga adalah hal terbaik yang bisa ia berikan untuk Salwa saat ini. Wanita itu cerdas, berkelas, dan sangat mengerti jalan hidup. Dialah yang akan membimbing Salwa menjadi wanita yang bukan hanya kaya raya, tapi juga berkarisma dan mampu mengalahkan siapa saja yang menjadi musuhnya.
"Sudah, jangan menangis lagi ya," ucap Bunga sambil menghapus air mata Salwa dengan lembut. "Sekarang mari kita sarapan. Setelah selesai makan, Ayahmu akan menjelaskan rencana besar kita selanjutnya. Dan aku akan mulai mengajarimu segala hal yang belum kau ketahui tentang dunia ini, tentang etika, tentang kekuasaan, dan tentang bagaimana caranya bangkit dan membalas sakit hati dengan cara yang paling indah dan menyakitkan bagi musuhmu."
Salwa mengangguk mantap, menghapus sisa air matanya dan mengukir senyum yang lebih kuat dan bersemangat di bibirnya. Di meja makan itu, dikelilingi oleh orang-orang yang tulus menyayanginya, Salwa merasa lengkap kembali. Dan dalam hatinya, tekad itu semakin membara: bersama Ayah dan Ibu Bunga, ia akan menaklukkan dunia, dan menghancurkan siapa saja yang berani menghalangi jalannya.
bersambung ,,,