NovelToon NovelToon
FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: elfin hati

Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.

Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Pertemuan yang Mengubah Segalanya

Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.

Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya. Itulah aturan hidup yang dia pegang teguh sejak lama: jangan pernah jatuh cinta, karena cinta hanya akan membuatmu lemah dan terluka.

Malam itu, Grey berdiri di dekat meja bar, bersandar santai sambil memegang gelas berisi minuman berwarna merah tua. Matanya menelusuri ruangan yang penuh dengan orang-orang berpakaian mewah, menari, tertawa, dan saling melempar pandang penuh nafsu. Beberapa pria sudah mencoba mendekat, mengajak mengobrol atau sekadar menawarkan minuman, namun Grey hanya menjawab dengan senyum tipis dan jawaban singkat yang membuat mereka sadar bahwa dia bukan sasaran yang mudah. Dia suka perhatian, tapi dia juga suka menjaga kendali sepenuhnya atas dirinya sendiri.

“Sendirian saja, Nona Cantik?”

Sebuah suara berat, dalam, dan sangat berwibawa terdengar tepat di samping telinganya. Suara itu bukan suara biasa; ada getaran kekuasaan dan ancaman halus yang terselip di dalamnya, cukup untuk membuat siapa saja yang mendengarnya merasakan getaran dingin menjalar di tulang belakang. Namun, Grey bukan siapa-siapa. Dia terbiasa menghadapi berbagai jenis pria, dari yang pemalu hingga yang berani, jadi dia hanya memutar kepalanya perlahan, siap memberikan jawaban sinis atau senyum meremehkan.

Namun, saat pandangan mereka bertemu, napas Grey seolah tertahan sejenak.

Di hadapannya berdiri seorang pria yang jauh berbeda dari siapa pun yang pernah dia temui sebelumnya. Tinggi besar, bahu lebar, mengenakan jas hitam yang terlihat sangat mahal dan dipotong sempurna menutupi tubuh tegapnya. Wajahnya tampan namun keras, terukir dengan garis-garis tegas yang menunjukkan ketangguhan dan kekuasaan. Kulitnya sedikit kecokelatan, dan rahangnya yang kokoh tampak seperti batu yang tak bisa digoyahkan. Namun, yang paling membuat Grey tertegun adalah matanya. Mata berwarna hitam pekat, dalam seperti jurang yang tak berdasar, dan memancarkan aura dingin yang menusuk. Di balik kedinginan itu, ada kilatan bahaya yang jelas terlihat—bahaya yang mengintimidasi, namun entah kenapa, juga sangat memikat.

Pria itu menatapnya lekat-lekat, seolah sedang menelanjangi setiap lapisan jiwa dan raga Grey hanya dengan satu pandangan. Tidak ada senyum ramah di wajahnya, tidak ada nada menggoda seperti pria-pria lain. Dia hanya menatap, diam, dan begitu mendominasi suasana hingga Grey merasa seolah seluruh udara di ruangan itu berubah berat.

Grey segera menarik kembali kendali dirinya. Dia mengangkat sudut bibirnya, membentuk senyum khasnya yang penuh pesona dan tantangan. Dia tidak akan membiarkan siapa pun, seberapa tampan atau berkuasa pun, membuatnya merasa kecil atau takut.

“Dan kalau iya? Apakah Tuan berniat menemani saya?” jawab Grey dengan nada suara yang sengaja dibuat rendah dan manja, namun matanya berkilat penuh tantangan. Dia memutar sedikit gelas di tangannya, memperlihatkan kuku-kukunya yang terhias cat berwarna merah darah.

Pria itu tidak menjawab langsung. Dia mengulurkan tangan besarnya, mengambil gelas dari tangan Grey dengan gerakan lambat namun tegas, lalu meletakkannya di atas meja bar tanpa meminta izin. Tindakan itu begitu tiba-tiba dan penuh kepemilikan, hingga Grey sempat terkejut, namun dia berusaha menyembunyikannya dengan baik.

“Minuman itu berbahaya untuk diminum sembarangan oleh wanita sepertimu,” ujar pria itu pelan, namun kata-katanya terdengar seperti perintah mutlak. “Dan mulai detik ini, kamu tidak akan lagi minum atau bicara dengan pria lain selain aku.”

Grey tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah namun penuh ketidakpercayaan. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu, menatap lurus ke dalam mata hitamnya yang gelap itu.

“Kau siapa, Tuan yang sombong? Kau pikir kau punya hak untuk mengatur hidupku? Aku melakukan apa saja yang aku mau, dengan siapa saja yang aku mau. Tidak ada yang bisa melarangku,” ucap Grey tegas, matanya menyala penuh semangat bertarung. Dia suka tantangan, dan pria di hadapannya ini jelas adalah tantangan terbesar yang pernah dia temui.

Pria itu justru tersenyum tipis—senyum yang sama sekali tidak menyentuh matanya, malah terlihat lebih mengerikan dan mengintimidasi. Dia mengangkat satu tangannya, jari-jarinya yang besar dan kasar menyentuh lembut pipi Grey, mengusap kulit halus itu dengan gerakan yang anehnya penuh kelembutan, namun tekanan jarinya menunjukkan kepemilikan yang mutlak.

“Aku adalah orang yang bisa memberimu segalanya, atau menghancurkan segalanya dalam sekejap mata. Dan nama aku adalah Davian,” jawabnya rendah. “Dan kamu, Grey Cha Lavian… kamu baru saja menarik perhatianku. Dan ketika aku menginginkan sesuatu, aku akan memilikinya. Tidak peduli apa pun yang terjadi.”

Jantung Grey berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena sensasi aneh yang menjalar dari tempat jari pria itu menyentuh kulitnya. Bagaimana dia tahu namanya? Pertanyaan itu sempat terlintas, namun rasa penasaran dan rasa suka akan tantangan jauh lebih besar. Dia tidak tahu bahwa di depan matanya saat ini berdiri Davian Argantha, nama yang paling ditakuti di dunia bawah tanah kota itu. Seorang pemimpin mafia yang kejam, berkuasa, dan dikenal sangat posesif terhadap apa pun atau siapa pun yang sudah dia anggap miliknya. Tidak ada yang berani menentangnya, dan tidak ada yang bisa lari darinya. Namun Grey, dengan sifat bebas dan keras kepalanya, belum menyadari bahwa dia baru saja melangkah masuk ke dalam jebakan yang tidak akan pernah bisa dia tinggalkan.

“Kau pikir kau bisa memilikiku begitu saja? Aku bukan barang yang bisa kau ambil sesuka hati, Davian,” tantang Grey, menarik wajahnya sedikit menjauh meski tubuhnya rasanya enggan bergerak.

Davian tertawa pelan, suara beratnya bergema di telinga Grey. Dia menggeser tubuhnya lebih dekat, hingga tubuh tegapnya menutupi tubuh mungil Grey, menciptakan bayangan besar yang melindungi sekaligus mengurungnya. Dia menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Grey, berbisik dengan nada yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

“Kita akan lihat, Sayang. Mulai malam ini, setiap langkahmu akan aku awasi. Setiap orang yang berani mendekatimu akan menanggung akibatnya. Kamu mungkin suka bermain-main, tapi bersiaplah… karena permainan yang akan kita mainkan jauh lebih berbahaya, dan aku tidak pernah membiarkan apa yang menjadi milikku lepas begitu saja.”

Sebelum Grey sempat membalas atau bertanya apa pun, Davian sudah menarik tubuhnya lebih dekat, melingkarkan satu lengannya di pinggang ramping Grey dengan pegangan yang kuat dan tak terlepaskan. Dia menatap tajam ke arah sekeliling mereka, ke arah orang-orang yang sedari tadi melirik ke arah Grey. Sekilas saja tatapan dingin itu dilemparkan, dan seketika itu juga semua pandangan lain menjauh, seolah merasakan bahaya maut yang mengancam.

Grey merasa campur aduk. Bagian dalam dirinya yang bebas ingin memberontak, ingin melepaskan diri dan pergi menjauh dari pria aneh dan mengintimidasi ini. Namun, ada bagian lain dalam dirinya—bagian yang tersembunyi dan jarang muncul—yang merasa tertarik, merasa tertantang, dan anehnya merasa aman di dalam pelukan kuat itu. Dia tidak tahu bahwa malam itu adalah awal dari akhir kebebasannya, sekaligus awal dari ikatan yang paling kuat, paling berbahaya, dan paling mendalam yang akan pernah dia rasakan seumur hidupnya.

“Lepaskan aku, Davian. Aku belum selesai bersenang-senang,” protes Grey, meski nada suaranya tidak lagi setajam sebelumnya.

Davian menggeleng pelan, lalu mengangkat wajah Grey dengan ujung jarinya hingga mereka saling bertatapan mata lagi. Tatapan pria itu begitu dalam, seolah ingin menghafal setiap detail wajah gadis itu dan mengukirnya di dalam ingatannya selamanya.

“Malammu selesai, Grey. Dan mulai sekarang, waktumu, hidupmu, dan hatimu… semuanya sudah menjadi milikku. Kau tidak akan bisa lari, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi.”

Davian tidak menunggu jawaban lagi. Dia langsung membalikkan tubuh Grey dan mulai berjalan membawanya keluar dari kerumunan, melewati pasukan pengawalnya yang berdiri tegap di setiap sudut ruangan. Orang-orang menyingkir seolah takut tersentuh, memberi jalan bagi pemimpin mereka dan wanita yang kini jelas-jelas sudah dia klaim sebagai miliknya.

Grey berusaha memberontak sedikit, namun kekuatan lengan Davian jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan. Dia menyadari bahwa dia benar-benar terperangkap—terperangkap bukan hanya dalam genggaman tangan pria itu, tapi juga dalam tatapan matanya yang penuh kepemilikan, dan dalam ketertarikan yang tiba-tiba tumbuh subur di dalam hatinya sendiri.

Saat mereka melangkah keluar menuju mobil mewah berwarna hitam pekat yang sudah menunggu di depan klub, di bawah langit malam yang kembali mulai meneteskan air hujan, Grey menyadari satu hal penting. Permainan biasa yang dia jalani selama ini sudah berakhir. Dia baru saja terjerat dalam cinta seorang mafia, dan pria itu ternyata jauh lebih posesif, jauh lebih berbahaya, dan jauh lebih mendominasi daripada apa pun yang pernah dia bayangkan.

Dan yang paling mengerikan sekaligus paling menakjubkan dari semuanya… Grey mulai menyadari bahwa dia mungkin tidak ingin melepaskan diri.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!