Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJALANAN TERUS BERLANJUT KEARAH UTARA
Sebelum sepasang mata merah itu muncul di langit Bumi...
Di alam lain yang keberadaannya jauh lebih tinggi dibanding dunia tempat Rian tinggal, sebuah percakapan sedang berlangsung.
Langit di dunia itu dipenuhi bintang-bintang berwarna emas.
Gunung-gunung melayang di udara.
Sungai energi mengalir di antara awan seperti naga bercahaya.
Di salah satu istana yang berdiri di atas lautan awan, seorang pria muda sedang berjalan menuju sebuah gerbang teleportasi raksasa.
"Hei, kamu mau ke mana?"
Seorang wanita berambut perak memanggilnya dari belakang.
Pria itu berhenti sejenak.
"Surat dari Kekaisaran telah tiba."
Ia mengangkat sebuah gulungan emas yang memancarkan aura mengerikan.
"Bahkan diturunkan langsung oleh seorang Jenderal Kekaisaran."
Wanita itu sedikit terkejut.
"Itu tugas penting?"
Pria itu tersenyum tipis.
"Kesempatan akhirnya datang."
Tatapannya beralih ke gerbang teleportasi yang menjulang seperti pintu menuju alam semesta lain.
"Aku ditugaskan untuk menguasai wilayah tertentu di alam itu."
"Alam rendah yang baru saja terhubung."
Wanita itu terdiam beberapa saat.
"Lalu kau harus pergi sendiri?"
"Ya."
Pria itu mengangguk.
"Kekaisaran tidak akan mengirim pasukan besar untuk tahap awal."
"Pertama-tama kami harus membangun pijakan."
Wanita itu menghela napas.
"Baiklah."
"Lalu hati-hati."
Pria itu tersenyum.
Kemudian melangkah masuk ke dalam gerbang teleportasi.
Wuuuuusshhhh!
Energi ruang meledak.
Koordinat tujuan:
Bumi.
---
Pada saat yang sama.
Di dunia tempat Rian berada.
Langit malam yang biasanya gelap tiba-tiba bergetar.
Jauh di wilayah utara.
Sebuah retakan merah darah muncul di antara awan.
Retakan itu semakin besar.
Semakin lebar.
Lalu...
Sebuah mata raksasa berwarna merah perlahan terbuka.
Mata itu begitu besar hingga menutupi sebagian langit.
Tekanan mengerikan menyelimuti area di bawahnya.
Namun hanya berlangsung beberapa detik.
Karena setelah itu.
Mata raksasa tersebut perlahan menyusut.
Berubah.
Dan akhirnya menjelma menjadi sosok seorang pria muda berjubah hitam.
Tubuhnya melayang di udara.
Tatapannya menyapu dunia yang asing baginya.
"Hm."
"Jadi ini alam yang ditugaskan kepadaku."
Suara pria itu terdengar tenang.
Lalu tubuhnya berubah menjadi seberkas cahaya merah.
Meluncur dari utara menuju selatan.
Melewati pegunungan.
Kota-kota yang hancur.
Dan lautan zombie yang berkeliaran.
Di tengah perjalanan.
Lintasan merah itu sempat melewati area tempat kelompok Rian sedang beristirahat.
Saat itu hampir tengah malam.
Rian yang sedang menjalankan teknik pernapasan perlahan membuka mata.
Sebuah cahaya merah melintas jauh di langit.
Cepat sekali.
Hampir seperti meteor.
"Hm?"
Rian memperhatikannya sesaat.
Namun setelah memastikan tidak ada reaksi dari cincinnya, ia kembali menutup mata.
Pada tahap awal kiamat.
Fenomena aneh memang mulai sering muncul.
Karena itu ia tidak terlalu memikirkannya.
Yang lebih penting saat ini adalah meningkatkan kekuatannya.
Malam kembali tenang.
---
Pagi harinya.
Cahaya matahari perlahan masuk melalui jendela ruko.
Satu per satu anggota kelompok mulai bangun.
Rahma menguap panjang.
Nadia meregangkan tubuhnya.
Sedangkan Budi masih terlihat setengah tertidur.
"Kau tidur seperti orang mati."
Komentar Ridho.
"Terima kasih atas pujiannya."
Balas Budi tanpa membuka mata.
Tidak lama kemudian mereka mulai bersiap-siap.
Air bersih yang tersimpan di inventaris digunakan secukupnya untuk membersihkan diri.
Pakaian yang kotor juga mulai diganti.
Setelah beberapa hari hidup di tengah kiamat, hal-hal sederhana seperti mandi sudah terasa sangat mewah.
Rian keluar dari ruangan paling akhir.
Tatapannya langsung terlihat lebih segar dibanding malam sebelumnya.
"Kita sarapan dulu."
Ucap Ridho.
Ia membuka inventaris sistemnya.
Beberapa makanan yang sebelumnya mereka simpan segera dikeluarkan.
Roti.
Susu.
Makanan kaleng.
Serta beberapa lauk siap santap yang berhasil mereka kumpulkan selama perjalanan.
Semua orang langsung berkumpul.
Suasana terasa jauh lebih hangat dibanding beberapa hari lalu.
Dulu mereka hanyalah sekelompok orang biasa yang ketakutan menghadapi kiamat.
Namun sekarang.
Mereka sudah menjadi sebuah tim.
Setelah selesai makan.
Rian membuka peta yang ada di dashboard sistem.
Jarinya bergerak perlahan.
Menganalisis rute berikutnya.
"Kita akan bergerak ke Utara ."
Katanya.
"Masih mengikuti rencana awal?"
Tanya Ridho.
"Ya."
Rian mengangguk.
Namun sebelum ia sempat menjelaskan lebih jauh.
Cincinnya tiba-tiba bergetar.
Sekali.
Dua kali.
Lalu berhenti.
Rian langsung mengerutkan kening.
Reaksi itu berbeda dari biasanya.
Bukan panas karena artefak.
Bukan pula petunjuk menuju harta karun.
Melainkan seperti...
Peringatan.
Sebuah peringatan samar.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Tanpa sadar ia mengangkat kepala.
Memandang ke arah langit selatan.
Entah kenapa.
Ia memiliki firasat aneh.
Seolah sesuatu yang tidak seharusnya berada di dunia ini...
Telah datang.