NovelToon NovelToon
TUNANGAN PALSU

TUNANGAN PALSU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.

Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.

Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.

Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.

“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”

Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.

Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUNANGAN PALSU - Chapter 15

____

Damian melihat Jack yang sudah berdiri di depan mejanya.

Pria itu memang tidak pernah sungkan masuk begitu saja. Namun, ia juga tidak pernah mempermasalahkannya. Selama ini ia sudah terbiasa dengan Jack yang selalu berkeliaran di sekitarnya seperti laron.

Jack tampak ragu sebelum akhirnya membuka suara.

"Saya mendapat kabar kalau Arkan membawa Sophia ke makam Kakaknya."

Damian menyunggingkan senyum sinis.

"Makam?" ulangnya pelan. "Bukankah Istrinya ingin kontrol kehamilan? Apa yang bisa dilakukan Sophia di sana? Selain membantu menguburkan bayinya. Sisanya hanya bisa mengatakan omong kosong."

Jack tidak menjawab. Sampai akhirnya ... "Dari info yang saya terima, Istrinya tidak ikut, Tuan."

Tatapan Damian berubah dalam.

"Sudahlah! Mungkin mereka berencana sehidup semati. Kenapa kau tidak pergi, dan membantu menguburkan mayat mereka sekarang."

Jack yang melihat perubahan ekspresi Damian langsung menelan ludah.

Ia teringat sesuatu.

"Saat Sophia dibawa ke kediaman Tuan waktu itu, dia sempat menanyakan keberadaan Arkan."

Damian tetap diam.

"Saya curiga hubungan mereka memang cukup dekat," lanjut Jack hati-hati. "Padahal Arkan sudah menikah."

Ia berhenti sejenak sebelum kembali berbicara.

"Kalau orang lain mengetahui kedekatan mereka, nama baik Sophia bisa tercemar. Itu juga tidak baik untuk Tuan. Apalagi kalau pertunangan itu benar-benar terjadi."

Damian menatap Jack beberapa saat.

Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

"Wanita bodoh itu memilih berjalan di atas bara api."

Tatapannya beralih ke arah jendela.

"Suatu saat bara itu akan membakarnya sendiri. Kau tidak perlu memusingkan apapun."

Jack mengangguk, membenarkan perkataan Damian. Dalam sejarah drama perselingkuhan, posisi kedua selalu mendapatkan sanksi sosial. Itu sama saja dengan menelanjangi Sophia di hadapan umum.

Ia melirik Damian, kalau pertunangan itu terjadi, jelas yang paling dirugikan adalah Sophia. Bukankah dia akan menjadi konsumsi publik? Ia khawatir kalau Arkan berkhianat pada Sophia, tetapi ....

"Sepertinya Arkan akan mencoba melindunginya," katanya pelan.

Damian tertawa meremehkan.

"Melindunginya?"

Tatapannya berubah dingin.

"Apa yang bisa dilakukan seorang pria yang sudah beristri?"

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Dia memiliki seorang anak dalam perut Istrinya. Apa yang Sophia miliki?"

"Apalagi, selain perhatian, pelukan dan ciumannya."

Suasana di ruangan itu berubah mencekam. Jack memegang belakang lehernya, saat menyadari Damian sudah melayangkan tatapan tajam. Jujur sekarang ia benar-benar ingin membenamkan kepalanya ke tanah.

Beberapa saat kemudian ia mengeluarkan obat tidur dari sakunya dan meletakkannya perlahan di atas meja Damian.

Damian hanya melirik benda itu sekilas tanpa minat.

Jack berdeham pelan.

"Perlu saya memanggil Nona Sophia?"

Damian mengangkat alis.

"Untuk apa?"

"Supaya Tuan bisa tidur lebih tenang."

Damian tertawa kecil seolah menertawakan kebodohan Asistennya.

"Kalau kau memanggilnya, apa dia akan mau menemaniku tidur di ranjang?"

Jack bungkam.

Jelas itu sesuatu yang mustahil.

Mungkin melihat wajah Damian saja, Sophia sudah akan membanting pintu di depannya.

Sampai sekarang Jack masih mengingat jelas ekspresi wanita itu waktu terakhir kali mereka bertemu. Jack bergidik ngeri.

____

"Kau coba ini."

Sophia mengangkat piringnya.

"Tadi aku lihat cuma dipanggang biasa, tapi rasanya enak sekali."

Arkan tersenyum kecil.

Setelah dari makam, pria itu memang membawanya ke pantai. Awalnya Sophia tidak tahu akan dibawa ke mana. Namun karena terlalu lelah, ia akhirnya tertidur selama perjalanan.

Saat bangun, aroma khas laut langsung memenuhi indra penciumannya.

Sophia jelas merasa senang.

Ia sebenarnya ingin segera berjalan-jalan di pantai, tetapi Arkan malah menyeretnya lebih dulu ke salah satu rumah makan.

"Suapi aku."

Sophia langsung menatapnya.

"Kau punya tangan."

"Aku malas cuci tangan lagi."

Arkan tertawa kecil, lalu dengan lembut membersihkan sudut bibir Sophia dengan jari jempolnya. "Aku tahu kau hanya ingin aku membantumu menghabiskan makanan itu, kan?"

Ia lalu mencubit pelan pipi Sophia.

"Habiskan sendiri."

Sophia langsung mengerucutkan bibir.

Padahal Arkan sudah selesai makan sejak tadi.

Berbeda dengannya yang bahkan belum menghabiskan setengah porsi ikan bakar itu.

Ia sudah berusaha makan secepat mungkin, tetapi entah kenapa mulutnya seperti tidak mau bekerja sama.

"Baiklah, baiklah," ujar Arkan akhirnya. "Kalau sudah kenyang, tidak perlu dipaksa. Kita bungkus saja untuk dibawa pulang."

Mata Sophia langsung berbinar.

Ia mengangguk cepat.

Arkan tertawa pelan sebelum akhirnya bangkit untuk meminta makanan mereka dibungkus.

Sementara itu Sophia menoleh ke arah pantai.

Angin laut berembus pelan menerpa wajahnya.

Namun entah kenapa dadanya terasa sesak.

Benar kata Arkan.

Sekalipun ia menabung selama dua puluh tahun, belum tentu ia bisa membeli rumah impiannya.

Celengan ayam miliknya, tabungannya, sekarang bahkan berada di tangan Damian.

Mungkin lelaki itu sudah memecahkannya sejak kemarin.

"Mau lihat pantai?"

Sophia menoleh.

Matanya langsung berbinar.

Namun beberapa detik kemudian ia melihat dua kantong plastik di tangan Arkan.

"Kau membeli lagi?"

Arkan mengikuti arah pandang Sophia lalu tersenyum kecil.

"Untuk Kakak Ipar."

Sophia mengangguk pelan.

"Dia sedang hamil. Walaupun hubungan kami tidak terlalu dekat, tetap saja aku harus memperhatikannya. Rasanya tidak enak kalau kita makan enak sementara anak dalam kandungannya tidak bisa ikut mencicipinya."

Ah.

Sophia mengangguk-angguk kecil.

"Kalau kau tidak suka, aku akan memberikannya pada orang lain. Aku tidak ingin kau salah paham."

Sophia buru-buru menggeleng.

"Bukan begitu."

"Lalu?"

Sophia menggigit bibir bawahnya pelan.

"Aku hanya merasa... tidak nyaman. Tapi bukan karena itu."

Ia tentu tidak mungkin mengatakan kalau terkadang dirinya merasa seperti wanita simpanan.

Sebelum bertemu langsung dengan Sintia, perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang.

Ia ingin mendengar semuanya langsung dari wanita tersebut.

Arkan tidak bertanya lebih jauh.

Ia hanya menggenggam tangan Sophia lalu mengajaknya menuju pantai.

Sophia yang berusaha melupakan pikirannya langsung tersenyum lebar.

Ia membiarkan ombak membasahi kakinya, sementara jaketnya ia tinggalkan di gazebo kecil dekat bibir pantai.

Arkan merangkul pinggang Sophia.

Wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu pria tersebut.

"Arkan."

"Hm?"

"Apa kau tidak takut Kakak Iparmu jatuh cinta padamu?"

Arkan menoleh lalu mencium puncak kepala Sophia.

Kemudian ia menggeleng.

"Aku sudah mengenalnya sejak SMP."

Sophia mendongak.

"Dia sangat mencintai Kakakku. Bahkan sampai sekarang dia masih rutin mengunjungi makam Kakak."

Arkan tersenyum tipis.

"Dia pernah berkata, setelah melahirkan nanti, dia ingin menjaga keluarga kami seperti seorang ibu."

"Ibu..." gumam Sophia pelan.

Senyum tipis terukir di bibirnya.

Namun tidak ada lagi kata-kata yang keluar.

Beberapa saat kemudian Sophia menoleh ke belakang.

Keningnya langsung berkerut.

Barang yang tadi ia tinggalkan sudah tidak ada.

"Ada apa?" tanya Arkan.

Sophia menunjuk ke arah gazebo.

"Jaketku hilang."

____

"Bagaimana persiapannya?"

"Semuanya sudah selesai, Nyonya. Tinggal menentukan gaun yang akan dikenakan Nona Sophia."

Wanita itu langsung mematung.

Ia baru ingat bahwa Sophia bahkan belum memilih gaun untuk acara pertunangannya.

Belakangan ini ia terlalu sibuk bekerja hingga hampir seluruh persiapan diserahkan kepada para pelayan.

Biasanya Nyonya Sarah hanya memeriksa semuanya lewat telepon.

Begitu pula Tuan Liam.

Mereka lebih sering memberi arahan dan membiarkan bawahan mengurus sisanya.

Nyonya Sarah menghela napas pelan.

Sophia akan menjadi menantunya.

Namun sampai sekarang ia bahkan belum memiliki nomor telepon gadis itu.

"Mertua macam apa aku ini?" gumamnya pelan.

Ia mengangkat kepala.

"Apakah kalian memiliki nomor Sophia?"

Para pelayan saling pandang.

Tak ada yang langsung menjawab.

Hingga akhirnya salah satu dari mereka menundukkan kepala dengan gugup.

"Tidak, Nyonya."

B e r s a m b u n g ....

Jangan lupa tinggalkan jejak, yah! Makasih。⁠◕⁠‿⁠◕⁠。

1
falea sezi
mending ma Damian 🤣 dripada si goblok arkan kayaknya Sintia licik bgt ini jalang🤣
falea sezi
jangan mau sopii🤣 ada yg singgle. kok milih jd pelakor
Rumia Dell: Sopii food kah😭
total 1 replies
falea sezi
klo ma arkan pasti di nanti sintya ge recokin
falea sezi
ini mah bukan hemat tp medit buat diri sendiri😒
Rumia Dell: Gak boleh gitu, demi rumah impian 🤣
total 1 replies
Juli Rosan
keren
Rumia Dell: Ikutin terus ceritanya yah😍
total 1 replies
Dede Kurniawan
Seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!