Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Sementara itu di kediaman Winata, suasana ruang makan terasa lebih tenang dari biasanya. Lampu hangat menggantung di atas meja panjang, makanan tersaji rapi, tapi tidak ada percakapan yang berlebihan. Rendra duduk di kepala meja sementara Kanisha dan Dahlia duduk di seberangnya.
Sejak mereka pulang dari kantor, Kanisha lebih banyak diam. Tidak ada air mata ataupun ledakan emosi, hanya keheningan yang tenang seperti seseorang yang sudah terbiasa menahan semuanya sendirian. Rendra memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya berbicara.
“Papa sudah hubungi pengacara terbaik.”
Kanisha tidak langsung bereaksi. Tangannya yang memegang sendok berhenti sejenak.
“Pengacara?” suaranya datar.
“Untuk perceraian kamu dan Arven.” jawab Rendra dengan tenang.
Kanisha menatap piringnya beberapa detik, lalu menghela napas pelan.
“Secepat itu? Kapan papa menemukannya?”
Rendra mengangguk.
“Tidak ada alasan untuk menunda.” Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan. “Besok pengacaranya akan datang ke kantor. Dia akan membawa surat pernyataan cerai yang harus kamu tanda tangani.”
Kanisha terdiam, ia tahu kalau hal ini harus segera diselesaikan.
“Papa tidak mau kamu terus terikat dengan sesuatu yang sudah rusak.”
Kanisha perlahan mengangguk.
“Baik, Kanisha akan lakukan seperti yang papa minta.”
Rendra menarik napas pelan, lalu melanjutkan lagi.
“Papa juga sudah kirim email ke pihak MIRAE GLOBAL HOLDING.”
Kanisha akhirnya menoleh dan sedikit mengernyit.
“Yang kita bahas pagi itu?”
Rendra mengangguk.
“Papa sudah sampaikan ketertarikan kita langsung ke CEO-nya.”
Di sisi lain kota, di kediaman Mahendra, Lampu ruang kerja masih menyala terang, meski malam sudah mulai turun. Arven duduk sendirian. Ruang itu berantakan, Kertas kertas berserakan di meja, laptop terbuka tapi tidak disentuh, sementara Arven menyisir rambutnya sendiri dengan kasar.
“Sial…” gumam Arven pelan.
Matanya menatap kosong ke layar laptop tapi pikirannya tidak ada di situ. Perceraiannya dengan Kanisha, tender Berlian Jaya yang gagal, Uang yang tidak bisa keluar, Winata grup yang memutus semua bantuan, Semua menumpuk menjadi satu di dalam kepala Arven. Arven bangkit dari kursinya dan berjalan mondar-mandir di ruangan itu.
“Ini cuma sementara…” katanya pada dirinya sendiri. “Aku bisa menyelesaikan masalah ini perlahan.” ujar Arven yang berusaha percaya diri namun suaranya sendiri tidak terdengar meyakinkan.
Ia berhenti untuk menatap ke luar jendela. Dunia tetap berjalan tapi hidupnya seperti berhenti di satu titik yang salah. Arven mengusap wajahnya dengan kasar.
“Kenapa semuanya jadi begini…”
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu terbuka tanpa menunggu jawaban dan membuat Selena masuk ke dalam. Penampilannya rapi, tapi terlalu rapi untuk seseorang yang datang “kebetulan”. Gaun tidurnya sedikit terbuka di bagian dada, rambutnya tergerai, dan senyum di wajahnya terlalu percaya diri.
“Arven…” suaranya lembut. “Kamu dari tadi di sini terus.”
Arven tidak menoleh.
“Keluar.”
Selena tidak langsung pergi. Malah melangkah masuk.
“Aku tahu kamu lagi stres.” katanya sambil mendekat. “Aku bisa bantu kamu relax.”
Arven masih diam dan membuat Selena berdiri tepat di belakangnya, lalu menyentuh bahu Arven dengan pelan.
“Semua orang pasti ada masalah…” bisiknya dengan menggoda. “Tapi kamu nggak harus sendirian di saat seperti ini.”
Tangannya turun perlahan dan masuk ke dalam kemeja Arven untuk membelai dada bidang laki laki itu. Arven menutup matanya sebentar lalu dalam satu gerakan cepat—
BRUK! Selena terdorong keras ke belakang dan jatuh ke lantai.
“Jangan sentuh aku.” ucap Arven dengan dingin dan membuat Selena menatapnya dari lantai, wajahnya jelas tidak percaya.
“Arven…? Kau mendorong ku?”
Arven berdiri di tempatnya, menatap Selena tanpa ekspresi.
“Keluar.”
Selena masih diam beberapa detik, lalu wajahnya berubah kesal.
“Kamu gila ya?” Arven tidak menjawab. “Kalau kamu pikir aku bakal jadi tempat pelampiasan kamu, kamu salah besar.” Selena bangkit perlahan, merapikan dirinya dengan wajah dingin. “Dasar aneh.” Ia menatap Arven sekali lagi lalu berbalik. “Kalau kamu sudah waras, baru cari aku.”
Pagi itu Jakarta seperti punya suasana yang berbeda. Bukan karena cuaca, bukan juga karena macet yang seperti biasa, tapi karena satu hal yang pelan-pelan menyebar lebih cepat daripada berita ekonomi atau fluktuasi saham. Nama Arven Mahendra mulai ramai dibicarakan di grup investor lalu merembet ke forum bisnis. Di salah satu gedung perkantoran kawasan Sudirman, seorang direktur perusahaan properti sedang membaca berita di tablet sambil menggeleng pelan.
“Ini Mahendra yang dulu itu kan? Yang katanya kuat karena Winata?”
Salah satu stafnya mengangguk.
“Iya, Pak. Ternyata cerai sama keluarga Winata.”
Direktur itu tertawa kecil, tapi bukan tawa yang lucu.
“Kalau itu benar… ya selesai sudah.”
Di sisi lain kota, suasana di kantor Mahendra Corporation tidak ada bedanya dengan ruang yang sedang diserang perlahan-lahan dari segala arah. Telepon berdering tanpa henti, email masuk bertubi-tubi, Notifikasi meeting berubah jadi pembatalan. Dan di ruang utama lantai atas, Pak Damar berdiri dengan satu tangan menahan meja, sementara satu tangan lainnya memegang ponsel yang hampir panas karena terlalu lama digunakan.
“Batal lagi?” suaranya serak.
Asistennya mengangguk cepat.
“Pak… klien dari Berlian Jaya sudah kirim email resmi. Mereka membatalkan kerja sama tender.”
Pak Damar terdiam lalu tertawa pendek.
“Tidak mungkin.”
Asisten itu menunduk.
“Alasannya mereka tidak mau mengambil risiko kerja sama dengan perusahaan yang sedang terlibat konflik besar.”
Pak Damar langsung membanting ponselnya ke meja.
“Konflik besar apanya?! Ini cuma masalah rumah tangga!”
Tapi kalimat itu justru terasa semakin kecil di ruangan yang semakin terasa sempit. Karena di luar sana, semua orang sudah menyebutnya bukan “masalah rumah tangga”.
Tapi runtuhnya aliansi bisnis. Di ruangan lain, Arven berdiri di depan jendela kaca besar dengan wajah yang tidak bisa lagi disembunyikan ketegangannya.
“Yang pergi siapa lagi?” suaranya rendah sementara Asistennya terlihat ragu.
“Klien konstruksi, dua investor lama, dan satu partner luar negeri yang sebelumnya hampir tanda tangan MoU.”
Arven memejamkan matanya sebentar.
“Semua?”
“Ya, Pak.”
Arven mengusap wajahnya dengan kasar.
“Cuma karena gosip?”
Asisten itu tidak menjawab langsung, tapi jawabannya sudah ada di wajahnya.
“Ini bukan cuma gosip, Pak… ini sudah jadi persepsi.”
Arven langsung menoleh tajam.
“Persepsi apa?”
“Kalau hubungan Bapak dengan keluarga Winata sudah berakhir maka semua orang anggap perusahaan Mahendra kehilangan backing utama.”
Arven menatapnya lama lalu tertawa kecil, tapi dingin.
“Backing?”
Dia melangkah keluar dari ruangan.
“Kalau mereka kerja sama sama kita cuma karena itu, berarti mereka bukan partner bisnis. Mereka cuma pengekor.”
Beberapa saat kemudian di ruang meeting kecil, Arven duduk berhadapan dengan seorang klien lama. Orang itu dulu selalu tersenyum setiap kali bertemu Arven. Selalu memuji strategi perusahaan Mahendra, selalu bilang “kalian masa depan industri ini”. Tapi hari ini tidak. Hari ini wajah mereka terlihat datar.
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️