Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.
Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:
"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan dan Kehadiran Predator Sejati
"Zhao Hu..." desis Ling Yun rendah, suaranya begitu dingin hingga membuat kabut di sekitarnya seolah membeku sesaat.
"Oh? Kau mengenali ku, sampah? Baguslah! Jadi kau tahu persis siapa yang mengirimmu ke neraka!" Zhao Hu membuka maskernya, tidak lagi merasa perlu menyembunyikan identitasnya di tempat terpencil ini. Wajahnya tampak bengis dan penuh kemenangan. "Nona Muda Shui tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di sini. Menatapku dengan tajam hari itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, pelayan cacat!"
Sanca Kerak Bumi yang telah kehilangan akal sehatnya akibat ramuan perangsang kini meraung liar. Makhluk itu berbalik dan menerjang ke arah Ling Yun dengan kecepatan yang luar biasa, membuka rahangnya yang dipenuhi taring berbisa yang sanggup melelehkan daging manusia dalam hitungan detik.
"Yun! Lari!" teriak Lu Han dengan sisa kekuatannya, mencoba meraih kaki adiknya.
Zhao Hu dan kedua anak buahnya menonton dari kejauhan sambil bersedekap dada, bersiap menikmati pemandangan tubuh Ling Yun yang dicabik-cabik. "Mati kau, sampah!" umpat Zhao Hu kejam.
Namun, apa yang terjadi berikutnya membuat tawa Zhao Hu seketika terkunci di tenggorokannya.
Ling Yun tidak bergerak satu inci pun. Ketika kepala ular raksasa itu hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya, Ling Yun sontak mengangkat tangan kanannya. Nampak terlihat dibalik jubah pelayannya yang kumal, otot-otot lengannya mengencang, memancarkan aura fisik yang begitu masif hingga menciptakan gelombang angin kecil yang mengusir kabut hitam di sekelilingnya.
BAM!
Satu hantaman tinju mentah dari tangan kanan Ling Yun mendarat tepat di atas dahi Sanca Kerak Bumi. Kekuatan fisik murni yang luar biasa dahsyat berbenturan dengan tengkorak keras ular tersebut. Suara retakan tulang yang mengerikan bergema di tengah hutan, disusul oleh lengkingan kesakitan yang memekakkan telinga dari sang binatang buas. Tubuh ular raksasa seberat beberapa ton itu terlempar ke belakang, menghantam tanah dengan keras hingga menimbulkan ceruk dalam sebelum akhirnya tidak bergerak lagi, mati seketika dengan kepala yang hancur.
Suasana di batas Zona Terlarang Sembilan Kematian mendadak menjadi sunyi senyap. Hanya suara napas terengah-engah dari Lu Han yang terdengar di antara keheningan yang mencekam itu.
Zhao Hu melangkah mundur dua kali, lututnya mendadak lemas melihat pemandangan di depannya. Matanya melebar sempurna, dipenuhi oleh rasa tidak percaya yang amat sangat. Seorang pelayan yang selama sepuluh tahun dikenal memiliki Dan Tian hancur dan bermeridian cacat, baru saja membunuh binatang buas tingkat menengah hanya dengan satu pukulan fisik murni?
"Kau... kau... bagaimana mungkin?!" suara Zhao Hu bergetar hebat, seluruh keangkuhannya runtuh dalam sekejap digantikan oleh rasa takut yang luar biasa. "Kau bukan pelayan cacat! Kekuatan macam apa ini?!"
Ling Yun berdiri tegak, membiarkan angin gunung menerpa rambutnya yang berantakan. Selama sepuluh tahun, ia memilih hidup sebagai pelayan rendahan yang cacat agar tidak memancing perhatian musuh-musuhnya yang berada di puncak dunia luar. Ia bisa menoleransi segala makian dan kerja paksa demi keamanan penyamarannya. Namun, Zhao Hu membuat kesalahan fatal hari ini. Pria itu melibatkan Lu Han—satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia di sekte ini—ke dalam jebakan maut di batas Zona Terlarang.
Ling Yun melangkah maju, membiarkan aura fisik murninya mengunci pergerakan Zhao Hu dan kedua anak buahnya hingga mereka tidak bisa berkutik. Tatapan matanya yang sedalam lautan kini dipenuhi oleh niat membunuh yang pekat. "Aku diam selama sepuluh tahun bukan karena aku takut pada semut seperti kalian. Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat. Tapi karena kalian sendiri yang mengantarkan nyawa ke tempat sesunyi ini, akan sangat tidak sopan jika aku menolaknya."
Meski tatapannya terlihat begitu mengintimidasi, di balik jubah kumalnya, Ling Yun mati-matian menahan gejolak di dalam perutnya. Sudut bibirnya sedikit berkedut saat rasa perih yang teramat sangat mulai menjalar dari Dan Tian-nya yang retak. Dirinya juga sedikit menjaga jarak agar Zhao Hu dan anak buahnya tidak menyadari kondisi sebenarnya.
Uhuk... sial, satu pukulan tadi saja sudah membuat organ dalamku berguncang, batin Ling Yun sembari menahan darah yang hampir naik ke tenggorokannya.
Sebenarnya, melakukan serangan fisik murni sekeras tadi adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan saat ini. Tanpa adanya Dan Tian yang utuh untuk menyalurkan dan meredam getaran energi, setiap kali ia mengerahkan kekuatan fisik murninya, hantaman balik dari daya tersebut akan langsung menghantam organ dalamnya sendiri. Empat elemen liar di dalam dirinya yang belum memiliki wadah penjinak kini bergolak kacau akibat paksaan insting bertarungnya, saling berbenturan dan memperparah retakan di pusat energinya. Tubuhnya yang rusak menolak keras setiap pertempuran. Jika ia terpaksa bertarung lebih lama lagi, bukan tidak mungkin meridiannya akan hancur sendiri dan membuatnya cacat secara permanen.
Di seberang sana, Zhao Hu benar-benar berada di ambang histeria. Tekanan aura fisik yang dipancarkan Ling Yun terasa begitu nyata, seperti gunung raksasa yang siap runtuh dan mengubur mereka hidup-hidup. Keringat dingin mengucur deras, membasahi seluruh punggung jubah luarnya. Lututnya gemetar hebat hingga ia terpaksa bertumpu pada pedangnya yang tertancap di tanah agar tidak langsung jatuh bersujud.
"Ti-Tidak... ini mustahil..." Zhao Hu meracau, suaranya naik satu oktav karena panik.
Bayangan kekejaman monster-monster Dataran Pusat yang legendaris mendadak berputar di kepalanya. Di matanya saat ini, pelayan yang selama ini ia injak-injak telah menjelma menjadi iblis pencabut nyawa. Ketakutan terdalamnya merayap naik, melumpuhkan seluruh akal sehat dan Qi elemen api miliknya yang tadi menggebu-gebu.
"Mundur! Kita harus mundur!" teriak Zhao Hu histeris kepada kedua anak buahnya. Suaranya pecah, tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan seorang murid sekte.
Namun, tepat ketika Zhao Hu bersiap untuk berbalik dan kabur terbirit-birit, salah satu anak buahnya yang bertubuh kurus—murid yang mengusulkan rencana licik ini—tidak bergerak. Matanya yang licik bagai rubah menyipit, terpaku pada satu detail kecil yang luput dari pandangan Zhao Hu yang sedang panik.
Murid kurus itu memperhatikan bagaimana jari-jari tangan kiri Ling Yun diam-diam mencengkeram erat lipatan kain jubah di bagian perutnya. Bukan hanya itu, meski kabut hitam menyamarkan segalanya, ia sempat menangkap getaran halus di pundak Ling Yun yang tidak selaras dengan postur tegaknya yang mengintimidasi. Yang paling meyakinkan adalah fluktuasi Qi di sekitar tubuh Ling Yun; alih-alih stabil dan menekan, aliran energinya justru berdenyut kacau dan terputus-putus, seolah-olah ada badai yang sedang mengoyak organ dalamnya dari dalam.
Sebuah seringai tipis perlahan kembali terukir di wajah murid kurus tersebut.
"Tunggu, Kakak Senior Zhao! Jangan tertipu!" seru murid kurus itu dengan lantang, menghentikan langkah Zhao Hu yang sudah bersiap lari. Ling Yun yang mendengar itu merasakan perasaan buruk, karena dirinya melihat murid kurus tersebut tersenyum ketika melihat ke arahnya.
"Apa yang kau katakan, bodoh?! Dia bisa membunuh kita semua dengan satu tangan!" bentak Zhao Hu, menoleh dengan wajah pucat dan penuh amarah karena jalannya ditahan.
"Lihat perutnya, Kakak Senior! Dia sedang berpura-pura!" Murid kurus itu menunjuk ke arah Ling Yun dengan ujung pedangnya, matanya berkilat penuh kemenangan. "Jika dia benar-benar seorang ahli yang menyembunyikan kekuatannya, dia pasti sudah menghabisi kita dalam sekejap sejak tadi tanpa banyak bicara. Pukulan mautnya pada Sanca Kerak Bumi tadi bukanlah ilmu kanuragan yang bebas ia gunakan, melainkan serangan bunuh diri! Dan Tian-nya yang hancur tidak bisa menahan hantaman balik dari kekuatannya sendiri. Lihat saja, dia bahkan tidak berani mengambil satu langkah cepat pun ke arah kita!" Ucap murid kurus tersebut yang membuat Ling Yun benar-benar mati kutu.
Mendengar analisis pasukannya, langkah kaki Zhao Hu langsung terhenti. Ia menoleh kembali ke arah Ling Yun, mencoba mengabaikan rasa takutnya dan mulai mengamati dengan sisa logika yang ia miliki. Benar saja, ia kini bisa melihat samar-samar wajah Ling Yun yang nampak sedikit pucat dan sudut bibir yang tengah ia gigit saat ini. Melihat apa yang yang di katakan oleh anak buahnya benar, Zhao Hu sontak tertawa keras.
"Hahaha! Keparat kau, sampah!" Zhao Hu meludah ke tanah, melangkah maju dengan angkuh sembari mengangkat kembali pedangnya. Aura api berwarna merah meredup di sekitar senjatanya kembali berkobar, memanaskan udara dingin di perbatasan zona terlarang. "Kau hampir saja menipuku dengan gertakan murahmu itu! Berani-beraninya seekor cacing tanah berlagak menjadi naga di hadapanku!"
Rasa percaya diri yang terlalu tinggi membuat Zhao Hu sama sekali tidak waspada. Dengan amarah yang meluap-luap, ia maju selangkah lagi. Pedang di tangannya bergetar, dilapisi oleh api merah yang menyala-nyala. Ia sudah bersiap menghabisi Ling Yun demi meluapkan rasa malunya yang tadi sempat terguncang. Di mata Zhao Hu sekarang, Ling Yun hanyalah orang lemah yang sebentar lagi akan mati di tangannya.
Namun, tepat sebelum pedang itu diayunkan, suasana di perbatasan Zona Terlarang Sembilan Kematian mendadak berubah menjadi sangat dingin. Api yang menyelimuti pedang Zhao Hu tiba-tiba meredup dan langsung padam seketika, bahkan sebelum sempat menyentuh tubuh Ling Yun. Zhao Hu terlalu dibutakan oleh amarah hingga lupa bahwa tempatnya berdiri saat ini adalah Hutan Kabut Hitam—wilayah berbahaya yang berbatasan langsung dengan Zona Terlarang.
>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se ras ku.