Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anda harus mati
****
Angin dingin berembus dan keheningan memenuhi depan desa. Pelayan tuan putri diam di sana sembari mengerutkan keningnya. Tidak ada yang lewat kecuali hembus angin dan serangga malam di telinganya.
Tempat ini jauh berbeda dengan sungai langit yang dipenuhi keramaian. Dia beberapa saat diam memejamkan matanya dan indranya melesat ke segala arah; melihat burung yang tertidur, daun-daun pohon yang berterbangan dan beberapa orang yang tidak datang ke festival.
Tidak ada yang aneh, karenanya dia keheranan dan mengerutkan keningnya. Apa dia salah menduga? Dia bingung namun kemudian dia percaya, tidak ada kebingungan. Pelayan itu lalu menetap gerbang desa. Indranya melesat dan akhirnya dia melihat orang-orang yang bersorak-sorak di bibir sungai dan pada saat ini tuan Wang Hao telah bercakap-cakap dan kapalnya lewat. Kemudian beberapa kapal datang lagi yang di penuhi pertunjukan tari-tarian.
Tuan putri sedang diam di sana menatap pertunjukannya. Sepertinya sangat menikmatinya.
Semuanya normal dan tidak terjadi apa-apa.
Pelayan itu menarik indranya. “Tidak mungkin...”
Dia tidak percaya. Namun segera dia berusaha tenang dan mengatur nafasnya. Kemudian dia memejamkan matanya sebentar. Indranya bergerak lagi menelusuri semuanya. Melihat orang-orang lagi dan sorak-soraknya. Tidak lama dia melihat dua sudut bibir tuan putri tersenyum.
Pelayan itu terkejut dan melihat keanehan. Kemarahan tiba-tiba muncul dari tubuhnya. Dia segera pergi dan mengeluarkan pedangnya. Langkahnya berat dan tatapannya berubah
****
Di bibir sungai, tarian-tarian budaya desa di tampilkan. Gadis-gadis cantik menari anggun di atas kapal. Pipi laki-laki yang menyaksiknya memerah dan menyebut nama-nama gadis cantik di sana sembari memujinya. Teriakan-teriakan kegembiraan saling beradu. Para gadis sangat antusias melempar bunga-bunga mereka. Sementra para anak-anak menyaksiknya di bawah pengawasan orang tua.
Tidak lama dari kerumunan seseorang melesat, sangat cepat, menghindari orang-orang.
Sebelum semua orang melihat dan menyadarinya, dia telah tiba di belakang tuan putri. Pada saat itu, Tuan putri perlahan-lahan menoleh, sementara orang itu menarik pedangnya dengan suara mendesing. Energi Qi merembes keluar dan aura pedang putih sepanjang 20 meter melesat ke langit ketika pedangnya di angkat.
Waktu tiba-tiba sedikit melambatkan. Dan sebelum orang menoleh dia mengayunkannya ke depan, tepat di hadapan tuan putri.
Wuss Bommm!!!
Semua orang tercengang dan sungai terbelah membentuk cekungan air di anatara bunga-bunga. Air berkeciprak ke mana-mana dan semua orang terkejut. Tiba-tiba semua kegembiraan di jatuhkan dalam kekacauan.
Garis muncul membelah sungai dan airnya seperti tercengang dan bingung.
Gadis yang mengayunkan pedangnya berdiri di pinggir sungai sembari memegang pedang erat-erat. Tatapannya dingin sembari menatap tuan putri yang berhasil menghindar dan berdiri di ujung kapal dengan tenang.
Angin malam berhembus menerbangkan lengan Han Fu-nya dan selendang di pinggannya yang ramping. Dia berdiri kokoh dan tegap. Dengan tumbuhnya yang langsing dan wajahnya bagaikan pedang dia tidak di pungkiri mempunyai kecantikan yang mematikan.
Rambutnya yang panjang dengan satu tusuk rambut bambu bergoyang-goyang.
Para penari menghentikan aktivitas mereka dan merasa ketakutan. Orang-orang sekitar bertanya apa yang terjadi.
Sebelumnya, Pelayan tuan putri penuh kelembutan dan akan menghormati tuannya. Namun sekarang dia terlihat dingin, mematikan dan seperti memiliki kebencian yang dalam. Pelayan itu sangat cantik ketika dia serius, namun bagi kebanyakan orang pelayan itu akan lebih nyaman terlihat tunduk dan tanpa menampilkan ekspresi tegasnya.
“Yang mulia, aku harus membunuh anda.”
Semua orang terkejut dan tercengang. Sementara cahaya bulan jatuh dalam bilah pedangnya yang putih, membuatnya terlihat berkilauan.
“Apa yang kamu...”
Tuan putri ingin berbicara dan mencari penyebabnya, namun segera pelayan itu berkata, “anda bukan tuan putri, jadi seharusnya tidak perlu berpura-pura seperti ini.”
Qi putih merembes keluar dari tubuhnya. Udara menjadi berat dan tekanan meningkat. Orang-orang sekitar melihat dan merasakan jantung mereka berdegup kencang, rasa takut mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. Beberapa bahkan dekat dengan pelayan itu merasa sesak dan segera menjauh.
Tuan putri sedikit tersenyum. “Apa kamu tidak takut melukai orang-orang sekitar?”
Menggeleng, Pelayan itu melesat dan di udara mengayunkan pedangnya.
Tuan putri tidak punya pilihan lain; mengeluarkan pedang dan ikut melompat.
Kedua pedang di ayukan, saling beradu. Angin kencang pecah, air beriak dan suara besi beradu berdengung nyaring. Pusaran muncul dan membuat orang-orang sekitar menjauh dan tidak berani mencoba mendekat. Para penari dan orang-orang yang ada di kapal segera melompat ke air dan berenang ke permukaan.
Suara dentangan logam beradu beberapa kali dan menciptakan tebasan angin yang mendarat acak, itu melesat ke air dan membelahnya, ke tanah, cekungan muncul dan ke pohon, batangnya segera terpotong.
Setelah lima belas serangan, Pelayan tuan putri melompat ke belakang mendarah di pinggir sungai. Tuan putri, memanfaatkan bunga-bunga di permukaan air segara ikut di tempat yang berbeda. Sekarang keduanya di pisahkan sungai besar dan kapal di permukaannya.
Tangan tuan putri bergetar dan berkeringat memegang pedangnya. Dia juga merasa tulang jari-jarinya sakit. Tidak salah lagi, di depannya ini seorang master. Ekspresinya terplintir dan sedikit pucat. Dia ingin berkata namun tidak lama pelayan itu melakukan tebasan. Tebasan sepanjang dua puluh meter secara vertikal melesat, memotong kapal menjadi dua, meledakannya berkeping-keping lalu menuju tuan putri. Ketika itu tuan putri mengertakan giginya dan mengayunkan pedangnya ke depan.
Dua tebasan akhirnya bertemu. Ledakan, air semakin tercabik-cabik dan sisa-sisa kapal melesat ke berbagai arah.
Tuan putri mengatur nafasnya. Dia sepertinya butuh lebih banyak kekuatan untuk bertarung dan setelah ledakan selesai lalu melihat pelayan itu diam dengan mata sedingin musim dingin membuatnya terkejut. Dia bertanya-tanya mengapa hanya seorang pelayan bisa sekuat ini?
*****
Pelayan tuan putri berdiri tegap dan pedang telah siaga. Dia ingin melopat tapi segera tuan putri di seberang berseru, “Jika kamu melanjutkanya, maka tempat ini akan hancur dan korban akan berjatuhan. Ini pasti ada kesalahan, aku tuan putri yang asli.”
Orang-orang desa telah mengevakuasi orang-orang dan tidak boleh ada yang mendekat di bawah kepemimpinan tuan Wang. Sebagai kepala desa, dia merasa ini kemalangan yang tidak dapat di hindarkan.
Dia tidak tahu ternyata tuan putri mengunjung desanya untuk menonton dan pelayannya sendiri telah membuat keributan. Dia tidak tahu mana yang benar dan bingung dengan situasi ini. Jika dia bergerak, Pelayan tuan putri bukan orang biasa dan baik dia atau pun yang lainnya tidak bisa melakukan apa pun. Namun jika dia tidak bisa maka berkemungkinan besar desanya akan hancur dan kerugian besar akan di tanggung warganya.
Sekarang Tuan Wang hanya diam dari jarak aman dengan beberapa orang desa yang berjaga-jaga. Dia berharap suara tuan putri akan didengar namun pelayan itu mendengus dan mengangkat pedang di tangannya.
Ketika itu awan-awan hitam memenuhi langit dengan kedipan dan guntur yang saling menyambar. Butiran-butiran hujan berjatuhan.
Di atas pedang pelayan itu, pusaran muncul seperti lubang yang siap menarik apa pun.
Anginnya kencang bertiup!!!
Rambut panjang pelayan itu perlahan-lahan terlepas dan tusuk rambutnya mulai lepas dan di bawa angin. Rambutnya yang hitam legam melambai-lambaikan.
Tuan Wang, orang-orang yang berada di sekitarnya mulai ketakutan dan lutut mereka tanpa sadar begertar hebat. Tuan Wang meskipun tidak gemetar dia mendapatkan alarm bahaya dari serangan ini. Pelayan ini bukan orang biasa dan dia tidak akan menyerang dengan ragu-ragu.
Selain itu, orang-orang desa yang sudah mencapai gerbang desa merasa ketakutan dan satu persatu bersimpuh memanjatkan doa.