Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. Teh dan Tipu Daya
Uap panas masih menggantung berat di udara, menciptakan tirai kabut yang membuat sosok Julian tampak seperti lukisan yang belum selesai di mata Aira.
Di dalam bak mandi emasnya, Aira merasa sangat kecil. Air hangat setinggi dada menyembunyikan botol biru misterius yang ia temukan, botol yang kini ia genggam erat di bawah permukaan air seperti memegang kunci menuju keselamatannya—atau kehancurannya.
Julian melangkah maju dengan keanggunan seorang pemangsa. Sepatu pantofelnya tidak mengeluarkan suara sedikit pun di atas marmer hitam yang basah, menambah kesan mistis pada kehadirannya. Ia meletakkan nampan perak berisi cangkir porselen di atas meja rias kecil di samping bak mandi. Aroma melati yang kuat dan menenangkan segera menguar, bertarung dengan aroma mawar yang pekat dan bau uap yang lembap.
"Anda tampak sangat... tegang, Nyonya," suara Julian membelah kesunyian, lebih lembut dari sutra namun tajam seperti sembilu. "Apakah air mawar ini tidak cukup untuk melunakkan kekakuan di bahu Anda? Padahal semalam, Anda bilang bahwa hanya tangan saya yang bisa meredakan badai di kepala Anda."
Julian membungkuk, wajahnya yang halus dengan hidung mancung yang sempurna kini sejajar dengan wajah Aira. Mata cokelatnya yang jernih tampak berkilat di bawah cahaya chandelier, seolah-olah ia bisa melihat langsung ke dalam jiwa Aira yang ketakutan.
Aira menelan ludah. Di dalam film "The Velvet Menor", Julian adalah pelayan yang paling lihai memanipulasi suasana hati sang Nyonya. Ia tidak menggunakan ancaman fisik seperti Kael, melainkan menggunakan ramuan, teh, dan kata-kata manis untuk membuat Isabella menjadi ketergantungan secara emosional padanya.
"Aku tidak butuh tehmu, Julian. Keluar," ujar Aira, mencoba meniru nada angkuh Isabella. Namun, ia menyadari bahwa suaranya sedikit bergetar, memberikan celah bagi Julian untuk masuk.
Julian tidak beranjak. Sebaliknya, ia mengambil cangkir teh itu dan meniupnya perlahan. Gerakannya sangat elegan, hampir seperti tarian. "Menolak pemberian saya? Itu menyakitkan, Nyonya. Apakah jatuh dari tangga kemarin benar-benar membuat Anda lupa betapa Anda mencintai racikan saya?"
Julian mengulurkan cangkir itu tepat di depan bibir Aira. "Minumlah. Sedikit saja. Atau Anda ingin saya membantu Anda meminumnya... dari mulut saya sendiri?"
Kalimat itu membuat jantung Aira berhenti berdetak sesaat. Tatapan Julian turun ke arah bibir Aira yang sedikit terbuka karena terkejut. Ada sebuah obsesi yang sangat gelap di mata Julian—sebuah keinginan untuk mengendalikan yang dibungkus dengan kesantunan yang luar biasa.
Aira merasakan tekanan yang berbeda di sini. Jika Kael adalah ancaman terhadap tubuhnya, Julian adalah ancaman terhadap kewarasannya. Ia merasa terpojok, terperangkap di antara air hangat dan tatapan Julian yang seolah menguliti satu demi satu rahasianya.
"Julian, aku bilang kel—"
Kalimat Aira terhenti saat Julian tiba-tiba meletakkan jemarinya yang bebas di dagu Aira. Ia memegangnya dengan tekanan yang sangat pas; tidak terlalu keras untuk menyakiti, tapi cukup kuat untuk membuat Aira tidak bisa berpaling. Jemari Julian terasa dingin di kulit Aira yang panas karena air mandi.
"Ada yang berbeda dari Anda hari ini, Isabella," bisik Julian. Wajahnya kini begitu dekat hingga Aira bisa merasakan hawa napasnya yang harum melati.
"Mata Anda biasanya penuh dengan kilatan nafsu akan kekuasaan yang membuat saya mual. Tapi sekarang... saya melihat sesuatu yang jauh lebih menggoda. Ketakutan. Ketakutan pada seorang gadis polos yang sedang tersesat di istananya sendiri."
Julian tersenyum lebih lebar, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Aira berdiri. Ia mendekatkan cangkir teh itu kembali ke bibir Aira, namun kali ini ia tidak memintanya. Ia menempelkan pinggiran cangkir porselen yang hangat itu ke bibir bawah Aira.
"Minum tehnya, Isabella. Sebelum saya kehilangan kesabaran dan memanggil Dante untuk melihat betapa 'rapuh' Nyonya kesayangannya malam ini."
Aira terdesak. Ia tahu jika ia menolak, Julian akan semakin curiga. Namun jika ia minum, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada kesadarannya. Dengan tangan gemetar di bawah air, ia secara tidak sengaja menyentuh botol biru yang ia sembunyikan tadi.
Tiba-tiba, sebuah ide nekat muncul di kepala Aira. Ia harus membalikkan keadaan.
"Baiklah," bisik Aira. Ia mengangkat tangannya yang basah dari bawah air, bukan untuk mengambil cangkir itu, melainkan untuk menarik kerah baju Julian.
"Tapi bagaimana jika kau yang mencicipinya dulu, Julian? Bukankah itu tugas seorang pelayan setia? Memastikan tidak ada racun untuk majikannya?"
Julian terdiam sejenak. Kilatan keterkejutan melintas di matanya—sebuah reaksi yang jarang ia tunjukkan. Ia menatap Aira dengan rasa penasaran yang tumbuh perlahan, seolah sedang melihat spesies baru yang menarik.
"Anda meminta saya untuk mencicipinya?" Julian terkekeh, nadanya penuh ironi. "Anda benar-benar berubah, Nyonya. Biasanya Anda akan memaksa saya meminumnya langsung dari lantai jika saya berani meragukan perintah Anda."
Julian membawa cangkir itu ke bibirnya sendiri, menyesapnya perlahan tanpa melepaskan kontak mata dengan Aira. "Tehnya sempurna. Manis, hangat, dan... mematikan bagi siapa pun yang memiliki rahasia besar."
Julian meletakkan cangkir itu kembali ke nampan. Namun, ia tidak pergi. Sebaliknya, ia berlutut di samping bak mandi, tangannya kini menyentuh permukaan air yang dipenuhi kelopak mawar merah, membuat kelopak-kelopak itu menjauh seperti orang-orang yang ketakutan.
"Dante mungkin mengira dia yang memegang kendali di rumah ini karena dia yang tertua," bisik Julian, suaranya kini sangat rendah hingga hanya Aira yang bisa mendengarnya di tengah gemericik air.
"Tapi kita berdua tahu siapa yang sebenarnya memegang 'kunci' mansion ini, bukan? Jadi, beri tahu saya, Nyonya... di mana Anda menyembunyikan botol biru yang Anda ambil dari lemari rahasia semalam?"
Jantung Aira berdegup kencang hingga ia merasa bisa meledak. Julian tahu. Julian adalah orang yang paling mengamati setiap inci ruangan ini.
Tangan Julian merayap masuk ke dalam air yang hangat. Aira membeku saat merasakan jari-jari Julian yang dingin bersentuhan dengan tangannya di bawah permukaan air. Jari-jari Julian menyelinap di antara jemari Aira, mencari botol itu, namun gerakan itu terasa begitu lambat dan sensual hingga Aira sulit membedakan apakah ini interogasi atau rayuan.
"Jangan coba-coba membohongi saya, Isabella," ancam Julian dengan nada yang masih sangat manis. "Karena jika Dante tahu Anda mencoba meracuni dirinya dengan botol itu... dia tidak akan hanya mengurung Anda di kamar ini. Dia akan menghancurkan Anda sampai tidak ada lagi yang tersisa dari 'Nyonya' kita yang agung."
Julian menarik botol itu dari genggaman Aira di bawah air. Namun, ia tidak segera menarik tangannya keluar. Ia justru menarik tubuh Aira lebih dekat ke pinggiran bak mandi.
Wajah mereka kini hanya berjarak satu inci. Aroma mawar, melati, dan ketegangan yang menyesakkan memenuhi udara di antara mereka.
Aira bisa melihat setiap detail di wajah Julian—bulu matanya yang panjang, bibirnya yang penuh, dan tatapannya yang seolah ingin menelan Aira bulat-bulat.
"Anda tahu apa harga dari kesetiaan saya, kan?" Julian berbisik tepat di depan bibir Aira.
Sebelum Aira bisa menjawab, Julian menundukkan kepalanya. Ia tidak menunggu izin. Ia mencium Aira.
Ciuman itu tidak kasar seperti Kael, namun terasa jauh lebih berbahaya. Rasanya manis karena teh melati dan dingin karena sikap Julian. Itu adalah ciuman yang menuntut, ciuman yang seolah-olah Julian sedang menghisap seluruh rahasia dari napas Aira.
Aira terkesiap, tangannya yang basah mencengkeram bahu Julian demi mencari pegangan di dunia yang tiba-tiba berputar ini.
Bagi Aira, ini adalah ciuman pertamanya. Sensasi lembut dan menekan itu membuatnya merasa seolah-olah ia sedang tenggelam dalam lautan madu yang pekat. Julian menggunakan lidahnya dengan lihai, mengeksplorasi mulut Aira dengan cara yang membuat lutut Aira lemas di dalam air.
Julian melepaskan ciuman itu dengan perlahan, meninggalkan bibir Aira yang basah dan sedikit membengkak. Ia menatap Aira dengan senyum kemenangan yang samar, botol biru itu kini sudah ada di tangannya, di atas permukaan air.
"Kesetiaan saya sangat mahal, Isabella," ujar Julian sambil menyimpan botol itu di balik sakunya.
"Mulai malam ini, Anda adalah milik saya. Bukan milik Dante, bukan milik Kael, dan bukan milik Zane. Mengerti?"
Julian berdiri, merapikan pakaiannya yang sedikit basah seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Saya akan menunggu Anda di ruang makan. Jangan terlalu lama, Nyonya. Dante tidak suka jika mainannya tidak disiplin."
Julian berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Aira yang hanya bisa terengah-engah di dalam bak mandinya yang kini terasa sangat dingin.
Aira menyadari satu hal: ia baru saja menyerahkan senjatanya kepada predator yang paling licik di rumah ini. Dan ciuman tadi... itu bukanlah tanda cinta, melainkan tanda kepemilikan yang beracun.
Lanjuutt