NovelToon NovelToon
Susahnya Jadi Mantan Pacar

Susahnya Jadi Mantan Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

Batuk kecil yang terdengar tiba-tiba membuat suasana langsung membeku.

Andra berdiri tepat di belakang mereka.

Novita, Yanti, dan Risa yang sedang asyik berbicara spontan menoleh bersamaan. Begitu melihat siapa yang berdiri di sana, wajah ketiganya langsung memucat seketika, seolah darah mereka mengalir turun sampai ke kaki.

Risa adalah orang pertama yang bereaksi. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia langsung berbalik dan kembali ke mejanya dengan langkah cepat, pura‑pura sibuk menatap layar komputer.

Tinggallah Novita dan Yanti yang masih duduk bersebelahan.

Mereka tidak punya tempat untuk kabur.

Andra menatap keduanya dengan ekspresi datar. Tatapan matanya begitu dingin sampai membuat Yanti merasa seperti dilempar ke Kutub Utara tanpa jaket.

Ruangan yang tadi terasa biasa saja tiba‑tiba berubah menegangkan.

"Jadi…" kata Andra pelan.

Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat jantung keduanya berdebar tidak karuan.

"Kalian sedang membicarakan saya?"

Tidak ada yang menjawab.

Yanti menundukkan kepala. Novita menggigit bibirnya sendiri karena gugup.

Andra mengalihkan pandangannya kepada Yanti.

"Tadi saya dengar ada yang ingin lompat dari gedung?"

Yanti langsung menegang.

"Pak… saya…"

Namun kata‑katanya terhenti di tenggorokan.

Andra menyilangkan tangan di depan dada.

"Kalau begitu saya akan menunggu," katanya tenang. "Satu jam."

Yanti mengangkat kepala dengan kaget.

"Apa maksud Anda, Pak?"

"Kalau dalam satu jam kamu tidak benar‑benar melompat dari gedung," lanjut Andra tanpa ekspresi, "kamu bisa membaca surat pemecatanmu sendiri."

Seolah petir menyambar di tengah ruangan.

Yanti langsung pucat pasi.

Bibirnya bergetar, tetapi tidak ada kata yang mampu keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa menundukkan kepala dengan wajah yang hampir menangis.

Novita yang melihat itu langsung merasa bersalah.

Dialah yang memulai pembicaraan tadi.

Tanpa berpikir panjang, Novita langsung berdiri.

"Maaf, Pak!"

Suara itu membuat Andra menoleh kepadanya.

Novita menundukkan kepalanya dalam‑dalam.

"Ini salah saya. Saya yang mulai membicarakan Anda."

Andra menatapnya tanpa mengatakan apa pun.

Tatapan itu membuat Novita semakin gugup.

"Saya siap menerima hukuman apa pun," lanjutnya cepat.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Kemudian Andra berkata datar,

"Jadi…"

Ia sedikit memiringkan kepalanya.

"Apakah saya sudah mirip idol K‑Pop seperti yang kamu katakan?"

Novita langsung membeku.

Wajahnya berubah merah karena malu.

Ia buru‑buru menggelengkan kepala.

"Tidak, Pak!"

Jawaban spontan itu membuat suasana semakin canggung.

Andra menatapnya beberapa detik lagi, lalu berbalik tanpa mengatakan apa pun.

Ia berjalan pergi meninggalkan mereka.

Namun sebelum benar‑benar menjauh, ia berkata singkat,

"Satu jam."

Langkahnya kemudian menghilang di ujung koridor.

Yanti langsung terduduk lemas di kursinya.

"Aku… aku benar‑benar akan dipecat…" bisiknya dengan suara gemetar.

Novita merasa dadanya semakin sesak.

Ia tidak bisa membiarkan ini terjadi.

Tanpa berpikir lama, Novita segera berjalan menuju ruangan Andra.

Pintu kantor itu terlihat besar dan terasa menakutkan sekarang.

Namun Novita tetap mengetuk.

"Masuk," terdengar suara Andra dari dalam.

Novita membuka pintu dan langsung masuk.

Andra sedang duduk di belakang meja kerjanya sambil membaca beberapa berkas. Ia bahkan tidak langsung menatap Novita.

"Ada apa?" tanyanya singkat.

Novita langsung berdiri tegak di depan meja.

"Pak, saya ingin bicara."

Andra akhirnya mengangkat kepalanya.

"Cepat. Saya sibuk."

Novita menarik napas dalam‑dalam.

"Tolong jangan pecat Yanti."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Andra mengangkat alisnya sedikit.

"Alasannya?"

"Karena ini salah saya," kata Novita pelan. "Saya yang memulai pembicaraan tentang Anda tadi."

Andra bersandar di kursinya.

"Dan?"

"Kalau harus ada yang dihukum… hukum saja saya," lanjut Novita sambil menunduk. "Saya bersedia melakukan apa pun yang Anda inginkan."

Ruangan kembali sunyi.

Andra menatapnya lama sekali.

Kemudian ia bertanya dengan nada santai,

"Kamu bisa mengulang waktu?"

Novita mengangkat kepalanya dengan bingung.

"Apa?"

"Kalau kamu bisa mengulang waktu," kata Andra, "kamu bisa kembali ke beberapa menit lalu dan tidak membuka mulutmu."

Novita terdiam.

Ia menunduk lagi.

"Saya… tidak bisa melakukan itu."

Andra mengangguk pelan.

"Kalau begitu tidak ada yang bisa diperbaiki."

Ucapan itu membuat hati Novita semakin panik.

Tanpa berpikir panjang, ia tiba‑tiba berlutut di lantai.

Bahkan ia sampai bersujud.

"Tolong, Pak!"

Andra langsung mengerutkan kening.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Tolong jangan pecat Yanti," kata Novita dengan suara hampir putus asa. "Dia benar‑benar membutuhkan pekerjaan ini."

Andra menatapnya dengan ekspresi sulit dibaca.

Beberapa detik kemudian ia menghela napas pelan.

"Bangun."

Novita tidak bergerak.

"Saya bilang bangun."

Akhirnya Novita perlahan berdiri.

"Duduk."

Andra menunjuk kursi di depan mejanya.

Novita menurut dengan gugup.

Andra kemudian memperhatikannya dengan teliti.

Tatapan itu membuat Novita semakin tidak nyaman.

Ia seperti sedang dinilai dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Setelah beberapa saat, Andra akhirnya berkata,

"Lumayan."

Novita langsung bingung.

"Pak?"

Andra sedikit menyipitkan mata.

"Tadi kamu bilang akan melakukan apa pun yang saya mau."

Novita menelan ludah.

"Iya…"

"Demi temanmu itu?"

Novita menundukkan kepala.

"Iya, Pak."

Andra mengetuk meja dengan jarinya pelan.

"Apa pun?"

Novita ragu sejenak.

Namun bayangan wajah pucat Yanti kembali muncul di pikirannya.

Ia akhirnya mengangguk pelan.

"Apa pun."

Andra menatapnya tajam.

"Termasuk kalau saya menyuruhmu melakukan sesuatu yang tidak senonoh?"

Novita langsung terdiam.

Pertanyaan itu seperti menamparnya.

Tangannya yang berada di atas lutut perlahan mengepal.

Ia tidak bisa menjawab.

Pikirannya terasa kacau.

Di satu sisi ia merasa pria di hadapannya sedang merendahkannya. Seolah dirinya hanyalah sesuatu yang bisa ditukar dengan pekerjaan orang lain.

Namun di sisi lain, bayangan Yanti kembali muncul di benaknya.

Yanti yang selalu baik padanya.

Yanti yang sejak hari pertama membantu pekerjaannya.

Yanti yang sekarang mungkin akan kehilangan mata pencahariannya karena kesalahannya.

Andra masih menatapnya tanpa berkedip.

"Jawab," katanya singkat.

Novita menundukkan kepalanya dalam‑dalam.

Dadanya terasa sakit.

Perlahan, dengan sangat berat, ia mengangguk.

Gerakan kecil itu terasa seperti menelan harga dirinya sendiri.

"…Iya, Pak," bisiknya hampir tidak terdengar.

Ruangan kembali sunyi.

Andra memperhatikannya beberapa saat.

Namun ekspresinya tidak berubah.

Akhirnya ia berkata dingin,

"Kamu benar‑benar wanita yang menyedihkan."

Kata‑kata itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan.

Novita hanya menunduk tanpa berani menatapnya.

Ia tahu dirinya sedang dipandang rendah.

Tetapi saat itu ia sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya.

Yang ia pikirkan hanya satu.

Yanti tidak boleh kehilangan pekerjaannya.

Beberapa detik kemudian Andra kembali bersandar di kursinya.

Ia mengetuk meja dengan jarinya beberapa kali sebelum akhirnya berkata,

"Baiklah."

Novita perlahan mengangkat kepalanya.

Andra menatapnya tajam.

"Kamu bisa pergi sekarang."

Novita tidak langsung bergerak.

"Tapi ingat sesuatu," lanjut Andra.

Nada suaranya tenang, tetapi terasa seperti perintah yang tidak bisa ditolak.

"Mulai sekarang, kalau saya memanggilmu, kamu harus datang."

Novita menelan ludah.

"Apa pun yang saya perintahkan… kamu harus melakukannya."

Jantung Novita berdegup keras.

"Kapan pun," lanjut Andra.

"Di mana pun."

Ia berhenti sebentar sebelum menambahkan kalimat terakhirnya.

"Dan kamu tidak boleh menolak."

Ruangan terasa semakin sempit bagi Novita.

Ia tahu arti dari kata‑kata itu.

Namun ia juga tahu bahwa semua ini terjadi karena dirinya.

Perlahan ia menundukkan kepalanya.

"Iya, Pak," katanya lirih.

Andra tidak menjawab lagi.

Ia sudah kembali membuka berkas di mejanya seolah percakapan tadi tidak berarti apa‑apa.

Bagi Novita, sebaliknya.

Percakapan itu terasa seperti sesuatu yang baru saja mengikat hidupnya.

Dengan langkah pelan, ia akhirnya berdiri dari kursinya.

Tangannya terasa dingin.

Dadanya masih sesak.

Namun ia tetap berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, ia sempat menoleh sekali lagi.

Andra bahkan tidak melihatnya.

Novita kemudian membuka pintu dan keluar dari ruangan itu.

Di dalam hatinya hanya ada satu harapan.

Semoga semua pengorbanan ini benar‑benar bisa menyelamatkan pekerjaan Yanti.

1
viellia
next yuuuk kaaak
Siti Nugraheni
seneng aja bacanya, kosakatanya rapi, alur ceritanya menarik buat dibaca, dan selalu bikin penasaran lanjutan ceritanya
gaby
Resign dong. Bukannya wkt itu Novita bikin beberapa surat lamaran. Masa iya satu pun ga ada yg manggil. Atau jgn2 othornya lupa sm jalan critanya. Gimana nasib surat lamaran itu smua
Black Rascall: mengingatkan saat itu belum ada 19 JT lapangan pekerjaan jadi susah nyari dan Novita bisa kerja berkat om Danu yang merekomendasikan Novita ke HRD jadi tunggu ya kak 19 JT lapangan pekerjaannya 🙏🙏🙏
total 1 replies
falea sezi
bos kurang ajar mundur aja resain
Black Rascall: tunggu 19 JT lapangan pekerjaan dulu kak baru resain
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending
Black Rascall: gak yakin karena baru pertama kali nulis genre seperti ini jadi mohon maklum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!