Lyra Aldebaran hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan pertunangannya. Namun satu malam di klub hotel mewah mempertemukannya dengan pria yang tidak seharusnya ia kenal.
Darius Baskara, Pria dingin dan berbahaya yang menguasai dunia gelap kota. Sebuah kejadian membuat mereka terjebak bersama sepanjang malam. Lyra mengira semuanya akan berakhir saat pagi datang. Ia salah,Karena bagi seorang mafia seperti Darius Baskara, sekali ia menginginkan sesuatu, ia tidak akan pernah melepaskannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Andreina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
Malam itu rumah sakit terasa lebih sunyi dari biasanya, Lampu di ruang ICU redup. Mesin ventilator masih bekerja pelan.
Hssss… bip… hssss… bip…
Darius duduk di kursi di samping tempat tidur Lyra.
Sudah dua bulan. Dua bulan ia datang ke ruangan ini setiap hari, Dua bulan menunggu wanita itu membuka matanya. Tangannya masih menggenggam tangan Lyra seperti biasa, Dingin.
Namun masih hidup, Darius menatap wajahnya lama.
Wajah yang dulu selalu penuh ekspresi sekarang diam, Tenang, Terlalu tenang Ia menghela napas pelan. "Aku lelah menunggu." Suaranya sangat pelan.
Namun tetap terdengar berat, "Aku bahkan sudah menghancurkan setengah kota mencari Viktor."
Ia menunduk sedikit "Kau selalu bilang aku terlalu berlebihan."
Sunyi beberapa detik.Darius mengusap rambut Lyra dengan hati-hati. "Kalau kau bangun…" Ia berhenti sebentar. "...aku akan berhenti dari semua ini."
Mesin ventilator tetap berbunyi, Namun tiba-tiba monitor jantung berubah.
Bip… bip… bip…
Lebih cepat, Darius langsung menoleh, Ia berdiri.
Matanya menatap layar monitor "Lyr..." Kalimatnya terhenti, Karena sesuatu bergerak, Jari Lyra, Sangat kecil. Namun jelas,Darius membeku, Ia menunduk cepat "Lyra?"
Kelopak mata wanita itu bergetar, Perlahan, Sangat pelan. Seolah tubuhnya lupa bagaimana cara membuka mata. Darius menggenggam tangannya lebih erat.
"Lyra."
Beberapa detik berlalu, Kemudian mata Lyra perlahan terbuka. Cahaya lampu membuatnya sedikit menyipit, Pandangan itu masih kosong, Bingung, Seolah dunia terasa asing. Darius menahan napas.
Sudah terlalu lama ia menunggu momen ini, Lyra mencoba menggerakkan bibirnya, Namun ventilator masih menempel, Suaranya tidak keluar. Matanya bergerak pelan, Mencari sesuatu. Kemudian ia melihat Darius. Beberapa detik mereka hanya saling menatap. Mata Lyra berkaca-kaca, Seolah mengenali seseorang yang sangat penting, Darius menunduk sedikit. Matanya tidak pernah meninggalkan wajah Lyra.
Kemudian kata pertama yang keluar dari bibirnya adalah, "Darius…" Suara itu sangat pelan Serak, Hampir seperti bisikan, Namun cukup membuat dunia Darius berhenti. Ia benar-benar terdiam.
Beberapa detik ia bahkan tidak bergerak. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.
Kemudian ia tertawa kecil, Namun matanya justru basah. Ia menyentuh pipi Lyra dengan sangat hati-hati "Akhirnya." Suaranya jauh lebih lembut dari biasanya "Aku di sini."
Air mata Lyra perlahan jatuh ke bantal, Meskipun ia masih lemah matanya tetap menatap Darius, Seolah selama dua bulan itu hal pertama yang ingin ia pastikan adalah satu hal. Bahwa pria itu masih ada.
Darius menunduk sedikit,.Dahinya hampir menyentuh tangan Lyra. "Kau membuatku menunggu terlalu lama." Nada suaranya terdengar seperti keluhan, Namun tangannya sangat lembut. Ia menatap Lyra lagi "Kau kembali."
Di luar ruangandokter dan perawat mulai berlari masuk setelah melihat monitor berubah, Namun bagi Darius suara apa pun sudah tidak penting. Karena setelah dua bulan kegelapan Lyra akhirnya membuka matanya. Dan kata pertama yang ia ucapkan adalah namanya.
_____
Ruang ICU mendadak ramai. Dokter dan perawat masuk dengan cepat setelah monitor menunjukkan perubahan.
"Tekanan darahnya naik."
"Saturasi stabil."
"Ventilator turunkan perlahan."
Perawat mulai memeriksa kondisi Lyra dengan hati-hati. Darius berdiri sedikit menjauh, tetapi matanya tidak pernah lepas dari Lyra.
Lyra masih terlihat bingung, Matanya bergerak pelan melihat ruangan di sekelilingnya, Semua terasa asing, Mesin, Lampu,.Selang-selang medis. Kemudian pandangannya kembali pada Darius. Air mata kecil masih ada di sudut matanya.
Dokter mendekat dan berbicara dengan suara lembut. "Nona Lyra, jika Anda bisa mendengar saya, coba kedipkan mata dua kali."
Lyra berkedip pelan, Dua kali. Dokter tersenyum kecil.
"Bagus."
Ia melihat catatan medis "Anda sudah tidur cukup lama."
Lyra mencoba berbicara Namun selang ventilator masih ada di tenggorokannya, Yang keluar hanya suara serak, "Ah…"
Perawat segera berkata "Kita akan melepas ventilator perlahan."
Beberapa menit kemudian selang ventilator akhirnya dilepas dengan hati-hati, Lyra langsung batuk kecil.
Darius langsung maju satu langkah "Pelan."
Perawat membantu memberikan oksigen melalui masker kecil, Lyra bernapas perlahan, Dadanya naik turun lemah. Setelah beberapa saat, suaranya akhirnya bisa keluar, Serak,.Lemah "Darius…"
Pria itu langsung berada di samping tempat tidurnya.
"Aku di sini." Lyra menatapnya beberapa detik. Seolah memastikan pria itu benar-benar nyata. Kemudian ia berkata pelan, "Apa… yang terjadi?"
Dokter menjawab dengan hati-hati "Anda tertembak dua bulan lalu."
Lyra terdiam, Seolah mencoba mengingat sesuatu.
Gambaran samar muncul di pikirannya, Suara tembakan, Rasa sakit, Dan kemudian gelap.
Matanya sedikit membesar "Aku…" Namun tubuhnya masih terlalu lemah untuk berpikir terlalu banyak.
Dokter berkata lembut,"Untuk sekarang Anda harus istirahat."
Lyra mengangguk kecil. Namun beberapa detik kemudian ia bertanya sesuatu. Pertanyaan yang membuat seluruh ruangan tiba-tiba terasa berat.
"Dokter…"Suaranya sangat pelan, "Kenapa… perutku terasa aneh?"
Sunyi.
Darius langsung menegang, Dokter menatapnya sebentar, Kemudian kembali pada Lyra. Ia terlihat ragu, Namun akhirnya berkata jujur "Nona Lyra…"
Lyra menatapnya, Dokter melanjutkan dengan hati-hati. "Saat Anda masuk ke rumah sakit…"
Ia berhenti sebentar "Anda sedang hamil."
Kalimat itu membuat Lyra membeku, Matanya perlahan berpindah ke Darius "Ha…mil?" Suaranya hampir seperti bisikan, Dokter mengangguk pelan.
"Usianya sekitar lima minggu."
Beberapa detik ruangan itu benar-benar sunyi. Lyra terlihat bingung. Tangannya perlahan bergerak ke perutnya, Namun dokter belum selesai. Wajahnya berubah lebih serius "Tapi karena kondisi tubuh Anda sangat kritis saat itu…" Ia menelan napas pelan. "Janinnya tidak bisa bertahan."
Kalimat itu jatuh seperti batu, Lyra tidak bergerak.
Matanya masih menatap kosong. Seolah otaknya belum memproses kata-kata itu. "Apa… maksudnya?"
Dokter berkata pelan,"Kami kehilangan bayinya."
Sunyi, Benar-benar sunyi.
Darius berdiri di samping tempat tidur, Tangannya mengepal. Ia tahu momen ini akan datang, Namun tetap terasa berat.Lyra masih tidak bergerak, Matanya mulai berkaca-kaca, Perlahan, Sangat pelan. Air mata jatuh ke pipinya "Bayinya…" Tangannya masih berada di perutnya"...sudah tidak ada?"
Dokter mengangguk pelan "Maaf."
Lyra memejamkan mata, Tubuhnya sedikit gemetar.
Namun yang keluar bukan teriakan, Bukan tangisan keras. Hanya satu kalimat pelan yang hampir tidak terdengar. "Aku… bahkan tidak tahu dia ada."
Air mata terus mengalir, Darius tidak tahan melihatnya seperti itu. Ia duduk di samping tempat tidur. Tangannya menggenggam tangan Lyra.
"Kita akan punya kesempatan lagi." Namun Lyra menggeleng kecil.Air matanya semakin banyak.
"Itu… anak kita." Suara itu benar-benar hancur. Ruangan itu terasa sangat berat sekarang. Dokter dan perawat akhirnya keluar perlahan, Meninggalkan mereka berdua..Lyra menangis tanpa suara. Darius menariknya perlahan ke dalam pelukannya.
Sangat hati-hati.
Seolah ia takut wanita itu akan hancur jika disentuh terlalu keras, "Aku juga kehilangan dia." Suaranya sangat rendah, Lyra menyandarkan wajahnya di dada Darius. Air matanya membasahi kemeja pria itu, Namun Darius tidak bergerak.
Ia hanya memeluknya lebih erat, Untuk pertama kalinya sejak perang ini dimulai Darius tidak terlihat seperti pria yang ditakuti semua orang, Hanya seorang pria yang baru saja kehilangan anaknya.