Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagiaan Di Balik Tirai
Sore itu, detak jarum jam di dinding ruang tamu terasa berdentum berkali-kali lipat lebih keras di telinga Aiza. Ia sudah rapi dengan gamis putih dan cadar senada—persis seperti bidadari yang sedang menanti jemputan takdir. Berkali-kali ia merapikan letak khimarnya di depan cermin, padahal tidak ada satu helai rambut pun yang keluar.
Aiza menatap pantulan matanya sendiri. Mata yang biasanya teduh itu kini tampak bergetar, memancarkan kegelisahan yang manis. Ia berkali-kali mengatur napas, mencoba mengusir rasa dingin yang menyerang ujung-ujung jemarinya.
"Tenang, Aiza... ini yang kamu minta dalam setiap sujudmu," bisiknya dalam hati, meskipun kakinya terasa lemas tiap kali mendengar suara deru mesin kendaraan dari kejauhan.
Ia berjalan menuju jendela, menyibak sedikit gorden kumal di kamarnya. Di luar, jalanan setapak itu masih sepi, namun hatinya sudah riuh rendah. Ada ketakutan kecil yang menyelinap, bukan takut Gus Qais tidak datang, melainkan takut apakah ia sanggup menatap pria itu tanpa membuat jantungnya meledak.
"Ya Allah, jika benar beliau adalah jawaban atas doa-doa panjangku, maka tenangkanlah hati ini. Jangan biarkan gemetar ini mengalahkan rasa syukurku."
Tiba-tiba, suara mobil berhenti tepat di depan pagar bambu yang reyot. Aiza terperanjat, mundur selangkah sambil meremas kotak tisu yang sejak tadi ia pegang.
Suara Warih yang menyambut tamu dengan ramah terdengar dari depan.
Itu dia. Suara bariton yang sangat ia kenali sedang mengucap salam dengan begitu rendah hati.
"Assalamu'alaikum..." Suara Gus Qais. Dan saat itu juga, Aiza merasa dunianya seolah berhenti berputar.
Jantungnya berdetak semakin kuat. Aiza refleks memegangi dadanya, matanya terpejam seolah sedang menikmati irama jantungnya yang semakin tak menentu.
"Huffftt…..”
Suara percakapan di luar masih terdengar. Warih dan yang lain masih berada di luar. Aiza sedikit mengintip dari balik gorden kamarnya, sekedar ingin melihat siapa saja yang datang.
Sedetik kemudian, Aiza dibuat terpaku oleh sosok Gus Qais dengan kemeja koko putih bersih dan sarung tenun yang sangat rapi. Ia tampak begitu bersahaja namun tetap berwibawa.
Namun siapa sangka, tanpa sengaja tatapan Gus Qais juga mengarah ke jendela kamar Aiza. Tatapan mereka bertemu untuk sesaat, namun Gus Qais cepat-cepat menundukkan pandangannya sambil tersenyum tipis. Begitu juga Aiza yang reflek menutup gorden dan langsung mundur dengan jantung yang berdegup gila.
"Ya Allah... dia tahu aku mengintip?" batin Aiza panik.
Wajahnya di balik cadar sudah panas bukan main. Satu detik tatapan itu rasanya lebih dahsyat dari angin kencang apapun.
Aiza berjalan cepat meninggalkan kamar menuju ke dapur, dia rencananya akan membuat teh untuk tamu sambil mengatur debaran jantungnya yang masih tak menentu.
Suasana di ruang tamu yang sempit itu terasa begitu padat oleh wibawa. Gus Qais, Umi Khasanah dan Abah kiyai Mukhtar duduk bersimpuh di atas tikar pandan, tidak ada raut merendahkan sedikit pun meski ia terbiasa duduk di kursi mewah pesantren. Di hadapannya, ada Nenek Aiza yang menatap mereka dengan bingung, tapi tetap terlihat teduh karena dua tahu yang datang adalah keluarga terhormat dari pesantren.
Kyai Mukhtar melihat sekeliling rumah yang sederhana itu dengan tatapan teduh, tidak ada sedikit pun gurat merendahkan. Beliau justru tersenyum hormat saat menatap Warih.
“Mbah ….kulo nyuwun pangapunten sanget, nggih, kalau kedatangan kami yang ramai ini mengejutkan. Qais ini sudah berhari-hari ndak bisa tidur nyenyak. Katanya, kalau ndak segera saya hantarkan kesini, dia takut keduluan malaikat maut atau keduluan orang lain yang lebih berani," canda kyai Mukhtar yang langsung mencairkan suasana.
Para rombongan hantaran sontak tertawa, begitu juga para tetangga dekat yang turut hadir di ruangan sempit itu.
Umi Khasanah pun mendekat ke arah Warih, lalu memegang tangan wanita tua itu dengan hangat.
"Mbah, kami kesini bukan sebagai tamu jauh. Kami kesini ingin meminta izin, bolehkah kami ikut menjaga Aiza? Qais sudah banyak bercerita tentang betapa hebatnya Mbah Warih membesarkan Aiza sendirian. Kami ingin Aiza ndak hanya punya Mbah, tapi juga punya orang tua di pesantren kami.”
“Nggih….. matur nuwun sanget nggih, Pak kyai dan Umi. Kunjungan kyai dan Umi kesini saja sudah menjadi suatu kehormatan buat Mbah dan Aiza. Dan ketika mendengar Gus Qais akan melamar cucu Mbah, Mbah seperti mendapat barokah yang ndak terhingga. Tapi balik lagi, Mbah hanya wali dari Aiza dan perantara, tapi keputusan tetap Aiza yang menentukan.”
Sementara di balik tirai, tangan Aiza gemetar hebat sampai bunyi gelas teh di atas nampan berdenting pelan.
Srek!
Suara denting itu terdengar sampai ke ruang tamu.
Gus Qais menoleh sekilas ke arah tirai, seolah tahu Aiza sedang terjungkal batinnya di sana. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Dia tahu, ikhtiarnya hampir sampai ke pelabuhan.
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍