Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Save
Seorang pria dengan balutan celana jeans dan jaket kulitnya terlihat baru saja menghentikan motor ke sayangannya di pinggir jalan. Melepas helm full face yang membungkus wajahnya, ketampanan pria itu begitu terpancar meskipun hanya lampu jalanan yang menjadi penerang.
"Haaa.... Segarnya udara disini." Helaan nafas dia keluarkan sembari menikmati angin yang berhembus menerpa tubuhnya.
"Kenapa juga Papa sama Mama nyuruh aku buat dateng ke acara gak jelas kayak gitu. Mana ngebosenin banget lagi." Omelnya saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
Awalnya, laki-laki itu memang ada di tempat yang sama dengan Aurora tadi. Tapi bedanya, dia bertahan hanya 15 menit dan berujung kabur tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.
"Mending gue jalan-jalan disini aja."
Meninggalkan motor kesayangannya begitu saja di pinggir jalan, pria itu mulai melangkahkan kakinya untuk mencari ketenangan.
10 menit berjalan, dia di kejutkan dengan segerombolan pria hidung belang dalam keadaan mabuk yang tengah menyeret seorang gadis dengan paksa.
Tak mungkin tinggal diam dan membiarkannya begitu saja, laki-laki itu segera berlari menghampiri mereka untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi.
"여기요!! 소녀에게서 떨어져! (Hey!! Lepaskan gadis itu!)" Pintanya berteriak seraya menarik gadis itu dengan paksa dari tangan mereka.
"당신은 누구입니까?! 감히 끼어들다니! (Siapa kau, ha?! Berani-beraninya ikut campur!)" Teriak pria berjaket kulit penuh amarah.
"아가씨, 괜찮으세요? (Nona, kau baik-baik saja?)" Tanya laki-laki itu menatap Aurora yang sudah sangat berantakan.
"이 개자식아! (Ya!! Dasar brengsek!)" Tak terima kesenangannya di rampas begitu saja, pria itu langsung melayangkan tinjunya pada pria yang menyelematkan Aurora.
Tapi, berkat reflek yang cepat membuatnya bisa menghindar sekaligus membawa Aurora ke dalam pelukan agar tidak terjatuh.
"안전하고 싶다면 그를 괴롭히지 마세요. (Jangan ganggu dia kalau kalian ingin selamat)" Peringat laki-laki itu menatap mereka satu per satu dengan tajam.
"당신도 그것을 시도 하시겠습니까? 그 소녀는 우리 것입니다. 그를 넘겨! (Kau juga ingin mencobanya? Gadis itu milik kami. Serahkan dia!)" Sahut pria bertubuh gempal diiringi senyum remeh.
"가다! 네 목을 하나씩 부러뜨리기 전에 (pergi! Sebelum aku mematahkan leher kalian satu per satu)" Sekali lagi laki-laki itu memberi peringatan.
"젠장!! (Brengsek!!)" Tanpa aba-aba, pria berjaket levis langsung melakukan serangannya. Beruntung lagi-lagi laki-laki itu bisa menghindar dan menyelamatkan Aurora dari serangan.
"아가씨, 뛸 수 있어요? (Nona, apa kau bisa lari?)" Tanya laki-laki itu pada Aurora sebelum terjadi serangan lanjutkan.
Aurora yang masih diliputi rasa takut, tak berani mengatakan apa-apa. Selain itu, dia juga tak paham dengan apa yang laki-laki itu katakan padanya.
Sadar jika gadis di hadapannya bukan orang Korea dan tak paham dengan bahasanya, laki-laki itu pun mengulangi ucapannya dengan bahasa Inggris. Berharap, kali ini gadis itu bisa mengerti.
"Miss, can you run?" Anggukan Aurora berikan sebagai jawaban.
"Run towards it. There is my motorcycle." Perintah laki-laki itu seraya menunjuk jalan di depannya dan mendorong tubuh Aurora agar menjauh karena pria bertubuh gempal tiba-tiba menendang punggungnya. Untung saja dia masih bisa menjaga keseimbangan sehingga tidak terjatuh.
"I'll take care of them first. You don't go anywhere until I come to you." Pesan laki-laki sebelum Aurora berlari pergi.
Sesuai perintah, Aurora langsung berlari sekenceng yang dia bisa menuju tempat yang laki-laki itu maksud. Sementara laki-laki itu, langsung menghajar seorang pria yang hendak mengejar Aurora dengan sekali pukulan telak nya.
Menghadapi pria-pria semacam itu bukanlah perkara sulit, kurang dari 10 menit dia sudah bisa melumpuhkan mereka semua dalam keadaan terkapar di atas tanah.
Mengambil jaketnya yang tadi dia gunakan untuk berkelahi, laki-laki itu mengibaskan nya sekali agar tidak ada kotoran atau debu yang menempel.
Sebelum pergi, laki-laki itu terlebih dulu memandang mereka satu per satu dengan tatapan merendahkan.
***
Ketakutan yang Aurora alami jelas masih terlihat. Alih-alih mencari bantuan atau yang lain, dia justru bersembunyi di balik motor dengan kedua lutut yang di lipat serta wsjah yang di sembunyikan.
"Miss?" Tegur laki-laki itu menyentuh bahu Aurora yang menimbulkan keterkejutan.
"It's me. Are you okay?" Tanya laki-laki itu khawatir. Tapi, bukannya mengucapkan terimakasih atau lain sebagainya, Aurora justru menghindar dengan wajah ketakutan.
"Calm down Miss, I'm not those people." Jelas laki-laki itu memberi Aurora ketenangan.
"Are they not going to bother me anymore?" Tanya Aurora terbats.
"No Miss, they've all gone. Calm down."
"Astaga!" Kagetnya karena Aurora tiba-tiba saja jatuh pingsan. Untungnya laki-laki itu dengan sigap menangkap tubuh Aurora agar tidak terjatuh ke tanah.
"Miss, can you hear me?" Panggil laki-laki itu berusaha menyadarkan Aurora dengan menepuk-nepuk pipinya.
Jika sudah begini, mau tak mau dia harus meminta bantuan orang lain. Mengambil ponselnya yang ada di saku celana, pria itu terlihat menghubungi seseorang dari salah satu kontaknya.
"Hallo"
"Tuan muda. Anda dimana?" Tanya seseorang di sebrang sana terdengar panik.
"Nanti aku jelaskan. Sekarang, datanglah ke tempat yang aku kirimkan. Aku butuh bantuanmu. Cepat."
"Baik Tuan, saya akan segera ke sana."
Setelah mengirimkan pesan kepada orang yang tadi dia telpon, laki-laki itu tampak tak bisa berbuat banyak selain menunggu.
Jika lebih diperhatikan, gadis yang pingsan dalam rengkuhannya itu ternyata cantik. Pantas saja mereka berusaha membawanya. Di lihat sekilas dari penampilan, gadis itu seperti baru saja menghadiri acara pesta. Tapi, kenapa dia jalan seorang diri di tempat seperti ini?
Belum sempat berpikir terlalu jauh, sebuah mobil sedan berwarna hitam datang dan berhenti tepat di depan mereka.
"Tuan muda? Anda baik-baik saja?" Tanya seorang pria yang keluar dari mobil itu dan menghampiri keduanya.
"Aku baik-baik saja." Tanpa kesulitan yang berarti, laki-laki itu mengangkat tubuh Aurora.
"Buka pintu mobilnya cepat." Perintahnya.
"Baik Tuan muda." Dengan segera, pria itu membuka pintu mobil bagian belakang agar sang Tuan muda mudah memindahkan Aurora ke dalam sana.
"Apa gadis itu terluka?" Tanyanya saat sang majikan menutup pintu mobilnya.
"Tidak. Dia pingsan karena syok."
"Apa yang terjadi? Kenapa Taun Muda bisa bersama dengan gadis itu?"
"Simpan pertanyaanmu itu untuk nanti. Bawa dia ke rumah sakit sekarang."
"Baik Tuan." Sama sekali tak membantah, pria itu langsung masuk ke dalam mobil dan melajukannya ke rumah sakit terdekat. Sementara laki-laki itu mengikutinya dari belakang dengan motornya.
***
Di saat orang kepercayaannya tengah mengurus administrasi, laki-laki itu tampak tak tenang menunggu di depan ruang pemeriksaan. Walaupun keduanya saling tak mengenal satu sama lain, tetap saja dia juga khawatir.
Untungnya tak berselang lama pintu itu terbuka dan memperlihatkan seorang Dokter yang keluar dari sana.
"박사님, 잘 지내세요? 그는 괜찮습니까?
(Dokter, bagaimana? Apa dia baik-baik saja?)" Tanya laki-laki itu begitu khawatir.
"당신은 그의 가족입니까? (Anda keluarganya?)"
"오른쪽 의사. 나는 그녀의 형제입니다.(benar Dokter. Saya kakaknya)"
"환자는 신체적 상해를 입지 않았습니다. 다만, 아까 말씀하신 것처럼 환자분은 자신에게 일어난 일로 인해 트라우마를 겪을 가능성이 높다"고 말했다. (Pasien tidak mengalami luka fisik apapun. Tapi, seperti yang Anda beritahukan tadi, pasien sepertinya akan mengalami trauma karena kejadian yang menimpanya)"
"그의 정신 건강에 큰 영향을 미칠까요, 박사님? (Apa itu akan berpengaruh besar dengan kesehatan sikologisnya, Dokter?)"
"즉시 치료하지 않으면 매우 큰 영향을 미칩니다. 상담과 적절한 치료를 위해 그를 정신과 의사에게 데려가는 것이 좋습니다. (Akan sangat berpengaruh jika tidak segera di obati. Saya sarankan Anda membawanya ke psikiater untuk berkonsultasi dan menjalankan terapi yang tepat)"
"좋아요 박사님. 감사합니다 (baik Dokter. Terimakasih)"
"그럼 실례하겠습니다. 환자가 트라우마에서 빨리 회복되길 바란다"고 말했다. (Kalau begitu saya permisi. Semoga pasien bisa segera sembuh dari trauma nya)"
"감사합니다 박사님 (terimakasih Dokter)"
Setelah kepergian Dokter pria itu, laki-laki itu kembali duduk di kursinya. Entah perasaan apa yang tengah ia rasakan saat ini, dia sendiri juga tak mengerti.
"Tuan Muda?" Tegur seorang pria mengejutkan laki-laki itu dari lamunannya.
"Kau sudah selesai mengurus semuanya?" Tanyanya menatap sang pria yang berdiri di sebelahnya.
"Sudah Tuan."
Tak lanjut bicara, laki-laki itu kembali terlihat merenung. Pria itu pun duduk di sebelah sang majikan meski tak diperintah.
"Tuan mengenalnya?" Tanya pria itu penasaran.
"Tidak. Dia hampir saja menjadi korban pemerkosaan."
Menghela nafas sejenak, laki-laki itu kembali menatap pria di sebelahnya.
"Siapa namanya?" Tanyanya.
"Grizelle Aurora Oliver. Dia dari Indonesia Tuan."
"Sudah ku duga. Dia pasti bukan orang Korea." Ucap laki-laki itu lesu.
"Apa ada informasi lain yang kau dapatkan?" Lanjutnya seraya berdiri. Otomatis pria itu pun ikut berdiri.
"Saya sudah menghubungi keluarganya untuk datang ke mari, jadi Tuan muda tak perlu menunggunya lebih lama lagi."
"Bagus, kerja bagus David." Ucapnya dengan bangga pada sang supir.
"Terimakasih Tuan."
"Sekarang kau pulanglah dan jangan ceritakan masalah ini pada kedua orang tua ku."
"Tapi, bagaimana~"
"Aku akan langsung pulang setelah urusanku selesai."
"Baiklah. Tuan hati-hati."
Tepat setelah kepergian kedua orang itu, orang tua Aurora beserta kedua sahabat mereka tiba di rumah sakit dan langsung menanyakan keberadaan Aurora pada petugas medis yang berjaga di sana.
"Grizelle Aurora Oliver를 대신하여 환자는 어느 방에 있습니까? (Pasien atas nama Grizelle Aurora Oliver, ada di ruangan mana?)" Tanya Airin tergesa.
"VVIP 진료실 번호 105 (kamar rawat VVIP no. 105)"
"감사합니다 (terimakasih)"
Bergegas menaiki lift, mereka menekan lantai 11 untuk menuju kamar rawat Aurora.
***
Hembusan nafas lega segera keduanya keluarkan saat melihat sang putri kesayangan terbaring di ranjang rumah sakit. Tak ada seorang pun di sana yang menemaninya. Lalu, Siapa yang membawa putri mereka ke rumah sakit dan apa yang terjadi sebenarnya?
"Kau tetaplah disini, aku akan menemui Dokter untuk menanyakan keadaan Aurora." Pamit Tn. Oliver sekaligus berpesan dan mengusap bahu pada sang istri yang sejak tadi duduk di dekat tempat tidur Aurora seraya menggenggam tangannya.
Tak menjawab apa-apa, Ny. Airin hanya mengangguk tanpa mau mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sang putri.
"Rin, Aurora pasti baik-baik aja kok, tenang ya." Ucap Ny. Agnes tak tega tapi berusaha untuk tetap menenangkan sang sahabat.
"Siapa yang udah nolongin dia?" Tanya Ny. Airin entah pada siapa.
"Aku juga gak tahu. Yang nelpon kita pihak rumah sakit." Jawab Tn. Alex karena dirinyalah orang yang di telfon oleh pihak rumah sakit.
Dia sendiri juga bingung kenapa dia yang dihubungi. Apa mungkin karena kepemilikan sebagian saham dari rumah sakit ini adalah miliknya? Atau mungkin, seseorang yang menyelematkan Aurora sengaja meninggalkan nomernya?
Tapi, jika itu benar, artinya seseorang yang menyelamatkan Aurora adalah orang yang mengenalnya.
"Kalau orang itu berani ninggalin Aurora gitu aja, artinya keadaan Aurora baik-baik aja." Ucap Ny. Agnes mengambil kesimpulan dan masih berusaha menenangkan.
"Semoga aja."
***
Dunianya runtuh seketika mendengar fakta yang di jelaskan oleh Dokter. Dirinya benar-benar merasa gagal menjadi seorang ayah untuk anak satu-satunya. Jika saja dia lebih mengawasi sang anak, semuanya pasti tak akan terjadi seburuk ini. Menyesal pun percuma. Tak bisa mengubah waktu dan keadaan yang terjadi.
Sebagai seorang ayah, Tn. Oliver berharap jika putrinya bisa kembali seperti Aurora yang biasanya. Ceria, penuh tawa juga bergaul dengan siapapun tanpa rasa trauma.