Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Hari itu, pertemuan ditutup dengan riuh tepuk tangan para peserta, semua pertanyaan terjawab dengan tuntas, para petinggi dan tamu VIP sudah berlalu, tinggal Alya bersama Timnya yang masih ada di ruangan, menyelesaikan keperluan administrasi para narasumber.
Alya sudah jauh lebih segar dari sebelumnya, Narasumber I di handle Mbak Pingkan, dan disinilan Alya, duduk menemani Narasumber II yang kini sedikit diam.
Alya juga tak berani bersuara, ia ikut terdiam melihat tangan yang dari tadi Alya kagumi membuka lembar demi lembar kemudian membubuhkan tanda tangan pria itu disana.
“Ada lagi, Mbak Alya?” yang ditanya gelagapan, apa Reyhan sempat melihat dirinya yang sedari tadi mengagumi tangan pria itu?
“Su-sudah pak” Reyhan kembali tersenyum.
“Ini mbak Alya, tolong sampaikan permohonan maaf saya kepada Pak Sastro atas keterlambatan saya hari ini” Alya mengangguk, Yang dimaksud Reyhan adalah Kepala Bidangnya.
“Baik Pak, kami juga mohon maaf jika ada kekurangan dalam hal jamuan, atau lainnya”
“Semuanya sudah sempurna kok” pujian itu membuat pipi Alya bersemu merah.
“Terimakasih Pak” jawab Alya sedikit membungkuk untuk memberi sedikit penghormatan bagi lawan bicaranya.
Reyhan kembali tertegun, dihadapannya, perempuan muda yang cekatan, ramah, dan santun. Kesan pertama yang ia dapatkan dari staf baru yang ada dihadapannya.
Alih-alih menjawab, Reyhan justru mengulurkan tangannya, membuat Alya sedikit kebingungan.
“Senang bertemu dengan anda Nona Alya” sedikit tahu maksudnya, Alya membalas jabat tangan itu.
“Saya juga merasa terhormat sekali bisa diberi tugas menghandle narasumber ahli seperti Anda, materinya sangat menginspirasi Pak” ucap Alya dengan bersungguh-sungguh.
Reyhan tersanjung dengan ucapan wanita muda dihadapannya.
Pertemuan itu berakhir begitu saja.
Kehidupan berlanjut, Alya makan siang bersama teman-teman satu seksinya, satu topik hangat yang jadi perbincangan kali ini, sikap Reyhan yang tak seperti biasanya.
“Kalau kata aku ya Al, Pak Reyhan ada feeling ini sama kamu” Komentar Mas Aldo setelah Mbak Pingkan menceritakan POV nya selama kegiatan berlangsung.
“Iya Al, kamu ini disorot mulu sama Pak Dosen, beberapa kali beliau kesini sebagai narasumber baru kali ini tatapannya kayak kekunci stang, ke kamu terus” tambah Mbak Indri yang kali ini juga memeriahkan pembicaraan siang ini.
“Tuh kaaaan, ini bocah denial mulu, andai saja kamu gak sibuk ngurusin SPJ terus dari tadi kamu pasti tahu kalau diliatin mulu sama Pak Dosen” Mbak Pingkan kembali berceloteh.
Alya masih sibuk mengunyah makanannya, tapi dalam diam dia sebenarnya juga merasa jika sedang diperhatikan, namun kalaupun benar iya, mau apa?
Pertanyaan itu yang membuatnya bodo amat dengan situasi tadi.
“Tapi gak heran sih, Alya memang punya daya tarik, jangankan Pak Dosen yang masih jomblo, aku yang sudah beristri saja suka ke goda sama pesonanya Alya” lagi, masih rekan-rekan satu seksinya yang asyik berkomentar.
Riuh, terdengar di meja itu semuanya melindungi Alya dari bapak-bapak paruh baya yang menggoda Alya barusan, Pak Ilham.
Alya hanya tertawa, dalam hatinya ia bersyukur, mendapat teman satu tim yang solid.
Dalam satu tim Alya ada lima orang, Mbak Pingkan, Mbak Indri, Pak Ilham, Mas Aldo dan Alya, satu-satunya pegawai termuda dan belum menikah, tak heran jika dirinya sering jadi bully-an, tapi timnya ini tergolong solid, susah satu susah semua, senang satu senang semua.
Dan itu terasa hangat, Alya sang anak pertama jadi merasakan punya figur kakak, pada para senionya di kantor.
Padahal baru enam bulan Alya bergabung di kantor ini, tapi mereka semua sudah sangat akrab seperti saudara.
Usai makan siang Alya kembali sibuk mengerjakan SPJ yang sudah melambai-lambai untuk dikerjakan.
Tangannya terus mengetik kata demi kata untuk menyusun SPJ, hingga hampir semua komponen rampung, kini ia beralih mengerjakan dokumentasi ia mengumpulkan foto kegiatan, ada satu foto yang membuatnya tiba-tiba stuck, kerjaan kakak-kakak seniornya, foto saat Alya berjabat tangan dengan Reyhan, foto yang diambil dari angle dan timing yang pas.
Alya memilih mengamati foto itu sejenak.
Reyhan, pria matang yang tampan, rasanya sedikit sangsi jika pria itu belum memiliki kekasih atau pasangan.
Senyumnya lebar, tulus, dengan lesung pipi yang muncul perlahan saat pria itu tersenyum.
Semua dalam diri pria ini begitu sempurna, lalu apa kata kakak-kakak ku tadi? Pria ini mengamatiku? Aku? Anak kemarin sore yang baru saja punya pekerjaan tetap dengan tanggungan hidup yang tidak sedikit, rasanya tak mungkin.
Tiba-tiba Alya tersentak saat alarm handphonenya berbunyi, alarm untuk pulang, perempuan itu menutup fotonya bersama Reyhan, gara-gara satu foto itu target harian Alya tidak terpenuhi, pekerjaan yang harusnya selesai hari ini harus kembali ia kerjakan besok hari.
Tapi tak apa, Alya sudah merasa bekerja keras hari ini, yang untungnya kegiatan itu berjalan lancar.
“Langsung pulang Al?” tanya Mbak Pingkan saat Alya mematikan PC-nya.
“Iya mbak, aku harus masak untuk makan malam” Pingkan hanya mengangguk, sejujurnya ia takjub, melihat perempuan muda yang sudah memiliki ujian sebesar itu, ujian yang mungkin jika terjadi padanya Pingkan akan segera menyerah, tapi Alya tidak.
Hal itu yang membuat ia dan teman-temannya sangat menyayangi Alya.
“Hati-hati di jalan, salam buat Mama dan Papa ya”
“Iya mbak, Alya duluan ya semuanya” pamit Alya yang dijawab anggukan.
Satu hal lagi yang Alya syukuri, di tempat kerja barunya ini, tidak toxic.
Alya bisa pulang teng-go tanpa harus menerima sindiran, semua sudah tahu kondisinya dan rata-rata mereka juga tidak memiliki mental menghakimi sesama, ada rasa toleransi, meski kadang bercandanya agak ekstrim.
Alya pulang mengendarai motornya, motor tua yang dibelikan ayahnya saat ia resmi diangkat sebagai PNS, jarak kantor dengan rumahnya juga cenderung dekat, rasanya semua terlihat mudah bagi Alya jika dilihat dari luar.
Butuh waktu 15 menit, kini Alya sudah berada di depan rumahnya, rasanya semua kemudahan tadi berubah sesaat setelah Alya masuk pintu putih yang terlihat sudah usang itu.
“Aku pulang Ma”
Disini titik perubahannya, semua kemudahan yang terllihat itu berubah jadi rasa sesak setiap kali Alya pulang, ia berjalan masuk, menghampiri Mamanya yang duduk di kursi dengan senyuman teduh itu dengan wajah pucat.
Alya bersimpuh, mencium tangan orang yang selama ini bersusah payah membesarkan ia dan adiknya, sekuat tenaga Alya menahan tangisnya, berusaha terlihat ceria.
“Bagaimana lancar kerjanya nak?” Alya mengangguk, Hastri ibunya mengusap kepala sang putri dengan sayang.
“Mandi gih, mumpung belum semakin dingin airnya”
“Aku mandi dulu ma” Hastri mengangguk, membiarkan putrinya bebersih.
Sesampainya di kamar, pintu tertutup. Dan semua kekuatan yang ia kumpulkan sejak pagi runtuh begitu saja, air mata itu jatuh, dari semua kemudahan dan keberhasilan yang ia dapat, ada kondisi Mamanya yang terlihat belum juga membaik.
TBC