Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.
Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.
Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.
Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.
Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.
Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???
Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???
Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batal Menikah
Malam itu Jenia baru saja pulang dari rumah sakit menjalankan kegiatannya sebagai Koas atau Co-Assistant.
Sebagai mahasiswi kedokteran tingkat akhir, hampir setiap hari gadis itu menghabiskan waktunya di berbagai bangsal rumah sakit untuk belajar langsung di bawah pengawasan dokter spesialis.
Tugasnya biasanya membantu dalam pemeriksaan pasien, diagnosis, serta penanganan awal.
Setiap saat gadis itu nyaris tidak punya waktu untuk sekedar mencari kesenangan lain.
Kalaupun ada, biasanya Jenia menggunakan waktunya untuk menhyelesaikan penelitian ilmiah dan Menyusun skripsi yang merupakan tugas akhir sebagai syarat kelulusan.
Jika sedang libur terkadang Nia mengambil pekerjaan sampingan, hitung-hitung untuk menambah penghasilan dan mengisi waktu luang sambil menyelesaikan tugas kuliahnya.
Tidak ada jalan-ialan ataupun bermain ke tempat yang menyenangkan seperti para gadis pada umumnya.
Lagipula dia juga tidak punya teman yang mau mengajaknya bersenang-senang.
Sepanjang hidupnya gadis itu hanya menggunakan waktunya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat dan realistis.
Sepanjang ia kuliah terkadang Nia bekeria sampingan sebagai pelayan café, atau bisa juga ia mengisi acara di sebuah pertunjukan di taman hiburan ketika hari libur.
Tidak ada kata gengsi atapun malu, semua ia lakukan dengan senang hati. Selagi bukan mencuri atau hasil dari menipu orang lain, maka menurutnya tidak jadi masalah.
Nia tidak pernah mengeluh, karena sejak kecil dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.
Meski terkadang dia iri melihat teman-teman sebayanya yang hidup berkelimpahan, baik itu secara materi, maupun dukungan dan kasih sayang dari orangtua.
Sedangkan dia segala sesuatunya haris diperjuangkan sendiri tidak ada siapapun yang bisa di andalkan kecuali dirinya sendiri.
Namun terlepas dari semua itu, Nia sangat bersyukur masih punya seorang bibi dan kekasihnya yang senantiasa setia kepadanya.
Setelah keluar dari rumah sakit, gadis itu nampak tersenyum saat melihat seseorang sedang menunggunya dari kejauhan.
“Alex…” Ucapnya nampak sambil melambaikan tangan.
Lelaki itupun bergegas menghampirinya sambil membawa kendaraan roda dua yang ia tumpangi.
"Ayo naik..." ajak lelaki itu nampak canggung.
Tanpa pikir panjang ataupun banyak tanya, gadis itupun segera naik dan memakai helm.
"Nia... maaf ya, kali ini aku terpaksa menjemputmu pakai motor, mobilku tiba-tiba mogok dan terpaksa harus dibawa ke bengkel..." ucap lelaki itu membuka pembicaraan.
"Tidak apa-apa Al, lagipula aku bisa pulang sendiri...." sahutnya karena merasa tidak enak selalu merepotkan sang kekasih.
Sepanjang jalan mereka sepasang kekasih itu hanya saling diam merasakan dinginnya angın malam yang berhembus masuk ke sela-sela pakaian yang tidak terlalu tebal.
Setelah sampai pun ternyata Alex masih saia diam meski Nia mengajaknya bicara.
Hal itu membuat Nia merasa heran, karena tidak biasanya kekasihnya bersikap seperti itu. Alex yang ia kenal biasnaya tidak pernah kehabisan topik obrolan meski setiap hari mereka bertemu.
"Al…!! Alex...!!"
"Ehhh iya ada apa Nia...??" sahutnya terperanjat.
"Ada apa sebenarnya..?? apa telah terjadi sesuatu...??" Tanya Nia nampak khawatir.
Mendengar pertanyaan itu Alex kembali terdiam. Ia nampak ingin bicara namun bingung harus memulai dari mana.
"Emm, Nia... bisakah kita tunda dulu pernikahannya..??"
Deg......
Tiba-tiba Alex mengatakan hal yang membuatnya terkejut, padahal sebelumnya lelaki itu sendiri yang sangat ingin menikah.
"Tapi kan minggu besok sudah acaranya Al...?? bagaimana kita membatalkannya sementara undangan sudah tersebar...?? Apa yang sebenarnya teriadi....??"
Kemudian dengan suara lirih lelaki itu menjelaskan bahwa sebenarnya ia sedang ada masalah.
Dana investor yang la kelola mengalami kerugian karena kelalaiannya sendiri, dan mereka menuntut Alex untuk memberikan kompensasi sekaligus ganti rugi secepatnya.
Jika tidak mau tidak mau kasus tersebut akan dibawa ke ranah hukum.
Lelaki itu juga mengatakan bahwa dia telah menggadaikan sertifikat rumah serta mobilnya untuk menutupi kerugian yang ia alami.
Namun tetap saja uang itu masih belum cukup. dia memerlukan sedikit dana lagi agar bisa segera melunasi semua utangnya.
Sementara sebagian uangnya sudah ia gunakan untuk persiapan acara pernikahan mereka. seperti sewa gedung, catering, gaun, dan mash bayak lagi.
Jika dibatalkan secara sepihak maka uang itu otomatis akan hangus. Namun iika dilanjutkan dia juga tidak punya uang sama sekali untuk membayarnya.
Mendengar penjelasan itu Jenia pun ikut frustasi, mereka terjebak dalam sebuah dilema yang sulit.
Kenapa setiap ingin melakukan sesuatu yang besar selalu ada saja masalahnya. Dan kali ini masalahnya benar-benar datang di waktu yang tidak tepat.
Dengan mata yang berkaca-kaca lelaki itu meminta maaf pada kekasilnya. Saat ini Alex sudah merasa buntu dan tidak punya jalan keluarnya.
Satu-satunya cara yang terbesit di benakaya hanyalah membatalkan pernikahan agar dia tidak terjerat hutang yang lebih banyak lagi.
Kemudian tahun depan ia berianji akan menikahi Jenia ketika semua uangnya sudah terkumpul kembali.
Karena malam semakin larut, akhirnya lelaki itu segera pamit untuk pulang.
Dengan langkah gontai, Alex membawa beban pikiran yang masih menggantung, dia bingung entah kemana lagi ia harus mencari solusinya.
Sementara Jenia terus kepikiran tentang masalah yang tengah menimpa kekasihnya.
Nia merasa kasihan melihat Alex yang harus berjuang sendirian dalam keterpurukan.
Sepanjang malam gadis itu duduk tersandar di samping tempat tidurnya. Lelahnya selama beraktifitas seharian pun hilang dan kini berubah menjadi rasa cemas.
Berulang kali ia membolak balik buku tabungan miliknya yang jumlahnya lumayan banyak.
Karena Nia sudah mengumpulkannya sejak masih sekolah menengah sampai sekarang dan belum pernah sekalipun ia sentuh.
Rencananya uang itu akan ia gunakan untuk biaya wisuda. Selain itu Jenia juga bercita-cita membuka kliniknya sendiri.
Sebentar lagi ia akan wisuda namun disisi lain gadis itu terus memikirkan masalah Alex.
Bagaimanapun lelaki itu adalah kekasihnya yang selama ini selalu memperlakukannya dengan baik. Alex juga selalu peduli dan membantunya dalam banyak hal.
Sehingga tidak etis rasanya jika Nia membiarkan kekasihnya menghadapi kesulitan itu sendirian. Apalagi keduanya akan segera menikah, Nia tidak ingin menunda acara yang sudah lama mereka rencanakan.
Namun jika ia menggunakan uang tabungannya, maka kemungkinan besa Nia tidak akan bisa membuka kliniknya sendiri suatu saat nanti. Bahkan bisa jadi wisudanya tahun ini akan terhambat oleh biaya.
Akhirnya setelah berpikir panjang dan membulatkan tekad, gadis itu memutuskan untuk menyerahkan seluruh uang tabungannya kepada Alex.
Lagi-lagi cinta dan rasa iba mengalahkan segalanya.
Keesokan harinya Nia menghubungi Alex dan mengajaknya bertemu untuk memberikan jalan keluarnya.
“Ada apa Nia....??? Tumben sekali pagi-pagi begini kau sudah meminta untuk bertemu..??”tanya Alex penasaran.
“Apa segini cukup....??” Ucap gadis itu to the point sambil menyodorkan buku tabungan miliknya.
"Apa ini Nia...?? Apa maksudmu dengan semua uang ini..??" ucap Alex yang nampak keheranan.
Seketika matanya membulat ketika melihat nominal yang tertera di buku tersebut.
Jumlahnya cukup fantastis untuk dimiliki seorang gadis seperti Jenia, tapi juga sangat masuk akal jika dia punya uang sebanyak itu. Karena gaya hidupnya yang sangat sederhana dan pekerja keras seperti Nia.
"Itu uang tabunganku, pakailah untuk melunasi utang-utangmu..." sahutnya tersenyum.
"Tapi Nia ini milikmu, dan aku tidak bisa menerimanya..." sahut Alex menolak dan menyerahkan kembali buku itu ke tangan kekasihnya.
Namun lagi-lagi Nia menolaknya, gadis itu tetap bersikeras memberikan tabungannya untuk Alex.
"Tidak apa-apa Al, untuk sementara gunakan saia dulu. Masalah uang bisa dicari, kau bisa mengembalikannya panti ketika semuanya sudah beres. Yang terpenting sekarang kau terbebas dari hutangmu..." ucapnya meyakinkan Alex.
Mendengar itu Alex pun terpaksa menerimanya, apalagi sekarang posisinya memang sangat memerlukan uang.
Namun lelaki itu berjanji akan segera mengembalikan uang milik Nia sebelum ia wisuda.
Dan dengan uang itu rencananya mereka akan tetap melangsungkan pernikahan yang tinggal beberapa hari lagi.
Hari itu Alex benar-benar lega karena ternyata Nia sudah berkenan membantunya.
Dia merasa sangat beruntung memiliki seorang kekasih sebaik Jenia. Dia sederhana, tulus dan sangat berbeda dari gadis-gadis diluar sana.
Setelah diskusi itu selesai, Nia pun bergegas pergi menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan ia merasa sangat lega karena bisa membantu kekasihnya, meskipun masih ada sedikit rasa sedih di hatinya mengingat uang itu adalah satu-satunya tabungan yang ia kumpulkan dengan susah payah.
Sementara di tempat lain Alex sedang tersenyum manis sambil mengipas-ngipas wajahnya menggunakan buku tabungan yang baru saja ia terima.
“Haha.. Nia.. Nia.. kau memang benar benar gadis yang sangat polos rupanya...” gumamnya tersenyum menyeringai.
Alex tidak menyangka caranya itu akan berhasil mengundang empati kekasihnya.
Nia benar-benar percaya kalau kekasihaya sedang dalam masalah.
Sejak awal dia tahu kalau Nia adalah tipe orang yang gampang sekali di bodohi.
Gadis itu sangat polos, baik hati, rajin menabung, hidup sederhana, dan pekeria keras. Ditambah lagi ia tidak pernah berkencan sebelumnya.
Gadis dengan ciri-ciri seperti itu sudah pasti gampang di manfaatkan, khususnya bagi seorang lelaki berwajah malaikat dan bermulut manis seperti Alex.
Selain pandai mendapatkan hati para wanita, dia juga sangat pandai dalam Dersandiwara.
Kini yang ada di pikirannya hanyalah berbagai macam cara menghamburkan semua uang tersebut untuk bersenang-senang.
…………………………………………………………………………………