Dawai Asmara, seorang fresh graduate sekaligus guru Bahasa Inggris baru di SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas yang terkenal elite.
Perawakan Dawai yang imut membuatnya menjadi target sasaran permainan dari Rendra, siswa kelas dua belas, ketua dari geng the Fantastic Four, geng yang terdiri dari siswa-siswa paling keren di sekolah, yang merupakan putra dari dewan komite sekolah.
Suatu ketika, Rendra mengatakan "I love you, Miss," pada Dawai. Dawai yang sering menjadi sasaran keanehan sikap Rendra, tak menghiraukan pernyataan cinta Rendra.
Apakah Rendra hanya becanda mengatakan itu? Atau serius? Temukan jawabannya hanya di I Love You, Miss!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Upacara Tahun Ajaran Baru
"Woy, Ren!" Rafa menepuk bahu Rendra yang terlihat melamun. Rendra terlihat sedikit terkejut.
"Lo ngliatin siapa sih?" tanya Rafa penasaran, sambil melihat ke arah pandangan Rendra.
Rafa menangkap sosok yang asing, yang tak dikenalnya, sedang sibuk ikut mempersiapkan upacara penyambutan siswa baru di lapangan.
"Jangan-jangan..." kalimat Rafa terputus, melihat Rendra kini mantap berjalan menuju lapangan.
"Wah! Gila ni anak! Guru juga mau diembat," gumam Rafa lalu berjalan mengikuti Rendra.
"Ren, Ren. Tunggu!" kata Rafa, mencoba mencegah Rendra. Rendra terlihat acuh dan terus berjalan menuju sosok yang menyita seluruh perhatiannya sedari tadi.
"Makasih ya, Miss Dawai," ucap Pak Deo, guru olahraga, yang perawakannya tinggi besar, membuat Dawai terlihat begitu kecil berdiri di sampingnya.
"Sama-sama, Pak. Senang bisa membantu," ucap Dawai sambil tersenyum simpul.
Rendra berhenti, mengamati wanita yang sempat dikiranya siswa. Tubuhnya begitu mungil, riasan di wajahnya juga sangat simpel, tak terlihat seperti guru.
"Keknya kita perlu ke kelas dulu deh, naruh tas trus..." kalimat Rafa lagi-lagi terputus, tak dihiraukan Rendra. Rendra seperti tersihir oleh Dawai.
Rafa mendengus, merasa lelah dan sedikit cemas dengan sikap sahabatnya itu. Rafa masih tak tahu apa yang sedang dipikirkan Rendra. Dengan cemas, Rafa hanya menyaksikan apa yang akan dilakukan Rendra di tengah lapangan yang sedang sibuk.
Tentu saja kehadiran Rendra menjadi fokus bagi para siswa cewek yang ada di sekitar lapangan. Kasak-kusuk dan senyum yang tertebar oleh para cewek di sana seakan hanya menjadi angin lalu bagi Rendra.
"Miss Dawai," terdengar Bu Ina, guru matematika yang terkenal killer, memanggil Dawai. Rendra berhenti.
"Ya, Bu," Dawai terlihat berjalan ke arah Bu Ina, tak sadar bahwa ada sepasang mata yang tengah melihat gerak-geriknya sedari tadi.
'Miss Dawai? Guru Bahasa Inggris?' pikir Rendra masih sambil menatap Dawai.
"Ren..."
"Set the target, Raf," bisik Rendra sambil menyeringai licik.
"What?! Dia?" tanya Rafa memastikan. Rendra hanya tersenyum licik lalu berlalu meninggalkan lapangan menuju ruang kelasnya.
"Hey, Ren, yang bener aja lo? Kita udah kelas dua belas. Lo mau cari gara-gara?" kata Rafa sambil terengah mengejar Rendra.
"Justru karena kita udah kelas dua belas, kita harus bikin hari-hari terakhir kita di sekolah ini berkesan dan tak terlupakan," jawab Rendra. Senyum licik masih setia bertengger di wajah super gantengnya.
"Tapi, dia guru, Ren," kata Rafa mengingatkan. Kini keduanya sudah memasuki ruang kelas yang sudah riuh.
"Guru baru. Apa sih yang lo takutin?" kata Rendra sambil meletakkan tasnya di atas meja dengan kasar.
"Itu..."
"Kalian baru dateng udah ngeributin apa sih?" tanya Reno penasaran dengan topik yang sedang dibahas kedua sahabatnya. Ryan terlihat diam menyimak.
"Rendra punya target baru," kata Rafa singkat.
"Hah? Udah ada aja. Siapa?" tanya Reno bersemangat.
"Guru baru," jawab Rendra singkat sambil tersenyum licik.
"HAH?!" Reno terkejut
"Ibu-ibu juga mau lo incar, Ren?" tanya Ryan kalem.
"Bukan ibu-ibu, gaes," kata Rafa.
"Masih muda?" tanya Reno dengan nada berbisik. Rafa mengangguk.
"Nggak keliatan kek guru," Rafa menambahkan.
"Jadi penasaran," kata Reno tak sabar.
"Heh. Itu target gue," kata Rendra mengingatkan.
"Weiiisss... Santai, bro. Belum apa-apa udah emosi aja," kata Reno menenangkan Rendra.
"Bagi para siswa dimohon untuk segera berkumpul di lapangan. Upacara penyambutan siswa baru akan segera dimulai," siaran pengumuman membubarkan pembahasan the Fantastic Four tentang target ketua mereka.
Semua siswa tanpa terkecuali berjalan menuju lapangan. Banyak siswa yang mengenakan pakaian putih hitam memenuhi lapangan. Dipastikan mereka adalah siswa baru yang berhasil masuk ke SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas paling elite dan favorit di kota.
Rendra and the gank berbaris di tempat yang sudah disediakan untuk kelas mereka. Reno terlihat celingak-celinguk seperti mencari seseorang. Rafa juga terlihat sedang mencari guru baru incaran Rendra. Ryan berdiri tenang dan dingin seperti biasa, tak begitu peduli dengan sikap kedua sahabatnya.
"Mana, Raf?" tanya Reno pada Rafa akhirnya.
"Mana ya? Nggak keliatan," jawab Rafa sambil celingak-celinguk, melihat di barisan guru.
Pembawa acara upacara mulai membuka acara. Para siswa terlihat hikmat mengikuti upacara. Satu per satu acara upacara dilalui hingga tiba saatnya sambutan kepala sekolah.
Setelah memberi ucapan selamat datang kepada para siswa baru, kepala sekolah memberikan semangat pada semua siswa untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
"Selain menyambut siswa baru, tahun ajaran baru kali ini, kita juga menyambut para guru baru yang tentunya akan ikut berkontribusi dalam membentuk karakter generasi SMA Bina Bangsa. Ada Bapak Adit, sebagai guru matematika kelas sepuluh dan sebelas, dan juga Miss Dawai, sebagai guru bahasa Inggris kelas sepuluh dan sebelas," kata kepala sekolah memperkenalkan guru baru yang akan mulai aktif mengajar di SMA Bina Bangsa.
Dawai dan Adit maju satu langkah dari barisan para guru, lalu membungkukkan sedikit badan kepada para siswa yang berbaris rapih di lapangan. Rendra and the gank otomatis melihat ke arah guru imut yang sedang membungkukkan badan di depan.
"Pantesan Rendra langsung set the target. Seimut itu," komentar Reno. Ryan mengamati Dawai dari ujung kaki sampai ujung kepala.
'Rendra bener-bener punya selera yang nggak main-main,' batin Ryan.
"Tapi, dia tetep aja guru, No," kata Rafa mengingatkan.
"Bagus dong! Tahun terakhir kita disini bakalan seru," kata Reno bersemangat. Rafa melihat Rendra menyeringai puas mendengar kata-kata Reno.
"Lo sama Rendra emang sejenis," komentar Rafa. Reno nyengir, terlihat bangga mendengar perkataan Rafa.
"Lagian nggak sampe setahun kita disini," kata Ryan, membuat mata Rafa terbelalak.
"Lo juga ikutan, Yan? Wah bener-bener, kiamat udah deket," kata Rafa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Pasalnya menurut Rafa, dari mereka berempat Ryan yang paling cuek tentang keusilan Rendra dengan para cewek incarannya selama ini.
"Lo kek nggak biasa aja, Raf?" tanya Ryan dengan nada dingin.
Rafa memang yang paling antisipasi kalau Rendra mulai menentukan target. Seperti tahun lalu ketika Rendra menargetkan kakak kelas mereka, Riana, Rafa tak henti-hentinya mengingatkan Rendra bahwa Riana adalah puteri ketua dewan komite sekolah saat itu. Meski begitu, Rendra tetap pada target yang telah ditetapkannya.
Dan dalam sekejap mata, Rendra berhasil menaklukkan targetnya. Saat upacara kelulusan, Rendra memutuskan hubungannya dengan Riana di hadapan yang hadir disana. Namun, Riana tak begitu terkejut dengan hal itu. Mungkin karena hubungan mereka tidak pernah serius dari awal.
"Tentu aja nggak biasa. Target Rendra kali ini guru," kata Rafa mengingatkan.
"Itu artinya level Rendra udah naik," kata Ryan dengan nada dingin ciri khasnya.
Rafa menghela nafas panjang. Rendra terlihat menatap tajam ke arah Dawai yang tersenyum manis di barisan para guru. Ryan melihat Rendra, lalu melihat ke arah Dawai.
'Well, this year will be so much fun,'
***
semngaatt ya thorrr