Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.
Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 (Part 1) Tawaran di Lorong Gelap
"Ikut gue plis, " Dalend mengulang, suaranya terdengar memelas, namun ada nada mendesak yang aneh.
Marisa merasa akan ada kesialan lagi hari ini. Semua yang terjadi dalam 24 jam terakhir sudah cukup untuk memnerinya trauma seumur hidup. Ia tidak butuh urusan baru dengan orang asing yang tidur di lorong.
"Ikut kemana? Gue mau ke kampung jenguk ibu." Marisa menatap Dalend tajam, memancarkan aura
' jangan-macam-macam-sama-gue,' fikirannya masih melayang pada macam-macam hal. Ia juga sedang nipis uang.
"Kenapa ibu lo?" Tanya Dalend, nadanya melunak. Ia menepuk ruang di sampingnya yang masih berdebu, meminta Marisa duduk. "Duduk sini dulu." Ia tersenyum, senyum yang terlihat sayu dan lelah, bukan senyum ceria anak muda biasa.
Marisa tetap kekeuh di posisinya, malah sedikit menjauh. "Lo tinggal ngomong, gue disini aja." Ia sudah cukup akrab dengan penderitaan, dan duduk disamping orang asing dilorong tidak ada dalam daftar rencananya untuk move on.
Dalend menghela nafas, gestur tubuhnya menunjukkan kekalahan. Ia menarik tangannya yang tafi mencekal Marisa, lalu menyandarkan kepalanya ke dinding gedung yang dingin.
"Gue butuh bantuan Lo, dan kalau lo mau deal Lo bisa minta bantuan ke gue juga yang setara. Atau gue bayar Lo," ucapnya dengan penuh kelesuan.
Marisa menyipitkan mata di balik kacamata hitamnya. "Bantuan apa? Gue ini lagi sial banget, Lo nggak lihat? Gaun pengantin gue aja baru kemarin malam jadi lap jalanan. Gue nggak punya energi buat bantuin siapa-siapa. "
"Justru itu." Dalend mengangkat kepalanya cepat, kedua mata sipitnya memancarkan kejutan. "Lo lagi sial, gue juga lagi sial. Dua orang yang sama-sama hancur ketemu. Bukankqh itu takdir?"
Marisa mendengus tak percaya. "Takdir kepalamu. Itu namanya kemalangan ganda."
"Dengar dulu, Marisa." Dalend memanggil namanya, membuat Marisa sedikit tersentak. " Gue nggak akan minta Lo ngangkat galon atau ngerjain tugas kuliah. Gue butuh bantuan untuk pura-pura."
"Pura-pura apa?"
"Pura-pura jadi tunangan gue," bisik Dalend, suaranya pelan dan serius, sangat berbeda dari nada curhatnya semalam.
Marisa terdiam Otaknya berputar, memproses kalimat yang baru ia dengar. "Apa? Lo pasti sakit, ya? Gue baru aja batal nikah, Lo malah minta gue pura-pura jadi tunangan orang asing? Lo ini mau ngerjain gue?!"
Dalend segera mengangkat kedua tangan, gestur menyerah. "Bukan! Bukan ngerjain! Ini demi gue, dan gue janji ini juga bisa jadi solhsi buat masalah Lo, setidaknya sementar."
"Solusi apa?"
"Gue bilang, kan, semalam. Nyokap bokap gue maksa gue kuliah di London. Gue nggak mau. Mereka ngancam potong semua akses finansial gue, termaksuk kartu yang gue pakai buat tinggal dan makan." Dalend menunjuk lorong tempat ia tidur. "Gue terdampar disini karena semalam udah telat. Gue nggak punya uang tunai, dan ATM gue udab diblokir pagi ini."
Marisa menatap lorong itu, lalu menatap sweater biru Dalend yang tampak mahal tapi sekarang lusuh. Ia mulai merasa iba, sekaligus bingung.
"Terus, hubungannya sama pura-pura tunangan apa?"
"Mereka mau gue ke London karena mereka sudah menjodohkan gue sama anak rekan bisnis mereka di sana. Cewek dari keluarga super kaku, gue nggak tahan. Satu-satunya cara biar mereka nggak maksa adalah kalau gue sudah punya ikatan serius disini. Ikatan yang mereka nggak bisa ganggu gugat. Tunangan."
"Tapi kenapa gue?" Marisa mengerutkan kening.
"Karena Lo lagi butuh uang buat ibu Lo di kampung, kan? Lo bilang mau pulang, tapi Lo belum makan. Gue yakin tiket dan biaya rumah sakit Ibu Lo pasti nggak sedikit."
Dalend berkata, matanya yang sipit menatap Marisa lekat-lekat. " Gue tahu Lo butuh escape dari kota ini, sekaligus uang yang Lo butuhkan."
"Lo pikir gue cewe apaan?" Marisa tersinggung, namun perutnya yang keroncongan tiba-tiba berbunyi keras, membuyarkan argumennya. Wajahnga langsung memerah karena malu.
Dalend tersenyum simpul, tidak mengejek. "Lo cewek yang kuat, Marisa. Dan Lo cewek yang butuh pertolongan. Gue nggak minta Lo jual diri Gue cuma minta Lo main peran selama dua minggu, maksimal sebulan. Sampai keluarga gue yakin. Gue akan bayar Lo lima puluh juta tunai di akhir kontrak."
Angka 'lima puluh juta' seakan menghantam gendang telinga Marisa. Jumlah itu lebih dari cukup untuk menutupi biaya rumah sakit ibunya, biaya hidup di kampung selama beberapa bulan, dan membeli tiket pulang yang paling nyaman.
"Gue nggak percaya," Marisa bergumam. "Bagaimana gue bisa percaya orang asing yang tidur di lorong dan menawarkan lima puluh juta? Lo pasti penipu."
"Gue penipu yang tidur di lorong?" Dalend terkekeh, meski terlihat getir. Ia nerogoh saku celananya yang juga branded, lalu mengeluarkan dompet kulit mahal yang sudah lecek. Ia mengeluarkan sebuah kartu pelajar dari sana dan menyerahkannya.
"Nih. Dalend Angkasarapu. Mahasiswa semester 4 Fakultas Bisnis Internasional di Universitas Nusa Bakti. Anak tunggal dari owner Grup Angkasa Raya, salah satu pengembang properti terbesar di negara ini Cek aja. Cuma, sekarang kartunya udah nggak berguna karena ATM gue diblokir."
Marisa menerima kartu itu dengan tangan gemetar. Nama dan foto di kartu itu memang Dalend. Almamaternya adalah kampus elit. Grup Angkasa Raya? Siapa yang tidak tahu. Dalend adalah anak orang kaya raja yang sedang memberontak.
"Kenapa Lo nggak minta bantuan teman Lo? Atau pacar-pacar Lo yang kemarin curhat Lo bilang mereka selingkuh?" Marisa mengembalikan kartu itu.
"Teman-teman gue inner circle keluarga. Mereka akan langsung melapor ke nyokap gue. Dan pacar? Mereka hanya tertarik sama uang gue, bukan menyelamatkan gue dari perjodohan. Lagipula dia sudah sibuk sama lima cowok lain," Dalend mendengus. "Lo, Marisa. Lo adalah orang asing yang hancur karena cinta yang sama-sama ingin melarikan diri dari kota ini. Lo sempurna. "
Marisa terdiam Kata-kata Dalend menusuk, namun juga logis. Mereka berdua adalah pecundang di mata kota ini, dan mereka saling membutuhkan.
"Syaratnya apa?" Marisa nertanya, nadanya sudah lebih serius. Lapar diperutnya seakan mengalahkan logika waras.
"Sederhana." Dalend bergerak maju, kini duduk bersila dan menatap Marisa lurus. "Dua minggu. Pura-puta jadi tunangan gue. Tinggal di apartemen gue yang baru (sebelum di blokir), temui orang tua gue sekali, dan tampil disalah satu acara formal. Selama itu, Lo aman, semua kebutuhan ditanggung, dan Lo dapat lima puluh juta buat ibu Lo. Sebut aja ini kontrak bisnis ganti rugi cinta."
"Dan apa yang harus gue lakukan sekarang?"
"Gue laper. Lo juga laper. Kartu gue diblokir. Lo cuma punya uang sisa buat tiket pulang kan? Deal pertama kita: Lo tolong gue beli makanan di market, pakai uang Lo dulu. Nanti malam, begitu kita berhasil masuk apartemen gue, gue ganti tiga kali lipat. Setelah itu, kita susun rencana perkenalan dengan orang tua gue. "
...