Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 2.
Viera belajar satu hal dalam lima tahun pernikahan, tidak semua luka datang dengan suara. Sebagian hadir diam-diam, menyelinap di sela rutinitas lalu menetap tanpa izin.
Pagi itu ia berdiri di depan cermin kamar mandi, memperhatikan wajahnya sendiri. Kulitnya masih terawat, rambutnya masih indah. Dan senyuman yang ia tampilkan begitu meyakinkan, bahkan bagi dirinya sendiri. Dari luar, ia terlihat seperti perempuan yang hidupnya baik-baik saja.
Ia mengoleskan pelembap wajah dengan gerakan pelan, tangannya berhenti sejenak di perut bagian bawah. Belum ada apa-apa di sana, masih kosong. Masih sama seperti bertahun-tahun lalu.
“Tidak apa-apa,” bisiknya pada pantulan dirinya. “Belum sekarang.”
Di ruang makan, Damian sudah duduk dengan setelan kerja gelap. Tablet di tangannya menampilkan grafik dan angka-angka yang tak pernah benar-benar dipahami Viera. Ia hanya tahu, dunia Damian selalu penuh target dan tenggat waktu.
“Kau tidak sarapan?” tanya Viera.
Damian menyesap kopi. “Nanti saja, aku harus berangkat.”
Viera menarik kursi dan duduk berhadapan dengannya, ia menunggu. Entah apa yang ia tunggu, ia sendiri tak tahu. Mungkin percakapan, mungkin perhatian kecil dari Damian. Mungkin sekadar tatapan dari suaminya yang mengatakan... aku masih di sini.
Namun Damian sudah berdiri, meraih jasnya.
“Aku mungkin tidak bisa ikut ke klinik besok,” katanya tiba-tiba.
Viera mendongak. “Kenapa?”
“Ada perjalanan bisnis, ini sangat mendadak.”
Tentu saja mendadak.
“Oh,” gumam Viera. “Tidak apa-apa, aku bisa sendiri.”
Damian berhenti sejenak, menatap mata Viera. “Kau yakin?”
Viera mengangguk cepat. “Aku sudah sering ke sana sendirian.”
Itu benar. Namun ia berharap, kali ini berbeda.
Damian mencium kening Viera sekilas, lalu pergi. Pintu tertutup dengan bunyi pelan, namun meninggalkan gema panjang di dada Viera.
Ia duduk diam beberapa menit setelah itu, Apartemen terasa terlalu besar untuk satu orang.
Siang harinya, Viera menghadiri makan siang keluarga. Ibunya, seperti biasa tersenyum hangat namun matanya menyimpan pertanyaan yang sama sejak tahun pertama pernikahan.
“Damian tidak ikut?” tanya sang ibu sambil menuangkan sup ke mangkuk.
“Dia ada urusan kerja,” jawab Viera ringan.
“Kau selalu memakluminya,” sahut sang Tante sambil tersenyum tipis. “Karier memang penting, tapi keluarga juga.”
Viera tersenyum, meski dadanya terasa mengencang. Ia tahu maksud kalimat itu, semua orang tahu.
“Kami sedang berusaha,” ucapnya akhirnya. “Dengan cara kami.”
Ibunya menepuk tangan Viera. “Ibu hanya ingin kau bahagia.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Viera, itu terasa seperti doa dan peringatan sekaligus.
Malamnya, Viera kembali sendirian. Ia menyalakan lampu ruang tengah, duduk di sofa lalu membuka album foto lama di ponselnya. Foto pernikahan mereka muncul di layar, Damian tersenyum lebar. Pria itu menggenggam tangannya seolah tak ingin melepaskannya.
Ia mengingat hari itu dengan jelas, janji-janji. Tawa dan harapan.
“Ke mana semua itu pergi?” gumamnya lirih.
Ponselnya bergetar, pesan dari Damian.
[Pulang agak malam, jangan tunggu aku.]
Viera menatap layar lama. Jarinya sempat mengetik balasan, lalu menghapusnya. Ia hanya menjawab singkat.
[Hati-hati.]
Ia mematikan ponsel, memeluk lututnya, dan membiarkan keheningan menemani.
Malam itu, ia bertanya pada dirinya sendiri tanpa berani mencari jawaban.
Apakah ia masih dicintai, atau hanya dipertahankan?
Hari itu, Viera duduk di ruang konsultasi sendirian, mengenakan gaun sederhana berwarna krem. Tangannya dingin meski ruangan cukup hangat. Dokter tersenyum profesional, membahas prosedur, jadwal, dan kemungkinan.
“Pastikan suami Anda bisa hadir untuk tahap selanjutnya.”
Viera mengangguk. “Tentu.”
Di luar rumah sakit, ia berdiri sebentar sebelum masuk ke mobil. Kota terasa sibuk, orang-orang berlalu-lalang dengan tujuan masing-masing. Semua tampak bergerak maju, hanya dirinya yang merasa tertinggal.
Malam itu, Damian pulang lebih awal dari biasanya. Hampir pukul delapan.
“Kau sudah makan?” tanya Damian sambil melepas jas.
“Sudah,” jawab Viera. “Aku ke rumah sakit hari ini.”
“Aku tahu.” Nada itu lagi, datar.
“Dokter bilang tahap selanjutnya penting,” lanjut Viera. “Kau perlu hadir.”
Damian menoleh, menatapnya beberapa detik. “Aku akan mengusahakannya.”
Mengusahakan, bukan memastikan.
Mereka makan malam dalam keheningan yang canggung, suara sendok dan piring terdengar terlalu keras.
“Kau baik-baik saja?” tanya Damian akhirnya.
Pertanyaan itu terlambat, tapi tetap membuat dada Viera bergetar. “Aku baik, hanya lelah.”
Damian mengangguk, seolah jawaban itu cukup.
Malam itu, mereka tidur bersebelahan tanpa saling menyentuh. Viera menatap punggung Damian yang membelakanginya. Ia ingin berkata banyak hal, tentang rasa sepi, tentang ketakutannya kehilangan, tentang harapan kecil yang mulai rapuh.
Namun tidak satu pun keluar.
Karena ia takut, jika ia bicara maka semuanya akan runtuh. Dan Viera belum siap, melihat rumah yang ia banggakan itu benar-benar hancur. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata jatuh diam-diam ke bantal.
Di sisi lain ranjang, Damian terjaga lebih lama dari yang Viera kira. Matanya terbuka menatap di kegelapan, ponselnya bergetar pelan di genggaman.
Keheningan di antara mereka bukan lagi kosong... itu sudah dipenuhi rahasia.
*
*
*
Bersambung.