NovelToon NovelToon
TETANGGA GARIS KERAS

TETANGGA GARIS KERAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlengkapan Hobi

Di dalam rumahnya yang gelap, Gavin berdiri di balik pintu, menyandarkan tangga lipatnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun tinggal di perumahan itu, sudut bibirnya terangkat sedikit. Sangat tipis.

"Wortel," gumamnya pelan. "Menarik"

Pagi itu, Aruna bangun dengan misi baru. Harga dirinya sebagai pemilik piyama wortel telah diinjak-injak. Ia tahu, Gavin adalah pria yang sangat memuja "Higienitas" dan "Aroma yang terkontrol". Maka Aruna memutuskan untuk memasak senjata pemusnah massal paling efektif dalam kuliner Indonesia: Sambel terasi ekstra garis keras.

Pukul 7.30 pagi, tepat saat Gavin biasanya membuka jendela ruang kerja untuk sirkulasi udara segar, Aruna menyalakan kompor. Dia meletakkan dua blok terasi udang paling menyengat langsung di atas api.

Asap mulai mengepul. Aroma tajam yang khas, gurih, sekaligus menusuk hidung itu mulai menari-nari keluar dari ventilasi dapur Aruna, menyeberang pagar, dan tanpa ampun menyerbu masuk ke rumah Gavin yang serba putih.

Dari balik jendela, Aruna mengintip. Benar saja, hanya dalam hitungan menit, jendela ruang kerja Gavin tertutup dengan bantingan keras. BRAK!

Aruna tertawa jahat. "Satu sama, Mas Auditor."

Namun, kemenangan Aruna hanya bertahan sampai siang hari. Sorenya sebuah mobil kurir berhenti di depan rumah mereka. Bukan mengantar paket untuk Aruna, melainkan untuk Gavin. Aruna yang sedang menyapu teras (terpaksa karena nggak mau disindir lagi) melihat Gavin menerima sebuah kotak besar bermerk perusahaan pembersih profesional.

Sepuluh menit kemudian, Gavin keluar rumah membawa sebuah mesin aneh yang terlihat seperti fogging nyamuk, tapi lebih futuristik.

"Mas Gavin, mau fogging? Nggak ada demam berdarah di sini," teriak Aruna dari balik pagar.

Gavin memakai master medis dengan sangat rapi, ia menatap Aruna datar. "Ini adalah Industrial Grade Air Neutralizer dengan filtrasi HEPA 13 dan penghilang bau organik aktif, Mbak Aruna. Saya harus menetralkan residu partikel bau 'eksotis' yang mencemari gorden saya pagi tadi."

Gavin mulai menyalakan mesinnya. Suaranya halus, tapi uap dingin yang keluar darinya menyebarkan aroma Eucaliptus dan Lavender yang sangat kuat. Begitu kuat hingga menyapu habis bau masakan Aruna, bahkan membuat hidung Aruna gatal.

"Hatchi! Hatchi!" Aruna bersin berkali-kali. "Mas, itu ucapnya ke sini semua!"

"Oh, maaf," Gavin berkata tanpa nada penyesalan sedikit pun. "Uap ini mengikuti arah angin, Mbak. Dan menurut prakiraan cuaca, angin sedang berhembus ke arah rumah Anda. Hukum alam, Bukan?"

Aruna merasa sangat kesal dengan perbuatan Gavin. Dia masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rapat-rapat.

Malam harinya, "Perang" ini berpindah ke balai warga. Agenda rapat sebenarnya adalah membahas iuran keamanan, tapi bag Gavin dan Aruna, ini adalah panggung debat.

"Saya ingin menyampaikan keluhan," Gavin berdiri, mengeluarkan tabletnya dsn menampilkan grafik tingkat kebisingan dan polusi bau di blok B. "Ada anomali frekuensi di sekitar rumah saya yang disebabkan oleh benda-benda logam tergantung dsn aktifitas pembakaran zat organik berbau tajam di jam-jam produktif.

Warga lain hanya melongo melihat grafik yang terlalu profesional itu.

Aruna tidak mau kalah. Ia berdiri sambil membawa kantong plastik berisi dahan mangga yang sudah kering. "Dan saya mau mengadu, kalau ada tetangga yang hobi masuk ke pekarangan orang malam-malam buat menyabotase dekorasi rumah! Itu namanya pelanggaran privasi!"

Pak RT memijat pelipisnya. "Mas Gavin, Mbak Aruna,.... kalian ini kalo berantem terus lama-lama saya jodohkan saja ya?"

"NGGAK SUDI!" teriak keduanya kompak.

Namun, di tengah teriakan itu, lampu balai warga tiba-tiba mati total. Gelap gulita. Suasana riuh kembali berubah menjadi panik kecil. Aruna yang memang sedikit takut gelap refleks meraih tangan orang terdekatnya.

"Aduh, siapa nih? pegangan dong!" bisik Arun ketakutan.

"Ini Saya," suara bariton Gavin terdengar tepat di samping telinganya. "Dan tolong, Mbak Aruna jangan meremas lengan kemeja saya. Ini baru selesai di laundry."

Meskipun bicaranya dingin, Gavin tidak melepaskan tangan Aruna. Ia justru menyalakan fitur senter di HP-nya dan mengarahkannya ke lantai agar Aruna tidak tersandung. Di bawah cahaya remang itu, Aruna bisa melihat profil samping wajah Gavin yang tegas. Untuk sesaat, suasana perang terasa mencair, digantikan oleh debar aneh yang lebih mengganggu daripada suara lonceng angin.

Jangan gemetaran, " gumam Gavin pelan, hampir tak terdengar oleh warga lain. "Saya disini."

Keheningan di balai warga itu berlangsung selama beberapa menit. Tangan Aruna masih mencengkeram lengan kemeja Gavin, dan anehnya Gavin tidak menarik diri. Ia justru berdiri kokoh menjadi satu-satunya titik tumpu Aruna di tengah kegelapan yang mencekam.

"Mas Gavin, kok tangannya nggak dingin?" celetuk Aruna spontan, mencoba memecah kecanggungan saat menyadari telapak tangan Gavin yang besar terasa hangat.

"Termoregulasi tubuh saya berfungsi normal, Mbak. Tidak seperti spekulasi Anda yang menganggap saya robot," jawab Gavin datar, meski ia sedikit menggeser posisinya agar Aruna bisa berdiri lebih nyaman.

Begitu lampu menyala kembali -PET!- Aruna langsung melepaskan cengkeramannya seolah baru saja menyentuh kabel listrik tegangan tinggi. Warga lain mulai berbisik-bisik sambil senyum simpul, termasuk bu Tejo yang sedari tadi memperhatikan dari pojok ruangan.

"Cie, yang tadi pegangan, erat banget kayak perangko," goda bu Tejo.

Wajah Aruna memanas. Ia segera kembali ke tempat duduknya, pura-pura sibuk memeriksa tali sendalnya yang sama sekali tidak terlepas. Sementara Gavin kembali ke mode "Auditor Garis Keras", merapikan lipatan kemejanya yang sedikit kusut akibat remasan Aruna dengan wajah tanpa ekspresi.

Sepulang dari rapat RT, suasana komplek terasa sunyi. Aruna berjalan kaki beberapa langkah di depan Gavin. Sesampainya di depan pagar rumah mereka yang berdampingan, Gavin memanggilnya.

"Mbak Aruna."

Aruna menoleh, masih dengan sisa-sisa gengsi. "Apa lagi? Mau komplain soal sendal jepit saya yang bunyinya terlalu nyaring?"

Gavin terdiam sejenak. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah botol kecil semprotan antiseptik. "Lengan saya tadi Anda pegang. Secara teori, ada transfer bakteri. Tapi...." ia menggantung kalimatnya, lalu menyodorkan botol itu. "Lain kali, kalo takut gelap, pakai ini dulu. Supaya Anda merasa lebih 'steril' saat butuh perlindungan."

Aruna menerima botol itu dengan dahi berkerut. "Ini cara kamu berterima kasih sudah pegangan, atau cara halus bilang aku kotor?"

"Anggap saja itu protokol keselamatan," jawab Gavin sebelum berbalik masuk ke rumahnya.

Aruna menatap botol di tangannya. Wanginya bukan alkohol menyengat, melainkan aroma citrus yang segar. Ia tersenyum tipis, tapi senyum itu hilang saat ia melihat ke arah teras rumahnya sendiri.

Di sana sebuah paket kardus besar duduk manis. Masalahnya itu bukan paket miliknya. Alamatnya benar: Blok B nomor 12, tapi nama penerimanya adalah Gavin Adnan.

"Mas Gavin, paket kamu nyasar ke rumahku!" teriak Aruna.

Gavin yang baru saja akan menutup pintu rumahnya mematung. Wajahnya yang biasanya pucat mendadak berubah sedikit pias. Ia hampir berlari menuruni tangga terasnya menuju pagar.

"Jangan dibuka!" seru Gavin dengan nada yang sedikit panik - nada yang belum pernah Aruna dengar sebelumnya.

Namun, Aruna yang pada dasarnya punya rasa penasaran setingkat agen intelijen, sudah terlanjur merobek sedikit isolasi paket yang terbuka karena jatuh saat diletakkan kurir. Matanya membulat saat melihat isi di balik kardus yang robek itu.

"Ini... ini kan...."

Gavin sudah berada di depan pagar, napasnya sedikit memburu. Ia merampas paket itu dari tangan Aruna dengan gerakan cepat.

"Ini bukan apa-apa. Hanya... perlengkapan hobi," kata Gavin cepat, berusaha menutupi robek kardus itu dengan tangannya.

Aruna menyeringai lebar. "Mas Gavin si Auditor Garis keras yang benci ketidakteraturan, ternyata koleksi artinya figure kucing pakai kostum balerina?"

Gavin membeku. Reputasi "Kaku" yang ia bangun selama bertahun-tahun seolah runtuh dalam satu detik di hadapan tetangga yang paling ia hindari.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!