Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia
"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: RUMAH YANG TERASA ASING
Rumah megah keluarga Anantara itu selalu terlihat hangat dari luar, tapi buat Alsya, masuk ke dalamnya sama saja seperti masuk ke dalam kotak es. Dingin dan bikin sesak. Begitu menginjakkan kaki di ruang tengah, pemandangan yang sudah bisa ditebak langsung menyapa matanya.
Papa Saga Anantara dan Mama Luna Ayunda lagi duduk santai di sofa, tertawa bangga sambil melihat medali emas yang baru saja diletakkan Eliza di atas meja.
"Papa bangga banget sama kamu, El. Kamu memang nggak pernah mengecewakan nama besar Anantara," ujar Saga sambil mengusap kepala Eliza penuh kasih sayang.
Luna juga nggak mau kalah, dia memeluk bahu Eliza erat. "Benar kata Papa, sayang. Nanti malam kita makan di luar ya buat merayakan kemenangan kamu. Kamu mau makan apa? Bilang saja, Mama turuti semuanya."
Alsya cuma berdiri mematung di dekat pintu, menggenggam tali tasnya erat-erat sampai buku jarinya memutih. Nggak ada yang menyadari kehadirannya sampai Eliza yang lebih dulu menoleh.
"Eh, Alsya udah pulang? Sini, Sya! Loe mau makan apa nanti malam? Papa sama Mama mau ngerayain kemenangan gue," ajak Eliza dengan gaya bahasa santainya kepada Alsya.
Saga menoleh, tapi senyum bangganya langsung hilang begitu melihat Alsya. "Baru pulang kamu? Dari mana saja? Jangan bilang kamu habis buat masalah lagi di sekolah sampai pulang terlambat begini."
Alsya menarik napas panjang, mencoba memasang wajah ceria nan angkuh andalannya. "Tadi ada urusan sebentar di perpustakaan, Pa. Aku nggak buat masalah kok, aman terkendali."
Luna mendengus pelan sambil mengelap medali milik Eliza dengan tisu. "Urusan apa? Paling juga kamu cuma keluyuran nggak jelas atau cari gara-gara sama orang. Bisa nggak sih sekali saja kamu seperti Eliza, Sya? Nggak usah menang olimpiade deh, cukup jangan buat malu nama Mama sama Papa dengan tingkah kamu yang urakan itu."
Dada Alsya rasanya kayak dihantam batu besar. Rasanya perih setiap kali dibanding-bandingkan. Dia ingin teriak, ingin bilang kalau tadi dia hampir menangis di sekolah karena hinaan Revaldi, tapi dia tahu itu percuma. Di depan Saga dan Luna, suaranya nggak lebih dari sekadar angin lalu.
"Ya sudah sih, Ma. Kan aku cuma telat sedikit, nggak usah dibawa serius kali. Lagian aku bukan anak kecil lagi," jawab Alsya, berusaha terlihat tidak peduli.
"Sya, loe jangan gitu sama Mama," tegur Eliza pelan kepada saudara kembarnya itu.
Alsya menoleh ke arah Eliza dengan tatapan sinis. "Loe diem aja deh, El. Nggak usah sok jadi pahlawan kesiangan di sini. Gue mau ke kamar."
Baru saja Alsya mau melangkah ke tangga, suara tegas Saga kembali terdengar. "Nanti malam kamu nggak usah ikut makan di luar. Tetap di rumah dan renungkan kelakuan kamu yang nggak sopan itu. Biar Papa, Mama, sama Eliza saja yang pergi."
Langkah Alsya terhenti di anak tangga pertama. Dia tidak berbalik, karena dia tahu air matanya sudah mulai menggenang.
"Oke, lagian aku juga malas ikut. Malas lihat muka kalian yang sok harmonis itu!" seru Alsya sambil berlari menaiki tangga.
BRAKK!
Alsya membanting pintu kamarnya keras-keras. Di dalam kamar yang gelap itu, barulah pertahanannya runtuh total. Dia menangis sesenggukan di balik bantal, meredam suara isakannya agar tidak terdengar sampai ke bawah.
"Kenapa gue nggak pernah cukup buat kalian?" bisiknya lirih di tengah tangisnya.
Bayangan wajah cowok murid baru di perpustakaan tadi, Samudera, mendadak melintas di pikirannya. Kata-kata cowok itu yang menyuruhnya menghapus air mata terasa makin menyebalkan sekarang.
"Anak baru sialan, lihat aja besok di sekolah," umpat Alsya pelan sambil menghapus air matanya dengan kasar.
Bersambung.....