NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Sementara Dafa yang mendapat ejek itu, hanya merespon biasa saja.

Dia malah langsung menaikkan salah satu alisnya, sambil tersenyum penuh percaya diri.

"Asal lo tau, jomblo itu lebih menyenangkan dari pada pacaran," ucapnya, dengan tegas.

"Bilang aja lo ga laku. Susah amat tinggal jujur," timpal Faiz, kembali tertawa.

Tawa itu lebih keras dari sebelumnya, namun dia tidak menyadarinya.

"Berisik!" sergah Fardan, dengan tegas.

Suara mereka memang tidak akan mengganggu pasien yang lain, karena kamar yang dihuni Ezar adalah kamar tunggal dengan tingkatan kelas VIP.

Namun, suara itu sudah jelas mengganggu ketenangan Ezar yang baru saja siuman.

"S-sory!" ucap Faiz dan Dafa, mereka menunduk secara bersamaan.

"Sory, gue udah repotin kalian." Ezar tiba-tiba bersuara dan mengatakan hal itu.

Daris yang semula menunduk karena rasa bersalah, kini langsung mendongkakan kepalanya, begitu mendengar Ezar berbicara seperti itu.

"Lo ga boleh ngomong kaya gitu, kita ini udah kaya keluarga," ucap Daris, sambil menepuk pelan bahu Ezar.

"Ya, kita emang keluarga. Kecuali lo!" timpal Faiz.

"Sialan, lo!" Daris langsung mengumpat, karena tidak terima.

Namun umpataan itu langsung dihentikan oleh salah satu sahabatnya. "Istighfar! Jangan kebiasaan ngumpat kaya gitu," ucap Izzan, mengingatkan.

"Astaghfirullah hal adzim." Daris patuh, dan langsung beristighfar.

Mereka menggelengkan kepala secara bersamaan, tatakala melihat tingkah Daris yang seperti itu.

Namun, pembicaraan ringan seperti itu sepertinya sudah cukup mereka lakukan.

"Kenapa lo pake motor itu di waktu yang bukan seharusnya?" tanya Galvin kepada Ezar, dengan serius.

Semuanya mendadak hening.

Tidak ada lagi yang bersuara apalagi bercanda.

Mata mereka tertuju kepada mereka berdua.

"Motor yang biasa gue pakai kerja tiba-tiba mogok. Sementara gue ga mungkin benerin motor itu dulu, karena gue udah telat. Gue terpaksa pake motor itu supaya ga telat kerja," jelas Ezar, dengan suaranya yang masih terdengar begitu lemah.

Dia berbicara sambil duduk bersandar di bangku rumah sakit itu.

"Sory. Mereka pasti udah liat wajah gue," sambungnya kembali.

Sejak pertama kali tersadar, dia langsung memikirkan hal itu.

Jika orang-orang itu berhasil melihat wajahnya, maka bukan hanya dia saja yang dirugikan, melainkan sahabatnya juga akan rugi karena kemungkinan besar identitas mereka akan terbongkar.

Dia langsung menunduk dan merasakan rasa bersalah yang begitu besar, jika sekelompok orang itu benar-benar berhasil melihat wajahnya.

"Mereka ga liat wajah lo. Kita udah periksa rekaman CCTV di tempat kejadian itu. Saat mereka mau buka masker yang lo pake, keburu ada banyak warga yang melintas dan nyelametin lo." Faiz menjelaskan, karena dia juga melihat dengan jelas bagaimana kejadian yang ada di rekaman itu.

Ezar kembali mengangkat pandangannya. Hatinya yang semula merasa sesak, kini mendadak kembali lega.

"Syukurlah kalau gitu." Ezar benar-benar lega.

"Tapi gue tetep minta maaf karena udah nyusahin kalian," sambung Ezar, kembali mengatakan hal yang ingin sekali dia katakan.

"Harusnya kita yang minta maaf, karena telat nolongin lo." Dafa menimpal.

...

Sementara Ezar, dia diingatkan kembali dengan kejadian sebelumnya, di mana sekelompok orang itu mulai mengelilinginya.

Hal pertama yang dia lakukan adalah mengubungi salah satu nomor para sahabatnya untuk meminta pertolongan.

Dia tidak tahu nomor siapa yang dia hubungi, karena dia tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan panggilan itu.

Hingga akhirnya, nomor Dafa-lah yang dia hubungi. Kemudian Dafa memberitahukan hal itu kepada yang lainnya, yang pada saat itu sedang sama-sama berada di basecamp mereka.

Galvin tidak langsung mengetahui kejadian itu, karena dia tidak sedang bersama mereka, melainkan dia sedang bersama Khaira di perpustakaan.

"Kalian ga pantes minta maaf. Ini emang kesalahan gue. Gue yang ga hati-hati. Gue bener-bener terima kasih kalian udah datang dan bawa gue ke sini," ucap Ezar kembali.

Dia mengakui bahwa ini memang kesalahannya.

"Udah minta maafnya, kaya lebaran aja." Daris menghentikan perasaan canggung di antara mereka semua, karena mereka sama-sama merasa bersalah.

"Biaya rumah sakitnya pakai uang siapa? Biar nanti gue ganti." Ezar baru mengingat akan hal itu.

Galvin langsung menepuk pelan pundak Ezar. "Ga perlu. Lo pake aja uang lo itu buat kebutuhan yang lain," ucapnya.

"Lo yang bayar? Makasih, ya. Nanti gue ganti."

"Gue bilang ga perlu." Galvin mengatakan itu dengan tegas.

"Lo tau kalau gue bakal ngerasa terbebani jika lo nolak uang itu untuk gue ganti." Ezar ikut menegaskan ucapannya.

"Anggap aja tunjangan pegawai," timpal Galvin, dengan santai.

"Mentang-mentang lo bosnya." Daris mencibir.

"Memang. Salah?" tanya Galvin, dengan salah satu alisnya yang terangkat.

"J-jelas ga salah, lah. Lo, kan, emang bosnya," jawab Daris dengan cepat, sambil menunjukkan deretan giginya.

Ezar kembali dibuat tertawa pelan melihat tingkah Daris.

Sementara Dafa yang mendapat ejek itu, hanya merespon biasa saja.

Dia malah langsung menaikkan salah satu alisnya, sambil tersenyum penuh percaya diri.

"Asal lo tau, jomblo itu lebih menyenangkan dari pada pacaran," ucapnya, dengan tegas.

"Bilang aja lo ga laku. Susah amat tinggal jujur," timpal Faiz, kembali tertawa.

Tawa itu lebih keras dari sebelumnya, namun dia tidak menyadarinya.

"Berisik!" sergah Fardan, dengan tegas.

Suara mereka memang tidak akan mengganggu pasien yang lain, karena kamar yang dihuni Ezar adalah kamar tunggal dengan tingkatan kelas VIP.

Namun, suara itu sudah jelas menganggu ketenangan Ezar yang baru saja siuman.

"S-sory!" ucap Faiz dan Dafa, mereka menunduk secara bersamaan.

"Sory, gue udah repotin kalian." Ezar tiba-tiba bersuara dan mengatakan hal itu.

Daris yang semula menunduk karena rasa bersalah, kini langsung mendongkakan kepalanya, begitu mendengar Ezar berbicara seperti itu.

"Lo ga boleh ngomong kaya gitu, kita ini udah kaya keluarga," ucap Daris, sambil menepuk pelan bahu Ezar.

"Ya, kita emang keluarga. Kecuali lo!" timpal Faiz.

"Sialan, lo!" Daris langsung mengumpat, karena tidak terima.

Namun umpataan itu langsung dihentikan oleh salah satu sahabatnya. "Istighfar! Jangan kebiasaan ngumpat kaya gitu," ucap Izzan, mengingatkan.

"Astaghfirullah hal adzim." Daris patuh, dan langsung beristighfar.

Mereka menggelengkan kepala secara bersamaan, tatakala melihat tingkah Daris yang seperti itu.

Namun, pembicaraan ringan seperti itu sepertinya sudah cukup mereka lakukan.

"Kenapa lo pake motor itu di waktu yang bukan seharusnya?" tanya Galvin kepada Ezar, dengan serius.

Semuanya mendadak hening.

Tidak ada lagi yang bersuara apalagi bercanda.

Mata mereka tertuju kepada mereka berdua.

"Motor yang biasa gue pakai kerja tiba-tiba mogok. Sementara gue ga mungkin benerin motor itu dulu, karena gue udah telat. Gue terpaksa pake motor itu supaya ga telat kerja," jelas Ezar, dengan suaranya yang masih terdengar begitu lemah.

Dia berbicara sambil duduk bersandar di bangkar rumah sakit itu.

"Sory. Mereka pasti udah liat wajah gue," sambungnya kembali.

Sejak pertama kali tersadar, dia langsung memikirkan hal itu.

Jika orang-orang itu berhasil melihat wajahnya, maka bukan hanya dia saja yang dirugikan, melainkan sahabatnya juga akan rugi karena kemungkinan besar identitas mereka akan terbongkar.

Dia langsung menunduk dan merasakan rasa bersalah yang begitu besar, jika sekelompok orang itu benar-benar berhasil melihat wajahnya.

"Mereka ga liat wajah lo. Kita udah periksa rekaman CCTV di tempat kejadian itu. Saat mereka mau buka masker yang lo pake, keburu ada banyak warga yang melintas dan nyelametin lo." Faiz menjelaskan, karena dia juga melihat dengan jelas bagaimana kejadian yang ada di rekaman itu.

Ezar kembali mengangkat pandangannya. Hatinya yang semula merasa sesak, kini mendadak kembali lega.

"Syukurlah kalau gitu." Ezar benar-benar lega.

"Tapi gue tetep minta maaf karena udah nyusahin kalian," sambung Ezar, kembali mengatakan hal yang ingin sekali dia katakan.

"Harusnya kita yang minta maaf, karena telat nolongin lo." Dafa menimpal.

...

Sementara Ezar, dia diingatkan kembali dengan kejadian sebelumnya, di mana sekelompok orang itu mulai mengelilinginya.

Hal pertama yang dia lakukan adalah mengubungi salah satu nomor para sahabatnya untuk meminta pertolongan.

Dia tidak tahu nomor siapa yang dia hubungi, karena dia tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan panggilan itu.

Hingga akhirnya, nomor Dafa-lah yang dia hubungi. Kemudian Dafa memberitahukan hal itu kepada yang lainnya, yang pada saat itu sedang sama-sama berada di basecamp mereka.

Galvin tidak langsung mengetahui kejadian itu, karena dia tidak sedang bersama mereka, melainkan dia sedang bersama Khaira di perpustakaan.

"Kalian ga pantes minta maaf. Ini emang kesalahan gue. Gue yang ga hati-hati. Gue bener-bener terima kasih kalian udah datang dan bawa gue ke sini," ucap Ezar kembali.

Dia mengakui bahwa ini memang kesalahannya.

"Udah minta maafnya, kaya lebaran aja." Daris menghentikan perasaan canggung di antara mereka semua, karena mereka sama-sama merasa bersalah.

"Biaya rumah sakitnya pakai uang siapa? Biar nanti gue ganti." Ezar baru mengingat akan hal itu.

Galvin langsung menepuk pelan pundak Ezar. "Ga perlu. Lo pake aja uang lo itu buat kebutuhan yang lain," ucapnya.

"Lo yang bayar? Makasih, ya. Nanti gue ganti."

"Gue bilang ga perlu." Galvin mengatakan itu dengan tegas.

"Lo tau kalau gue bakal ngerasa terbebani jika lo nolak uang itu untuk gue ganti." Ezar ikut menegaskan ucapannya.

"Anggap aja tunjangan pegawai," timpal Galvin, dengan santai.

"Mentang-mentang lo bosnya." Daris mencibir.

"Memang. Salah?" tanya Galvin, dengan salah satu alisnya yang terangkat.

"J-jelas ga salah, lah. Lo, kan, emang bosnya," jawab Daris dengan cepat, sambil menunjukkan deretan giginya.

Ezar kembali dibuat tertawa pelan melihat tingkah Daris.

"Sekali lagi gue bilang makasih. Gue bersyukur banget punya sahabat kaya kalian."

Sekilas, Ezar menatap satu per satu wajah sahabatnya.

"Ga bosen lo bilang makasih terus? Kita aja yang dengernya udah bosen," ucap Faiz, dan langsung mendapat sambutan tawa dari yang lainnya.

Derztt... Derztt... Derztt...

Getaran ponsel kembali Galvin rasakan dari saku jaketnya.

Dia langsung memeriksa layar ponselnya yang menyala, kemudian terlihatlah nama Khaira di sana.

'Khaira? Mau apa dia?' batin Galvin, begitu melihat sebuah nama yang muncul di layar panggilannya.

"Gue keluar dulu," ucapnya, kepada mereka.

Dia keluar dari ruangan supaya apa yang dia bicarakan dengan Khaira, tidak diketahui oleh teman-temannya.

Karena tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui pernikahannya dengan Khaira.

"Cepet balik," sahut Daris, sebelum Galvin menghilang di balik pintu ruang rumah sakit itu.

...

"Assalamu'alaikum," sapa Khaira lebih dulu begitu panggilan mereka terhubung.

"Wa'alaikumsalam."

"Kamu masih di mana? Kenapa belum pulang?" tanya Khaira, dengan nada bicara yang terdengar begitu mengkhawatirkan Galvin.

Galvin menyadarkan punggungnya di salah satu pilar rumah sakit itu.

"Gue udah bilang, jangan nunggu gue pulang." Salah satu tangannya dia masukkan ke dalam saku celana.

"Aku cuma khawatir sama kamu. Jangan pulang terlalu larut, ya." Khaira meminta hal itu tanpa ragu.

Jika sudah berkaitan dengan keselamatan, Khaira bisa langsung mengatakannya tanpa terhalang perasaan lain.

"Kenapa?" tanya Galvin, meminta penjelasan atas perkataan Khaira sebelumnya.

"Takut kalau terlalu malam. Sebelumnya kamu jangan salah paham, aku ga merintah kamu buat ga pulang malam. Ini cuma saran," ucap Khaira.

Bukan tanpa alasan dia mengatakan itu, tetapi karena dia teringat kembali dengan pembicaraan yang mereka lakukan di awal pernikahan.

Di mana mereka tidak boleh saling memberikan larangan dan tidak boleh saling merasa terbebani oleh hak ataupun tanggung jawab.

"Sebentar lagi gue pulang."

"H-hah?" respon Khaira, dari seberang telepon sana.

"Perlu gue ulang?" tanya Galvin, begitu mendengar Khaira memberikan respon seperti itu.

Khaira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, walaupun dia sudah tahu jika Galvin tidak akan melihatnya.

"Ga perlu diulang, aku denger, ko. Hati-hati di jalannya, ya?" ucapnya, mengingatkan.

Galvin memejamkan kedua matanya. "Hm," jawabnya, berupa gumaman pelan.

Jujur saja, Khaira merasa tidak percaya jika Galvin akan berkata seperti itu dengan mudahnya.

Padahal awalnya dia menduga, jika Galvin akan marah padanya, karena secara tidak langsung telah ikut campur dalam kehidupan Galvin.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam," balas Galvin, kemudian dia memutuskan panggilan mereka.

Tanpa disadari, dia menarik kedua sudut bibirnya dengan samar, begitu mendengar suara Khaira yang sedikit gugup saat berbicara dengannya.

Padahal sebelum mereka dijodohkan dan menjalani pernikahan, Khaira selalu berani dan tidak pernah gugup saat berdebat dengannya di dalam forum organisasi, selama ada hal yang tidak Khaira setujui.

Di sisi lain, Khaira juga sedang bingung dengan perasannya.

Dia tidak mengerti, kenapa ada hal baru yang selalu dia rasakan, setiap kali dirinya berkomunikasi dengan Galvin, baik itu berkomunikasi secara langsung ataupun lewat panggilan telepon.

'Rasa apa ini?' batin Khaira, sambil menyentuh dadanya, yang tiba-tiba berdebar tanpa sebab yang jelas.

'Mungkin ini hanya rasa khawatirku yang terlalu berlebihan? Tapi ini sungguh aneh. Ini bukan seperti rasa khawatir,' batinnya kembali, yang bingung dengan perasaannya sendiri.

'Ya, Allah. Sebenarnya perasaan apa yang sedang hamba rasa?'

Dia tidak bisa menebak perasaan itu, sehingga dia kembalikan segala prasangkanya kepada Tuhannya.

Hanya Tuhan-nya lah yang mengetahui pasti, perihal apa yang dia rasakan saat ini.

"Semoga Allah segera memberitahuku tentang makna dari perasaan yang aku rasa," gumamnya pelan, dengan kedua kelopak mata indahnya yang terpejam tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!