NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : Runtuhnya Istana Pasir

Suara lonceng kecil di pintu kafe berdenting nyaring saat Alina mendorongnya terbuka, sebuah bunyi yang dulu terdengar ramah menyambut kedatangan, kini terdengar seperti lonceng kematian yang menandakan akhir dari sebuah era.

Alina melangkah keluar. Tidak ada payung yang melindunginya, dan ia memang tidak menginginkannya. Hujan deras yang mengguyur kawasan Tunjungan malam itu langsung menyergap tubuhnya tanpa ampun. Air dingin menusuk kulit, meresap ke dalam serat gaun maroon selutut yang ia kenakan—gaun yang ia beli dengan menyisihkan uang makan siang selama seminggu demi tampil cantik di hari jadinya yang ketiga. Gaun yang kini terasa seperti kostum badut yang mengejek nasibnya.

Orang-orang di sekitar emperan toko berlarian mencari tempat berteduh. Para pejalan kaki sibuk menutupi kepala dengan tas atau koran bekas, menggerutu soal cuaca Surabaya yang tak menentu. Namun, Alina berjalan lambat. Sangat lambat. Ia seperti hantu yang tersesat di tengah hiruk-pikuk kehidupan manusia.

Ia tidak peduli pada klakson mobil yang bersahut-sahutan memecah kemacetan, atau pada teriakan tukang parkir yang sibuk mengatur motor. Dunia di sekelilingnya terasa berputar dalam gerakan lambat (slow motion), sementara suara Rendy terus berdengung di kepalanya, tumpang tindih dengan suara guruh yang menggelegar.

"Kita harus selesai, Al."

"Sisca Angela."

"Hidup butuh makan, bukan cuma cinta."

Kalimat terakhir itu adalah yang paling menyakitkan. Sebuah tamparan realitas dari seorang guru sastra yang selama ini selalu mengajarkan padanya bahwa cinta adalah hal paling murni di dunia. Ternyata, kemurnian itu memiliki harga yang tidak sanggup dibayar oleh dompet seorang guru honorer.

Alina berhenti di dekat tiang lampu jalan yang cahayanya berpendar suram di atas genangan air. Ia menatap pantulan dirinya di kaca etalase sebuah toko roti yang sudah tutup. Rambutnya yang tadi ia blow rapi kini lepek, menempel di wajahnya yang pucat. Maskaranya luntur, menciptakan jejak hitam di pipi seperti air mata iblis. Ia terlihat hancur. Benar-benar hancur.

Tangannya yang gemetar merogoh tas tangan, berusaha memesan taksi online. Layar ponselnya basah, membuat jemarinya kesulitan mengetik titik penjemputan. Butuh lima menit yang menyiksa sampai akhirnya ia mendapatkan pengemudi.

Saat sebuah mobil hitam menepi lima menit kemudian, Alina masuk dengan tatapan kosong. Hawa dingin dari AC mobil langsung menusuk tulang, membuatnya menggigil hebat, bukan hanya karena kedinginan fisik, tapi karena kedinginan yang merambat dari lubang menganga di dadanya.

"Malam, Mbak. Sesuai aplikasi ya, ke Wonokromo?" tanya sopir taksi itu, seorang pria paruh baya yang melirik prihatin lewat kaca spion tengah. "Mbaknya sakit? Mau mampir apotek dulu atau klinik?"

Alina menggeleng lemah, bibirnya terkatup rapat seolah jika ia membukanya sedikit saja, teriakan histeris akan lolos keluar. "Jalan saja, Pak. Tolong... jalan saja."

Mobil mulai melaju membelah jalanan basah Surabaya. Alina menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Setiap sudut kota yang ia lewati malam ini seolah berkonspirasi untuk memutar ulang film dokumenter hubungan mereka.

Mereka melewati Taman Bungkul. Dadanya sesak. Di salah satu bangku taman itu, Rendy pernah menggenggam tangannya erat-erat saat pria itu baru saja diterima mengajar.

"Gajiku mungkin kecil, Al. Mungkin cuma cukup buat bensin dan makan di warteg. Kamu nggak malu punya pacar guru honorer?" tanya Rendy kala itu.

Dan Alina, dengan segala kenaifan cinta pertamanya, menjawab, "Ngapain malu? Kamu pahlawan tanpa tanda jasa, Mas. Kita berjuang bareng ya. Nanti kalau kamu sertifikasi, kita nabung buat rumah."

Berjuang bareng.

Kata-kata itu kini terasa seperti lelucon paling pahit. Alina telah menepati janjinya. Ia menemani Rendy naik motor butut yang sering mogok di tengah jalan Ahmad Yani. Ia menemani Rendy begadang mengoreksi ratusan lembar jawaban ulangan siswa sampai matanya bengkak. Ia bahkan sering diam-diam menyelipkan uang ke dompet Rendy saat tahu pria itu kehabisan ongkos di akhir bulan.

Ia sudah memberikan segalanya. Waktu, tenaga, materi, dan hatinya yang utuh.

Namun, saat badai datang menghantam keluarga Angkasa, Rendy tidak memilih untuk berjuang bersamanya. Rendy memilih jalan pintas. Rendy memilih 'sekoci penyelamat' bernama Sisca Angela, meninggalkan Alina tenggelam sendirian di lautan keputusasaan.

Mobil berbelok memasuki gang sempit di daerah Wonokromo. Alina membayar sopir itu dengan uang pas, lalu turun. Hujan masih setia mengguyur, seolah langit menolak untuk berhenti menangis sebelum mata Alina kering.

Ia menaiki tangga menuju kamar kosnya di lantai dua dengan langkah gontai. Kakinya terasa seperti timah. Saat ia memutar kunci pintu dan mendorongnya terbuka, aroma familiar menyergap indera penciumannya. Aroma pewangi ruangan lavender dan sedikit bau kertas tua—bau yang selalu tertinggal setiap Rendy berkunjung membawa buku-bukunya.

Alina menutup pintu, menguncinya rapat-rapat, dan di detik itu juga, kakinya tak lagi sanggup menopang berat tubuhnya.

Ia merosot jatuh ke lantai keramik yang dingin, bersandar pada daun pintu kayu. Tas tangannya terlempar ke sudut ruangan.

"Jahat..." desisnya lirih, suaranya parau dan pecah. "Kamu jahat, Mas..."

Pandangan Alina menyapu kamar kos berukuran 3x4 meter itu. Kamar ini adalah museum kecil dari kisah cinta mereka. Di rak buku, berjejer rapi novel-novel karya Pramoedya dan kumpulan puisi Aan Mansyur milik Rendy yang ia titipkan di sini karena rak di rumahnya penuh. Di dinding, tertempel sticky notes berwarna-warni berisi penyemangat yang ditulis Rendy saat Alina sedang stres dengan target pekerjaan di bank.

Semangat kerjanya, Cantik. Nanti gajian kita makan Sate Lisidu ya.

Tulisan tangan itu. Tulisan tegak bersambung khas guru yang rapi itu. Alina merangkak perlahan mendekati dinding, tangannya gemetar saat menyentuh kertas kuning itu. Rasanya panas.

Ia merobek kertas itu dari dinding. Lalu merobek yang lainnya. Satu per satu. Foto-foto photobox mereka dengan pose konyol, tiket bioskop yang ia simpan sebagai kenang-kenangan, semuanya ia tarik paksa.

"Pembohong!" teriaknya. "Semuanya bohong!"

Alina melempar sobekan kertas itu ke udara. Air matanya menderas, bukan lagi tetesan diam seperti di taksi tadi, melainkan banjir bandang yang disertai isak tangis yang menyayat hati.

Ia teringat Sisca Angela. Ia membayangkan wanita itu. Pasti cantik. Pasti elegan dengan pakaian bermerek, kulit yang terawat di klinik mahal, dan tangan halus yang tidak pernah merasakan kasar karena mencuci baju sendiri. Rendy akan menikahi wanita itu minggu depan. Pria itu akan mengucapkan janji suci yang sama, menatap mata wanita itu, dan tidur di sampingnya.

Sementara Alina? Apa yang tersisa untuknya?

Ia berusia dua puluh lima tahun. Teman-temannya sudah sibuk pamer cincin lamaran atau foto USG bayi. Ibunya di kampung sudah sering bertanya, "Kapan Mas Rendy bawa orang tuanya ke sini, Nduk?"

Bagaimana ia harus menjelaskan pada ibunya? Bagaimana ia harus mengatakan bahwa pria yang selama ini diagung-agungkan ibunya sebagai calon mantu idaman, ternyata hanyalah seorang pengecut yang berlindung di balik ketiak orang tuanya?

"Kenapa cintaku harus kalah sama uang, Tuhan? Kenapa?!" raung Alina, memukul dadanya sendiri yang terasa nyeri luar biasa. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya hingga hancur menjadi bubur. Sakit fisik yang nyata, membuatnya sulit bernapas.

Ia merasa bodoh. Sangat bodoh karena pernah percaya bahwa cinta akan menemukan jalannya. Omong kosong. Di dunia nyata, di dunia orang dewasa, uang yang membuat jalan itu. Uang yang mengaspal jalan, dan uang yang menentukan siapa yang boleh lewat. Sisca Angela punya jalan tol bebas hambatan menuju hati Rendy, sementara Alina hanya punya jalan setapak berlumpur yang kini buntu.

Alina meringkuk di lantai, memeluk lututnya erat-erat dalam posisi janin. Gaunnya yang basah kuyup membuat lantai menjadi becek, tapi ia tidak peduli. Dingin yang merayapi kulitnya tidak sebanding dengan kebekuan di hatinya.

Malam itu, di kamar kos yang sepi, di tengah gemuruh hujan Surabaya yang tak kunjung reda, Alina Oktavia menyadari satu hal yang mengerikan: Dunia yang ia bangun selama tiga tahun terakhir hanyalah sebuah istana pasir. Ia membangunnya dengan keringat dan air mata, butir demi butir, penuh ketelatenan.

Namun Rendy Angkasa, sang arsitek yang ia percaya, justru membiarkan ombak pasang menyapunya hingga rata dengan tanah, tanpa menyisakan satu pun fondasi untuk Alina berpijak.

Gadis itu memejamkan mata, membiarkan kegelapan menelannya, berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk yang akan hilang saat matahari terbit. Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu. Matahari besok tidak akan membawa hangat. Matahari besok hanya akan menyinari puing-puing kehancurannya yang nyata.

Mohon dukungannya...

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!