NovelToon NovelToon
Immortality Through Suffering 2

Immortality Through Suffering 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi Timur / Action / Fantasi / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:28.2k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari informasi!

Xu Hao menghabiskan waktu beberapa jam di bukit itu, hanya duduk, menyesuaikan diri. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur laju penyerapan energi spiritual yang memabukkan ini. Jika ia menyerap terlalu cepat dan gegabah, bisa-bisa menarik perhatian atau bahkan membahayakan fondasinya.

"Sabar," bisiknya pada dirinya sendiri, mengingatkan jiwa yang haus kekuatan di dalamnya. "Semuanya harus bertahap."

Setelah merasa cukup stabil, ia berdiri. Ia perlu informasi. Ia perlu tahu di mana tepatnya ia berada, dan bagaimana menuju Sekte Gunung Jati. Peta mental dari Xiou Jianxin bibinya terlalu umum.

Dari kejauhan, di jalan setapak di kaki bukit, ia melihat asap mengepul. Jejak kehidupan.

Dengan langkah tenang, hampir tanpa suara, Xu Hao turun dari bukit, menyatu dengan bayangan pohon-pohon aneh berdaun perak. Ia mendekati sumber asap. Itu adalah sebuah perkemahan sederhana. Sebuah gerobak kayu rusak berhenti di pinggir jalan, kuda penariknya sedang merumput. Sebuah api unggun kecil menyala, di atasnya sebuah kuali besi berisi sesuatu yang mendidih. Di sekitarnya duduk tiga orang.

Dua lelaki bertampang kasar, berpakaian kulit hewan yang diolah sederhana, dengan kapak di pinggang. Satu wanita yang lebih tua, wajahnya keriput tapi matanya waspada. Mereka bukan kultivator. Setidaknya, tidak kuat. Tubuh mereka menunjukkan adanya aliran energi dasar, mungkin setara dengan Qi Refining atau paling tinggi Foundation Establishment di dunia luar, tapi di sini, mereka terasa seperti… rakyat jelata biasa.

Xu Hao mengamati dari balik semak. Bahasa mereka terdengar mirip dengan bahasa di dunia luar, tapi dengan aksen dan beberapa kata yang asing. Ia fokus mendengarkan.

"…rusak benar gandar ini. Butuh setidaknya sehari untuk memperbaiki," gerutu salah satu lelaki, mencangkul isi kuali dengan sendok kayu.

"Tenang saja, Kang. Kita punya persediaan. Lagian daerah ini aman, jarang ada binatang buas galak atau rampok," kata lelaki satunya, sedang mengasah pisau di batu.

"Binatang buas bukan masalah, Lin. Aku lebih khawatir sama 'mereka'," kata wanita tua itu, suaranya bergetar. Matanya memandang ke arah langit, ke arah gunung-gunung megah di kejauhan. "Kadang-kadang para dewa muda itu lewat, menguji ilmu atau berburu. Jika kita terkena sasaran, habis kita."

"Ah, Ibu terlalu khawatir. Para immortals muda dari sekte-sekte itu sibuk berlatih atau berburu monster kelas rendah di dalam hutan mistis. Mereka tidak akan peduli pada kita," balas lelaki bernama Lin, tapi nadanya tidak terlalu yakin.

Xu Hao mengerti. "Mereka" adalah para kultivator. Dan "dewa muda" adalah murid-murid sekte. Rakyat biasa hidup dalam bayang-bayang mereka, penuh kekaguman dan ketakutan. Sungguh mirip dengan dunia luar, hanya skalanya yang berbeda.

Ini kesempatannya. Ia membuang aura mengintimidasi yang melekat secara alami pada kultivator tingkatnya. Ia membuat langkahnya terdengar, sengaja menginjak ranting kering.

Krek.

Tiga orang di perkemahan itu langsung melompat, waspada. Kedua lelaki meraih kapak dan pisaunya. Wanita tua itu berdiri di belakang mereka.

"SIAPA?!" teriak Kang, suaranya tegang.

Xu Hao melangkah keluar dari balik semak. Dengan penampilannya yang sederhana, wajah tenang, dan aura yang sengaja dibuat biasa, ia terlihat seperti pengembara yang tidak berbahaya.

"Tenang, saudara-saudara," ucap Xu Hao, melambai dengan tangan kosong. Suaranya ia buat selantang mungkin. "Aku hanya pengembara yang tersesat. Melihat asap, jadi mendekat. Bolehkah aku beristirahat sebentar?"

Mata ketiganya menyapu tubuh Xu Hao. Pakaiannya sederhana, tidak membawa senjata yang terlihat, tidak ada aura mengerikan. Mereka sedikit merilekskan kewaspadaan, tapi tidak sepenuhnya.

"Pengembara? Sendirian? Di daerah perbatasan ini?" tanya Lin, penuh kecurigaan. "Ini berbahaya. Bukan tempat untuk sendirian."

"Kebetulan saja tersesat dari rombongan dagang kecil," kata Xu Hao dengan mudah, membuat alasan yang masuk akal. "Mereka pergi ke utara, aku tertinggal. Nama saya Haosu." Ia menggunakan nama samaran yang telah dipersiapkan, gabungan dari 'Hao' dan 'Su' yang netral juga sederhana.

"Haosu?" wanita tua itu mengulang, matanya masih mengamati. "Kau dari mana?"

"Dari arah timur," jawab Xu Hao samar, menunjuk arah sebaliknya dari mana ia datang. "Bermaksud ke barat, mencari pekerjaan atau mungkin bergabung dengan sekte kecil jika ada kesempatan." Ia sengaja menampilkan dirinya sebagai kultivator pinggiran yang lemah dan berharap.

Mendengar kata 'bergabung dengan sekte', ketiganya bertukar pandangan. Ekspresi mereka berubah, sedikit lebih menghormat, tapi juga tetap hati-hati. Siapa pun yang bisa melamar ke sekte, sekecil apapun, pasti punya sedikit bakat.

"Silakan duduk," kata wanita tua itu akhirnya, menunjuk sebuah batu di dekat api. "Kami punya sup. Boleh berbagi."

"Terima kasih," Xu Hao membungkuk sedikit, lalu duduk. Ia menerima mangkuk kayu berisi sup sayur dan daging kering dari Kang. Rasanya biasa, tapi mengandung sedikit energi spiritual, lebih baik dari makanan istana di dunia luar.

Sambil makan, percakapan pun mengalir. Xu Hao, atau Haosu, bertanya dengan hati-hati.

"Maaf, ini daerah mana? Aku benar-benar tersesat peta."

"Ini wilayah Perbukitan Perak, masih bagian dari Daerah Pinggiran Barat Kekaisaran Langit," jawab Lin. "Kami dari desa sebelah, mau bawa hasil kerajinan ke kota pasar di lembah depan."

"Kekaisaran Langit?" tanya Xu Hao, berpura-pura tidak tahu.

"Ya, kekaisaran terdekat yang menguasai daerah ini. Tapi yang sebenarnya berkuasa adalah sekte-sekte. Kekaisaran cuma urusan duniawi, mengurus kami rakyat biasa. Para immortal tidak peduli," jelas Kang dengan sedikit nada getir.

"Kalau sekte… sekte apa yang terdekat dari sini?" tanya Xu Hao, menyuap sup.

Wanita tua itu yang menjawab. "Yang paling dekat dan terkenal ya Sekte Gunung Jati, di sebelah barat laut, kira-kira sepuluh hari perjalanan dengan gerobak. Tapi mereka sekte tertutup, susah masuk. Lalu ada Sekte Cahaya Bulan Sabit, lebih ke selatan. Itu lebih terbuka, sering terima murid baru."

Sekte Gunung Jati. Xu Hao menahan gejolak di hatinya. Ternyata tidak terlalu jauh.

"Tapi hati-hati," lanjut Lin, menurunkan suaranya. "Daerah antara sini dan sana ada Hutan Berdarah. Banyak monster tingkat rendah, dan kadang… kadang ada kultivator jahat dari sekte kecil atau kultivator tunawisma yang suka merampok."

"Kultivator tunawisma?" Xu Hao pura-pura penasaran.

"Ya, mereka yang tidak punya sekte atau klan, mengembara sendirian. Beberapa baik, tapi banyak yang berbahaya. Hidup dari merampok yang lebih lemah atau mencari sumber daya di tempat berbahaya," kata Kang. "Kau sendirian, jadi target empuk."

Xu Hao mengangguk, seolah mengerti. "Aku berhati-hati. Tapi, bagaimana cara menuju Sekte Gunung Jati? Jalannya amankah?"

Wanita tua itu menggambar diagram sederhana di tanah dengan tongkat. "Ikuti jalan setapak ini ke utara, sampai pertigaan batu besar. Belok kiri, ikuti aliran sungai kecil. Itu akan membawamu keluar dari Perbukitan Perak, masuk ke Lembah Angin. Dari situ, jika kau lihat gunung yang puncaknya seperti terpotong, tertutup kabut abu-abu kehijauan, itulah Gunung Jati. Tapi ingat, jangan langsung mendekat. Mereka punya formasi pelindung dan penjaga. Dekati dari jalan utama, dan siapkan alasammu."

"Alasan?"

"Ya, alasan kenapa kau mau ke sana. Mau jadi murid? Punya rekomendasi? Atau mau menyerahkan upeti?" kata Lin. "Mereka tidak terima orang asal datang."

Xu Hao mengangguk lagi. "Aku mengerti. Terima kasih banyak atas petunjuknya." Dari dalam jubah, ia mengeluarkan dua keping batu energi berkualitas rendah (di sini, mungkin disebut Kristal Hukum tingkat rendah) yang ia siapkan dari dunia luar.

"Ini sebagai terima kasih atas makanan dan informasinya."

Mata ketiganya membelalak melihat batu energi itu. Bagi mereka, itu kekayaan. "Ini… ini terlalu berharga," gumam wanita tua itu, tapi tangannya sudah hampir meraih.

"Ambil saja. Aku tidak punya uang logam daerah ini," kata Xu Hao, meletakkan batu itu di tanah.

Setelah beberapa basa-basi, mereka menerimanya dengan rasa syukur yang luar biasa.

Xu Hao berdiri. "Aku akan melanjutkan perjalanan. Selamat tinggal, dan semoga perjalanan kalian aman."

"Kau juga, Tuan Haosu," kata wanita tua itu dengan lebih hormat sekarang. "Hati-hati di jalan."

Xu Hao membalas anggukan, lalu berbalik, melangkah menyusuri jalan setapak yang ditunjukkan. Ia mendengar bisikan mereka dari belakang.

"Memberi Kristal Hukum begitu saja… pasti kultivator tunawisma yang cukup mapan."

"Atau mungkin murid sekte yang menyamar.Tapi aura-nya biasa saja…"

"Sudah,jangan banyak omong. Kita perbaiki gerobak."

Senja mulai turun ketika Xu Hao berhenti di sebuah tebing kecil, memandang arah barat laut. Di kejauhan, di balik beberapa lapis bukit dan hutan, ia bisa membayangkan bentuk gunung yang puncaknya seperti terpotong.

Sekte Gunung Jati. Langkah pertamanya.

Ia menyentuh slip giok di dalam jubahnya. Dingin dan halus. Lalu ia merasakan energi spiritual tak berujung di sekelilingnya, dan ingatan akan keluarga yang ia tinggalkan, dendam yang belum terbalas, dan bahaya tak terlihat dari Cermin Silsilah Darah yang diam-diam telah mencatat kedatangannya.

Perjalanan panjang barulah dimulai. Di Dataran Tengah ini, setiap langkah harus diukur, setiap napas harus diperhitungkan. Dan Xu Hao, atau Haosu, siap mengarunginya, dengan kesabaran, kewaspadaan, dan hati yang membatu oleh tujuan tunggal: bertahan, menjadi kuat, dan menghancurkan semua yang telah merusak hidupnya.

Malam turun dengan cepat di Dataran Tengah. Langit berubah menjadi kanvas ungu dan hitam, dihiasi bintang-bintang yang lebih besar dan lebih terang dari yang pernah ia lihat. Bulan muncul, bukan satu, tapi dua. Bulan utama berwarna perak besar, dan bulan kecil kedua berwarna kebiruan, melayang di dekatnya. Pemandangan yang begitu ajaib, namun membuat hati Xu Hao semakin berat. Dunia ini begitu asing, begitu besar.

Ia tidak menyalakan api. Duduk bersila di bawah sebuah pohon besar berdaun lebar berwarna perak, ia menutup mata, bukan untuk bermeditasi menyerap energi, tapi untuk menyesuaikan indra dan nalurinya dengan lingkungan baru. Suara malam berkicau dengan keras, penuh kehidupan. Terkadang, lolongan makhluk yang tidak dikenalnya menggema dari kejauhan, membawa getaran energi yang membuat kulitnya merinding. Monster tingkat rendah, seperti yang dikatakan para pedagang tadi. Di dunia luar, suara seperti itu akan berasal dari makhluk Soul Formation mungkin. Di sini, itu mungkin hanya penghuni biasa hutan perbatasan.

Tiba-tiba, telinganya menangkap suara lain. Bukan suara alam. Suara langkah kaki, ringan, cepat, dan teratur. Lebih dari satu. Dan suara desisan senjata di sarungnya.

Xu Hao tidak membuka mata. Kesadarannya yang telah mencapai Dao Awakening dengan mudah menjangkau sekeliling. Tiga sosok. Bergerak dengan kecepatan yang menunjukkan kultivasi setidaknya Foundation Establishment puncak, mungkin bahkan Core Formation awal jika mengacu pada sistem dunia luar. Mereka bergerak mengitari, seperti sedang memburu atau… menyergap.

"Sudah pasti dia sendirian?" suara kasar berbisik, tak lebih dari dua puluh meter di sebelah kanannya, tersembunyi di balik semak belukar.

"Ya. Aku awasi dari bukit sebelah. Turun sendirian, ngobrol sama para pedagang dungu itu, lalu jalan ke sini. Tidak ada tanda punya kawan," jawab suara lain, lebih melengking.

"Dia kasih Kristal Hukum ke pedagang itu. Pasti punya lebih banyak di tubuhnya. Penampilan sederhana, mungkin penyamaran," suara ketiga, dalam dan berwibawa, mungkin pemimpin.

Perampok. Kultivator tunawisma yang disebut para pedagang. Mereka seperti serigala yang mengendus mangsa baru yang tersesat.

Xu Hao menarik napas dalam, pelan. Di dunia luar, tiga Core Formation awal adalah debu baginya. Tapi di sini, ia tidak tahu kekuatan sebenarnya mereka. Mungkin teknik mereka lebih tinggi, mungkin senjata mereka lebih baik. Dan yang paling penting, ia tidak bisa memamerkan kekuatan aslinya. Pertarungan yang mencolok bisa menarik perhatian yang tidak diinginkan.

"Keluar, kawan!" teriak suara pemimpin tiba-tiba, meninggi. "Kami tahu kau di sana. Keluarkan cincin penyimpanan dan Kristal Hukummu, kami biarkan kau pergi dengan selamat."

Xu Hao membuka matanya. Di kegelapan, matanya yang ungu samar berkilat sebentar. Ia berdiri dengan tenang.

Dari balik pepohonan, tiga sosok melangkah keluar. Mereka mengenakan jubah hitam lusuh, wajahnya tertutup kain, hanya mata yang terlihat. Satu membawa pedang tipis bercahaya redup, satu membawa tali berkilat yang tampak lentur namun mematikan, dan si pemimpin memegang tongkat pendek berukiran.

Aura mereka kuat untuk standar rakyat biasa, tapi bagi Xu Hao, itu seperti angin sepoi-sepoi. Namun, ia tetap waspada.

"Aku tidak punya apa-apa yang berharga," ucap Xu Hao, suaranya datar. "Cuma pengembara miskin."

"Pengembara miskin bisa kasih Kristal Hukum ke pedagang?" sang pemimpin menertawakan. "Jangan bohong. Lembutkan hatimu, atau kami yang akan melunakkannya."

Pedang dan tali itu sudah mengarah padanya. Energi berpusar di ujung senjata mereka.

Xu Hao menghela napas. Tampaknya, pelajaran pertama di Dataran Tengah akan dimulai dengan cepat. Ia harus mengukur kekuatan lawan, dan melakukannya tanpa membocorkan jati dirinya yang sebenarnya.

"Baiklah," katanya, mengangkat kedua tangan perlahan, seolah menyerah. "Ambil saja. Tapi janji, kalian akan membiarkanku pergi."

Mata ketiganya bersinar rakus. Mereka mendekat, hati-hati tapi percaya diri. Jarak sepuluh meter. Lalu lima.

Saat si pemimpin hampir menjangkau, Xu Hao bergerak.

Bukan gerakan cepat yang membelah ruang. Bukan teleportasi. Hanya sebuah langkah sederhana, tapi mengandung prinsip Dao Ruang tingkat dasar yang ia samarkan. Tiba-tiba, posisinya bergeser setengah meter ke kiri, tepat di celah antara si pemimpin dan pengguna pedang.

Tangannya, yang masih terangkat, berubah arah. Jari telunjuk dan jari tengahnya menunjuk, sangat pelan, ke arah titik di dada pengguna tali.

"Tidurlah," gumam Xu Hao.

Sebuah gelombang energi spiritual yang dipadatkan, dibungkus dengan ilusi kelemahan, menyembur dari ujung jarinya. Bukan serangan mematikan, tapi sebuah teknik penekanan titik dan gangguan kesadaran yang ia pelajari dari kilasan ingatan musuh.

Pengguna tali itu terkesiap, matanya melotot, lalu tubuhnya kaku dan terjatuh ke tanah, tidak bergerak.

"APA?!" teriak si pemimpin dan pengguna pedang, kaget. Mereka buru-buru mundur, senjata mereka bersinar lebih terang.

"Kultivator tunawisma licik!" geram si pemimpin. Tongkat pendeknya diayunkan, meluncurkan semburan api hijau yang beracun ke arah Xu Hao.

Api itu cepat, mengandung racun yang bisa melumpuhkan saraf. Untuk standar dunia luar, ini serangan Core Formation menengah yang lumayan.

Xu Hao tidak menghindar. Ia mengulurkan telapak tangannya, menangkis semburan api itu dengan gerakan memutar. Di telapaknya, hukum ruang mini terbentuk, memelintir dan memampatkan semburan api itu hingga padam menjadi percikan kecil sebelum menyentuhnya.

Ini adalah aplikasi sederhana dari pemahaman ruangnya, tetapi dilakukan dengan sangat halus, sehingga terlihat seperti sebuah teknik pertahanan khusus, bukan kekuatan yang mendalam.

Pengguna pedang menyambar dari samping, pedangnya bergetar menciptakan serangkaian ilusi pedang. Xu Hao hanya memiringkan badan, menghindari setiap tusukan dengan margin yang sangat tipis, seolah-olah ia benar-benar beruntung atau memiliki kemampuan membaca gerakan yang baik.

Setelah lima jurus, Xu Hao merasa sudah cukup. Kekuatan mereka biasa saja. Teknik mereka kaku. Mereka benar-benar hanya kultivator tunawisma level rendah.

Dengan gerakan tiba-tiba, ia menepuk lengan pengguna pedang itu tepat di persendiannya. Sebuah gelombang energi merambat, memutus aliran energinya. Pedang itu terjatuh. Xu Hao lalu menendang ringan ke perut si pemimpin, tepat di titik meridian. Si pemimpin terlempar ke belakang, terhuyung, lalu jatuh duduk, tidak bisa bergerak karena energi di tubuhnya kacau.

Semua terjadi dalam sepuluh napas. Sunyi, cepat, dan tanpa keributan besar.

Ketiganya kini tergeletak, ketakutan, melihat sosok yang mereka kira mangsa mudah tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa mereka ukur.

"Kami… kami salah, Tuan!" si pemimpin teriak, suaranya gemetar. "Ampuni nyawa kami! Kami hanya ingin bertahan hidup!"

Xu Hao berdiri di depan mereka, wajahnya tak terbaca. "Aku tanya. Jawab jujur."

"Apa… apa saja, Tuan!"

"Kalian kultivator tunawisma. Biasanya tinggal di mana? Bagaimana cara kalian bertahan?" tanya Xu Hao. Ia perlu memahami strata paling bawah dari dunia kultivasi di sini.

"Kami… kami punya perkemahan tersembunyi di gua sebelah timur. Biasanya kami ambil tugas dari kota pasar, buru monster tingkat rendah, kumpulkan bahan obat, atau… atau seperti tadi," jawab si pemimpin, malu.

"Apakah sering ada konflik dengan sekte-sekte?"

"Tidak berani, Tuan! Kami cuma serigala jagal, mengais sisa-sisa. Kecuali ada kesempatan sangat bagus, kami tidak ganggu murid sekte. Mereka punya latar belakang. Membunuh satu, bisa datangkan yang lebih kuat."

Xu Hao menganggak. Logikanya sama di mana-mana. "Kota pasar terdekat. Ceritakan."

"Itu Kota Pasar Lembah Angin. Dikuasai oleh Asosiasi Pedagang Bebas, tapi diam-diam dilindungi oleh Sekte Cahaya Bulan Sabit. Di sana kita bisa jual beli, terima tugas, dapat informasi. Juga ada penginapan dan tempat pelatihan untuk kita yang tidak punya sekte."

"Dan Sekte Gunung Jati? Apa kalian tahu sesuatu yang tidak diketahui umum tentang mereka?"

Si pemimpin berpikir keras. "Mereka… mereka tertutup. Tapi ada kabar, beberapa tahun lalu mereka terlibat konflik kecil dengan cabang lokal Klan Xu di kota besar sebelah. Masalah wilayah pertambangan Kristal Hukum kecil. Sekte Gunung Jati kalah dan harus menyerahkan sebagian wilayah. Sejak itu, mereka lebih tertutup dan mungkin… menyimpan dendam."

Xu Hao mencerna informasi itu. Konflik dengan Klan Xu. Itu menarik, dan mungkin bisa menjadi titik masuknya.

"Terima kasih," ucap Xu Hao. Dari dalam jubah, ia mengeluarkan tiga pil penyembuhan tingkat rendah. "Ini untuk luka-luka kalian. Jangan coba lagi merampok orang yang tidak kalian kenal. Suatu hari, kalian bisa bertemu yang tidak selembut aku."

Ia melemparkan pil itu, lalu berbalik, berjalan meninggalkan mereka yang masih tergeletak takjub dan bingung.

Sebelum menghilang dalam kegelapan, suaranya yang dingin kembali terdengar. "Dan lupakan wajahku. Jika ada yang menanyakan, katakan kalian diserang oleh bayangan."

Ia melangkah pergi, meninggalkan tiga perampok yang gemetar, menyadari betapa dekatnya mereka dengan kematian. Pelajaran pertama di Dataran Tengah berakhir. Xu Hao telah mengukur air, dan ternyata, di lapisan paling bawah, airnya tidak begitu dalam. Tapi ia tahu, semakin ia masuk, semakin dalam dan berbahaya samudera yang akan ia hadapi.

Dan di kedalaman samudera itu, naga-naga sejati dari Klan Xu sedang menunggu.

1
Sarip Hidayat
waaah jadi gitu
Dragon🐉 gate🐉
Mayan... dpt 2 jiwa lg...lanjuuuttt panen
Dragon🐉 gate🐉
lah, pantas paket gw gak Dateng",sejak kapan si Arif jd prajurit, ikut perang pula ?? 🤔 rif.. paket gw loe sangkutin di mana ?.. 😂
Dragon🐉 gate🐉: waduh... si Arif kang paket side jobnya ngeri,jd asasin🤣
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
Qingtian gege~/Kiss/🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉
woooaaaahhh..... 😎 Kereeennn.... mana nasi tumpeng sm bubur merah putihnya 🍚🎂
Dragon🐉 gate🐉: sipp, jangan lupa sambel goreng ati,sm kering ikan teri,krupuk udang 1 toples gede😂
total 2 replies
Agus Rose
ok.
up up up
YAKARO: Terimakasih bro🙏
total 3 replies
Dragon🐉 gate🐉
Thor... kl boleh gw ada saran nama buat si kadal biru.. Lan Long( naga biru) / Lan se shandian long (naga petir biru) itu versi serius kl versi lawaknya Aoman de xiyi( kadal sombong)🤣
Dragon🐉 gate🐉: manttaaafff👍
total 2 replies
qwenqen
mantap👍👍👍💪💪💪💪💪
OldMan
neng ratu calon bini juga kahh🤣🤣🤣
Agus Rose
Di tunggu up nya lagi,seperti kemarin yg banyak.
OldMan
mantapp bangetttt ..daratan tengah ini apakah pulau jawa🤣🤣🤣
YAKARO: Mungkin🤣
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
terjawab sudah ..👍
YAKARO: Mantap👍
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
loh... neng Sari nyasar kesini ternyata,pantesan di cariin di kios angkringan kok gak ada... Balik Neng, bahaya disini bukan tempatmu🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: aaiih... ngeri🤣
total 6 replies
OldMan
mantaap thorrr 💪💪💪💪
Dragon🐉 gate🐉
sekilas.. knp Xu Hao gak bunuh Bai Feng pdhl mampu, tp mungkin ada bbrp alasan, 1 biar gak ngebuka samaran di dpn anbu ratu Du Yan, 2 setiap anggota Klan pasti punya 'GpS' kl mereka mati biasanya bakal ketahuan siapa yg membunuh mereka🤔
YAKARO: itu bener banget, malah kalau keliatan semuanya jadi agak hambar/Hammer/
total 3 replies
OldMan
mataappp Thor ..mulai banteiii
Dragon🐉 gate🐉
sial!! mari kita mulai Pestanya....
Dragon🐉 gate🐉: /Toasted/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
yeeaayy... panen lagi kita,kali ini panen besar...😈
YAKARO: Gass srudukkk💪💪
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
aroma Rivalitas yg kental dr Mo Xin...🤔
YAKARO: Mungkin saja🧐
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
kau pun sama woy😂
Dragon🐉 gate🐉: anti dia🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!