NovelToon NovelToon
SISTEM TAJIR

SISTEM TAJIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Berondong
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Dimas dan ayahnya berjalan perlahan di sepanjang jalan kampus Universitas Indonesia. Langkah Dimas selalu satu di belakang ayahnya, sementara senyum kecil tak henti-hentinya terukir di wajahnya.

Siapa sangka di tahun 2034, ia pernah menjadi gelandangan di jalanan Yogyakarta. Mengemis demi sesuap nasi, tidur di emperan toko, hampir mati kedinginan di bawah rintik hujan. Tapi enam bulan lalu, sesuatu yang tak masuk akal terjadi: ia terbangun di masa lalu dalam tubuhnya sendiri, saat masih duduk di bangku SMA.

Awalnya, Dimas mengira itu mimpi. Namun ketika hari demi hari berlalu tanpa ia terbangun, ia sadar segalanya nyata. Ia menangis dua hari dua malam di pelukan keluarganya, berterima kasih pada Tuhan yang telah memberinya kesempatan kedua. Tapi ia tak berani menceritakan asal-usul “dirinya yang baru”. Ia tahu, kalau sampai mereka tahu ia berasal dari masa depan, mereka pasti menganggapnya gila.

Keluarganya hanya bisa heran melihat perubahan drastisnya. Dimas yang dulu malas, acuh, dan suka bolos, kini belajar tanpa kenal lelah. Ia tahu betapa berharganya waktu karena di kehidupan sebelumnya, ia telah kehilangan segalanya.

Selama enam bulan terakhir, Dimas belajar siang dan malam, dua belas hingga enam belas jam sehari. Setiap kali rasa kantuk datang, bayangan malam-malam di trotoar Malioboro selalu muncul: tubuh menggigil, perut lapar, dan rasa sesal yang tak pernah hilang. Ia juga teringat wajah ayahnya, Pak Roy, yang dulu menanggung hutang besar demi menolongnya… hanya untuk melihat anaknya hancur di depan mata.

Kini, segalanya akan berbeda.

Mereka berhenti di depan asrama mahasiswa UI. Dimas mendapat kamar pribadi di lantai dua, nomor tujuh. Ia duduk di tangga sambil menjaga tumpukan kardus, sementara Pak Roy mengurus dokumen dan mengambil kunci kamar di administrasi.

Dimas memperhatikan ayahnya dari kejauhan. Pria itu tampak lebih tua dari yang ia ingat keriput di wajahnya semakin dalam, namun sorot matanya tetap hangat. Dimas menunduk pelan, menahan haru. Setelah melihat bagaimana ayahnya dulu menangis setiap malam karena dirinya, kini ia bertekad akan membalas semua itu. Ia akan membuat pria itu tersenyum bahagia sampai akhir hayatnya.

Tak lama, Pak Roy datang membawa kunci. Bersama-sama mereka memindahkan kotak ke kamar sederhana berisi tempat tidur tunggal, meja belajar, rak buku, lemari kecil, dan kamar mandi di pojok.

“Wah… kampus negeri terbaik memang beda,” gumam Pak Roy sambil menatap sekeliling.

Dimas tersenyum. Ia tahu perjuangan panjang yang membawanya ke titik ini bukan hanya perjuangan belajar, tapi juga penebusan dosa masa lalu.

Saat waktu perpisahan tiba, Pak Roy menepuk bahu Dimas dengan tangan yang hangat dan kuat.

“Buat Ayah bangga, Nak,” ucapnya pelan namun tegas. “Kalau ada apa-apa, telepon Ayah. Jangan menyerah, ya. Belajarlah sungguh-sungguh.”

“Iya, Yah… terima kasih buat semuanya,” jawab Dimas, menahan air mata.

Pak Roy tersenyum, lalu melangkah pergi menuju Kijang lamanya yang diparkir di tepi jalan. Dimas berdiri diam di depan asrama, melambaikan tangan sampai mobil itu hilang di tikungan.

Saat keheningan kembali menyelimuti, Dimas menarik napas panjang dan menatap langit biru kampus UI.

Mulai sekarang, aku akan menulis ulang takdirku sendiri, batinnya mantap.

Dengan pengetahuan tentang masa depan yang masih ia simpan, ia yakin: kali ini, ia tak akan gagal.

--

Dulu, ia ditipu, dikhianati, dan kehilangan segalanya. Tapi sekarang, ia tahu langkah apa yang harus diambil. Setiap berita di portal daring yang sesuai dengan ingatannya hanya menegaskan satu hal: ini bukan mimpi. Ini kesempatan kedua.

Dimas tersenyum getir sambil menggeleng pelan. Ia mulai menata kamarnya: merapikan tempat tidur, menyusun buku-buku di rak, lalu menaruh satu foto keluarga di atas meja belajar.

“Kalau ini Dimas yang lama,” gumamnya kecil, “aku pasti udah keliling kampus, cari kafe atau lihat cewek fakultas sebelah.”

Tapi kali ini berbeda.

Ia duduk di kursi belajar, membuka tas, dan mengeluarkan buku tebal The Wealth of Nations karya Adam Smith. Bukan buku wajib kuliah, tapi baginya, buku itu simbol awal perubahan.

Ia membuka halaman pertama dan mulai membaca. Semangatnya membara, matanya menatap penuh fokus hingga tiba-tiba…

---

[Ding!! Sistem “Tajir” diaktifkan!!]

[Perhatian: Semua uang tunai akan dikenai pajak. Slip gaji akan diterbitkan.]

[Misi: Belajar selama 1 jam. Hadiah minimum: Rp10.000.000]

---

Dimas sontak menegakkan tubuh. Sebuah panel berwarna biru kehijauan muncul di udara, melayang tepat di depan wajahnya.

“Apa… apaan ini?” gumamnya kaget. Suara “ding” itu begitu nyata, seolah bergema di kepalanya sendiri.

Ia menatap layar transparan itu, antara heran dan tak percaya.

“Ini… sistem? Kayak di novel-novel web?” katanya terbata. Lalu ia tertawa kecil, gugup. “Haha, jadi semua waktu baca fantasy dulu nggak sia-sia juga, ya?”

Dengan hati-hati, ia berkata dalam pikirannya, Sistem, tutup.

Panel itu langsung menghilang.

Buka lagi.

Panel muncul kembali, menampilkan misi yang sama.

Dimas menarik napas panjang dan tersenyum lebar.

“Baiklah,” katanya dengan semangat membara. “Kalau begini caranya… aku akan ubah dunia ini!”

Namun sesaat kemudian, ia menggeleng sambil tertawa kecil.

“Tenang, Dim. Ingat umurmu empat puluh dua di kepala, jangan heboh kayak bocah.”

Ia kembali membaca dengan tekun. Waktu berjalan tanpa terasa. Setelah tiga jam lebih, ia membuka panel sistem lagi.

[Misi Selesai!!]

Nilai: A — Total waktu belajar: 3 jam 20 menit.

Hadiah: Rp30.000.000

Dimas membelalak. Di depan matanya, muncul tumpukan uang seratus ribuan yang berkilau seperti hologram. Perlahan, uang itu menurun dan menumpuk di atas meja belajarnya nyata.

Tangannya gemetar saat menyentuhnya. Kertasnya terasa, baunya pun khas uang baru. Di antara lembaran itu, ada selembar kertas putih:

Slip Pembayaran Gaji

Total Penghasilan: Rp30.000.000

Potongan Pajak: Rp6.000.000

Gaji Bersih Diterima: Rp24.000.000

Keterangan: Pajak telah mencakup kontribusi nasional, sosial, dan administratif sesuai ketentuan sistem.

1
Rai Rainadus
lanjutkan cerita nya sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!