NovelToon NovelToon
Rebut Saja Suamiku

Rebut Saja Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:71.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Kembali ke Masa Lalu

"Aku ingin setelah ini, kamu menjalani hidupmu dengan baik."

Kegelapan pekat yang baru saja menelan kesadaran Nadinta tiba-tiba pecah berantakan, digantikan oleh tarikan napas panjang yang menyakitkan.

"Hah!"

Nadinta tersentak bangun. Tubuhnya terduduk tegak di atas kasur yang empuk, seolah ada tangan tak kasat mata yang menariknya paksa dari dasar lautan hitam. Keringat dingin mengucur deras, membasahi punggung dan membuat piyama satin yang ia kenakan menempel tak nyaman di kulit.

Jantungnya berdegup gila-gilaan, memukul rongga dada dengan irama liar yang tak terkendali. Tangan Nadinta mencengkeram seprai dengan kuat, buku-buku jarinya memutih karena tenaga yang berlebihan.

Dia memejamkan mata sesaat, menunggu rasa sakit itu datang. Dia menunggu sensasi remuk di tulang punggungnya akibat benturan dengan lantai beton di tangga darurat rumah sakit. Dia menunggu rasa perih dari kulit yang terkelupas saat Arga melepaskan tangannya ke dalam jurang kematian.

Namun, rasa sakit itu tidak kunjung datang.

Perlahan, Nadinta memberanikan diri membuka matanya. Dia memindai sekeliling dengan tatapan liar dan tajam, napasnya masih memburu cepat.

Dia mencari dinding kusam rumah sakit yang catnya mengelupas atau selang infus yang menancap menyakitkan di punggung tangannya. Dia mencari wajah dingin Maya yang tersenyum penuh kemenangan saat melihatnya jatuh.

Tapi tidak ada satu pun dari hal mengerikan itu di sini.

Tidak ada bau obat-obatan atau aroma disinfektan yang menyengat tajam menusuk hidung. Tidak ada suara mesin monitor detak jantung yang berbunyi monoton.

Yang ada hanya aroma reed diffuser wangi white lily yang lembut dan menenangkan. Cahaya matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah tirai jendela apartemennya, menciptakan garis-garis cahaya di lantai parket kayu.

"Aku... hidup?" bisiknya lirih, bukan bertanya, tapi memastikan.

Suaranya terdengar jernih dan bulat. Itu bukan suara serak dan lemah milik orang yang sedang sekarat karena kanker stadium akhir.

Nadinta menunduk, menatap kedua tangannya yang gemetar di atas pangkuan. Kulitnya terlihat cerah, kencang, dan sehat. Kuku-kukunya terawat rapi dengan polesan kuteks warna peach yang mengkilap, bukan kuku pucat kebiruan yang rapuh.

Refleks, tangannya meraba kepalanya. Jemarinya menyusuri kulit kepala dan merasakan sesuatu yang membuatnya tertegun sejenak.

Rambut.

Rambutnya masih ada. Tebal, panjang, dan halus. Tidak botak dan licin akibat kemoterapi yang menyiksanya selama berbulan-bulan di kehidupan sebelumnya. Nadinta menarik sejumput rambut hitamnya ke depan wajah, mencium aromanya yang wangi sampo stroberi.

Dia hidup. Dia utuh. Ingatannya tentang kematian begitu nyata, sejelas darah yang mengalir di nadinya saat ini.

Dengan tangan yang masih gemetar karena sisa trauma, dia menyambar ponsel pintar yang tergeletak di atas nakas. Ponsel itu mulus, tanpa retakan di layarnya seperti ponsel lamanya.

Dia menekan tombol power. Layar menyala terang. Menampilkan beberapa bilah notifikasi; Tagihan Pay Later Kaca Mata Hitam atas nama Arga dan sebuah pesan dari Maya.

Maya

Baru sampe di Labuan Bajo, check! Adem banget, jauh beda sama Jakarta!

Nadinta tak begitu menghiraukan pesan itu. Tatapannya sedikit bergeser ke atas, di mana sebuah tulisan dengan ukuran lebih besar bertengger di layar.

Minggu, 12 Mei 2021.

Nadinta menatap tanggal itu tanpa berkedip. Ingatannya berputar cepat, mencocokkan data. Dia ingat, dia sempat bernapas dengan udara yang ada di tahun 2024. Kemudian pesan singkat Maya yang menyatakan bahwa dia sedang berada di Labuan Bajo, liburan selama beberapa hari, konon katanya hadiah dari undian sabun.

Itu tiga tahun yang lalu. Tiga tahun sebelum dia didiagnosis kanker. Tiga tahun sebelum Arga menjual rumah mereka. Tiga tahun sebelum dia dibunuh.

Mata Nadinta beralih cepat ke jari manis tangan kirinya. Dia mengangkat tangan itu, mendekatkannya ke wajah.

Kosong.

Tidak ada cincin pernikahan emas putih yang biasanya melingkar di sana. Tidak ada ikatan logam yang mencekik jari dan hidupnya selama dua tahun terakhir pernikahan neraka itu. Hanya ada sebuah cincin pertunangan sederhana bermata satu yang tersemat di jari tengah.

Sebuah realisasi menghantamnya, memberikan rasa lega yang nyaris membuatnya menangis: Dia belum menikah dengan Arga.

"Aku belum menikah..." Nadinta meraba jarinya, memastikan ketiadaan cincin pernikahan itu.

Air mata menetes di pipinya, tapi wajahnya tidak menunjukkan kebingungan. Wajahnya menunjukkan tekad. Dia tahu persis apa yang terjadi. Dia diberi kesempatan kedua.

Dia memeluk lututnya sendiri, menenangkan detak jantungnya. Dia tidak perlu mengurus perceraian. Dia tidak perlu membagi harta gono-gini. Dia bebas.

Namun, momen kebebasan itu terusik dengan kasar. Ponselnya bergetar panjang di atas kasur, memecah keheningan pagi.

Nadinta menatap layar ponsel yang menyala. Nama yang muncul di sana membuat darahnya mendidih seketika.

My Arga ❤️ is calling...

Emotikon hati berwarna merah di belakang nama itu terlihat seperti noda darah di mata Nadinta. Dulu, dia melihat nama ini dengan cinta. Sekarang, melihatnya saja membuat perutnya mual karena jijik.

Ingatan tentang tangan Arga yang melepaskannya di tangga darurat kembali muncul. Ingatan tentang tawa Arga saat membahas uang asuransi kematiannya berputar di kepala Nadinta.

Ini bukan mimpi. Laki-laki yang menelepon ini adalah pembunuhnya di masa depan.

Nadinta menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan kebencian yang meluap-luap. Dia tidak boleh gegabah. Dia tahu masa depan, dan itu adalah senjata terbesarnya. Jika dia meledak sekarang, Arga akan curiga dan memasang pertahanan.

Dia harus bermain peran. Dia harus menjadi Nadinta yang Arga kenal: Nadinta yang manis, penurut, dan bodoh.

Dengan tangan yang berusaha dia lemaskan, dia menggeser tombol hijau di layar ponsel.

"Halo?" sapanya. Dia berusaha keras membuat suaranya terdengar normal, meski terdengar kaku.

"Pagi, Sayang!" Suara Arga terdengar riang dan hangat dari seberang sana. "Kamu belum bangun ya? Suaranya masih serak gitu. Ih, kebo banget sih calon istriku."

Mendengar suara itu, tubuh Nadinta meremang. Dulu dia mengira nada bicara itu adalah kasih sayang. Sekarang dia tahu, itu adalah nada manipulasi.

"Aku... aku baru bangun, Mas," jawab Nadinta pelan. "Kepalaku pusing banget."

"Yah, kok sakit sih? Padahal hari ini jadwal kita padat lho," keluh Arga, nada suaranya menyiratkan kekecewaan egois. "Kita kan mau fitting baju prewed hari ini. Terus mau bayar vendor katering juga. Inget kan?"

Fitting. Uang.

Nadinta ingat. Hari ini adalah hari di mana dia seharusnya mentransfer sisa tabungannya untuk pelunasan vendor. Uang yang di masa lalu dia serahkan begitu saja karena cinta buta.

"Iya, aku ingat," kata Nadinta datar.

"Oke, tunggu ya. Aku bawakan bubur ayam kesukaan kamu biar ada tenaga. Jangan lama-lama dandannya, aku laper nih. Dompetku ketinggalan di mobil Ayah kemarin, jadi belum sarapan. Nanti kita makan bareng ya?"

Alasan klasik. Dompet ketinggalan. ATM rusak. Pola parasit yang sama. Nadinta ingin muntah, tapi dia menahannya.

"Iya, Mas. Tunggu ya," ucap Nadinta, lalu mematikan telepon sepihak.

Nadinta meletakkan ponselnya di kasur. Dia turun dari tempat tidur, kakinya menyentuh lantai dingin. Dia berjalan perlahan menuju lemari pakaian dua pintu yang menjulang di sudut kamar.

Di salah satu daun pintunya, terdapat cermin panjang yang memantulkan sosoknya secara utuh.

Nadinta berdiri diam di depan cermin itu. Dia menatap lurus ke arah pantulan dirinya sendiri.

Wanita di dalam cermin itu terlihat asing namun familiar. Kulitnya masih kencang dan merona, tanpa jejak pucat pasi penyakit yang menggerogotinya di masa depan. Rambutnya hitam legam, jatuh tebal membingkai wajah. Tubuhnya berisi, sehat, memancarkan energi kehidupan yang kuat.

Dia menyentuh lehernya sendiri, tempat di mana Arga akan mencekiknya secara mental di masa depan.

"Kamu hidup, Nadinta," bisiknya pada bayangan di kaca. "Dan kamu ingat semuanya."

Dia memutar tubuhnya sedikit. Tidak ada rasa sakit di punggungnya. Tapi rasa sakit di hatinya masih menganga lebar, menjadi pengingat yang abadi.

"Aku tidak akan membiarkan mereka menang lagi," sumpah Nadinta. Matanya yang dulu sendu kini berkilat tajam dan dingin. "Kali ini, aku yang memegang kendali."

Nadinta membuka pintu lemari dengan gerakan tegas. Deretan baju tergantung rapi. Tangan Nadinta melewati deretan dress bunga-bunga dan warna pastel—baju-baju "istri penurut" yang disukai Arga agar Nadinta terlihat lemah lembut.

Jarinya berhenti pada setelan yang lebih chic dan dewasa. Kemeja satin navy dan celana kulot putih berpotongan tegas. Dia butuh baju zirah, bukan kostum boneka.

Setengah jam kemudian, bel apartemen berbunyi. Nadinta sudah siap. Dia terlihat segar, namun ada dinding es yang tak kasat mata di sorot matanya.

Dia berjalan ke pintu, menarik napas panjang untuk menyiapkan mental menghadapi monster yang menyamar jadi pangeran itu.

Pintu terbuka.

Arga berdiri di sana. Dia mengenakan kaos polo biru dan celana jins, menenteng kantong plastik berisi bubur ayam. Dia terlihat tampan, segar, dan tidak berbahaya. Persis seperti pria yang dulu berhasil menipunya.

"Pagi!" sapa Arga ceria, senyumnya merekah lebar.

Tanpa peringatan, Arga melangkah maju. Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, hendak memeluk Nadinta erat sebagai sambutan pagi.

"Mas..." Nadinta tercekat.

Saat tubuh Arga mendekat, saat aroma parfum maskulin itu tercium, tubuh Nadinta bereaksi di luar kendali. Trauma kematian itu menghantamnya lagi. Bayangan tangan Arga yang mendorongnya di tangga darurat kembali muncul sejelas siang hari, tumpang tindih dengan realita di depannya.

Dia tidak bisa. Dia tidak bisa disentuh oleh pembunuhnya.

Secara refleks, Nadinta mengangkat kedua tangannya dan menahan dada Arga dengan keras. Dia mendorong Arga hingga pria itu terhuyung mundur selangkah.

Arga menatapnya kaget, tangannya menggantung di udara. "Loh? Kenapa, Yang? Kok didorong?"

Nadinta mundur, napasnya sedikit tersengal. Dia memegang lehernya sendiri, berusaha menutupi rasa jijiknya. Dia melihat kebingungan di mata Arga.

"Maaf..." Nadinta berbohong cepat, matanya bergerak gelisah. "Aku ... aku lagi nggak enak badan, Mas. Takut kamu ketularan. Kayaknya aku mau flu berat. Badan aku ngilu semua."

Wajah kaget Arga berubah menjadi khawatir—atau setidaknya terlihat khawatir. Dia meletakkan bubur di meja konsol, lalu mendekat lagi, tangannya terulur untuk menyentuh dahi Nadinta.

"Sakit? Badan kamu hangat nggak?"

Nadinta melihat tangan itu mendekat. Tangan yang sama yang membiarkannya jatuh. Dia mundur lagi dengan cepat, menghindari sentuhan itu seperti menghindari api.

"Jangan dipegang dulu, Mas," tolak Nadinta, suaranya tajam. "Aku lagi sensitif. Kulitku sakit kalau disentuh."

Arga menarik tangannya, wajahnya terlihat bingung dan sedikit kecewa.

"Ya ampun, sampai segitunya," ujar Arga sambil terkekeh canggung. "Ya udah, nggak apa-apa. Kamu duduk gih. Aku siapin buburnya."

Nadinta menghela napas lega saat Arga berbalik menuju dapur kecilnya. Dia butuh jarak. Dia butuh ruang untuk bernapas tanpa aroma pengkhianat itu.

Nadinta duduk di sofa tunggal, memeluk bantal erat-erat sebagai tameng. Dia mengamati Arga yang sedang menuang bubur ke mangkuk. Laki-laki itu terlihat begitu normal. Begitu perhatian.

"Nih, makan dulu biar ada tenaga," Arga meletakkan mangkuk di meja kopi, lalu duduk di sofa panjang di seberang Nadinta. Dia mengambil mangkuknya sendiri dan mulai makan dengan lahap.

"Aku makan sendiri saja, Mas. Makasih," ucap Nadinta kaku saat Arga hendak menyuapinya.

Sambil makan, Arga mengeluarkan ponselnya. Dia menyandarkan punggungnya ke sofa, terlihat santai seolah ini adalah hari Minggu biasa yang bahagia. Dia sibuk mengetik sesuatu sambil tersenyum-senyum sendiri.

"Oh iya, Yang. Nanti habis fitting, kita mampir ke mal sebentar ya? Aku mau liat sepatu. Sepatu kerjaku sudah jebol nih, malu kalau ketemu klien," ujar Arga tanpa menoleh, matanya terpaku pada layar.

Nadinta menatap Arga. Permintaan uang secara halus lagi.

"Boleh," jawab Nadinta singkat, sambil mengaduk buburnya yang terasa hambar.

Ting!

Ponsel Arga yang diletakkan di meja berbunyi nyaring. Sebuah pesan WhatsApp masuk. Layarnya menyala terang, menampilkan pop-up notifikasi yang jelas di tengah layar kunci.

Mata Nadinta melirik sekilas. Tajam dan penuh observasi.

Arga dengan gerakan yang sangat cepat—terlalu cepat dan refleks untuk seseorang yang hanya menerima pesan dari orang lain–menyambar ponselnya dan membalik layarnya ke bawah. Wajahnya sedikit tegang, senyumnya hilang sesaat.

"Siapa, Mas?" tanya Nadinta. Suaranya terdengar tenang.

"Oh, itu ... orang bengkel. Biasa, aku pesan sparepart mobil. Susah nyarinya, makanya dia kabari pagi-pagi," jawab Arga santai, lalu kembali tersenyum pada Nadinta seolah tidak terjadi apa-apa. "Enak buburnya?"

Nadinta menatap mata Arga. Dia melihat kebohongan yang terpancar jelas di sana. Kebohongan yang dulu selalu luput dari perhatiannya.

Di kehidupan lalu, dia pasti percaya begitu saja. Tapi sekarang, dia tahu Arga adalah pembohong.

Kenapa orang bengkel chat hari Minggu pagi? Kenapa membahas wangi? Dan kenapa Arga panik?

Nadinta tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya.

"Enak, Mas," jawab Nadinta.

"Baguslah," Arga kembali makan dengan tenang.

Nadinta menatap profil samping wajah Arga. Wajah yang terlihat lugu dan penuh cinta, namun menyimpan bangkai di balik senyumnya.

Nadinta mulai bertanya-tanya, apakah pengkhianatan itu bukan hanya terjadi di masa depan, saat dia sekarat? Pengkhianatan itu sudah terjadi sekarang. Di sini. Di depan hidungnya. Jauh sebelum hidupnya berada di ujung tanduk

"Mas," panggil Nadinta pelan.

"Hm?" Arga menoleh dengan mulut penuh bubur.

"Kamu sayang sama aku kan?"

Arga menelan buburnya, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Ya sayang banget lah, Nadin. Kalau nggak sayang, ngapain aku lamar kamu? Ngapain aku repot-repot fitting hari Minggu? Aneh banget pertanyaannya."

Nadinta mengangguk pelan. "Iya ya. Aneh."

Dia memutuskan untuk diam. Dia tidak akan bertanya lebih lanjut soal "Bambang Bengkel". Tidak sekarang. Dia akan mencari tahu sendiri. Dia akan membongkar kode busuk itu.

Dan jika benar itu kode perselingkuhan, maka Nadinta bersumpah, Arga akan membayar setiap detiknya dengan penderitaan.

1
Jing_Jing22
julid banget sih jadi orang terserahlah mau dia pake apa ke, toh tidak merugikan orang lain
Mingyu gf😘
definisi cowok tamak dalam segala hal
ginevra
semangat nandita, kamu pasti bisa ... kamu kan udah laluin ini semua ...
ginevra
mantap nandita, girl boss banget
ginevra
emang Maya itu kek lintah... semua semua aja pengen dimilikin...
Peri Cecilia-chan
yeyy, arga hemat wkwk
Peri Cecilia-chan
aku ikutan ngerasain kek mana tegangnya/Sweat/
Peri Cecilia-chan
sengaja banget wkwk, biar mereka makin deket
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
mantap Nandita hancurkan si cucurut itu 😌
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
lahh kok malah nyuruh manipulatif data 😅 mang dudul nihh olang
☕︎⃝❥Ƴ𝐀Ў𝔞 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪 🩷
berantakan kyk kapal pecahh 🤣 sesuai kepribadian busuk pemilik ruangan 😌
Ani Suryani
ya tentu harus cari duit
Wida_Ast Jcy
Waduh... bakalan miskin gak tu. atau betul-betul sudah jatuh miskin thor
chemistrynana
Iyah gimana sih mas, bukannya tau diri kamu/Facepalm//Facepalm/
chemistrynana
WHAT THE??? gak modal bet dah🤣🤣
PrettyDuck
udah dikasih hidup kedua, jangan dibuang gitu aja. bales semua sakit yg pernah mereka kasih dinnn.
PrettyDuck
gampang banget dijebaknyaa.
emang dasar gak kompeten, modal bakat jilat aja nih pasti rudi bisa jadi manager.
PrettyDuck
lau sendiri apa rud kalo bukan predator?
tuh hadapin yang lebih buas kalo berani /Chuckle/
MARDONI
KARINA 😭🤍 Sikap sopannya itu kuat banget. Aku ikut ngerasa sedih tapi kagum sama ketenangannya.
MARDONI
NAH INI 😭📅 Karina tipikal rekan kerja sigap.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!