Masih ingatkah kalian dengan pasangan fenomenal Satria dan Sarah?
Kini mereka sudah memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Arkana.
Ya, kehidupan Arkana tiba-tiba saja berubah 360° saat dia harus bertanggungjawab dan menikahi seorang gadis yang tidak di kenalnya sama sekali.
Lalu bagaimana kehidupan mereka, akankah Arkana bisa menjadi suami yang baik, atah malah sebaliknya.
Simak cerita mereka dan sebelum itu baca dulu cerita sebelumnya oke.
My Wife Is, My sugar mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
Setelah pergi bercerita dengan Hussain, Arkana semakin bimbang. Masih teringat jelas di ingatannya bagaimana laki-laki itu terlihat sangat kecewa padanya. Melihat reaksi Hussain yang kecewa padanya saja sudah membuat Arkana gundah. Lalu bagaimana dengan kedua orang tuanya nanti?
Sanggupkah dia melihat raut kecewa di wajah mereka? Terlebih papinya yang terlalu menjadi support sistem terbesar dalam hidupnya melebihi yang mami yang terkenal pelit dan kikir kalau kata manusia yang menguasai kota London itu. Teman baik papinya.
"Ah, mengingat wajah seram uncle Sky saja sudah membuat kepala ku berdenyut. Lalu bagaimana jika sampai dia mengetahuinya? sudah pasti dia ingin memenggal kepala ku nantinya!" umpat Arkana mengingat wajah menyeramkan milik teman baik papinya itu.
"Ya Allah, ampuni hambamu ini ya Allah..." Arkana kembali berteriak hingga membuat wanita cantik yang menjadi tahta tertinggi di rumah mereka datang.
Brak!
"Mami?" Arkana kaget melihat wanita itu datang.
"Kamu tau ini jam berapa?" tanya Sarah melihat putranya yang masih memakai pakaian kerjanya.
"Tau, mi." jawabnya dengan lesu. Karena jika sudah berhadapan langsung dengan maminya membuat nyali Arkana langsung menciut di buatnya.
"Lalu kenapa masih berteriak? Mami dan papi baru saja sampai di rumah dan sudah mendengar suara menyebalkan kamu itu. Sekarang pergi mandi dan tidur. Apa mami harus membantu kamu untuk mandi baru kamu mau mandi?" kedua bola mata Arkana membulat sempurna mendengar penuturan maminya.
Mana mungkin di usianya yang memasuki 27 tahun dia harus di mandikan oleh maminya.
"No!" jawabnya nolak.
"Kalau begitu pergi mandi sekarang ARKANA RADJASA WIDJAYA DININGRAT!" ucap Sarah dengan intonasi lebih tinggi hingga membuat putranya langsung berlari ke kamar mandi meninggalkan maminya.
Dia sudah takut jika wanita cantik itu sudah menyebut nama lengkapnya yang memakan banyak huruf itu. Bahkan masih teringat jelas di ingatannya bagaimana namanya dulu sering di singkat saat sekolah. Bahkan di seragamnya saja hanya Arkana R.W.D.
Entahlah, bagaimana bisa mereka memberikan nama yang begitu rumit untuknya. Kalau kata Hussain "The real nama panjang!"
Sedangkan Sarah hanya bisa menghela nafasnya dengan berat melihat sikap Arkana yang masih terlihat seperti kekanakan.
"Sayang, kenapa?" tanya Satria melihat istrinya yang berusaha mengatur nafasnya.
"Aku rasa kita benar-benar harus mengirimkannya ke London untuk hidup di lingkungan manusia sombong itu. Terbukti jika anak-anaknya disiplin dan tau aturan semua. Sedangkan Arkana? Ah, aku benar-benar pusing Satria!" keluh Sarah melihat sikap putranya yang seperti itu.
"Kamu mengakui kehebatan laki-laki yang sering kamu anggap sombong itu?" tanya Satria tersenyum sambil memeluk istrinya yang jauh lebih tua 6 tahun di atasnya.
"Dia memang sombong dan aku mengakui itu. Bukan hanya itu saja, tapi kehebatannya dalam mendidik keluarga dan anak-anaknya sangat luar biasa. Apa juta benar-benar harus mengirimnya kesana?" tanya Sarah lagi.
"Kalau kamu siap aku oke. Seharusnya sejak dulu kita kirim dia ke London, bukan ke Amerika. Tapi dulu kamu yang bersikeras untuk mengirim Arkana ke Amerika."
"Ah, sudahlah. Penyesalan memang datang belakangan."
"Jika di awal, itu namanya pendaftaran sayang." jawab Satria yang membuat Sarah hanya bisa mencebik kesal dengan suami mudanya yang tampan dan kaya raya itu.
"Ayo mandi! Malam ini akan ku tunjukan keluaran gaun tidur terbaru dari butik. Aku ingin kamu menilainya. Approve atau tidaknya tergantung kamu."
"Oh ya? Apa tema kali ini? Apa itu terinspirasi dari pertempuran kita lagi?" tanya Satria dengan wajah menggodanya pada Sarah.
"Sudah ayo cepat!" ajak Sarah yang membuat Satria tersenyum penuh kemenangan untuk itu.
***
next my