Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: PENUMPANG GELAP
BAB 2: PENUMPANG GELAP
Arga mematung. Tubuhnya kaku seperti semen yang mengeras. Hawa dingin yang luar biasa menjalar dari pinggangnya—tempat di mana tangan pucat wanita itu melingkar—terus naik hingga ke tengkuknya. Bau busuk, seperti daging yang dibiarkan membusuk di bawah terik matahari, menyeruak masuk ke hidungnya.
Wanita di belakangnya itu tidak bergerak. Ia hanya menempelkan kepalanya di bahu Arga. Arga bisa merasakan rambut panjang yang basah dan lengket menyentuh pipinya.
"Jangan menoleh... jangan menoleh..." bisik Arga pada dirinya sendiri. Suaranya bergetar, hampir tidak keluar.
Ia teringat aturan pertama: Jangan pernah melihat wajah penerima paket. Tapi masalahnya, sosok ini bukan penerima paket. Sosok ini adalah sesuatu yang "ikut" karena Arga hampir saja melanggar aturan ketiga.
“Kak... kenapa berhenti?” Suara Laras kembali terdengar dari dalam kotak kayu di depannya. Kali ini suaranya terdengar lebih tajam, seperti suara orang yang sedang menahan amarah. “Buka kotaknya, Kak. Laras mau keluar. Kakak nggak sayang sama Laras?”
Tangan pucat di pinggang Arga tiba-tiba bergerak. Kuku-kuku hitam yang panjang mulai menggaruk jaket kulit Arga, menimbulkan suara srek... srek... yang menyayat telinga.
"Pergi!" teriak Arga tiba-tiba.
Dengan tenaga yang tersisa, ia menghentakkan gas motornya sekuat tenaga. Mesin motor meraung, ban belakangnya berputar di tempat sebelum akhirnya meluncur cepat membelah kegelapan. Arga tidak peduli lagi dengan jalanan yang rusak. Ia hanya ingin lari.
Anehnya, motornya terasa sangat berat. Seolah ia sedang membonceng tiga orang dewasa sekaligus. Ban motornya kempes secara perlahan, tertekan beban yang tidak terlihat secara kasat mata.
Di tengah kecepatan itu, Arga melirik ke arah spion kiri. Sosok wanita itu masih di sana. Namun kini, wajahnya terlihat sedikit lebih jelas dari pantulan lampu motor yang berkedip. Kulit wajahnya mengelupas, dan matanya hanya berupa lubang hitam yang dalam. Wanita itu tidak bicara, tapi mulutnya yang robek hingga ke telinga tampak sedang menggumamkan doa-doa dalam bahasa yang tidak Arga mengerti.
"Astagfirullah! Pergi!" Arga memejamkan mata sesaat sambil terus memacu motornya.
Tiba-tiba, jalanan di depannya berakhir. Arga mengerem mendadak tepat di depan sebuah gerbang tua yang tertutup rapat. Ia sampai di alamat yang tertera di kertas.
Jalan Kamboja, Blok 13.
Tidak ada rumah di sana. Hanya ada sebuah lahan kosong yang dipenuhi pohon kamboja tua dengan bunga-bunga putih yang berserakan di tanah. Di tengah lahan itu, berdiri sebuah gubuk kayu kecil yang tampak reyot.
Begitu motor berhenti, beban di jok belakangnya hilang seketika. Hawa dingin yang melilit pinggangnya lenyap. Arga terengah-engah, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia segera melihat ke arah jok belakang. Kosong. Sosok itu hilang.
Namun, kotak kayu di depannya kini terdiam. Tidak ada suara Laras. Tidak ada ketukan. Suasana menjadi sunyi senyap—jenis sunyi yang justru lebih menakutkan daripada suara teriakan.
Arga turun dari motor dengan kaki yang lemas. Ia mengambil kotak kayu berselimut kain kafan itu. Beratnya kini berubah. Tadi terasa ringan seperti kotak sepatu, sekarang beratnya seperti membawa sebongkah batu besar.
Ia berjalan menuju gubuk tersebut. Setiap langkahnya membuat daun kering di bawah kakinya berderak. Bau kemenyan mulai tercium kuat.
Saat ia sampai di depan pintu gubuk, pintu itu terbuka sendiri sebelum Arga sempat mengetuk. Di dalam gubuk itu gelap gulita, hanya ada satu lilin kecil yang menyala di pojok ruangan.
"Paket..." suara Arga tercekat. "Saya antar paket."
Dari balik kegelapan, muncul sebuah tangan yang gemetar. Tangan itu sangat kurus, hanya tulang yang dibalut kulit keriput berwarna keunguan. Arga ingat aturan pertama: Jangan melihat wajah penerima.
Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lantai tanah yang dipenuhi taburan bunga melati. Ia menyodorkan kotak kayu itu dengan tangan gemetar.
Tangan misterius itu mengambil kotak tersebut. Saat ujung jari mereka bersentuhan, Arga merasa seperti tersengat listrik ribuan volt. Kepalanya tiba-tiba dipenuhi oleh kilasan memori: tabrakan mobil, suara rem yang menjerit, dan wajah adiknya, Laras, yang berlumuran darah sedang tersenyum padanya.
"Sudah... datang..." suara penerima paket itu terdengar seperti suara banyak orang yang bicara bersamaan.
"Tolong tanda tangani ini," Arga menyerahkan resi pengiriman tanpa berani mengangkat wajah.
Penerima itu tidak menandatangani kertasnya. Alih-alih, ia menjatuhkan sesuatu ke tangan Arga. Sesuatu yang dingin dan keras.
Sebuah koin emas kuno dengan lubang di tengahnya.
"Pergilah... sebelum 'dia' menyadari kau membawa aroma kehidupan di tempat ini," bisik suara itu.
Arga tidak perlu diperintah dua kali. Ia langsung berbalik dan berlari menuju motornya. Namun, saat ia menyalakan mesin motor, lampu depannya menyorot ke arah pohon kamboja besar di pinggir lahan.
Di atas dahan pohon itu, wanita bergaun putih tadi sedang duduk sambil mengayun-ayunkan kakinya. Ia memegang sebuah kotak kayu yang identik dengan yang baru saja Arga antar.
Wanita itu membuka kotak tersebut, dan dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah jantung manusia yang masih berdetak. Ia menatap Arga, lalu menggigit jantung itu sambil tersenyum lebar.
Arga memutar motornya dan tancap gas. Ia tidak peduli lagi dengan jalanan. Di kepalanya hanya ada satu pikiran: Siapa sebenarnya yang baru saja ia beri paket? Dan apa isi kotak yang dimakan wanita itu?
Saat ia sampai di jalan raya yang terang, Arga meraba saku jaketnya untuk mengambil HP. Namun, bukan HP yang ia temukan.
Di dalam sakunya, ada secarik kertas baru yang entah kapan masuk ke sana. Tulisan di kertas itu berwarna merah darah:
"PAKET SELANJUTNYA: RUMAH SAKIT HARAPAN, KAMAR 304. PENERIMA: IBU KANDUNGMU."
Arga mengerem motornya dengan kasar. Kamar 304 adalah kamar tempat ibunya dirawat sekarang.