NovelToon NovelToon
Nightshade

Nightshade

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Komedi
Popularitas:490
Nilai: 5
Nama Author: Bisquit D Kairifz

Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.

Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”

Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.


PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa-apaan ini!

CHAPTER 2

Pagi itu cerah.

Burung-burung beterbangan rendah, embun masih menggantung di ujung daun, udara sejuk menyusup lewat jendela kamar Shun yang baru saja terbuka.

“Selamat pagi, DUNIA!!”

Teriakan Shun menggema dari dalam kamar, penuh energi khasnya.

Ia segera menuju dapur untuk sarapan.

Setelah perut terisi dan semangat kembali penuh, ibunya memanggil dengan suara lembut yang selalu sama sejak Shun kecil.

“Shun, hari ini kamu bantu ayah menanam padi, ya.”

Shun mengangguk mantap.

“Baik! Serahkan padaku!”

Dalam perjalanan menuju sawah, langkah Shun ringan.

Namun pikirannya melayang pada obrolannya dengan Sayu kemarin—tentang monster yang menyerang desa kecil di wilayah lain.

“Monster itu… sudah diurus Justice belum, ya?” gumamnya pelan.

Justice.

Organisasi yang terkenal karena melindungi manusia dari ancaman monster.

Shun memejamkan mata sebentar, lalu tertawa kecil.

“Ah, nggak usah dipikirin. Justice itu kuat!”

Beberapa warga desa meliriknya sekilas, tapi tak ada yang heran. Shun memang dikenal ceria—bahkan sedikit terlalu ceria.

Tak lama kemudian ia tiba di sawah.

Ayahnya sedang berdiri, mengamati lahan dengan tangan di pinggang.

“Ayah!” Shun melambaikan tangan.

“Oh, Shun.” Ayahnya membalas lambaian itu.

Mereka saling mendekat. Shun mengatakan bahwa hari ini ia akan membantu sepenuhnya.

Setelah berbincang singkat, mereka mulai menanam padi.

Beberapa saat kemudian, Paman Jiro datang.

Karena sedang tidak ada pekerjaan, ia ikut membantu.

Saat mereka menanam, sesuatu merayap mendekati Shun.

Panjang.

Licin.

Mengerikan.

Ular.

Makhluk itu bergerak perlahan, sangat dekat dengan kaki Shun.

“Tumbuhlah… tumbuhlah…” Shun bergumam sambil fokus, lalu menoleh ke bawah.

“U–u–ularrr!!”

Shun melompat kaget dan berlari ke pematang.

“Ayah! Paman! Ada ular!”

“Di mana?” ayahnya menyahut.

Paman Jiro lebih dulu menemukannya.

“Eh? Hei, Shun. Ini ular nggak berbisa,” katanya santai sambil memegang tubuh ular itu. “Aman kok.”

Namun detik berikutnya—Ular itu menggigit tangan Paman Jiro.

“P-paman… itu tanganmu!” Shun menunjuk dengan wajah pucat.

“Jiro, lihat tanganmu,” kata ayah Shun.

Paman Jiro menoleh.

“Eh… AAAAA! Lepas! Lepaskan!”

Ia mengayunkan tangannya panik. Ular itu terlepas dan kabur ke semak.

Tangan Paman Jiro segera diobati dan dibalut perban seadanya.

Setelah situasi tenang, mereka kembali menanam padi.

Siang hari tiba.

Ibu Shun datang mengantar bekal.

“Wah, semangat sekali,” ucapnya dengan senyum lembut.

“Woah, ibu!” Shun menyambutnya ceria.

“Bekalnya sudah sampai. Ayo istirahat dulu.”

Mereka duduk di bawah naungan. Saat bekal dibuka, aroma masakan ibu langsung menyebar—minyak, kuah, dan bumbu yang akrab dan hangat.

Tanpa banyak bicara, mereka makan dengan lahap.

Setelah membereskan bekal, mereka kembali ke sawah.

Pukul 15.00.

Ayah Shun pulang lebih dulu karena ada urusan. Shun dan Paman Jiro melanjutkan pekerjaan.

Pukul 16.00.

Hari semakin sore.

Saat itulah Shun melihat seseorang berdiri agak jauh—seorang asing dengan jubah hitam bertudung, menutupi kepala dan wajah.

Firasat tidak enak menyelinap, tapi Shun mengabaikannya.

“Mungkin cuma orang yang mau nanya jalan,” pikirnya.

Pukul 16.35.

Mereka beristirahat sejenak.

“Capek juga,” Paman Jiro menghela napas. “Kalau pakai Ten, pasti sudah selesai dari tadi.”

“Ten lagi?” Shun menatapnya. “Emangnya paman pernah pakai Ten?”

“Hah? Kok tiba-tiba?”

“Penasaran aja. Dari kemarin paman nyebut Ten terus. Paman tahu dari siapa?”

“Hmmm… kalau pakai, paman nggak bisa,” katanya sambil tersenyum. “Tapi paman tahu dari teman paman di kota.”

“Hee~ paman punya teman?”

“Hah! Ya punya lah!” Paman Jiro tertawa. “Lagian, lawan monster mana bisa tanpa Ten?”

“Pakai senjata api,” jawab Shun santai sambil bersiul.

Mereka beradu argumen kecil sambil tertawa, lalu kembali bekerja karena tinggal sedikit lagi.

Pukul 16.50.

Pekerjaan selesai. Mereka berkemas dan pulang ke rumah masing-masing.

Di tengah jalan, Shun memetik beberapa bunga liar.

Dengan teliti ia merangkainya menjadi gelang sederhana.

Ia tersenyum sendiri.“Buat Sayu.”

Seolah dipanggil takdir, Sayu muncul tak lama kemudian.

Shun menegang, menarik napas, dan memaksakan wajah setenang mungkin.

“S-sayu… h-halo,” katanya dengan senyum kaku.

“Shun?” Sayu menoleh. “Kenapa?”

Imut sekalii… batin Shun.

“I-i-ini… g-gelang buat kamu.”

Ia menyodorkan gelang bunga itu.

“Wah…” Sayu menerimanya. “Cantik sekali.”

Ia langsung memakainya.

“Ini boleh buat aku?”

“T-tentu!” Shun mengangguk cepat. “Kubuat khusus untukmu.”

“Terima kasih, Shun.” dengan senyuman manis

Imutttt…

Pikiran Shun hampir meleleh.

Setelah berpamitan, Shun pulang dengan langkah ringan dan hati penuh.

Pukul 17.25.

Saat sampai di depan rumah, tangan Shun terhenti di gagang pintu.

Ia mencium sesuatu.

Bau masakan?

Bukan.

Bau darah.

Iya.

Tangan Shun gemetar. Wajahnya pucat.

Ia menahan diri, menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan.

Diulanginya beberapa kali hingga dadanya terasa sedikit lega.

Lalu pintu dibuka.

Di dalam rumah ada tiga orang.

Ayah.

Ibu.

Dan seorang asing berjubah hitam bertudung.

Namun ada yang salah.

Ayah dan ibu Shun tergeletak tak bernyawa.

Napas Shun kacau. Dunia terasa runtuh.

Ia maju dan mencoba memukul orang asing itu.

Namun satu gerakan ringan sudah cukup—Shun terjatuh.

Tubuhnya menghantam lantai, tepat di atas tubuh ayah dan ibunya. Darah membasahi pakaian Shun.

Bukan darahnya.

Ia menangis.

Tak lama, seorang warga desa datang.

“Apa-apaan ini?!”

Warga itu terkejut. “Shun! Kau… kau membunuh orang tuamu sendiri!”

“A-aku tidak—! Ada orang asing—!”

“Diam, dasar pembunuh!”

Warga lain berdatangan.

Shun ditahan.

Polisi dipanggil.

Tak lama polisi datang, karena jarak desa dengan kota lumayan dekat polisi datang cukup cepat.

Di antara kerumunan, Shun melihat Sayu.

Tatapannya dingin.

Kecewa.

Gelang bunga itu jatuh dari tangan Sayu dan terinjak di tanah.

Shun tak mampu berkata apa-apa.

Saat pintu mobil polisi hampir tertutup, Shun melihat Paman

Jiro berdiri di kejauhan.

Tatapannya tajam.

Bukan marah.

Bukan kecewa.

Tatapan itu seperti rintangan—awal dari jalan panjang setelah Shun kehilangan segalanya.

Pintu tertutup.

Mobil polisi melaju menuju kota.

...----------------...

...Di sisi lain....

Seseorang menyaksikan semua itu dari jauh.

Ia tersenyum tipis.

Baginya, tragedi itu hanyalah sebuah pertunjukan—

film yang diputar khusus untuk satu penonton saja.

1
Panda
kak itu ngasih tag komedi bikin sendiri?
Bisquit Kairifz: ada kok dibagian bawah klo ga salah
total 1 replies
boyy
semngatt thorr,gw lagi nabung crta lu,poko ny ku lnjutt truss smpe nanti crta lu rmee,jngn ptah smngattt torr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!