Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Malam harinya, Jakarta yang gemerlap menyembunyikan sisi lain di balik gedung-gedung pencakar langitnya. Sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan yang tampak terbengkalai dari luar sebenarnya adalah fasilitas teknologi tingkat tinggi.
Naura Amira tiba dengan motor sport hitam tanpa plat nomor. Begitu turun, ia melepas helmnya, membiarkan rambutnya tergerai bebas. Tidak ada lagi kuncir kuda yang lucu, tidak ada lagi senyum manis yang "melelehkan es". Tatapan matanya kini sedingin es itu sendiri, tajam dan penuh perhitungan.
Ia mengenakan tactical jumpsuit serba hitam yang melekat pas di tubuhnya, lengkap dengan berbagai peralatan spionase yang terselubung rapi.
Begitu pintu baja markas terbuka melalui pemindaian retina, Naura melangkah masuk dengan wibawa yang sangat kontras dengan sosoknya di sekolah. Beberapa orang agen lapangan langsung berdiri tegak memberikan hormat.
"Lapor, Agen Codenamed 'Hummingbird'. Data struktur bangunan SMA Pelita Bangsa sudah siap di meja utama," lapor seorang teknisi.
Naura tidak menjawab dengan kata-kata manis. Ia hanya mengangguk singkat dan berjalan menuju layar monitor raksasa yang menampilkan denah 3D sekolah tersebut.
"Hapus semua rekaman CCTV di koridor kelas XI-A dalam rentang waktu jam 10 hingga 11 pagi tadi," perintah Naura, suaranya kini rendah, tegas, dan tanpa emosi. "Ada satu variabel yang mengganggu."
"Variabel apa, Ma'am?"
Naura terdiam sejenak, membayangkan wajah Arkan yang kaku. "Muhammad Arkan. Cari tahu silsilah keluarganya sampai tiga generasi ke belakang. Dia bukan sekadar anak orang kaya. Dia memetakan jalur ventilasi gedung barat di buku sketsanya. Dia punya kemampuan observasi level expert."
Naura duduk di kursi kebesarannya, menyalakan sebatang tablet digital. Ia memeriksa kembali tugas utamanya mencari hard drive berisi data transaksi gelap Keluarga Abraham yang disembunyikan di bunker bawah tanah sekolah tersebut.
"Gue hampir terjebak di mode 'anak SMA' kalau Arkan nggak memancing gue tadi siang," gumam Naura pada dirinya sendiri. Ia menatap pantulan dirinya di layar monitor.
"Nadira sudah masuk ke dalam jaring. Besok, aku akan mulai bergerak ke area basemen."
Salah satu asistennya mendekat, "Tapi Naura, jika Arkan benar-benar seorang profesional dari faksi lain, dia akan menjadi penghalang terbesar Anda."
Naura menyeringai tipis, sebuah seringai yang akan membuat siapapun di SMA Pelita Bangsa merasa merinding jika melihatnya.
"Atau," ucap Naura sambil memasang sarung tangan hitamnya, "dia bisa jadi hiburan yang menarik sebelum aku menghancurkan tempat itu. Kirim tim pemantau ke rumah Arkan. Aku ingin tahu apa yang dia kerjakan di jam-jam ini. Kalau dia 'pemain' juga, kita harus tahu siapa yang mempekerjakannya."
......................
Langkah kaki Arkan bergema di lorong beton markasnya yang tersembunyi di balik sebuah bengkel restorasi mobil mewah. Jika Naura bergerak di bawah bayang-bayang teknologi spionase, Arkan bergerak dalam dunia yang lebih maskulin, taktis, dan penuh dengan aroma mesiu serta oli.
Begitu pintu hidrolik terbuka, suasana sibuk langsung menyambutnya. Beberapa pria berbadan tegap yang sedang memeriksa persenjataan otomatis langsung berdiri sigap. Di tengah ruangan, seorang pria dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku tampak sedang menatap deretan layar monitor.
Pria itu adalah Najam. Dia menoleh dan melemparkan sebuah botol air mineral yang langsung ditangkap Arkan dengan satu tangan.
"Kau terlambat dua jam dari jadwal evaluasi, Arkan. Ada masalah di sekolah?" tanya Najam dengan nada santai namun penuh selidik.
Arkan melepas jaket kulitnya, memperlihatkan kaos hitam ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang atletis. Ia duduk di kursi kendali tepat di samping Najam. "Hanya sedikit 'observasi' lapangan. Ada siswi baru yang menarik perhatianku."
Najam terkekeh "Seorang Arkan tertarik pada gadis SMA? Itu berita baru. Biasanya kau hanya peduli pada kaliber peluru dan rute pelarian."
Arkan terdiam sejenak, matanya menatap tajam ke arah denah SMA Pelita Bangsa yang juga terpampang di layarnya. "Dia bukan siswi biasa, Najam. Gerakannya terlalu terukur untuk ukuran anak rumahan. Aku curiga ada faksi lain yang mengincar hard drive Keluarga Abraham itu."
Najam menghela napas, wajahnya berubah serius. "Siapapun dia, jangan sampai dia mengganggu misi kita. Kita butuh data itu untuk menjatuhkan Abraham. Dan ingat, aku melakukan ini juga untuk menjamin keamanan keluargaku. Aku tidak ingin adikku, harus merasakan kerasnya dunia kita."
Arkan melirik Najam sekilas. Ia tahu betapa Najam sangat menyayangi adiknya, meski Najam harus berbohong dan mengaku bekerja sebagai konsultan konstruksi di luar kota demi menyembunyikan identitas aslinya sebagai tangan kanan pimpinan organisasi tentara bayaran ini.
"Adikmu tetap aman di sana, Najam. Dia tidak akan tahu apa-apa," ucap Arkan datar, meski dalam hatinya ia mulai meragukan sosok Naura yang ia temui tadi siang.
"Najam, siapkan tim peretas untuk masuk ke server sekolah besok pagi," perintah Arkan sambil menyalakan tabletnya. "Aku menemukan sesuatu di ventilasi gedung barat. Seseorang sudah memasang sensor gerak di sana."
Najam mengerutkan kening. "Sensor? Secepat itu? Siapa?"
"Itu yang akan kita cari tahu," jawab Arkan dingin. "Dan satu lagi... cari informasi tentang latar belakang siswi bernama Naura Amira. Aku merasa ada yang tidak beres dengan data profilnya di sekolah."
"Naura Amira? Itu nama yang pasaran, Arkan. Kenapa kau curiga padanya?"
"Hanya insting," jawab Arkan singkat tanpa melepaskan pandangannya dari layar.
......................
Malam itu, Naura sengaja berjalan kaki melewati gang sempit di dekat area perumahannya untuk memantau rute pelarian darurat. Namun, langkahnya terhenti saat tiga orang pria dengan aroma alkohol menyengat menghadang jalannya.
"Wah, ada gadis manis sendirian malam-malam begini," goda salah satu preman sambil mencoba menyentuh dagu Naura.
Tangan Naura terkepal kuat di dalam saku jaketnya. Secara insting, ia sudah memetakan titik saraf di leher pria itu, satu serangan telapak tangan saja bisa membuat pria ini pingsan dalam hitungan detik. Namun, ia menahan diri. Ia melihat ada kamera CCTV toko di sudut gang. Jika ia menunjukkan kemampuan bela diri tingkat tinggi, penyamarannya sebagai siswi SMA biasa akan hancur malam ini juga.
"Tolong... biarkan saya lewat," ucap Naura, memalsukan nada suara gemetar. Ia sengaja sedikit menunduk, menyembunyikan tatapan matanya yang sebenarnya sangat tajam dan berbahaya.
"Serahkan dulu tasmu, atau ikut kami main sebentar!" Preman lainnya menarik paksa bahu Naura.
Naura sudah hampir kehilangan kesabaran. Ia sudah bersiap melakukan gerakan self-defense minimalis yang tidak mencolok, ketika tiba-tiba ia mendengar langkah kaki berat yang mendekat. Dari kejauhan, ia melihat siluet seseorang.
Apakah itu anak-anak dari SMA Pelita Bangsa? pikir Naura. Ia berharap itu adalah kelompok siswa populer yang sering sok pahlawan, agar ia bisa pura-pura diselamatkan dan tetap aman dalam perannya.
Bugh!
Satu pukulan mentah menghantam rahang preman yang memegang bahu Naura. Pria itu tersungkur tanpa sempat mengaduh.
Naura mendongak, matanya membelalak. Bukan rombongan siswa populer yang ia lihat, melainkan Arkan. Pria itu berdiri di sana dengan sorot mata yang jauh lebih mengerikan daripada para preman tadi. Ia hanya mengenakan kaos hitam polos yang membungkus otot lengannya, tampak sangat berbeda dari seragam sekolahnya yang rapi.
"Pergi. Sebelum aku mematahkan tulang yang lain," ucap Arkan dengan suara rendah yang sangat dingin.
Melihat kawan mereka tumbang hanya dengan satu serangan, dua preman lainnya segera lari kocar-kacir. Suasana gang kembali sunyi, menyisakan ketegangan antara Naura dan Arkan.
Arkan berbalik, menatap Naura dari atas ke bawah. Ia melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka hingga Naura bisa merasakan aura dominan pria itu.
"Apa yang dilakukan gadis 'lemah' sepertimu di tempat seperti ini pada jam satu malam?" tanya Arkan, ada nada sindiran di balik suaranya yang tenang.
Naura dengan cepat mengatur napasnya, kembali ke mode siswi SMA yang ketakutan. "gue... gue hanya ingin mencari makan malam. Terima kasih sudah menolong, Arkan."
Arkan tidak menjawab. Ia justru meraih tangan Naura yang masih terkepal di dalam saku. Ia menariknya pelan, melihat buku jari Naura yang memutih. "Kau gemetar karena takut, atau karena sedang menahan diri agar tidak memukul mereka sendiri, Naura?"
Pertanyaan itu membuat jantung Naura berdegap kencang. Apakah dia tahu sesuatu?