“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan balak
“Bertindak? Bertindak apa, Eyang? Membakar kemenyan lebih banyak sampai satu kompleks ini bau dupa? Atau kita harus cari ayam cemani buat jadi tumbal di gerbang tol terdekat?” balas Radya, sinisme menetes dari setiap katanya. Ia melipat tangan di dada, postur defensif yang berusaha menyembunyikan getar halus di tangannya.
Eyang Putra tidak bergeming. Tatapannya tetap lurus, menembus lapisan arogansi cucunya.
“Cangkemmu, Dya. Dijaga.” Suaranya rendah, tanpa emosi, tetapi mengandung bobot yang membuat udara di paviliun terasa lebih berat.
“Kau pikir ini lelucon? Guyonan?”
“Aku tidak tahu harus berpikir apa lagi, Eyang! Aku datang ke sini mencari ketenangan setelah mobilku ringsek, dan Eyang malah menyambutku dengan ramalan kiamat. Ini tidak membantu!” Radya mengusap wajahnya dengan kasar.
“Dengar, Eyang. Semuanya ada penjelasannya. Proyek yang gagal itu karena analisis pasar Ayunda meleset. Server yang jebol itu murni human error dari tim IT. Kontainer yang jatuh ke laut itu force majeure, badai siklon yang sudah diramalkan BMKG. Dan yang barusan… rem truk blong! Semua logis! Tidak ada hubungannya dengan weton atau panggilan semesta!”
“Kau memegang erat logikamu seperti orang tenggelam memegang sebatang ranting, Dya. Kau tidak sadar arus di bawahmu jauh lebih deras,” sahut Eyang, suaranya seperti gemerisik.
“Tiga kali. Semesta memberimu tiga tanda. Dalam hitungan Jawa, tiga adalah angka penegasan. Peringatan pertama kau abaikan. Peringatan kedua kau tertawakan. Peringatan ketiga nyaris merenggut nyawamu. Kau mau menunggu peringatan keempat yang seperti apa?”
“Aku tidak mau menunggu apa-apa!” sentak Radya, suaranya meninggi.
“Aku mau Eyang berhenti bicara seolah-olah hidupku ini skenario film horor murahan! Ini tahun 2024! Kita punya kecerdasan buatan, data analitik, satelit! Kenapa kita masih membahas primbon seolah itu kitab suci?”
“Karena satelitmu tidak bisa melihat garis takdir, dan datamu tidak bisa menghitung kapan ajal menjemput.” Eyang melangkah perlahan ke sebuah meja kayu kecil di sudut ruangan. Tangannya yang keriput membuka laci, mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit yang sudah usang. Kitab Primbon warisan keluarga.
“Kau lahir pada Selasa Kliwon. Anggoro Kasih. Hari dengan kekuatan spiritual yang besar, sekaligus kerentanan yang sama besarnya.”
Radya mendengus.
“Oh, bagus. Sekarang kita masuk ke sesi zodiak versi Jawa.”
Eyang meletakkan kitab itu di atas meja dengan sebuah bunyi debuk pelan yang seolah menggema di keheningan paviliun. Ia tidak memandang Radya, jemarinya menelusuri aksara Jawa kuno di halaman yang terbuka.
“Garis wetonmu, sejak purnama terakhir, sudah memasuki lintasan maut.”
Satu kata itu maut terucap dengan begitu tenang, begitu faktual, hingga membuat bulu kuduk Radya meremang. Ia menelan ludah, berusaha menjaga topeng ketidakpeduliannya.
“Lintasan maut? Apa itu? Semacam jalan tol spiritual menuju neraka?”
“Teruslah bercanda, Dya. Mungkin itu bisa membuatmu merasa lebih baik untuk sesaat,” kata Eyang dingin, akhirnya mengangkat wajahnya. Sorot matanya kini tidak lagi tajam, melainkan dipenuhi sejenis duka yang dalam.
“Lintasan maut adalah siklus di mana energi negatif semesta terfokus pada satu garis weton. Menarik semua kesialan, bencana, dan marabahaya. Puncaknya adalah penjemputan paksa. Kematian.”
Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka. Aroma dupa cendana yang tadi terasa menenangkan kini berbau seperti wangi di rumah duka.
“Ini… ini gila. Eyang benar-benar sudah…” Radya tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Ada bagian dari dirinya yang ingin tertawa terbahak-bahak, tetapi bagian lain yang diam, yang tersembunyi di balik gelar CEO dan pendidikan baratnya, merasakan getaran ketakutan yang dingin.
“Aku sudah menghitungnya berulang kali,” lanjut Eyang, mengabaikan keterkejutan cucunya.
“Menggunakan tanggal lahirmu, jam kelahiranmu, bahkan tanggal saat ibumu pertama kali mengandungmu. Hasilnya tidak pernah berubah. Puncak dari lintasan ini akan terjadi sebelum usiamu genap dua puluh delapan tahun. Sebelum bulan Suro tahun depan.” Eyang berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya meresap.
“Garis hidupmu akan putus, Radya.”
“Cukup!” teriak Radya, suaranya pecah. Ia menunjuk Eyang dengan jari gemetar.
“Eyang mengancamku! Eyang menggunakan takhayul ini untuk menakut-nakutiku!”
“Aku tidak menakutimu. Aku memberimu kebenaran yang tidak ingin kau dengar,” balas Eyang, suaranya kembali menajam.
“Satu-satunya cara untuk membelokkan lintasan ini adalah dengan menambalnya. Menyeimbangkannya dengan energi yang berlawanan. Sebuah penolak balak yang kekuatannya setara dengan daya tarik maut yang sedang mengincarmu.”
Radya terdiam, napasnya tersengal. Amarahnya terkuras habis, menyisakan kekosongan yang diisi oleh ketakutan. Ia menatap kakeknya, pria tua yang selama ini ia anggap sebagai relik masa lalu, dan untuk pertama kalinya melihat sosok yang memegang kunci hidup dan matinya.
“Apa… apa penolaknya?” bisik Radya, kata-kata itu keluar dari bibirnya tanpa ia sadari. Sebuah penyerahan diri.
Eyang tidak langsung menjawab. Ia kembali meraih sesuatu dari dalam laci. Bukan buku, melainkan selembar kertas gambar yang sedikit menguning. Ia membentangkannya di atas meja, di samping kitab primbon yang terbuka.
Itu adalah sebuah sketsa wajah. Goresan arang yang sederhana namun hidup. Wajah seorang perempuan muda, dengan mata yang jernih dan sorot yang teduh, tetapi menyimpan sebersit kekuatan di dalamnya. Rambutnya panjang tergerai, dan ada seulas senyum tipis yang misterius di bibirnya.
Radya melangkah mendekat, matanya terpaku pada gambar itu.
“Siapa ini?” tanyanya, suaranya serak.
“Apa Eyang menyewa pelukis atau semacamnya?”
“Namanya Raras Inten,” jawab Eyang pelan.
“Aku tidak pernah bertemu dengannya. Wajah ini datang dalam penerawanganku.”
“Raras Inten?” Radya mengernyit. Nama yang terdengar begitu… ndeso.
“Lalu kenapa dengan dia? Dia dukun? Atau paranormal yang bisa Eyang sewa untuk melakukan ritual pengusiran setan?”
“Dia lebih dari itu,” kata Eyang.
“Dia adalah anomali. Permata yang tersembunyi. Dia terlahir dengan weton yang sangat langka, weton yang hanya muncul sekali dalam seratus tahun. Weton Inten. Energi murni pelindung yang mampu menetralkan kutukan apa pun.”
Radya menatap sketsa itu, lalu beralih menatap Eyang. Logikanya kembali berteriak, berusaha mengambil alih.
“Baik! Oke! Aku akan bermain sesuai aturan Eyang kali ini!” serunya, nadanya terdengar putus asa.
“Aku akan cari perempuan ini! Katakan di mana dia berada! Berapa yang dia minta? Seratus juta? Satu miliar? Akan aku bayar lunas agar dia mau melakukan ritual apa pun yang Eyang mau! Akan aku berikan semua yang dia inginkan!”
Eyang Putra menatap cucunya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada belas kasihan, tetapi juga ketegasan yang tak bisa ditawar. Ia menggeleng pelan.
“Ini bukan tentang uang, Dya. Takdir tidak bisa dibeli.”
“LALU APA?!” bentak Radya, frustrasinya mencapai puncak.
“APA YANG HARUS AKU LAKUKAN DENGAN PEREMPUAN INI?! KATAKAN!”
Eyang menatap lurus ke mata Radya, sorotnya menusuk hingga ke dasar jiwa. Asap dupa terakhir dari anglo menipis, seolah menahan napas untuk jawaban yang akan datang.
“Kau harus menyatukan takdirmu dengannya. Mengikat wetonmu pada wetonnya.”
Radya membeku, otaknya mencoba mencerna kalimat itu.
“Mengikat? Maksud Eyang…?”
Eyang Putra menarik napas dalam-dalam, lalu mengucapkan dekretnya dengan suara yang dingin dan absolut, sebuah vonis yang akan menghancurkan seluruh dunia Radya yang tertata rapi.
“Kau harus menikahinya.”