NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Badai di Balik Pintu

Isak tangis Nadia perlahan-lahan mulai mereda di atas pundak tegap Andra. Kehangatan dari pelukan pemuda desa itu terasa seperti sebuah jangkar kokoh di tengah badai kepanikan yang sempat menggulung kesadaran Nadia. Selama beberapa menit, ruangan itu hanya dipenuhi oleh suara tarikan napas Nadia yang masih tidak teratur.

Andra tetap bergeming di posisinya, berlutut di atas lantai beludru sambil terus mengusap punggung Nadia dengan penuh kelembutan. Ia tidak memiliki tendensi apa pun malam ini; tindakannya murni lahir dari rasa kemanusiaan seorang anak manusia yang tidak tega melihat sesamanya hancur. Di dalam saku celananya, telepon genggam jadul miliknya—yang layarnya hanya berlatar lampu monokrom dan tombol-tombolnya sudah agak aus—terasa mengganjal di paha, seolah menjadi pengingat bisu akan kesederhanaan dunianya yang sangat kontras dengan kemegahan ruang kerja ini.

Nadia perlahan melonggarkan dekapannya. Ia memundurkan tubuhnya sedikit, menatap wajah Andra dengan mata yang masih basah dan memerah. Kesadaran sebagai seorang pemimpin di Apex Media perlahan-lahan mulai kembali ke kepalanya, memicu rasa canggung setelah ia meruntuhkan seluruh harga dirinya di hadapan sang asisten.

Maaf, Andra. Saya benar-benar... saya tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi semua ini, bisik Nadia seraya menyeka pipinya yang basah menggunakan telapak tangan.

Mbak Nadia tidak perlu minta maaf, jawab Andra tulus, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Nadia dengan pancaran keteduhan yang konstan. Ibu saya selalu bilang, air mata itu bukan tanda kalau kita lemah, Mbak. Itu tanda kalau kita sudah terlalu lama menahan beban sendirian. Kalau Mbak sudah merasa sedikit lebih tenang, ada hal mendesak dari kantor yang harus kita selesaikan sekarang juga.

Andra berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya yang besar dan kasar untuk membantu Nadia bangkit dari lantai. Nadia menerima uluran tangan itu, merasakan kembali kekuatan fisik Andra yang protektif. Setelah Nadia duduk di sofa kulit dengan posisi yang lebih nyaman, Andra berjalan mengambil map merah yang tadi ia jatuhkan di atas meja marmer.

Ini dari Kak Citra, Mbak. Ada kesalahan input data bahan baku dari tim kreatif untuk kontrak final perusahaan kosmetik. Mereka mengancam akan meninjau ulang kesepakatan kalau revisi resminya tidak ditandatangani oleh Mbak Nadia dan dikirim ke kantor mereka sebelum jam lima sore ini. Sekarang sudah jam empat lewat dua puluh lima menit, jelas Andra dengan cepat namun teratur, memberikan ruang bagi Nadia untuk mencerna informasi di tengah sisa kepanikannya.

Mendengar kata proyek kosmetik dan ancaman pembatalan, insting bisnis Nadia seketika menyala kembali. Adrenalin mengalir memotong sisa-sisa rasa lelahnya. Mana berkasnya? Biar saya periksa bagian yang salah, ucap Nadia, suaranya mendadak berubah menjadi tegas.

Andra menyerahkan map merah tersebut beserta sebuah pulpen berujung emas dari atas meja jati. Selama sepuluh menit berikutnya, ruangan itu kembali berubah menjadi ruang kendali darurat. Nadia memeriksa lembar demi lembar angka dengan kecepatan luar biasa, sementara Andra berdiri di sampingnya, siap mencatat setiap instruksi revisi.

Ini konyol! Mereka memasukkan kode formula lama yang belum diuji klinis untuk pasar Indonesia, gerutu Nadia sambil mencoret beberapa baris angka di atas kertas dengan gusar. Andra, ambilkan stempel resmi perusahaan di laci meja besar saya, dan tolong ambilkan juga telepon kabel. Saya harus menghubungi direktur hukum mereka secara langsung untuk menjelaskan bahwa ini murni kesalahan administratif internal kita.

Andra bergerak secepat kilat. Ia mengambil stempel berat berbahan kuningan dari laci meja jati, menyerahkannya kepada Nadia, lalu dengan cekatan menekan tombol interkom untuk menghubungkan panggilan ke nomor eksternal yang tertera di dokumen.

Pukul empat lewat empat puluh menit, setelah melalui pembicaraan telepon yang cukup menegangkan dengan pihak hukum klien, Nadia akhirnya membubuhkan tanda tangan resminya di atas lembar revisi yang baru.

Selesai! Sekarang masalahnya adalah bagaimana mengirimkan dokumen fisik ini ke kantor mereka di kawasan SCBD dalam waktu dua puluh menit? Jarak dari Sudirman ke SCBD memang dekat, tapi jam segini kemacetan sore Jakarta sudah dimulai, apalagi di luar sedang mendung tebal, ujar Nadia dengan raut wajah yang kembali cemas, menatap jam dinding yang terus berputar kejam.

Biar saya yang mengantarnya, Mbak, sahut Andra mantap.

Nadia mendongak, menatap Andra dengan ragu. Kamu? Naik apa? Mobil kantor tidak akan bisa menembus macet dalam waktu dua puluh menit, Andra.

Saya naik motor bebek milik Mas Joko, Mbak. Motornya ada di parkiran bawah tanah. Saya tahu beberapa jalan tikus di belakang kawasan komersial ini yang biasa dilewati para pengemudi ojek. Saya berjanji dokumen ini akan sampai di meja mereka sebelum jam lima tepat, jawab Andra, sepasang mata hitamnya memancarkan tekad yang sangat kuat. Niatnya untuk menyelamatkan divisi ini—dan secara tidak langsung melindungi posisi Nadia—membuatnya tidak memiliki rasa takut sedikit pun terhadap belantara jalanan Jakarta sore itu.

Nadia menatap pemuda di hadapannya lama sekali. Di tengah semua stafnya yang panik dan hanya bisa saling melempar kesalahan, asisten dari desa inilah yang berdiri paling depan menawarkan solusi yang berani. Rasa kagum dan keterikatan emosional di dalam dada Nadia semakin mengakar kuat.

Baik, Andra. Bawa dokumen ini. Hati-hati di jalan, jangan sampai kamu terluka, ucap Nadia pelan, menyerahkan map merah itu ke dalam genggaman Andra dengan sentuhan jari yang sengaja menahan ujung map selama satu detik ekstra.

Nggih, Mbak. Saya permisi, jawab Andra.

Andra berbalik badan, menyambar kunci motor bebek tua dari saku celananya, lalu berlari keluar dari ruangan kerja, membelah koridor lantai 17 dengan langkah-langkah lebar yang penuh determinasi. Badai di dalam ruangan telah mereda, namun pertempuran Andra melawan waktu di bawah langit Jakarta yang menggelap baru saja dimulai.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!