Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Upeti Nasi Goreng
Bantal sofa berbahan beludru itu melayang di udara, sebuah proyektil kemarahan yang sayangnya ditangkap dengan terlalu mudah oleh Enzo. Pria itu hanya menggunakan satu tangan, menangkapnya seolah itu adalah bola mainan, sementara tawa rendahnya menggema di ruang tengah yang temaram.
"Kamu berengsek! Kenapa harus bohong begitu ke Papa?" Kiandra mendesis, suaranya tertahan di antara amarah dan ketakutan kalau-kalau ayahnya tiba-tiba menelepon balik.
Enzo melempar bantal itu kembali ke sofa, lalu melangkah maju. "Bohong? Aku hanya memberikan apa yang ingin ayahmu dengar, Piccola."
Langkah pria itu lambat, namun pasti. Setiap ketukan pantofelnya di lantai kayu Haussmann itu seolah mempersempit ruang gerak Kiandra. Gadis itu mundur, selangkah demi selangkah, hingga punggungnya menabrak dinding dingin di dekat lorong dapur. Ia terjebak.
Enzo tidak berhenti. Ia terus maju hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Kedua tangan besarnya bertumpu pada dinding di sisi kepala Kiandra, mengurung tubuh mungil itu dalam sangkar yang terbuat dari otot dan aroma maskulin.
Aroma sandalwood yang tajam bercampur dinginnya angin Paris menyergap indra penciuman Kiandra. Jarak mereka tidak lebih dari lima sentimeter. Kiandra bisa melihat setiap detail hazel di mata Enzo yang kini berkilau keemasan tertimpa lampu gantung.
"Minggir, Enzo! Aku mau balik ke kamar," ucap Kiandra, mencoba terdengar tegas meski suaranya sedikit bergetar.
"Aku baru saja menyelamatkan reputasimu di depan kedua orang tuamu. Aku butuh imbalan," bisik Enzo. Suaranya berat, bergetar di udara yang terasa semakin panas.
Kiandra mendongak, menantang tatapan predator itu. "Imbalan apa? Aku tidak punya uang!"
"Aku tidak butuh uangmu. Aku lapar," Enzo mencondongkan wajahnya, ujung hidungnya nyaris bersentuhan dengan dahi Kiandra. "Buatkan aku makanan dari negaramu."
"Sekarang? Ini sudah jam delapan lewat!"
"Atau aku telepon balik ayahmu sekarang juga," Enzo merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dengan gerakan provokatif. "Aku akan bilang kalau kita sebenarnya tidur satu kamar. Bagaimana?"
Mata Kiandra membelalak. "Tidur satu kamar?! Sejak kapan?! Papa tidak akan percaya itu!"
Enzo menyeringai, sebuah ekspresi yang sangat berbahaya. "Menurutmu dari hasil membangun citraku tadi, Papamu lebih percaya siapa? Aku, dosen terhormat yang menjagamu, atau kamu, putri kecilnya yang mungkin saja sedang menutupi skandal?"
Iblis ini benar-benar tahu titik lemahku! Kiandra menjerit dalam hati. Kalau Papa percaya, aku bisa dipulangkan ke Jakarta besok pagi pakai kargo! Habis sudah mimpiku di Le Cordon Bleu.
"Oke! Minggir! Aku buatkan Nasi Goreng," ketus Kiandra sambil mendorong dada Enzo.
Enzo memberikan jalan dengan senyum kemenangan yang menyebalkan. Ia mengikuti Kiandra ke dapur, lalu bersandar di meja marmer sambil menggulung lengan kemeja hitamnya hingga ke siku, memamerkan lengan bawahnya yang berurat dan maskulin.
Kiandra bergerak dengan emosi yang meluap. Ia mengeluarkan wadah berisi nasi dingin dari kulkas, lalu mulai mengupas bawang merah. Suara pisau yang menghantam talenan terdengar lebih keras dari biasanya, mencerminkan suasana hatinya yang sedang mendidih.
Enzo memperhatikan setiap gerakan Kiandra seperti elang mengintai mangsa. "Cara memegang pisaumu... kamu terlalu banyak menggunakan tenaga bahu. Santai sedikit."
"Bisa diam tidak? Ini dapur rumah, bukan kampus!" Kiandra menyahut tanpa menoleh.
Tiba-tiba, Kiandra merasakan kehadiran yang sangat dekat di belakangnya. Sebelum ia sempat menghindar, Enzo sudah mengambil pisau dari tangannya. Pria itu berdiri tepat di belakang Kiandra, tubuhnya yang tinggi besar menempel sempurna di punggung gadis itu.
Panas tubuh Enzo menembus kardigan tipis yang dipakai Kiandra. Dada bidang pria itu—yang sedikit terekspos karena dua kancing atas kemejanya terbuka—terasa kokoh di punggungnya. Kiandra menahan napas, jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke kerongkongan.
"Pisau adalah perpanjangan tanganmu, bukan senjata tawuran. Paham?" Enzo berbisik tepat di samping telinga Kiandra, sementara tangannya yang besar membungkus jemari Kiandra, membetulkan posisi genggamannya pada gagang pisau.
Sentuhan itu terasa begitu intim. Kulit kasar Enzo bergesekan dengan kulit halus Kiandra, menciptakan sensasi elektrik yang membuat lutut Kiandra lemas.
"I-iya, paham. Sekarang lepas!" desis Kiandra.
Enzo terkekeh rendah, lalu bergerak mundur, memberikan ruang bagi Kiandra untuk bernapas kembali. Kiandra segera menyalakan kompor. Aroma terasi yang gurih dan bawang yang ditumis mulai memenuhi dapur minimalis itu, menciptakan kontras yang aneh antara masakan tradisional Indonesia dan kemewahan apartemen Paris.
"Api itu terlalu besar. Kamu mau membuat nasi goreng atau mau membakar apartemen ini?" kritik Enzo lagi.
"Ini namanya teknik wok hei, Monsieur Romano! Memang harus panas!" Kiandra membalas, tangannya dengan lincah mengaduk nasi di atas wajan.
Enzo mendengus, namun ia tidak pergi. Ia tetap di sana, menikmati pemandangan Kiandra yang sedang sibuk. Ada sesuatu yang domestik dan intim dalam suasana ini, sesuatu yang mulai mengikis dinding profesionalisme yang coba mereka bangun.
Sepuluh menit kemudian, nasi goreng itu selesai. Kiandra menyajikannya di atas piring porselen putih dengan telur mata sapi yang bagian kuningnya masih setengah matang di atasnya. Mereka duduk berhadapan di meja makan kecil, hanya diterangi lampu gantung yang temaram.
Enzo menyuap sesendok, mengunyahnya perlahan dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Gimana? Terlalu pedas untuk lidah Italian-mu yang manja itu?" tanya Kiandra, mencoba menutupi rasa gugupnya.
"Bumbunya berantakan, tapi... tekstur nasinya bagus. Lumayan untuk upeti tutup mulut," ucap Enzo datar, meski ia terus menyuap nasi itu hingga hampir habis.
Kiandra memperhatikan Enzo dalam diam. Di bawah cahaya lampu yang kuning hangat, rahang tegas pria itu bergerak ritmis. Bulu mata hazel-nya yang panjang terlihat jelas saat ia menunduk menatap piring.
Sialan, kenapa dia harus seganteng ini pas lagi makan? Kiandra merutuk dalam hati. Tuhan benar-benar nggak adil kasih muka begini ke orang seberengsek dia.
Tiba-tiba, Enzo mendongak, menangkap basah Kiandra yang sedang memandanginya. Ia meletakkan sendoknya, lalu menopang dagu dengan satu tangan, menatap Kiandra dengan tatapan yang sangat provokatif.
"Kenapa melihatku begitu? Apa nasi gorengnya kurang, atau kamu yang mendadak lapar melihatku?"
"Nggak! Siapa juga yang lihatin kamu!" Kiandra membela diri, meski wajahnya kini sudah memerah padam.
"Wajahmu merah, Piccola. Kamu terpesona? Atau mulai membayangkan hal-hal aneh tentang insiden handuk kemarin?"
"Enzo! Kamu benar-benar... monster berengsek!" Kiandra berdiri, hendak menyambar piringnya dan kabur ke kamar, namun pergelangan tangannya ditahan oleh tangan Enzo yang kuat.
"Jangan lari. Aku belum selesai bicara," ucap Enzo. Ia ikut berdiri, menarik tangan Kiandra hingga gadis itu hampir menabrak dadanya lagi.
Enzo menunduk, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Napasnya yang beraroma kopi dan rempah nasi goreng menerpa wajah Kiandra.
"Ingat aturan tambahan itu. Jangan jatuh cinta padaku, karena itu akan membuat kontrak ini jadi sangat rumit," bisiknya, suaranya terdengar seperti peringatan sekaligus godaan.
Kiandra menelan ludah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Jangan kepedean! Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada dosen narsis sepertimu!"
Enzo tersenyum miring, sebuah senyum yang meremehkan sekaligus menantang. "Bagus. Pertahankan gengsimu itu, aku mau lihat sampai di mana kamu bisa bertahan."
Enzo melepaskan tangan Kiandra, mengambil gelas airnya, dan berjalan menuju kamar dengan tawa rendah yang bergema di lorong. Ia meninggalkan Kiandra yang berdiri gemetar di dapur, dengan wajah yang panasnya jauh melebihi wajan nasi goreng tadi.