NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUMAH AMAN YANG BOHONG

Tiga hari pasca-kemunculan anjing dan tikus mutasi jahanam itu, situasi di dalam kamp justru semakin merosot ke titik nadir. Memang betul, persediaan isi perut mereka sedikit bertambah berkat keberhasilan misi logistik tempo hari. Namun, masalah baru justru lahir satu per satu, mencuat bergantian bagai luka lama yang tak pernah diberi kesempatan untuk mengering dan sembuh.

Struktur pagar pembatas bagian timur rusak parah. Di saat yang sama, densitas kerumunan *infected* yang mengepung perimeter luar zona perlindungan melonjak drastis. Yang paling menyiksa mental adalah gema lolongan parau hewan-hewan mutasi itu; suara mereka semakin sering membelah kesunyian malam, meneror isi kepala. Tak ada lagi kata tidur nyenyak bagi siapa pun di kamp tersebut, termasuk Damar.

Pagi itu, atmosfer di dalam aula bekas pusat perbelanjaan yang disulap menjadi markas komando terasa luar biasa tegang. Seluruh anggota inti kamp duduk merapat, mengelilingi Kapten Rendra yang berdiri tegak menghadap selembar peta kota yang terpaku di dinding tripleks. Garis-garis wajah sang perwira tampak jauh lebih tirus dan cekung dibanding beberapa hari lalu, mencerminkan beban berat yang menggelayuti pundaknya.

"Kita sudah tidak bisa bertahan di sini lebih lama lagi," ucap Rendra, memutus sunyi.

Kalimat pendek itu seketika melempar ruangan ke dalam keheningan yang pekat. Semua mata kini terpaku lurus pada sang Kapten.

Rendra mengetukkan jari telunjuknya pada titik lokasi kamp mereka saat ini. "Posisi kita di sini terlalu terbuka. Pertahanan perimeter luar sudah terlalu ringkih untuk menahan gelombang berikutnya." Jari besarnya kemudian bergeser, merayap naik ke arah wilayah utara kota pada peta. "Semalam, tim pengintai kita berhasil menemukan sebuah kompleks perumahan elite yang kondisinya masih relatif utuh dan bersih."

Mendengar penuturan itu, beberapa pasang mata di dalam ruangan sontak berbinar penuh minat.

Rendra melanjutkan penjelasannya. "Kawasan itu dikelilingi pagar beton tebal setinggi hampir empat meter. Akses masuk dan keluarnya sangat terbatas, hanya ada satu gerbang utama. Dan yang paling penting, laporan intelijen menyebutkan kalau jumlah *infected* di sekitaran distrik itu sangat minim."

Harapan yang sempat mati mendadak mekar kembali di wajah-wajah para penyintas. Setelah berminggu-minggu didera rasa cemas dan hidup berteman ketakutan, frasa "tempat aman" terdengar bagai anugerah terbesar yang turun dari langit.

"Kita akan melakukan survei lokasi siang ini juga," tegas Rendra lagi. "Kalau kondisi di lapangan nanti memang sesuai dengan apa yang dilaporkan tim pengintai, seluruh isi kamp akan kita mobilisasi dan pindahkan ke sana secepatnya."

Di barisan belakang, Damar dan Alya saling lempar pandang. Namun, alih-alih ikut larut dalam euforia kegembiraan seperti pengungsi lainnya, entah mengapa ada sebuah riak firasat mengganjal yang merayap di benak mereka berdua. Sesuatu yang terasa terlalu sempurna, biasanya menyimpan borok di dalamnya. Terlalu bagus untuk menjadi sebuah kenyataan.

Tim survei kecil bentukan Kapten Rendra akhirnya bertolak menjelang tengah hari. Rombongan itu terdiri dari Damar, Alya, empat tentara bersenjata lengkap, serta dua orang penyintas senior yang sudah kenyang makan asam garam di jalanan.

Perjalanan menuju kompleks perumahan elite di sektor utara itu memakan waktu hampir dua jam penuh dengan berjalan kaki. Langkah mereka dipaksa membelah sisa-sisa jalanan kota yang kondisinya kian hari kian hancur lebur. Beberapa gedung pertokoan yang minggu lalu dipastikan masih berdiri tegak, siang ini sudah menjelma menjadi gundukan puing beton dan pilinan besi tua yang meranggas. Kota ini benar-benar sedang membusuk. Bukan hanya jasad manusianya, melainkan seluruh sisa-sisa peradaban modern ikut hancur dan membusuk bersama ego mereka yang runtuh.

Namun, begitu siluet kompleks perumahan yang dimaksud mulai tertangkap oleh pandangan mata, Damar terpaksa harus menelan kembali keraguannya. Tempat itu memang terlihat sangat menjanjikan untuk sebuah awal yang baru. Pagar tembok beton solid setinggi hampir empat meter berdiri angkuh, mengitari seluruh batas luar kawasan. Gerbang besi tempa berukuran masif di bagian depan pun tampak masih kokoh terkunci tanpa ada cacat berarti. Melalui celah jerujinya, mereka bisa melihat jajaran rumah mewah berarsitektur modern yang nyaris tak tersentuh oleh amukan kiamat.

"Boleh juga," cetus salah satu tentara pengawal sambil mengangguk-angguk puas. "Malahan ini mah bagus banget untuk ukuran tempat bertahan hidup."

Mereka mulai mengendap masuk melewati pintu kecil gerbang dengan tingkat kewaspadaan penuh. Laras senapan terangkat lurus, sementara sepasang mata masing-masing personel bergerak dinamis menyisir setiap sudut halaman. Anehnya, tak ada satu pun pergerakan lamban khas *infected*. Tak ada ceceran darah kering, tak ada bau bangkai, bahkan tidak ada jejak pertempuran masal sama sekali. Kompleks itu terasa begitu... senyap. Kosong melompong tanpa penghuni.

Alya yang berjalan beriringan di sisi Damar mulai mengedarkan pandangannya dengan dahi berkerut dalam. "Kamu ngerasa ada yang aneh nggak, Mar?"

Damar mengangguk pelan, jemarinya semakin memperketat cengkeraman pada linggis besi andalannya. "Sepi banget ini mah. Meneketehe penghuninya pada ke mana."

Lazimnya, tempat seaman dan sebersih ini pasti akan menjadi rebutan manusia di awal-awal wabah pecah, meninggalkan jejak-jejak pertikaian atau setidaknya jasad pemilik rumah yang membusuk di pekarangan. Namun di tempat ini? Bersih tanpa noda. Seolah-olah seluruh penghuni kompleks mewah ini menguap begitu saja ke udara dalam satu malam.

Penyisiran terus dilanjutkan ke area yang lebih dalam. Rumah pertama yang mereka masuki kosong. Rumah kedua pun setali tiga uang, tak berpenghuni. Ketika mereka melangkah ke dalam rumah ketiga, kondisinya pun sama saja. Namun, yang membuat bulu kuduk sedikit meremang adalah kondisi interior di dalam rumah-rumah tersebut yang bisa dikatakan hampir sempurna.

Set sofa kulit mahal masih tertata rapi di ruang tamu, televisi layar datar berukuran besar masih bertengger manis di dinding tanpa cacat dijarah, bahkan di beberapa meja makan kayu, masih ada piring-piring kotor berisi sisa makanan yang sudah mengering hitam. Pemandangan itu menyiratkan satu kesimpulan: para pemilik rumah pergi secara mendadak, terburu-buru, dan tak pernah memiliki kesempatan untuk kembali lagi.

"Beneran aneh." gumam Damar lirih, perasaannya kian tak enak.

Tentara yang berjalan di dekat mereka ikut mengiyakan dengan anggukan kepala. "Sangat aneh. Kayak kota hantu yang dipersiapkan."

Langkah kaki mereka terus menelusuri aspal bersih kompleks hingga akhirnya mata elang milik salah satu penyintas senior menangkap sesuatu di atas tanah taman. Sebuah jejak kaki. Kondisinya masih sangat baru, guratan polanya di atas tanah gembur bahkan belum sempat terkikis oleh angin sore.

Kapten Rendra yang ikut memimpin pergerakan di depan segera berjongkok, jemarinya menyentuh tepian jejak tersebut dengan saksama. "Jejak sepatu manusia. Masih baru."

"Berapa orang kira-kira, Pak?" tanya salah satu prajurit.

Rendra mengamati rentetan langkah yang menuju ke dalam gang. "Dilihat dari polanya, mungkin sekitar lima sampai tujuh orang."

Damar seketika memosisikan tubuhnya dalam mode siaga penuh. Otot-otot lengannya menegang. Itu artinya, mereka tidak sedang sendirian di dalam kompleks hantu ini.

Semburat warna jingga kemerahan mulai turun menyelimuti cakrawala sore ketika tim survei akhirnya berhasil menemukan ujung dari rantai jejak kaki tersebut. Sumbernya mengarah tepat pada sebuah bangunan rumah megah berlantai dua yang berdiri paling mencolok di ujung kuldesak kompleks.

Dari cerobong asap kecil di bagian belakang atapnya, tampak segaris asap putih tipis mengepul malas ke udara—sebuah penanda paling valid mengenai adanya aktivitas kehidupan di dalam sana. Seluruh anggota tim bergerak taktis, buru-buru mengambil posisi berlindung di balik pilar beton pagar.

Kapten Rendra memberi isyarat tangan agar anak buahnya menurunkan laras senjata sedikit. "Kita lihat dulu apa niat mereka. Jangan asal tembak."

Dengan langkah mantap, Rendra maju mendekati pintu jati besar rumah tersebut lalu mengetuknya beberapa kali.

*TOK. TOK. TOK.*

Senyap. Tidak ada sahutan dari dalam. Rendra kembali mengulang ketukannya dengan ritme yang lebih tegas. Berselang beberapa detik kemudian, lamat-lamat terdengar suara derap langkah kaki mendekat dari balik pintu. Pintu besar itu berdecit pelan saat terbuka lebar, memunculkan sosok seorang pria berusia sekitar awal empat puluh tahunan.

Pria itu memiliki janggut tipis yang tercukur rapi dengan postur tubuh yang tinggi besar bin tegap. Namun, alih-alih memasang guratan ketakutan atau permusuhan, sebuah senyuman ramah yang meneduhkan langsung terkembang di wajahnya. Pria itu tampak sangat terkejut sekaligus lega melihat seragam loreng yang dikenakan Rendra.

"Ya Tuhan... ya Allah..." desis pria itu, matanya berkaca-kaca haru. "Kalian... kalian tentara? Kalian masih hidup?"

Nama pria berjanggut itu adalah Arman.

Berdasarkan untaian cerita yang mengalir dari mulutnya, Arman mengaku bahwa dirinya bersama beberapa penyintas lain telah mendiami kompleks perumahan elite ini selama hampir dua minggu terakhir. Jumlah total kelompok mereka sangat kecil, hanya delapan kepala. Mereka bertahan hidup dengan cara mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan dari rumah-rumah kosong sekitar serta memanfaatkan cadangan logistik darurat yang tersimpan di dalam bungker rumah.

"Jadi, kalian benar-benar aman selama di sini, Pak Arman?" tanya Kapten Rendra, mencoba menggali informasi lebih dalam.

Arman mengangguk mantap, senyum ramahnya tak pernah lepas. "Alhamdulillah, sejauh ini bisa dibilang begitu, Pak Kapten." Ia menunjuk ke arah tembok beton kokoh yang memagari kompleks melalui jendela kaca besar. "Tembok tinggi di luar itu benar-benar berkah buat kami. Zombi atau *infected* luar jarang banget ada yang bisa nemu celah buat masuk ke dalam sini."

Penjelasan yang meluncur dari mulut Arman terdengar luar biasa logis dan masuk akal. Bahkan, saking masuk akalnya, hal itu justru memicu alarm bahaya di dalam kepala Damar. Ketika beberapa tentara dan penyintas lain di dalam tim survei mulai menurunkan pundak mereka—merasa rileks akibat sambutan hangat tersebut—insting primitif Damar justru bergolak hebat, menolak untuk tenang.

*Aya nu teu beres,* batin Damar gelisah. Ia memang belum bisa menunjuk dengan pasti di sebelah mana letak kejanggalan itu, namun perutnya mual memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang salah di rumah ini.

Menjelang malam hari yang pekat, Arman dengan kemurahan hatinya menawarkan hidangan makan malam hangat untuk menyambut tim survei. Sebagian besar anggota tim menerima tawaran tersebut dengan mata berbinar-binar penuh sukacita. Bagi orang-orang yang sudah terbiasa mengunyah makanan kaleng dingin di tengah kepungan zombi, sepiring makanan hangat buatan manusia adalah kemewahan tiada tara.

Mereka semua kini duduk melingkar di ruang makan mewah berlampu gantung temaram. Suasana yang tercipta malam itu terasa begitu normal, begitu hangat—bahkan terlalu normal untuk ukuran dunia yang sudah hancur lebur dikunyah kiamat. Untuk beberapa menit yang semu, Damar bahkan hampir saja terbuai dan lupa bahwa di luar pagar sana, mayat-mayat hidup sedang berjalan mengincar daging mereka.

Namun, lamunan Damar buyar seketika saat sepasang matanya mulai menghitung jumlah kepala di ruangan itu. Arman tadi bilang kelompoknya berjumlah delapan orang. Tapi sejak mereka menginjakkan kaki di rumah ini hingga makanan dihidangkan, orang yang menampakkan batang hidungnya hanya ada empat. Arman sendiri, dua pria dewasa bertubuh tegap di dekat dapur, dan seorang wanita paruh baya berwajah pucat yang bertindak sebagai juru masak.

Empat orang sisanya sama sekali tidak pernah muncul, bahkan untuk sekadar menyapa atau mengambil bagian makanan mereka.

Saat Damar baru saja membuka mulut, hendak melontarkan pertanyaan sensitif tersebut, sebuah remasan pelan mendarat di lengan kirinya. Ia menoleh dan mendapati Alya sedang menatapnya tajam, menggelengkan kepala sedikit dengan gestur yang sangat samar.

"Jangan sekarang," bisik Alya teramat lirih, hampir tenggelam oleh suara tawa para tentara yang sedang mengobrol dengan Arman.

Damar mengangguk pelan, urung bertanya. Ternyata, radar kewaspadaan Alya juga menangkap keganjilan yang sama.

Malam semakin larut merayap menuju puncaknya. Tim survei akhirnya dipersilakan menempati beberapa kamar tamu di lantai dua untuk beristirahat sebelum bersiap kembali ke kamp induk esok pagi. Namun, malam itu Damar sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya terus berputar, terganggu oleh firasat buruk yang kian menebal seiring berjalannya waktu.

Kira-kira menjelang tengah malam, di saat seisi rumah sudah tenggelam dalam senyap, indra pendengaran Damar menangkap sebuah suara samar yang ganjil. Suara itu terdengar meliuk-liuk halus di udara ruko yang dingin—suara seseorang yang sedang menangis. Pelan, tertahan, dan terkesan tercekik.

Damar langsung membuka kelopak matanya lebar-lebar. Fokus rungu-nya menebak bahwa sumber gema suara itu bukan berasal dari lantai dua, melainkan merembes naik dari arah bawah tanah. Tanpa membuang waktu, ia segera mengguncang bahu Alya yang tidur di ranjang sebelah hingga gadis itu tersentak bangun.

"Al... Al, dangu teu? Kamu dengar suara itu?" bisik Damar panik.

Alya menajamkan pendengarannya sejenak, lalu mengangguk cepat dengan tatapan mata yang berubah waspada.

Tanpa menimbulkan suara sekecil pun, keduanya mengendap keluar dari kamar tamu. Koridor lantai dua rumah itu sudah gelap gulita, hanya menyisakan pendar temaram dari sebatang lilin yang hampir habis di sudut meja. Suara tangisan memilukan itu kembali terdengar, kini intensitasnya jauh lebih jelas dan menyayat hati. Suara itu sahih berasal dari balik pintu ruang bawah tanah yang terletak di ujung dapur lantai dasar.

Damar dan Alya saling tatap dalam kegelapan, sebelum akhirnya melangkah seringan bulu menuruni anak tangga, menuju arah sumber suara jahanam tersebut.

Pintu kayu tebal yang menuju ke arah *basement* itu tampak tertutup rapat dan terkunci dari luar dengan sebuah gembok besi berukuran besar. Namun, suara dari balik celah bawah pintunya kini terdengar semakin benderang di telinga. Itu adalah suara manusia yang sedang meratap pasrah penuh keputusasaan.

"Tolong... tolong keluarkan kami dari sini..."

Seketika itu juga, darah di dalam sekujur tubuh Damar rasanya membeku hingga ke tulang. Alya menatap gembok besi itu dengan rahang yang mengeras penuh amarah. Mereka berdua kini paham betul; firasat buruk mereka sejak siang tadi bukanlah sebuah paranoia tak berdasar. Ada sesuatu yang sangat busuk sedang disembunyikan di rumah ramah ini.

Dengan hati-hati, Damar mencoba memutar gagang pintu kayu tersebut. Nihil, terkunci rapat. Alya bergerak taktis, meraih sebatang besi tuas pendek yang tergeletak di dekat rak penyimpanan sepatu dekat dapur.

"Geser sedikit, Mar," perintah Alya dingin.

*BRAK!*

Satu ayunan bertenaga penuh dari tangan atlet milik Alya menghantam gembok besi itu hingga mengeluarkan dentang keras. Kunci slotnya langsung retak retak.

*BRAK!*

Pukulan telak kedua menyusul tanpa ampun, membuat engsel gembok itu patah hancur dan pintu kayu itu terayun terbuka lebar. Begitu pintu terbuka, bau anyir darah yang bercampur dengan aroma kotoran manusia langsung menyergap indra penciuman mereka. Dan apa yang tersaji di bawah temaram lampu bohlam ruang bawah tanah itu sukses membuat tubuh Damar dan Alya kaku mematung bak pilar es.

Ada manusia di dalam sana. Lima orang manusia, dengan kondisi tubuh yang kurus kering tinggal kulit membungkus tulang, tampak lemas tak berdaya. Dan yang paling mengerikan, pergelangan kaki mereka semua diikat dengan rantai besi tebal yang dipaku mati ke dinding beton—diperlakukan persis seperti hewan ternak di dalam jagal.

Begitu melihat pintu atas terbuka dan memunculkan sosok Damar, salah seorang wanita tua di pojok ruangan langsung terisak histeris, menengadahkan kedua tangannya yang gemetar. "Tolong... demi Allah, tolong bantu kami keluar..."

Damar langsung menghambur menuruni anak tangga dengan langkah panik. "Aya naon ini teh? Apa yang terjadi sama kalian?"

Pria tua yang rantaian kakinya paling pendek menatap Damar dengan sepasang mata yang dipenuhi trauma luar biasa dalam. "Jangan... jangan pernah kalian percaya sama si Arman..." Suara pria tua itu bergetar hebat, membuat jantung Damar berdegup kencang tak beraturan.

"Kenapa, Kek?" cecar Damar mendesak.

"Dia... dia bukan penyintas baik-baik engga kaya yang kalian lihat," pria tua itu mulai menangis tersedu-sedu, tubuh ringkihnya bergetar hebat. "Kami... kami semua juga dulu diselamatkan oleh kelompoknya di jalanan. Awalnya mereka memperlakukan kami dengan sangat baik, ramah..."

Pria tua itu menjeda kalimatnya, air mata keputusasaan mengalir deras melewati kerutan pipinya yang kotor, sebelum akhirnya ia membisikkan sebuah kalimat yang sukses membuat pasokan oksigen di paru-paru Damar terhenti seketika.

"Tapi begitu stok makanan di dalam kompleks ini mulai menipis dan habis... orang-orang dari kelompok kami yang hilang satu per satu... mereka... mereka semua dibunuh oleh Arman..."

"...lalu dagingnya mereka potong-potong... dan mereka makan."

Keheningan yang luar biasa mengerikan seketika menyergap seisi ruang bawah tanah yang anyir itu. Wajah Alya mendadak pias tanpa darah, matanya membelalak horor. Sementara Damar merasakan isi perutnya bergejolak hebat, menahan rasa mual yang luar biasa yang mendesak naik ke tenggorokannya. Kanibalisme. Di tengah kehancuran dunia yang sudah sekacau ini, mereka justru baru saja dipertemukan dengan jenis monster baru. Monster nyata yang tidak membutuhkan virus untuk menjadi buas, monster yang masih mengenakan kulit dan topeng sebagai manusia.

Tepat pada detik yang krusial itu, gema suara derap langkah kaki berat mendadak terdengar bersahut-sahutan dari arah lantai atas dapur. Banyak sekali langkah kaki.

Damar refleks memutar kepalanya, menatap tajam ke arah mulut tangga *basement*. Jantungnya serasa melompat keluar saat melihat sosok Arman kini sudah berdiri tegak di pucuk anak tangga tertinggi. Senyuman hangat dan ramah yang siang tadi ia pamerkan kini telah menguap tanpa bekas, menyisakan sepasang mata dingin yang kosong dan kejam. Di dalam dekapan kedua tangannya, tergenggam sebuah senapan berburu laras ganda yang siap menyalak.

Tak sendiri, tiga pria anggota kelompoknya yang lain tampak berdiri tegap mengekor di belakang punggung Arman, masing-masing memegang parang dan senjata rakitan dengan tatapan haus darah.

"Seharusnya... kalian menikmati tidur malam kalian dengan nyenyak di kamar atas," ucap Arman, suaranya terdengar datar, dingin, tanpa ada riak emosi manusiawi di dalamnya.

Damar perlahan menggeser posisinya ke depan Alya, tangan kanannya mencengkeram erat gagang linggis besi dengan urat-urat yang menyembul tegang. Di belakangnya, Alya ikut menurunkan tubuhnya rendah, mengambil posisi bertarung yang tak kalah taktis dengan tongkat besinya.

Arman mengembuskan napas panjang, menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Detik itu juga, topeng manusianya runtuh sepenuhnya, memunculkan aura predator yang mengerikan dari dalam dirinya.

"Kalian semua harus paham satu hal... dunia lama kita sudah resmi berakhir," lanjut Arman sambil melangkah turun satu anak tangga, moncong senapan laras gandanya perlahan terangkat lurus, membidik tepat ke arah garis dada Damar. "Dan manusia... manusia waras akan melakukan cara apa saja, cara sekotor apa pun, demi memastikan dirinya sendiri tetap bernapas esok hari. Aku... aku cuma bergerak lebih cepat saja untuk menerima kenyataan gila ini dibanding orang-orang lemah seperti kalian."

Di dalam ruang bawah tanah yang remang dan berbau busuk anyir itu, Damar akhirnya dipaksa sadar oleh kenyataan yang menghantam kepalanya. Kompleks perumahan elite berpagar megah ini bukanlah surga perlindungan yang selama ini mereka impikan. Tempat ini bukanlah sebuah harapan baru atau juru selamat bagi kamp mereka yang sekarat.

Kawasan ini tak lebih dari sekadar sebuah perangkap maut yang dipersiapkan dengan rapi. Dan sialnya, mereka semua sudah melangkah terlalu dalam, mengumpankan diri masuk ke dalam mulut sang predator.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!