"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10// MBKCM
Ardan melangkah pergi keluar dari meja makan tanpa menunggu persetujuan siapa pun. Gerakan tubuhnya begitu cepat dan tegas, memancarkan aura ketidaksukaan yang amat kentara. Dia sama sekali tidak menoleh lagi pada Dania yang tertegun atau Kakek Wirya yang mulai melotot marah melihat ketidaksopanan cucunya itu.
Bimo mengikutinya setelah mengangguk sopan pada Kakek Wirya dan Dania. Sebagai asisten yang tahu diri, Bimo segera berbalik dan melangkah lebar mengejar bosnya, meninggalkan ketegangan yang untungnya langsung berusaha diredam oleh Dania.
Dania menjaga keanggunannya dengan tertawa kecil, menutupi rasa tersinggung di hatinya dengan sikap super maklum di depan Sang Kakek.
"Tidak apa-apa, Kakek. Kak Ardan mungkin memang sangat lelah setelah seharian mengurus mall," ujar Dania dengan suara yang dibuat selembut sutra, mengelus punggung tangan Kakek Wirya yang tampak mengeras. "Kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal setelah ini. Dan aku punya banyak hal untuk membuat Kak Ardan mencair nanti. Kakek jangan khawatir, ya?"
Mendengar penuturan Dania yang begitu dewasa dan penuh pengertian, amarah Kakek Wirya langsung meredam. Kakek Wirya tertawa sungguh menyukai Dania. Beliau menepuk-nepuk tangan Dania dengan pandangan sayang.
"Ah, Dania... kamu benar-benar wanita yang pengertian. Ardan itu memang batu, tapi Kakek yakin kalau wanita secantik dan sepintar kamu yang menghadapinya, dia pasti akan luluh juga," puji Kakek Wirya penuh harap.
"Terima kasih, Kakek. Mari kita lanjutkan makan malamnya," sahut Dania dengan senyum manisnya.
Akhirnya mereka makan malam berdua di meja makan besar itu. Sepanjang makan malam, Dania sungguh berhasil masuk ke hati Kakek Wirya. Dengan segala keluwesan bicaranya, dia menceritakan hal-hal yang disukai orang tua, memuji kebijakan bisnis Arkatama Group, hingga membuat Kakek Wirya merasa bahwa Dania adalah satu-satunya calon cucu menantu yang paling sempurna.
Sementara itu, di lantai atas, Bimo mengikuti Ardan sampai ke depan pintu kamar utama. Ardan berjalan tanpa suara, namun cengkeraman tangannya pada gagang pintu kamar menunjukkan betapa emosinya sedang tidak stabil.
Sebelum membuka pintu, Ardan membalikkan badannya, menatap Bimo dengan sorot mata yang tajam dan dingin.
"Bimo," panggil Ardan, suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Ya, Pak Ardan?" Bimo langsung menegakkan posisi berdirinya, siap menerima perintah.
"Urus perjalanan bisnis ke Singapura satu bulan penuh. Buat jadwalku penuh di sana selama tiga puluh hari ke depan," perintah Ardan tanpa basa-basi.
Bimo melotot kaget, nyaris menjatuhkan tablet kerja yang dipegangnya. "Hah? Satu bulan penuh, Pak? Tapi... tapi bagaimana dengan urusan pekerjaan di Jakarta? Banyak proyek domestik yang butuh tanda tangan dan kehadiran Anda langsung minggu-minggu ini."
Ardan mendengus dingin, menatap asistennya dengan pandangan menyalang. "Itu bisa ditunda, kan? Atau dilakukan secara daring. Aku tidak peduli bagaimana caramu mengatur dengan tim operasional di sini, yang jelas aku harus berangkat ke Singapura awal minggu depan."
Bimo menghela napas pendek, dia menatap wajah bosnya dengan pandangan mengerti. "Pak... Anda sengaja melakukan ini untuk menghindari perjodohan dengan Dania Abraham dan tekanan dari Pak Wirya, kan?"
Ardan mengepalkan tangannya. "Kamu tahu alasannya, kan? Jadi jangan banyak tanya. Kamu boleh pulang sekarang dan lakukan perintahku itu. Jangan biarkan Kakek atau Paman Arya tahu soal perubahan jadwal ini sampai tiketku siap."
Bimo mengangguk pasrah, tahu bahwa membantah Ardan dalam mode seperti ini hanya akan mendatangkan petaka bagi bonus bulannya. "Baik, Pak. Saya akan buat jadwal sesuai perintah Anda. Saya permisi dulu."
"Ya."
Ardan masuk ke kamar, mengunci pintu dengan bunyi klik yang nyaring, mengisolasi dirinya dari seluruh dunia luar. Suasana kamarnya yang luas dan didominasi warna gelap mendadak terasa begitu sunyi.
Ardan berjalan menuju meja rias. Dia melepas dasinya yang mencekik leher dilonggarkan lalu ditarik lepas, dan jam tangannya diletakkan di atas meja dengan bunyi dentingan pelan. Pria itu mengacak rambutnya yang rapi hingga berantakan, mencoba mengusir rasa sesak di dadanya.
Dia berjalan menuju lemari besar miliknya untuk mengambil handuk, berniat membersihkan diri. Namun, gerakan tangannya mendadak terhenti di udara. Pandangan matanya terpaku pada sepotong pakaian yang digantung di sudut paling pojok lemari khususnya.
Itu adalah jas hitam miliknya, jas yang dikenakan Kiana malam itu. Jas yang sudah satu minggu ini digantung oleh Ardan tanpa boleh disentuh dan dicuci oleh siapa pun, termasuk pelayan rumah tangga mansion.
Ardan seolah terhipnotis. Dia menurunkan hanger jas tersebut, membawanya ke dalam dekapan. Perlahan, Ardan mendekatkan jas itu ke hidungnya, lalu menghirup aroma manis yang masih menempel di sana dengan rakus. Aroma bunga yang murni, bercampur dengan sisa aroma alkohol, langsung menyerbu indra penciumannya.
Seketika, pertahanan es di otaknya runtuh. Ingatannya kembali pada saat Kiana merintih di bawahnya malam itu. Bayangan kulit putih gadis itu yang bersinar di bawah rembulan, cengkeraman jemari lentiknya di bahu Ardan, dan suara parau yang mendesah di telinganya.
'Akh... Mas... Mas bidadari... pelan-pelan...'
Suara rintihan itu terngiang begitu nyata di kepala Ardan. Meski bukan namanya yang disebut, melainkan sebuah panggilan polos dari gadis yang sedang mabuk, sebutan 'mas' itu berhasil membuat gairahnya naik seketika. Jantung Ardan bertalu keras, darahnya mendadak berdesir panas hanya karena ingatan singkat tersebut.
Ardan menatap jas di tangannya dengan pandangan frustrasi. Gila. Dia benar-benar sudah gila. Bahkan sebutan Kak Ardan dari Dania yang diucapkan dengan nada manja dan berkelas tadi, sama sekali tidak ada apa-apanya dan terasa hambar jika dibandingkan dengan rintihan polos Kiana. Pelayan butik itu telah menanamkan pengaruh yang terlalu dalam pada dirinya hanya dalam satu malam.
"Sialan," umpat Ardan pada dirinya sendiri.
Ardan menaruh kembali jas itu ke dalam lemari dengan tergesa-gesa, seolah benda itu bisa membakarnya jika dipegang lebih lama. Dia menyambar handuk putihnya dan segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Dia butuh air dingin, sangat dingin untuk mendinginkan kepalanya yang sudah memanas lagi karena gairah yang salah tempat ini.
***
Sementara itu, di tempat yang sangat berbeda, di kos kecilnya yang berukuran tiga kali empat meter, kehidupan berjalan dengan penuh kesunyian yang mencekam bagi Kiana.
Suara gemercik air hujan yang mulai turun di luar gang menemani Kiana yang sudah berbaring di atas kasur busa tipisnya. Kamar itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu tidur kecil di sudut meja. Kiana menarik selimutnya hingga sebatas dada, memeluk gulingnya dengan erat.
Dia menatap layar ponselnya yang menyala, menampilkan aplikasi kalender dengan deretan angka digital. Jari telunjuk Kiana bergetar saat menyentuh sebuah tanggal yang telah dia beri tanda lingkaran merah.
"Lima belas hari lagi. Lima belas hari lagi aku harus datang bulan sesuai siklus rutinku." Batin Kiana merasa takut.
Kiana menatap angka-angka itu dengan pandangan kosong, sementara dadanya terasa bergemuruh oleh rasa cemas yang tidak bisa dia jelaskan. Dia menyentuh perut ratanya yang tertutup kaos oblong, merasakan sensasi dingin yang mendadak menjalar di sana.
"Gak... gak mungkin," bisik Kiana pada kesunyian kamarnya, suaranya parau.
Dia mencoba menenangkan hatinya sendiri, mengingat setiap untai kalimat yang diucapkan oleh pria itu di jembatan malam itu. Seharusnya dia tidak perlu cemas karena pria itu mengatakan dengan sangat tegas bahwa dia mandul.
"Pria sekaya dan seberwibawa dia tidak mungkin berbohong soal kondisi medis yang merendahkan harga dirinya sendiri, bukan?"
Namun, entah mengapa, Kiana merasa tidak tenang. Ada sebuah firasat buruk yang terus berbisik di sudut hatinya, sebuah ketakutan bawah sadar yang membuat air matanya kembali menetes perlahan membasahi bantal. Malam penuh dosa itu terus membayanginya, dan kini, kalender di ponselnya seolah berubah menjadi bom waktu yang siap meledak dan mengubah takdir hidupnya sekali lagi.