~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]
Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.
Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.
Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 - Kisah yang Terukir, Takdir yang Terjalin
Di awal abad ke-19, di benua Aethorian, terdapat tiga clan yang sangat berpengaruh dan kuat. Mereka adalah:
Klan Strein.
Klan Strein adalah salah satu Klan tertua dan paling berpengaruh di wilayah tersebut. Mereka memiliki kemampuan dalam hal kekuatan yang luar biasa, sehingga mereka dapat mengangkat dan melemparkan benda-benda berat dengan mudah. Selain itu, mereka memiliki daya tahan tubuh yang luar biasa terhadap berbagai racun.
Klan Strein memiliki kemampuan pertempuran yang sangat baik, sehingga mereka dapat mengalahkan musuh-musuh mereka dengan mudah. Senjata utama mereka adalah sarung tangan besi. Ada juga yang menggunakan dua buah gada besar dan pedang berbilah besar.
Klan Spaide.
Klan Spaide adalah Klan yang memiliki kemampuan dalam kelincahan yang sangat baik. Mereka dapat bergerak dengan sangat cepat dan lincah, sehingga mereka dapat menghindari serangan musuh dengan sangat mudah.
Di dalam pertarungan, kecepatan Klan Spaide membuat mereka terlihat seperti dapat memprediksi masa depan. Gerakannya yang cepat sering kali menciptakan gaya akrobatik alami, seperti tarian menyebalkan yang dapat memancing emosi lawannya.
Senjata utama Klan Spaide adalah sebilah pedang tipis namun kuat dan tajam, atau orang lebih mengenalnya dengan Miao Dao Sword.
Klan Acellian
Klan Acellian memiliki kemampuan dalam hal akurasi yang sangat tinggi. Kemampuannya dalam memprediksi serta melakukan serangan yang tepat dan presisi, menjadikannya sebagai pembunuh yang efektif.
Senjata Klan Acellian adalah berupa Busur Panah, Shuriken, Kunai atau pun senjata jarak jauh lainnya. Seperti karakteristik senjata tersebut, mereka lebih menyukai pertarungan secara diam-diam, bergerak dalam bayangan, senyap dan mematikan.
Ketiga Klan ini telah bersaing selama berabad-abad, dan persaingan mereka semakin sengit seiring berjalannya waktu. Mereka sering bertempur untuk memperebutkan kekuasaan dan pengaruh. Hal itu semakin menebalkan kebencian di antara mereka, hingga tertanam pada generasi-generasi berikutnya.
Merespon keadaan yang ada, para pemimpin clan tanpa disadari dan secara bersamaan telah membuat satu aturan umum, dimana mereka melarang para rakyatnya untuk memiliki hubungan dengan clan lain dalam bentuk apapun.
Bertahun-tahun berlalu, di tengah aturan mutlak itu, hiduplah dua orang pasangan muda bernama Abirama dan Kimiko. Mereka berasal dari dua klan yang berbeda, yaitu Klan Spaide dan Klan Acellian.
Abirama dan Kimiko tidak peduli dengan larangan tersebut. Mereka jatuh cinta dan memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka secara diam-diam. Mereka sering bertemu di tempat-tempat tersembunyi dan berbagi cerita serta impian mereka.
Tapi suatu hari, hubungan mereka terbongkar oleh pemimpin dari Klan Acellian. Pemimpin Klan tersebut sangat marah terutama kepada Kimiko, dan merasa bahwa Kimiko telah mengkhianati klan mereka. Dia memutuskan untuk mengusir Kimiko dari klan dan kota mereka.
Meski Kimiko adalah salah satu anak dari pemimpin klan tersebut, aturan tetaplah aturan, sang pemimpin klan harus menegakan aturan mereka, guna menjaga martabat serta kepercayaan dari para pengikutnya.
Abirama yang mendengar kabar tersebut, yang juga merupakan anggota dari klan Spaide, memutuskan untuk mengikuti belahan jiwanya. Mereka berdua memutuskan untuk mengasingkan diri dan memulai hidup baru di tempat yang jauh.
Setelah meninggalkan klan mereka, Abirama dan Kimiko berjalan berdua ke arah yang tidak diketahui. Mereka memiliki tujuan yang jelas, tapi mereka tahu bahwa mereka harus meninggalkan clan dan keluarga mereka untuk selamanya.
Saat berjalan, mereka berbicara tentang masa lalu dan bagaimana mereka bertemu. Mereka tertawa dan menangis bersama, mengingat kenang-kenangan indah di masa lalu.
Setelah beberapa hari berjalan, mereka tiba di sebuah desa kecil yang indah dan tenang. Desa itu dikelilingi oleh pegunungan hijau dan sungai yang jernih.
Abirama dan Kimiko memutuskan untuk menetap di desa itu dan memulai hidup baru. Alasan lain mengapa mereka menetap, karena desa tersebut tidak termasuk kedalam wilayah clan manapun.
Abirama dan Kimiko membangun sebuah rumah kecil dari kayu dan bambu, bersama beberapa warga desa yang secara sukarela membantunya. Beberapa hari kemudian, mereka mulai menanam tanaman dan sayuran. Memulai hidup baru sebagai seorang petani.
Mereka hidup sederhana tapi bahagia. Menghabiskan hari-harinya dengan berkebun, memancing, dan berjalan-jalan di sekitar lembah.
Saat malam, mereka duduk di depan api unggun dan berbicara tentang impian-impian mereka. Mereka berharap untuk memiliki anak-anak dan hidup bahagia bersama.
Tahun-tahun berlalu, Abirama dan Kimiko hidup bahagia di desa itu. Hingga kemudian kebahagiaan mereka bertambah, Kimiko diketahui sedang mengandung.
Hari kelahiran pun tiba, Kimiko telah melewati malam yang sulit, dia berhasil melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan dan sehat.
Mendapati kenyataan tersebut, Abirama tertawa bahagia, tawanya cukup untuk memecah ketegangan malam itu. Dia kemudian meraih dan menggendong bayi tersebut, "Lihatlah, ini anak kita. Dia tampak kuat dan tampan, seperti aku." Terlihat jelas, ekspresi yang menunjukkan kebahagiaan dan kebanggaan saat mengatakannya.
"Ya, dia sangat tampan. Mirip seperti kamu." Kimiko membalasnya dengan senyuman di sertai tawa kecilnya, "Jadi, siapa namanya?" Tanya Kimiko dengan senyuman manis di wajahnya.
Seketika Abirama terdiam, ekspresinya yang mendadak serius membuatnya terlihat semakin mempesona, "Aku akan menamai dia... Sora."
Kimiko tersenyum kembali, aura sexual Abirama membuat wajah Kimiko sedikit memerah, "Sora? Aku suka nama itu. Tapi, apa artinya?" Tanya Kimiko dengan raut wajah penuh rasa penasaran.
"Sora artinya langit,." Seraya tersenyum, Abirama melanjutkan perkataanya, "Dengan nama ini... Aku berharap, anak kita memiliki hati yang luhur serta berguna dan selalu dapat di andalkan bagi orang sekitar." Jelas Abirama disertai dengan doa dan harapan.
Kimiko mengangguk, "Aku setuju, Sora adalah nama yang indah."
Dengan senyuman terbaiknya, Kimiko meraih Arka dan menggendongnya dengan lembut, lalu ia berkata, "Selamat datang, Sora. Ibu sangat bahagia kamu sudah lahir." Sambutnya.
Malam itu, Kimiko tidak dapat menutupi kebahagiaanya. Dia bersenandung sepanjang malam seraya menggendong sang buah hati dari tempat tidurnya.
Abirama yang juga sangat bahagia mulai menyiapkan bahan-bahan masakan dengan penuh semangat. Kali ini, dia yang akan menyiapkan makan malam untuk mereka.
Suara derasnya hujan dan cahaya lampu yang remang karena kurangnya penerangan, telah menjadi saksi kebahagiaan mereka malam itu, dan juga menjadi saksi lahirnya seorang anak bernama Sora.
1. Disiplin >> Lulus.
2. .... ?
Lanjut thoorr!!! /Determined//Determined/