Sarah sang pemeran utama beserta para survivor lainnya telah berada di sebuah dunia tiruan yang nampak aneh. Mereka harus bisa bertahan hidup dengan melewati permainan yang di sebut dengan " 25 aturan iblis ", dimana permainan ini memiliki setiap aturan dan teka teki yang cukup menyulitkan. yang berhasil bertahan hidup sampai akhir, adalah pemenangnya. lalu hadiah yang akan di terima adalah satu permintaan apa saja yang diinginkan...... Mampukah Sarah dan para survivor lainnya keluar dari dunia aneh itu..? lalu bagaimana caranya Alena adik perempuan Sarah yang telah menghilang selama 12 tahun berada di dunia itu....?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhamad aidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : PERMAINAN DI MULAI. ATURAN PERTAMA LARILAH DAN SEMBUNYI KETIKA GELAP
Sarah meneteskan air mata, tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Sang adik yang di kiranya telah meninggal dua belas tahun lalu , terlihat nampak sehat dan baik-baik saja. Keduanya berpelukan erat , tenggelam dalam tangis haru dan kerinduan yang mendalam. Semua pasang mata yang melihat masih tampak bingung bercampur haru dengan pertemuan dua saudara kandung itu.
" Ini bener kamu...? ". Sarah mencoba melihat kembali wajah yang di kenalnya itu. Mengusap dengan kedua tangan seakan masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
" Iyah ,ini aku kak.... Alena, adik perempuanmu ". Sarah kembali memeluk Alena hingga benar-benar puas
" Maafin kakak.... Maafin kakak....". Tangisannya pecah seakan Sarah telah memendam penyesalan yang begitu dalam. Sarah melepaskan pelukannya, sambil mengusap air matanya.
" Bagaimana mungkin....? Kamu di nyatakan hilang saat mendaki gunung. Bahkan tim SAR pun tidak dapat menemukanmu ". Sarah mencecar banyak pertanyaan yang membuatnya ingin mendengar langsung dari adik perempuannya itu.
" panjang ceritanya kak ". Sambil menggeleng. Alena tidak bisa menceritakan untuk sekarang ini.
Tiba-tiba lampu terowongan kembali menyala terang. Semuanya di buat terkejut dengan menyalanya lampu terowongan yang sejak tadi berubah menjadi kuning remang-remang. Alena langsung terkejut, matanya memelotot tak percaya. Deru nafas memburu dengan cepat seakan ada ketakutan yang begitu besar akan hal yang akan terjadi.
" Pak supir cepat jalankan busnya ". Alena berteriak histeris hingga membuat semua yang berada di dalam bus terlihat keheranan dan sedikit panik. Alena terus memberontak dari pelukan Sarah.
" Alena tenanglah....". Sarah tetap berusaha memeluknya dengan erat, agar Alena tidak bergerak sembarangan.
" Pak supir cepat berangkat!!!!!!!! ". Dengan nada keras dan mengancam , Alena Tempak memelotot ke arah sang supir. Ia berusaha keras untuk lepas dari pelukan Sarah dan ingin segera menuju kursi supir. Sarah mulai kewalahan untuk menahan tubuh Alena yang teterusan memberontak. Sang supir merasa heran sekaligus bingung, ia tak tahu kenapa wanita misterius itu menyuruhnya untuk jalan. Hingga sesaat terdengar suara kencang, seperti seseorang berbicara dengan pengeras suara, dengan volume yang sangat kencang.
" SELAMAT DATANG DI PERMAINAN DUA PULUH LIMA ATURAN IBLIS. UNTUK PARA PEMAIN KUUCAPKAN SELAMAT KEPADA KALIAN YANG TERPILIH MENJADI PLAYER GAME INI. LALU MENANGKAN LAH HADIAH BESAR BAGI SIAPAPUN YANG BERTAHAN HINGGA AKHIR ". Bunyi pengeras suara itu entah darimana asalnya. Mereka semua di buat kebingungan kembali setelah melihat sikap Alena , dan kini sebuah suara aneh. Alena tidak lagi memberontak, tubuh mungilnya itu sudah tak bergerak tidak karuan lagi, membuat Sarah mengendurkan pelukannya. Alena terjatuh dan terduduk lesu. Ia menghembuskan nafas lalu perlahan di keluarkan, seakan nafasnya begitu berat dan parau.
" Sudah berakhir..... BRENGSEK.....!!!!! ". Alena mengepalkan tangannya dan meninju lantai bus berulang kali. Tangisannya pecah sembari mengumpat dengan kata-kata kasar. Sarah yang tidak tega melihat tangis Alena kembali memeluknya.
" Tidak apa Alena.... Kakak akan selalu bersamamu, kakak tidak akan melepasmu lagi ".
Sang supir berteriak histeris tak kala dia tak melihat satupun kendaraan di terowongan jalan itu. Lampu telah menyala terang,namun ia baru menyadari bahwa seluruh kendaraan telah hilang.
" Bagaimana mungkin...? ". Semua nampak terdiam. Masih mencerna semua kejadian ganjil yang tiba-tiba saja datang terus menerus.
" Ini adalah game. Game yang di buat untuk bertahan hidup. Hanya ada dua pilihan MATI atau HIDUP. Game yang di haruskan untuk menaklukan kedua puluh lima aturan iblis ". Alena membuka pembicaraan.
" Apa maksudmu....? ". Tanya salah seorang penumpang.
" Aku sudah bilang ini adalah game. Kita di paksa untuk ikut sampai kedua puluh lima aturan itu berhasil di taklukan. Tidak ada yang melarang menjadi pemenang untuk satu orang, namun aturan sederhana dari game ini harus kalian taklukan, barulah kalian akan menang dan mendapat hadiah yang luar biasa. Melebihi semua apa yang ada di dunia ".
Beberapa orang tertawa mendengarnya. Hanya lelaki dewasa, dan tiga lelaki yang duduk di bangku paling belakang yang tidak merespon dengan tawa. Bagi mereka itu adalah sebuah lelucon yang konyol. Alena ditertawai seisi bus. Anak perempuan yang sejak tadi di pegang oleh ibunya tiba-tiba menghampiri Alena. Dia memberi senyum dan menyemangati Alena yang masih diam terpaku. Suara langkah kaki terdengar, seseorang sedang berjalan mendekat dari arah belakang bus. Langkahnya terdengar karena terowongan itu terlihat sunyi dan cukup tenang, sehingga suara sekecil apapun akan terdengar.
" Sial....!!!!! Dia akhirnya datang juga ". Alena mengernyitkan kening dan menatap Sarah dengan wajah syok.
" Tenanglah Alena, ada apa sebenarnya ini...? "
" Sang master....... Dia adalah juri sekaligus pengawas game ". Alena menjauh dari belakang bus. Suara pintu belakang bus berderit seperti ada seseorang yang membuka paksa dari luar. Beberapa detik kemudian pintu itu terbuka.
" Gak mungkin, pintu belakang bus sudah saya kunci loh.... ". Sang supir merasa terkejut. Langkahnya menaiki bus terdengar. Kini mereka semua bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang menuju ke arah mereka. Seorang lelaki muda yang usianya sekitar dua puluh tahun, dia memakai jas hitam tuxedo dan celana bahan hitam, rambut yang rapih dan mata belo
" AETER...". Alena mengertakan gigi dan memelotot seakan penuh dengan dendam dan kebencian. Kedua tangannya mengepalkan tinju seakan ingin sekali menghajar lelaki berjas itu. Lelaki itu melirik ke seluruh penumpang bus satu persatu, sambil memperlihatkan senyum tipis dengan barisan gigi putih nan rapih. Lirikannya berhenti tajam tepat ke arah Alena.
" Oya.... Kau seharusnya keluar dari sini... Kenapa kau kembali lagi, master ke tiga belas ". Lelaki itu nampak melirik Alena dengan senyuman tipis, namun terlihat penuh makna yang mencurigakan.
" Tunggu dulu....". Lelaki itu memegang dagunya, sambil berpikir sesaat. " Jika kau tak kembali artinya keinginanmu bukanlah pulang ". Masih memasang wajah yang berpikir keras. Lelaki itu melirik Sarah. Dia tersenyum lalu tertawa kencang.
" Inilah penyebabnya......Hahahahahahahha..... Master ke tiga belas selamat datang di game dua puluh lima aturan iblis. Karena dirimu adalah master , aku akan memberikanmu tiga aturan spesial dimana kau dapat menolak tiga aturan dari dua puluh lima ". Lelaki itu tertawa nyaring seakan bahagia melihat Alena dengan reaksi bencinya itu.
" Baiklah , semuanya ini adalah aturan pertama. Takut adalah sifat manusia, hanya mereka yang berani mengambil resiko mampu selamat dari permainan ini. Setiap sepuluh menit sekali lampu akan padam berganti cahaya kuning yang remang, hawa dingin dan ngeri akan menyeruak memenuhi setiap tempat di terowongan ini, bersembunyilah dari sang pemangsa, dan sembunyikan ketakutan mu atau dia akan datang melahap mu ". Semua masih terdiam bingung, lalu lelaki muda itu melanjutkan perkataannya lagi " Master ketiga belas, apakah kau ingin ikut atau tidak...? ". Sejenak suasana tampak hening, Alena bergetar takut seakan keringat dingin telah menyeruak dari seluruh tubuhnya. Ia sama sekali tak hentinya bergetar, seakan sangat takut dengan semua ini, namun sekali lagi Alena harus menguatkan tekadnya dan keluar dari dunia ini bersama kakaknya.
" Aku ikut ". Alena menguatkan tekadnya dan sekali lagi akan percaya kepada kemampuannya. Lelaki itu tersenyum menyeringai, lalu menghilang perlahan seolah ia pergi begitu cepat. Semuanya masih cukup bingung dengan apa yang terjadi. Alena mulai berpikir soal teka-teki aturan pertama. Waktu terus berjalan, sang supir mencoba menghidupkan kembali busnya namun tetap saja tak bisa.