Fandi, seorang mahasiswa jurusan bisnis, memiliki kemampuan yang tak biasa—dia bisa melihat hantu. Sejak kecil, dia sudah terbiasa dengan penampakan makhluk-makhluk gaib: rambut acak-acakan, lidah panjang, melayang, atau bahkan melompat-lompat. Namun, meskipun terbiasa, dia memiliki ketakutan yang dalam.
BENAR! DIA TAKUT.
Karena itu, dia mulai menutup matanya dan berusaha mengabaikan keberadaan mereka.
Untungnya mereka dengan cepat mengabaikannya dan memperlakukannya seperti manusia biasa lainnya.
Namun, kehidupan Fandi berubah drastis setelah ayahnya mengumumkan bahwa keluarga mereka mengalami kegagalan panen dan berbagai masalah keuangan lainnya. Keadaan ekonomi keluarga menurun drastis, dan Fandi terpaksa pindah ke kos-kosan yang lebih murah setelah kontrak kos sebelumnya habis.
Di sinilah kehidupannya mulai berubah.
Tanpa sepengetahuan Fandi, kos yang dia pilih ternyata dihuni oleh berbagai hantu—hantu yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga sangat konyol dan aneh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DancingCorn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 : Penghuni Lain
Malam di kos-kosan terasa lebih sunyi dari yang Fandi kira. Dia melangkah keluar kamar menuju teras, berharap bisa menghilangkan perasaan takut dan sepi di dalam hatinya.
Saat dia tiba di teras, ada tiga orang yang sedang duduk di sana. Mereka tampak seperti sedang menikmati malam yang sepi, sambil berbincang ringan. Salah seorang dari mereka melihat Fandi dan melambaikan tangan.
"Eh, Lo Fandi kan?" kata Raka yang sedang duduk di kursi, menghadap arah Fandi datang. Wajahnya ramah dan terkesan santai.
"Iya," jawab Fandi, sambil melangkah mendekat. "Kenapa, ya?"
Raka tersenyum lebar. "Si Arief baru aja cerita tentang Lo. Dia mau ngasih tau tentang hal di sini tadi sore, tapi Lo keburu masuk. Btw, mumpung ketemu, sekalian aja kenalan. Gue Raka, ini Dimas, dan Lo udah tau si Arief." dia menunjuk pria di sebelahnya yang sedang sibuk bermain ponsel dan Arief.
Arief sedang fokus pada gelas kopi di tangannya, dia menunjuk kursi di sebelahnya, "duduk aja disini."
Fandi mengangguk dan duduk di sana,
"Mau kopi?" Tanya Arief sambil mengangkat kopi ditangannya.
"Nggak, Bang. Makasih." kata Fandi sambil menggelengkan kepalanya.
Arief mengangguk, "Btw, waktu Lo nanya siapa gue lagi, pikirkan Lo nggak lagi kosong, kan?"
Fandi berkedip beberapa kali sebelum menggelengkan kepala. "Nggak, Bang. Gue cuma agak pusing. Mikirin buku buat dibeli."
"Bagus kalau gitu," kata Arief sambil menepuk dadanya lega. Dia melihat Fandi lagi dan mengingatkan dengan serius. "Pokoknya, jangan sampai pikiran Lo kosong. Kamar gue sebelah lo, nomor 6. Gue nggak mau tiba-tiba harus bantu orang kesurupan. Nggak lagi."
Lagi?
Fandi melihat Arief dengan tatapan ragu, khawatir dan bingung.
Jadi, sebelumnya ada orang kesurupan di sini? Seberapa sering? Fandi bisa merasakan tubuhnya menjadi kaku.
“Lo baru pindah, kan?” tanya Dimas, akhirnya mengangkat muka dari ponselnya. “Gue Dimas, anak Informatika. Nggak usah terlalu dengerin kata-kata Arief. Santai aja, kos sini nggak terlalu serem kok... walaupun, ya... agak aneh sih.”
Fandi yang mendengar kata-kata Dimas merasa memiliki teman, dia segera tertawa kecil. “Bener, tadi aja ada suara aneh di kamar.” Namun wajahnya langsung pucat. Dia keceplosan mengatakan itu.
Tapi Raka dan yang lainnya tidak menganggap serius. Arief yang duduk di ujung kursi, tersenyum santai. "Gitu doang serem? Kali aja tikus atau angin." Dia lalu menambahkan,
Fandi merasa tertawa di hatinya. Itu akan menyenangkan jika apa yang dia dengar merupakan suara hewan. Tapi hewan mana yang mengucapkan, 'selamat datang'. Lagipula dia juga menemui sosok penjaga.
Lupakan saja, orang-orang ini juga tidak akan percaya jika dia mengatakannya.
Raka menghisap rokoknya sebelum berkata. “Itu cuma suara-suara biasa. Kalau Lo sampai denger suara langkah kaki atau suara bisikan halus malam-malam, baru deh itu...”
Fandi melihat Raka dengan bingung. "Apa?" Tanyanya.
"Ya lari, lah. Emang mau nungguin penampakan muncul." Kata Raka disambut gelak tawa yang lainnya.
Fandi hanya bisa mencoba mengeluarkan tawa kering, menganggap itu hanya candaan mereka.
"Gue pernah, sih. Waktu pulang malem. Kaya ada mbak mbak di koridor deket dapur. Cakep banget." Dimas tiba-tiba berkata sambil menatap langit malam, mengingat kejadian saat itu.
Tapi Fandi tiba-tiba merasakan merinding naik dari tangan ke lehernya. Fandi melirik koridor itu tiba-tiba. Memang, ada seorang hantu wanita dengan gaun kuning yang sangat cantik melompat-lompat kecil dengan bahagia di sana. Ketika Dimas mengatakan itu, Fandi melihat bayangan hitam dan wanita itu tiba-tiba ada di tengah mereka.
"Kenapa, kenapa, manggil aku?" Selain Fandi, tidak ada satupun dari mereka yang menyadarinya.
Fandi hanya menunduk sambil tertawa, tapi dia merasakan sesuatu yang tidak enak di perutnya. “Masa? Secantik Jisoo black pink?"
Belum sempat mendengar jawaban Dimas, tiba-tiba terdengar suara masuk ke telinga Fandi, suara yang datang tepat disebelahnya.
"Haah, anak-anak jaman sekarang," bisik suara itu dengan nada kecewa dan serak sambil menghela nafas kasar. "Suka sekali membicarakan hal-hal mistis semacam ini. Paling kalau kita muncul kalian akan takut dan lari."
Tanpa melihat, Fandi bisa membayangkan suara tua dan bijaksana di sebelahnya menggelengkan kepala tidak berdaya.
Fandi menutup mulutnya rapat-rapat, takut terlihat aneh. Dia melirik, berharap itu hanya imajinasinya. Tapi sebuah tubuh transparan seorang bapak-bapak benar-benar duduk di sana.
Hanya saja, Raka, Dimas, dan Arief yang tidak bisa melihat hal-hal aneh tidak menyadari mereka.
Namun Fandi berbeda. Dia dapat dengan jelas mengenali bapak-bapak ini. Siapa lagi kalau bukan hantu di kamarnya sore tadi!
"Ada apa, Fandi?" tanya Raka, melihat perubahan ekspresi di wajah Fandi.
Fandi terdiam sejenak. “Gak ada apa-apa, cuma... ya, kenapa tempat ini masih disewain kalau horor gitu?"
Raka menatapnya sebentar, kemudian menggelengkan kepala. “Oh, itu... kos ini emang udah lama, banyak yang pindah-pindah, tapi ya, harganya murah. Pemiliknya juga nggak mau naikin harga atau kadang ngasih kelonggaran. Jadi, walaupun kesannya kaya horor gini, tetap banyak yang nyewa. Lagian cuma kelihatan horor, nggak bener-bener horor kok. Selain itu, Bu Asti, ehem.”
Fandi terdiam. Itu tidak salah.
Suasana teras mendadak hening, karena kata-kata Raka.
Lalu suara berat dan serak kembali terdengar di sebelah Fandi. "Dasar anak jaman sekarang. Ini karena Roy dan Asti kasihan sama anak-anak muda seperti kalian. Udah datang dari jauh yang butuh tempat tinggal untuk pendidikan kalian tapi tidak memiliki cukup uang untuk menyewa atau saudara untuk menumpang tinggal."
Tapi, suara itu tidak berhenti. Tiba-tiba terdengar lagi, kali ini lebih jelas. "Kamu bisa dengar aku kan, Nak."
Fandi langsung berdiri, gemetar. “Oke, gue... gue rasa gue harus pergi. Gue, gue capek habis pindahan.”
Ketiga pemuda itu melihat Fandi dengan bingung, tapi tak lama kemudian, mereka saling mengangguk dan tertawa ringan.
"Fan, jangan bilang kalau Lo takut? Santai aja kali, nggak ada apa-apa kok," kata Dimas dengan suara tertawa.
“Oh ya, Lo belum kenal Kang Roy, kan?” Arief menambahkan sambil tersenyum.
“Siapa?” Fandi bertanya, sedikit kebingungan. Dia baru mendengar nama itu dari sosok disebelahnya.
Baru saja kata-kata Fandi jatuh. Sosok pria paruh baya menggunakan sarung dan kaos polos muncul dari balik tembok kos, berjalan perlahan mendekat ke arah mereka. Terlihat seperti orang biasa. Tapi Fandi yang ketakutan mengabaikannya. Dia mencoba sebaik mungkin agar tidak menarik perhatian. Saat malam, dia tidak bisa memastikan hantu atau manusia dengan pasti.
Kang Roy berhenti beberapa langkah di depan mereka. "Lagi pada santai?"
"Iya kang." Kata Dimas.
Raka juga bersiap berdiri sambil menawarkan, "mau kopi kang? Gue bikinin kalau mau."
Kang Roy melambaikan tangannya. "Nggak usah."
"Fandi, ini Kang Roy," kata Arief dengan nada santai. "Suami Bu Asti yang punya kosan. Dia yang paling tahu soal tempat ini."
Fandi yang tadi waspada saat ini sedikit malu. Jika bukan karena orang-orang ini bicara normal dengan Kang Roy, dia pasti tidak akan mengakui Kang Roy sebagai manusia. Pengalamanya dulu benar-benar membuatnya waspada pada hal-hal mistis!
Fandi mengangguk pelan, menatap wajah Kang Roy dengan sopan. "Aku Fandi, Kang. Penghuni baru."
Kang Roy duduk di kursi kosong diantara Raka dan Dimas, merapikan sarungnya sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. "Santai aja. Lagian gue udah tau Lo, gue yang terima telepon Lo kemarin," katanya santai dan tenang. Terlihat mudah di dekati. "Kos ini memang punya sejarahnya sendiri. Tapi bukan berarti kos ini angker kaya kelihatannya. Yah, pokoknya lo nggak aneh-aneh aja."
Fandi mengangguk. Sudah terlambat baginya untuk menemukan kos lain dengan harga semurah ini. Selain itu, bahkan jika dia ingin mengganti tempat, dia belum memiliki uang tambahan di sakunya.
Kang Roy tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan. "Sama inget, jangan bawa cewek ke sini, apalagi sampai ngelakuin...."
"Kalau itu sih, jangankan kamu Kang. Gue juga bakal ngasih paham nih anak." Kata Arief sambil mengapit kepala Fandi dengan lengannya.
Fandi memutar matanya keatas. Merasa semakin akrab dengan orang-orang ini. "Gue masih belum tertarik gituan. Gue cuma mau fokus lulus sekarang."
Kata-kata Fandi membawa gelak tawa pada yang lain. Memang, keinginan mereka saat ini hanya untuk lulus kuliah lebih cepat.
Kang Roy juga tersenyum, "Oh, tapi tempat apapun selalu memiliki hal-hal semacam itu. Jadi jaga diri kalian. Kalau kalian masuk sini ataupun tempat lain bawa niat baik, semuanya bakal baik-baik aja. Tapi kalau kalian datang dengan niat buruk... Yah, banyak contoh hasilnya."
Mereka mengangguk. Itu memang dasar sopan santun yang selalu dipelajari oleh Fandi. Entah dimanapun, seseorang harus benar-benar memperhatikan kesopanan.
"Oh, sama satu lagi. Gue nggak tau apa Arief dan lainnya udah ngasih tau Lo, tapi," kata Kang Roy, sambil mengambil kopi Arief yang baru di minum setengahnya, "jangan sekali-kali ambil atau nyentuh benda-benda yang ada di gudang belakang dan selalu jaga kebersihan dapur."
Fandi dapat melihat hantu perempuan dengan gaun kuning mengangguk senang. "Benar, benar. Kebersihan sebagian dari iman. Roy udah makin dewasa aja."
Kebersihan sebagian dari iman, bukankah itu hadis muslim. Tidak, bukankah dia hantu. Mengapa hantu semacam ini menerapkan ajaran agama tertentu dengan sangat baik.
Fandi merasa bingung, tetapi mencoba untuk mendengarkan dengan serius. Mereka mulai menceritakan banyak hal apalagi tentang pohon beringin besar yang ada di dekat ujung kos. Mendengar cerita yang menakutkan, Fandi perlahan-lahan bertanya, "Tapi, Kang... semua itu cuma cerita-cerita aja, kan? Kayak yang mereka bilang tadi, suara-suara itu bisa jadi cuma angin atau tikus. Bukan berarti ada beneran."
Kang Roy menggelengkan kepala perlahan. "Yah, gue sendiri nggak pernah ngalamin langsung. Tapi gue tahu dari orang yang lebih tua yang bilang kalau... ada hal-hal yang nggak bisa dijelasin suruh ngebiarin."
Fandi mengangguk paham. Lagipula dia sudah biasa menghadapi hal itu sejak kecil. Dan dia bisa mengabaikannya selama 5 tahun terakhir.
Mereka melanjutkan obrolan sampai malam. Tidak sampai Dimas mengatakan bahwa coding di komputernya selesai di proses dan dia harus melakukan debugging, atau Raka yang mengantuk.
Fandi juga mengatakan untuk kembali ke kamarnya. "Oke, gue juga mau istirahat," kata Fandi sambil berdiri dan menatap mereka semua.
Raka mengangguk. "Santai aja, Fan. Kalau Lo butuh apa-apa, jangan sungkan."
Arief tersenyum. "Bener, ngomong-ngomong jangan mikir aneh-aneh, mending Lo langsung tidur. Besok juga udah biasa sama tempat ini."
Fandi tersenyum kecil dan mengangguk, mengucapkan selamat malam kepada mereka semua sebelum akhirnya kembali ke kamarnya. Namun, meski tubuhnya lelah, pikirannya terus dihantui oleh hal-hal yang baru saja didengarnya. Hantu-hantu, suara aneh, dan cerita yang belum jelas kebenarannya.
Sesampainya di kamar, Fandi duduk di pinggir tempat tidur, merasakan beban yang berat di dadanya. Dia menatap sekeliling, berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua itu tidak ada. Tetapi, entah kenapa dia tidak bisa menghilangkan mereka dari pikirannya.
Dia berbaring dan menutup mata, berharap tidur dapat menghilangkan kecemasan. Namun, suara bisikan itu masih terngiang di telinganya, seakan-akan menggema dalam kesunyian malam yang semakin mencekam.
"Dasar anak jaman sekarang. Penakut. Mental lemah," bisik suara itu dalam kegelapan.
Fandi : ....
Fandi menggigil, namun dia memaksakan diri untuk tetap tidur. Mengabaikan semua hal mengganggu itu.
maaf jika selama ini ada komen aku yg ga berkenan 🙏🙏🙏
cerita dr kak oThor bagus banget, cuma belom sempet buat baca kisah yg lain🙏🙏🙏 so sorry
eh mbak parti kmrn udh belom ya, sama.yg dia berubah punya sayap hitam 🤔...
Fandy dan yg lainnya msh jomblo, emang sengaja ga dibuatin jodohnya ya kak oThor?
kutunggu sll lanjutan ceritanya 😍🙏🙏
pemilik kos biasanya menyimpan rahasia yg tak terduga... apa iya Bu Asti bukan mnausia?
sosok ini berhubungan dg kehadiran dek Anis jg tayangga ...
siapakah sosok itu? apakah musuh Fandy dr dunia goib?
maaci kak oThor
normal nya liat Kunti ga sampai sedetik udh pingsan ato ga kabur duluan 😀 sereeemmm
tp Krn Arif gengnya Fandy jd beda
sehat-sehat ya kak,🤗
selama ini taunya Kunti itu mm perempuan, dan ada yg bilang ga punya muka...
selama ini jg taunya cuma Kunti bjau putih sama Kunti merah...