Sesion Pertama Mafia Psikopat Jatuh Cinta
Sesion Ke dua Pemuas Ranjang Sang Mafia
Daka putra pertama adalah seorang mafia yang sangat di takuti di negara itu hingga dirinya bertemu dengan seorang gadis yang bernama Veni dan ingin menikah dengannya tapi demi karirnya sebagai artis Veni menolaknya. Daka mengijinkannya merintis karir di luar negri asalkan mau menyerahkan harta berharganya yang selama ini di jaga dan Veni terpaksa menyetujuinya. Sebenarnya itu alasan Daka agar agar Veni segera hamil dan berhenti menjadi seorang artis karena dirinya ingin menikah.
Veni yang tidak ingin dirinya hamil terlebih Daka seorang pria miskin terpaksa menjebak kakak kembarnya yang bernama Venisa di sebuah hotel bintang lima dan berakhir Venisa menikah dengan Daka.
Siapa yang di pilih Daka istrinya yang baru dinikahi atau Veni yang menyesali perbuatannya dan ingin kembali padanya?
Ikuti yuk novelku dengan judul Pemuas Ranjang Sang Mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Triatmaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kartu Akses
''Ayolah kakakku yang cantik," mohon Veni dengan menampilkan puppy eyes nya yang menjadi andalannya.
"Tapi restoran dan menginap di hotel xxxx kan memakai pakaian bagus dan mahal sedangkan kakak jarang membeli pakaian," ucap Venisa beralasan.
"Tenang saja, pakaian ku banyak kak nanti aku pinjamkan," ucap Veni sambil menggenggam ke dua tangan Venisa.
"Baiklah," jawab Venisa pasrah yang tidak tega menolak permintaan adik kembarnya.
Grep
"Terima kasih kak," jawab Veni sambil memeluk kakak kembarnya.
"Sama-sama," jawab Venisa sambil membalas pelukan adik kembarnya.
(Yes berhasil akhirnya kakak kembarku yang bo doh mau menuruti permintaan ku," ucap Veni dalam hati).
("Sekarang tinggal memikirkan bagaimana cara menjebak Daka agar Daka tidak curiga kalau kak Venisa bukan aku," ucap Veni dalam hati sambil melepaskan pelukannya).
Tidak berapa lama mereka melepaskan pelukannya kemudian Veni berdiri begitu pula dengan Venisa.
"Sekarang kakak istirahat nanti jam 7 malam kita pergi ke restoran xxxx untuk merayakan aku pergi ke luar negri," ucap Veni.
"Lho katanya pergi hari sabtu?" tanya Venisa dengan bingung.
"Hari Sabtu aku ingin istirahat di rumah karena besok Minggu aku sudah pergi ke luar negri. Jadi lebih baik malam ini saja kita pergi untuk merayakan kepergiaan ku untuk menggapai cita-cita ku menjadi seorang artis. Mumpung adikmu yang cantik ini libur." ucap Veni beralasan.
"Ok," jawab Venisa singkat.
("Untung kakakku tidak curiga dan percaya dengan apa yang aku katakan karena kalau hari Sabtu takutnya kak Venisa berubah pikiran jadi lebih cepat lebih baik dan sekarang tugasku menghubungi Daka untuk merubah jadwal," ucap Veni dalam hati).
Kedua gadis itupun berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Di kamar Veni menghubungi kekasihnya dan panggilan pertama langsung di angkat.
("Hallo sayang, kangen ya?" goda Daka).
("Iya aku kangen," jawab Veni sambil memutar bola matanya dengan malas).
("Sama aku juga kangen," jawab Daka).
(Honey, bagaimana kalau malam ini kita melakukan hubungan suami istri?" tanya Veni penuh harap).
("Sebenarnya aku juga ingin malam ini dan karena kamu mengusulkan sekarang aku tidak akan menolaknya," jawab Daka).
("Baik, aku tunggu jam 8 malam ya," ucap Veni).
("Ok, tapi selama 4 hari kita menginap di hotel 🏨," ucap Daka).
("Ok," jawab Veni singkat).
("Oh ya honey, honey minum obat kuat ya biar kita melakukannya sampai sepuas-puasnya karena merayakan kepergian ku ke luar negri," pinta Veni).
("Kamu ternyata nakal ya," ucap Daka).
("Nakal sama kekasih yang paling tampan boleh donk," goda Veni sambil memutar bola matanya dengan malas dalam hatinya huek).
("Aku akan buat sayangku tidak bisa bangun," ucap Daka).
("Siapa takut," jawab Veni).
("Benar ya, aku tunggu," jawab Daka sambil tersenyum mesum).
("Oh ya hampir lupa kartu masuk kamar ada di resepsionis sayangku tinggal ambil," ucap Daka)
("Ok, kalau begitu aku ingin istirahat nanti malam kita bertemu," ucap Veni).
("Ok," jawab Daka singkat).
Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak kemudian Veni melempar ponselnya di ranjang.
"Rasanya ingin muntah mendengar suara Daka apalagi ngomongin kayak gituan. Maaf Daka aku tidak mau memberikan harta berhargaku cukup diwakilkan oleh kakak kembar ku saja yang memberikannya, kakak ku yang bodoh," ucap Veni sambil tersenyum jahat.
"Sekarang aku ingin istirahat karena nanti malam aku akan menjalankan rencana ku," ucap Veni sambil berbaring di ranjang.
Tidak membutuhkan waktu lama Veni tertidur dengan pulas sambil tersenyum bahagia karena rencana jahatnya sebentar lagi berjalan sesuai dengan yang diharapkan nya.
*****
Jam 18.00
Veni merias wajah kakaknya yang tidak pernah dandan setelah selesai Veni meminjamkan pakaiannya.
"Pakaiannya terlalu seksi," ucap Venisa.
"Memang seksi, aku juga pakaianku seksi kak," ucap Veni.
"Tapi kakak tidak terbiasa memakai pakaian seksi," ucap Venisa.
"Ayolah kak, khusus hari doank setelah itu tidak lagi," mohon Veni sambil menampilkan puppy eyes yang menjadi andalannya.
Venisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian mengangguk kan kepalanya membuat Veni tersenyum bahagia karena sudah berhasil membujuk kakak kembarnya.
Hingga satu jam lebih mereka sudah tampil cantik dengan memakai kacamata hitam agar orang tidak mengenalnya setelah selesai mereka pergi menuju ke hotel xxxx di mana Daka sudah menunggu Veni di kamar 999 sejak siang.
Singkat cerita kini mereka sudah sampai di hotel 🏨 xxxx mereka berjalan ke arah lobby di mana lobby tersebut sebagian digunakan untuk restoran.
Mereka berdua duduk agak pojok kemudian Veni memesan makanan dan minuman ke pelayan restoran. Sambil menunggu mereka mengobrol.
"Aku ingin ke toilet sebentar," ucap Veni.
"Ok, aku tunggu di sini," ucap Venisa.
Veni turun dari kursi sambil mengambil tasnya kemudian berjalan ke arah menuju toilet di mana ruangan untuk memasak tidak begitu jauh dari toilet.
"Kak, sini," panggil Veni sambil melambaikan tangannya ke arah salah satu pelayan sambil mengeluarkan bungkusan.
"Ada apa nona?" tanya pelayan restoran.
"Aku ingin minuman jus alpukat 🥑 di tambahkan dengan bungkusan ini," pinta Veni.
"Maaf nona, saya tidak berani," ucap pelayan restoran.
"Tenang saja ini ada tip buatmu," ucap Veni sambil membuka tasnya dan mengambil uang warna merah sebanyak dua puluh lembar yang sudah disiapkan dari mansion agar tidak perlu membuka dompet.
"Baik nona," jawab pelayan restoran tersebut sambil tersenyum bahagia karena mendapat kan rejeki nomplok.
Pelayan restoran tersebut menerima dua puluh lembar warna merah kemudian disembunyikan di kantongnya barulah menerima bungkusan tersebut.
"Berikan ke meja no 9," ucap Veni.
"Baik nona," jawab pelayan restoran tersebut.
Veni berjalan meninggalkan pelayan restoran tersebut menuju ke tempat di mana kakaknya menunggu.
("Huh ... Dasar kalau lihat duit langsung terima pekerjaan yang aku berikan. Lenyap deh uang 💸 ku dua juta tapi tidak apa-apa dari pada aku memberikan harta berhargaku ke pria miskin mendingan aku berikan ke orang yang lebih kaya dan bisa membuatku semakin terkaya dan terkenal," ucap Veni dalam hati).
"Maaf lama kak," ucap Veni sambil duduk saling berhadapan hanya dibatasi oleh meja.
"Tidak kok, santai saja," jawab Venisa.
Mereka kembali mengobrol hingga tidak berapa lama pesanan Venisa datang mereka langsung makan tanpa ada bicara sedikitpun hingga lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum.
Mereka kembali mengobrol hingga setengah jam obat perang sang yang dibubuhkan ke dalam minuman jus alpukat 🥑 mulai bereaksi.
"Kok tumben panas ya?" tanya Venisa sambil mengipasi wajahnya yang memerah.
"Apa kakak sakit? Kita istirahat sekarang saja," ucap Veni sambil turun dari kursi kemudian menarik tangan kakak kembarnya.
"Kakak tidak tahu tapi kakak tidak merasa nyaman," jawab Venisa sambil ikut turun dari kursi dan mengikuti langkah adik kembarnya.
Veni berjalan ke arah resepsionis dan meminta kartu akses agar bisa masuk ke dalam kamar 999.
Setelah diberikan kartu akses mereka berjalan ke arah lift. Veni menekan tombol lift paling atas setelah pintu lift terbuka mereka keluar dari ruangan persegi empat tersebut lalu mencari kamar 999.
"Ini kak kamar 999 tapi maaf kak, aku mau ke kamar mandi dulu tiba - tiba perutku mulas jadi kakak masuk saja," ucap Veni sambil memberikan kartu akses.